
Baruna PoV
Suasana pembicaraan menjadi aneh dan hening seketika saat Daniel tiba-tiba menanyakan tentang kontrol kehamilan. Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Daniel. Mengapa temanku itu tiba-tiba saja berkata seperti itu? Daniel terlihat salah tingkah setelah mengatakannya. Indira melirik tajam ke arah suaminya.
"Aku ingin ke toilet dulu." Sheryl tiba-tiba bangkit berdiri izin ke toilet.
Aku menoleh ke arahnya. Memandang wajahnya yang berubah canggung seketika. Kemudian aku menganggukkan kepala mengizinkannya. Dia pun berjalan ke arah toilet.
"Gue ikut, Sher!" Indira tiba-tiba juga bangkit berdiri menyusul tunanganku.
Tinggallah aku dan Daniel yang duduk berhadapan. Laki-laki di hadapanku ini tiba-tiba menatapku serius.
Mengapa dia melihatku seperti itu?
"Bar, lo yakin mau nikahin Sheryl?" tanya Daniel.
"Iya, tentu saja. Hubungan kami memang tidak baik kemarin, tapi sekarang sudah berbaikan."
"Bar, andai nih ya, dia udah gak gadis lagi gimana?" Pertanyaan Daniel yang tiba-tiba aneh, membuat mataku melotot ke arahnya. Merasa sangat kesal dengan pertanyaannya.
Belum sempat aku menanggapi pertanyaannya, seorang pelayanan menghampiri kami. Dia menaruh seporsi spageti dan satu pan pizza ukuran sedang serta dua gelas cola dingin.
"Maksud lo apa? Lo mau bilang dia udah gak perawan?!" Aku balik bertanya dengan nada ketus.
"Maaf, Bar. Gue kan cuma nanya. Misalkan dia udah gak perawan. Entah karena kecelakaan atau pernah melakukan hal seperti itu dengan pacarnya terdahulu."
"Enggak mungkin. Gue tahu dia."
"Ish .... Susahlah ngomong sama bucin kayak lo!" sahut Daniel kesal.
Aku tertawa mendengar perkataannya. Namun, sesungguhnya aku sangat terganggu dengan pertanyaannya. Dia memang sudah beberapa kali berpacaran setahuku. Aku pun belum pernah menanyakannya sampai sejauh itu. Aku takut nanti kami malah akan bertengkar.
"Jadi lo akan menerima dia apa adanya?" Daniel bertanya lagi.
"Jangan mancing-mancing deh, Niel. Gue yakin dia belum tersentuh di bagian itu."
"Haish .... Bar, lo polos amat. Hari gini pacaran gak enak kalau gak begitu." Daniel makin memancing kemarahanku.
"Diam lo! Bikin kesel aja!" sentakku.
Daniel pun terdiam. Dia lalu berkata, "Sebelum menikah sebaiknya ada kejujuran antara kalian berdua."
"Iya, nanti gue tanyain," sahutku. Gara-gara Daniel, aku jadi terpikir untuk menanyakan hal itu. Lagi pula itu juga hakku untuk bertanya, bukan?
Tidak lama kemudian dua wanita itu kembali dari toilet. Sheryl dan Indira kemudian duduk bersamaan. Raut wajah mereka tampak aneh. Seperti habis membicarakan tentang suatu hal yang berbeda pandangan.
"Bar, jadi kapan lo nikah?" tanya Indira.
"Secepatnya. Nanti gue undang."
"Ditunggu," jawab Indira.
Setelah itu, Daniel terlihat tampak sedikit gelisah. Dia lalu berpamitan.
__ADS_1
"Bar, gue ke dalam dulu, ya. Tadi gue meninggalkan kerjaan yang belum selesai."
"Eh? Baiklah. Maaf ganggu kerjaan lo."
"Iya." Daniel bangkit berdiri. Dia berkata kepada istrinya, "Ayo, Dir! Jangan ganggu sejoli ini. Nanti kamu jadi obat nyamuk."
Indira mengangguk. Dia ikut berpamitan, "Enjoy the meal, ya."
"Iya, Dir."
Pasangan itu berbalik arah meninggalkan kami berdua. Hanya aku dan Sheryl yang masih duduk dengan dua buah hidangan dan minuman di hadapan.
"Tadi mengobrol apa saja dengan Daniel?" tanyanya.
"Tidak ada yang spesial. Dia hanya menanyakan tentang rencana pernikahan kita," jawabku berbohong.
"Oh ...."
"Kenapa? Kamu terlihat penasaran sekali? Kamu sendiri mengobrol apa dengan Indira?"
"Tidak ada yang aneh. Aku menanyakan kapan dia akan melahirkan. Ternyata masih lama. Aku sangat penasaran untuk melihat wajah bayi perpaduan antara Indira dan Kak Daniel," jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu tidak penasaran dengan wajah anak kita nanti?" tanyaku.
"Anak? Hei, kita saja belum pernah melakukannya. Bagaimana bisa punya anak?" Sheryl terkekeh.
"Sekarang pun bisa," jawabku serius.
"Aku yakin menikah denganmu, Sayang."
Wajahnya memerah saat aku mengatakan hal itu. Dia terlihat salah tingkah. Aku mengulurkan tanganku menyelipkan rambut panjangnya yang terurai menghalangi wajahnya ke belakang telinga. Telinganya pun terlihat memerah.
"Kamu malu padaku?" tanyaku.
"Kamu selalu membuatku malu. Lebih baik kita habiskan makanan kita dan pergi dari tempat ini. Lama-lama perkataanmu jadi menjurus."
"Aku suka. Ha-ha-ha." kataku terkekeh.
Dia memanyunkan bibirnya kesal. Aku mengulurkan tanganku mengacak-acak puncak kepalanya. Namun, dia masih menunjukkan wajah masam.
"Aku bercanda, Sayang."
"Benar hanya bercanda?' tanyanya lagi.
"Iya. Aku sabar menunggu," sahutku.
Kami kembali meneruskan makan malam. Aku meraih pizza di piringku. Sedangkan dia menikmati spageti-nya. Ini makan malam kami yang ke sekian kalinya bersama.
Aku tidak akan menanyakan hal bodoh seperti yang Daniel sarankan tadi. Aku akan biarkan dia jujur apa adanya tanpa aku harus bertanya hal itu.
Setengah jam kemudian, kami selesai menikmati makanan kami. Aku bangkit berdiri hendak membayar makanan kami. Namun, dia mencegahnya.
"Biar aku saja, Sayang."
__ADS_1
"Tapi ...." Aku hendak menolak, tapi dia segera memotong kata-kataku.
"Black card-mu masih ada di dompetku," potongnya.
Aku mengangguk dan membiarkan Sheryl ke meja kasir. Hampir saja lupa dengan black card yang kuberikan padanya beberapa minggu lalu. Ternyata dia masih menyimpan kartu itu.
"Ayo pulang, pangeran!" ajaknya kembali menuntunku.
"Jangan memperlakukanku seperti orang sakit, Sayang. Jangan mengasihaniku. Aku ini laki-laki tangguh!" tolakku.
"Lelakiku memang tangguh, tapi ketangguhan seorang lelaki tetap harus mempunyai dukungan kasih sayang dari wanitanya. Aku melakukannya bukan karena kasihan, melainkan rasa cintaku yang berlebihan."
"Kamu membuatku gemas," ucapku pelan.
Dia hanya tersenyum senang. Kami pun berjalan ke luar. Area parkir terlihat sudah lebih sepi. Sheryl membantuku masuk ke kursi samping kemudi dan nenaruh krukku di jok belakang. Tidak lama, mobil pun keluar dari halaman parkir.
Dua puluh menit kemudian kami tiba, Sheryl memarkirkan mobil di halaman rumahku. Arlojiku menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kami lalu masuk ke dalam rumah.
Rumah sudah sepi. Ayah dan Bunda mungkin sudah tidur di kamarnya. Dia mengiringiku berjalan masuk ke dalam kamar. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
"Kamu sebaiknya menginap saja malam ini."
"Menginap?"
"Iya. Besok 'kan hari Sabtu. Libur kerja. Sebentar, aku telepon Reza dulu."
Aku mengambil ponsel di tasku dan menghubungi sahabatku itu. Tidak lama dia mengangkat teleponnya.
"Za, di mana?"
"Di rumah. Ada apa?"
"Sheryl menginap di rumah gue ya, Bro."
"Iya. Jangan sampai kurang satu apapun pas pulang."
"Iya, Za."
Aku pun menutup teleponku. Sheryl bergeming tampak ragu.
"Kenapa?"
"Tidak. Aku ingin pulang saja. Sudah tidak betah dengan pakaianku," jawabnya.
"Tenang. Belajar dari pengalaman kemarin, aku sudah menyiapkan pakaianmu serta dalamannya. Berjaga-jaga jika kamu tidak bisa pulang ke rumah lagi dan harus menginap," jelasku tersenyum.
Dia mengangkat kedua sudut bibirnya. Menatap dalam wajahku dan menarik kerah kaus yang kupakai. Tanpa aba-aba menciumku seketika. Aku tersentak kaget dengan aksinya dan segera membalasnya dengan belaian yang lembut dan mendorongnya mundur hingga terjatuh merebah di atas ranjangku. Kembali menyerang ciumannya berkali-kali dan turun hingga lehernya dan hampir menuju ke bagian bawah tubuhnya. Namun, dia segera menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
"Kamu sudah berjanji menahannya," katanya.
"Hmm ...." jawabku sambil mencium lagi bibirnya yang basah. Setelah itu aku mengakhiri ciumanku yang sudah terlanjur panas.
Dia pun bangkit duduk dan memandangku dengan tatapan mata kecewa. "Aku sudah tidak suci lagi."
__ADS_1