Marriage Order

Marriage Order
S3 Tamu yang Tak Terduga


__ADS_3

Sheryl Pov


Aku menunggu jawaban David yang termangu beberapa saat. Dia mengubah air mukanya menjadi datar. Tak lama, ia pun mengangguk.


"Ya, dan semua sudah dipastikan. Aku memang akan memang bercerai dengan Fely," jawabnya.


Untuk beberapa saat napasku tertahan. Ada rasa takut yang membayangi. Aku sungguh takut jika Baruna ….


Ah …. Mengapa aku tidak bisa memercayainya seperti dulu?


"Tak bisakah kau mempertimbangkannya lagi?" tanyaku.


David menggeleng pelan. Air mukanya menunjukkan keyakinan yang tampaknya tak bisa berubah apapun yang akan aku katakan.


Aku terdiam sesaat. Kayla mengalihkan pandangan. Wanita itu berjalan menghampiri kami.


"Ayo, Dav! Kita pergi dari sini! Aku tak suka bertemu dengan orang-orang munafik!" Ekor matanya begitu tajam mengarah kepadaku.


Munafik? Apa yang dia maksud aku dan Rey?


Aku membatin dengan balasan sorot mata yang tidak menyangka ia akan berkata seperti itu. Keningku pun ikut mengernyit di hadapannya.


"Loh, kenapa? Bukankah kau sangat ingin datang ke galeri ini?" tanya David bingung.


"Kita bisa datang lain waktu," sahutnya kemudian tanpa ragu menggamit lengan kekar David, hendak membawanya pergi.


"Sher, aku duluan!" Kelima jemari David terangkat. Dengan singkat berpamitan kepadaku.


"Ya. Hati-hati."


Sepasang kekasih yang membuat kejutan itu pun pergi menghilang dari pandangan. Aku masih berada di tengah-tengah, menunggu Reynand yang tak kunjung kembali. Entah apa yang dilakukannya di luar sana. Perlahan, kaki ini pun melangkah tanpa perintah menuju pintu keluar galeri.


Langkahku terhenti. Reynand berdiri tepat di depan pintu. Aku melirik ke bawah. Di tangannya terlihat sebuah bungkusan plastik kecil.


"Maaf! Lama, ya?" katanya.


Aku menghela napas panjang, lalu menggeleng. Reynand mengeluarkan sebuah botol air mineral dan memberikannya kepadaku.


"Tadi aku membeli minuman karena kuyakin kau pasti kehausan sejak tadi."


Aku meraih botol air mineral dari tangannya, lalu berjalan menuju sebuah bangku panjang tak jauh dari galeri dan duduk di sana.

__ADS_1


Reynand memang benar. Aku sangat kehausan. Apalagi setelah mendengar ucapan David tadi. Segera kuteguk air dari botol air mineral itu hingga habis setengahnya. Setelahnya, mengajak Reynand untuk pulang ke rumah.


Kondisi jalan raya tidak terlalu padat dari biasanya. Kami hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit untuk tiba di rumah. Namun sepanjang perjalanan aku terus saja diam meski pria lajang di sampingku terus mengajakku berbicara.


"Mengapa kau jadi diam?" tanya Reynand, setelah menetralkan persenelingnya.


Aku menoleh ke arahnya, bertanya, "Mengapa kau terlihat sangat santai? Apa kau tidak merasakan sesuatu saat mengetahui Kayla berpacaran dengan David?"


"Sesuatu? Maksudmu?"


Aku memutar bola mata, berusaha mengalihkan pandangan darinya. Sungguh tak ingin ia mengetahui bagaimana isi hatiku saat ini.


"Ya … siapa tahu kau cemburu …."


Reynand mendengkus, lalu menerbitkan seringainya. "Cemburu? Untuk apa?"


"Karena Kayla telah berpaling darimu. Penggemarmu jadi berkurang satu."


"Tak masalah bagiku. Aku sudah memberitahu ketidaksukaanku mengenai hubungannya dengan David." Reynand menyahut santai.


"Jadi kau benar cemburu, 'kan?" Aku mendesaknya mengakui hal itu.


"Jika kau sangat penasaran, aku akan memberitahumu," timpalnya.


Reynand mengekeh mendengar sanggahanku. Dia tampak sangat senang meledek, tapi aku hanya bisa menarik dan mengembuskan napas kesal. Ada hal lain yang begitu mengganggu.


Tawa pria itu terhenti saat ia melihat kedua pipiku yang mengembang. "Ma-maaf, Sher! Aku membuatmu kembali badmood."


"Mereka akan bercerai, Rey," lirihku.


Reynand tidak menyahut. Dia hanya menatap dengan air muka serius.


"Fely dan David benar-benar akan bercerai!" kataku lagi. Kali ini dengan suara yang lebih nyaring.


"Lalu?"


"Dia ingin merebut Baruna."


Reynand mengusap wajahnya. Kedua tangannya kemudian terulur memegang bahuku. Air mukanya tampak kesal disertai guncangan yang dia lakukan menempel pada bahuku. "Dengar, Sheryl! Perceraian Felicia dan David bukanlah urusanmu. Walau aku sangat marah kepada Baruna karena telah membuatmu seperti ini, aku pastikan dia akan sangat menyesal jika dia meninggalkanmu dan malah memilih wanita itu."


Reynand terlihat berapi-api mengatakan pendapatnya. Namun yang kurasakan sebaliknya. Aku makin tak yakin mengingat dirinya yang makin jarang menghubungiku.

__ADS_1


"Tapi mereka mempunyai anak, Rey."


"Di mana bedanya? Kau juga akan memiliki anak, 'kan?!" Reynand mengarahkan pandangannya pada perutku yang cukup besar.


"Tapi …." Aku menunduk, seketika mengusap perutku.


"Kau tenang saja. Masih ada aku yang memedulikanmu, Sheryl." Telapak tangan Reynand berpindah, tiba-tiba mengusap puncak kepalaku. Seketika, aku mengangkat wajah hingga kedua bola mata kami jadi saling bertemu. Di sana, aku menemukan sebuah ketulusan darinya. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya, mencoba menenangkan. "Aku tidak suka kau menjadi tidak percaya diri seperti ini. Kau harus membuat dirimu berharga. Bagaimanapun, sebenarnya aku sangat iri dengan Baruna. Dia mendapatkan apa yang kuinginkan. Dirimu."


Deg!


Detak jantungku menjadi tak karuan. Dia makin membuatku tak bisa berkutik. Sudah berkali-kali menolak, Reynand sangat tegar berpendirian. Dan aku tidak tahu harus berkata apalagi untuk membuatnya mundur.


"Rey … sudah kubilang, 'kan?"


"Ya. Aku tahu. Kita hanya bisa berteman." Reynand mengangguk-angguk, menarik lengannya menjauh. Pancaran kekecewaan terlihat di wajahnya.


Aku tidak menanggapinya lagi. Segera kubuka pintu mobilnya, keluar dari sana. Tak lama, Reynand pun bergegas pergi dengan mobilnya.


Aku membalik badan. Seketika pandanganku terkesiap melihat sebuah mobil yang tak asing terparkir di halaman rumah.


Ayah? Bunda? Sedang apa mereka di rumahku?


Perasaanku seketika menjadi tidak enak. Benar saja! Suasana ruang tamu begitu hening ketika aku menginjakkan kaki di sana. Kedua orang tua, dan kedua mertuaku duduk saling berhadapan dengan air muka yang menegang. Bola mata mereka langsung mengarah kepadaku begitu saja.


"Sheryl, duduk!"


Papa menyuruhku untuk ikut bergabung. Tak ada alasan untuk menolak. Dengan segera beringsut perlahan duduk di samping Mama.


Ada apa ini?


Tak ada kata yang terucap dari mulut Mama selain genggaman tangannya yang biasanya hangat kini menjadi dingin kurasakan. Aku sontak menoleh, tapi tak ada jawaban selain sebuah air muka kecemasan di sana.


"Mam?" lirihku bingung. Mama hanya menggelengkan pelan kepalanya.


"Dari mana kamu? Mengapa pulang begitu larut?" Papa tiba-tiba bertanya dengan nada suaranya yang tiba-tiba meninggi.


"Rumah sakit," jawabku berbohong.


"Kamu yakin?" Papa memandang dengan air mukanya yang tampak berbeda. Lebih mengerikan. Sementara Ayah dan Bunda yang berada di antara kami hanya diam menyimak.


Aku mengangguk, tapi Papa langsung menggelengkan kepalanya. Tampak sekali jika ia tidak memercayaiku.

__ADS_1


"Jujur, Nak." Mama tiba-tiba mengeluarkan suaranya.


"Dia tidak akan jujur, Rin. Pergi dengan pria lain saat suaminya tidak ada di dekatnya!" Dengan suaranya yang lantang, Papa langsung menekan kalimatnya.


__ADS_2