Marriage Order

Marriage Order
Happy Birthday Honey


__ADS_3

Baruna PoV


Aku masih berada di dalam kafe bersama ayahku terperangah menatapnya. Perjanjian apa yang sebenarnya telah disepakati? Aku sama sekali tidak tahu.


"Maksudnya perjanjian apa Ayah?" tanyaku bingung.


"Emm .... Nanti pada saatnya kamu akan tahu. Maaf Ayah tidak bisa sembarangan untuk menjelaskan masalah itu. Kakekmu yang berhak menjelaskannya."


"Tapi Ayah sudah terlanjur mengatakannya dan itu menjadi tanda tanya besar untukku," sahutku.


"Kamu tidak perlu menghawatirkan perjanjian itu. Kamu harus ingat Baruna, kamu itu berbeda dengan Ayah. Kamu lebih mirip dengan ibumu yang penuh dengan kasih sayang. Tanam itu baik-baik dalam kepalamu," tambah Ayah lagi sambil menatap meyakinkanku.


Aku terdiam tidak habis pikir, Ayah bisa-bisanya mengalihkan pembicaraan penting seperti ini.


Ayah mengapa engkau mengalihkan pembicaraan tentang perjanjian itu? Tentu saja aku tidak mungkin mengecewakan Sheryl. Dia wanita yang sangat aku cintai.


"Ehem .... Ehem ...." Suara terbatuk yang kukenal tiba-tiba terdengar jelas dari belakang kami.


Aku dan Ayah sontak menengok ke belakang, mendapati Kakek yang sedang berdiri.


"Baruna, tadi Reza mencarimu. Sebaiknya kamu segera menghubunginya," ucap Kakek dengan nada suara sedikit meninggi. "Kakek ingin berbicara dengan Ayahmu."


Aku beranjak dari kursi berjalan ke arah pintu keluar kafe. Nada suara kakek yang terdengar tidak suka jika aku berbicara dengan Ayah membuatku sedikit kesal tapi aku berusaha menahannya.


Aku mengambil ponsel di saku jasku. Kado dari Reynand untuk Sheryl masih berada di sana. Ya, aku lupa memberikannya.


Mau apa dia mencariku? Bukannya tadi kami sudah bertemu?


Aku buru-buru menelepon Reza. Tidak lama kemudian Reza menjawab panggilanku.


"Bar, lo lupa ya hari ini Sheryl ulang tahun?"


"Oh ya?" Aku segera mengecek tanggal di ponselku yang memang sudah menandai hari ulang tahunnya, tanggal 29 November.


Kenapa aku bisa menjadi pelupa seperti ini? Kenapa juga alarm ponselku tidak memberikan notifikasi?


"Jadi lo beneran lupa Bar?"


"I - Iya Za. Benar-benar lupa. Gue juga belum siapkan apa-apa untuk hadiah."


"Waduh Bar, baru tunangan aja lo udah lupa sama tanggal lahir adik gue."


"Ya maaf. Gue lagi enggak fokus. Gue keluar dulu cari sesuatu sebentar."


"Iya. Jangan lama-lama ya."

__ADS_1


"Iya Za."


Aku berbalik arah berjalan keluar halaman parkir mobil. Bergegas mencari sesuatu yang bisa kubeli untuk sekedar hadiah ulang tahun tunanganku itu.


Teleponku berdering, aku melihat layar ponselku. Nama Daniel tertera di sana. Aku segera mengangkatnya.


"Bar, maaf ya gue dan Indira enggak bisa datang di acara pertunangan lo. Indira kecapekan sepertinya dan gue harus menemani dia di rumah. Resto pun gue tinggalin," jelasnya dengan nada sedih. "Gue cuma bisa doain semoga langgeng sampai menuju pernikahan dan selalu berbahagia."


"Iya Niel. gue ngerti kok. Terima kasih doanya ya. Semoga Indira lekas sehat."


"Iya Bar. Terima kasih. Salam untuk seluruh keluarga dan Sheryl tentunya."


"Iya Niel."


Daniel lalu mengakhiri panggilannya. Aku masih dikemudiku, melirikkan mata di sepanjang jalan mencari sesuatu yang menarik. Mataku tertuju pada sebuah toko kue, begitu ramai sampai mengantri keluar trotoar. Namanya Toko Kue Ruby.


Sepertinya kue yang dijual di sana enak. Lihat saja banyak yang mengantri untuk membeli.


Aku menepikan kendaraanku di depan minimarket terkenal dan memarkirkannya di sana kemudian melangkahkan kaki menuju toko kue itu.


Dua puluh menit kemudian aku berhasil masuk ke dalam toko kue. Mengantri memang sangat menyebalkan tapi jika memang berharga kenapa tidak.


Seorang ibu dan seorang remaja perempuan sedang sibuk melayani para pelanggan. Menunggu dan menunggu hingga akhirnya giliran diriku untuk memesan. Banyak sekali jenis kue yang dijual di tempat itu.


"Selamat datang Kakak. Ada yang bisa Ruby bantu?" Remaja perempuan itu bernama Ruby.


"Bu, kue apa yang rekomen?" tanya Ruby menoleh ke arah ibunya.


"Red Velvet Ruby. Masa seperti ini harus ibu juga yang kasih tahu," jawab Ibu Ruby yang masih sibuk melayani pelanggan lainnya.


"Red Velvet Kak," ucapnya tersenyum ramah.


"Ya sudah itu saja. Ukuran yang paling besar ya," sahutku.


"Mau ditambahkan kata-kata ucapan Kak?"


"Boleh. Tolong tuliskan kata 'Happy Birthday Honey' itu saja."


"Baik Kakak."


Kemudian Ruby mengemas kue tart berukuran 30x60 cm tersebut dan memberikannya kepadaku. Tanpa bertanya-tanya lagi, aku langsung mengeluarkan kartu ATM dari dompet dan memberikannya sebagai alat pembayaran.


Ruby mengembalikan kartu ATM-ku. Red velvet cake berukuran besar segera kubawa dengan hati-hati masuk ke dalam mobil.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat aku tiba di depan kamar hotel bersama-sama dengan keluargaku dan keluarganya, Dita, dan juga kedua teman Sheryl yang sedari tadi menungguku.

__ADS_1


Wildan menyalakan lilin di atas kue tart, dia segera mengetuk pintu kamar. Sheryl membuka pintunya.


"Surprise! Happy birthday Sheryl," seru kami serempak.


Sheryl terkesiap melihat kami. Matanya terlihat berkaca-kaca terharu. Dia tersenyum semringah sangat senang. Semua menyalaminya. Termasuk diriku, tapi tentu saja aku sedikit berbeda. Aku memeluk dan mencium keningnya.


"Happy birthday honey," ucapku berbisik.


"Aku kira kamu lupa sayang," balasnya.


"Sedikit. Makanya aku lama mempersiapkan ini. Maaf ya sayang."


Sheryl mencubit lenganku. Aku melihat wajahnya. Dia tersenyum bukan marah padaku.


"Kamu sungguh menggemaskan. Membuatku berpikiran aneh sepanjang hari ini."


"Maafkan aku ya." Aku mendekatkan bibirku hendak mencium bibirnya tapi aku segera tersadar saat Om Agung berdeham menghentikan aksiku.


"Aduh Bar jangan mempermalukan Bunda dong. Apa kamu segitu tidak sabarnya?" tegur Bunda yang berada di dekatku. Aku segera menarik diri melepas pelukanku darinya.


Aku menghela napas, menggigit bibirku sendiri, dan cengar-cengir di hadapan mereka. Aku benar-benar salah tingkah. Sheryl yang melihat tingkahku hanya tertawa kecil. Semua menertawakanku.


Aih .... Malunya diriku**!


"Oke, Sher tiup lilin dulu ya. Make a wish," ujar Wildan.


Sheryl mengangguk. Dia menutup matanya lalu meniup lilin yang berjejer di kue tart itu.


Aku mendekatinya, menatapnya dan bertanya, "Harapan apa yang kamu panjatkan sayang?"


Sheryl balik menatapku lembut, "Aku berharap aku dan kamu selalu bahagia dan kebahagiaan kita tidak pernah habis."


Aku tersenyum menatapnya. Wanitaku itu memang semakin dewasa hari demi hari. Dia harus menjadi dewasa karena nantinya dia akan menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu untuk anak-anaknya.


Satu jam kemudian acara kejutan itu pun selesai. Semua sudah meninggalkan kamar hotel, termasuk diriku yang akan mengantar para tamu spesial itu sampai dengan halaman parkir mobil.


__________________________


Hai Readers terima kasih sudah membaca sampai sini.


Dukung author selalu ya 😘


Jangan lupa baca novel Reinkarnasi Cinta si Cantik Ruby ya. Ruby menunggu kamu di toko kuenya.


Salam manis

__ADS_1


Viviani


__ADS_2