Marriage Order

Marriage Order
S3 Aku Pulang Saja


__ADS_3

Sheryl Pov


Reynand memelukku hangat. Aku membiarkannya dan malah memanfaatkan perhatiannya. Pelukannya yang nyaman mampu membuatku menangis demi menghilangkan beban yang saat ini membuncah dalam dalam dada.


Perkataan Baruna yang menuduh kami tak pernah usai cukup membuatku sakit hati. Padahal dia tahu kalau aku tidak mencintainya. Aku juga tidak mungkin memiliki suatu hubungan terlarang. Bagaimanapun aku sudah menikah. Sebentar lagi, malaikat kecil akan hadir dalam pernikahanku dan Baruna.


Lain halnya dengan yang Baruna lakukan. Aku melihatnya dengan mata dan kepalaku sendiri. Mengapa harus Fely yang kulihat bersamanya? Tidak! Maksudku selain Fely, jangan pernah ada wanita lain dalam rumah tangga kami.


"Aku akan selalu ada di sisimu," kata Reynand dengan nada suara sedikit berhati-hati.


Mendengar ucapan Reynand membuat hatiku makin merasa sedih. Bagaimana tidak? Aku datang ke sini untuk menemui Baruna. Namun bukannya mendapat pelukan hangat, dia malah menyuruhku pulang.


Aku tidak pernah menyangka malah Reynand yang melakukannya. Ia mengusap punggungku dengan usapan lembut. Memeluk ibu hamil yang sedang dilanda gundah gulana.


Cukup lama aku menangis dalam pelukan Reynand. Dan entah apa yang ada dalam pikirannya. Tiba-tiba dia malah menyeletuk dengan penuh percaya diri.


"Aku sangat senang bila pelukanku bisa meringankan beban di hatimu."


Haish! Mengapa dia selalu kepedean seperti ini?


Aku segera menarik diri darinya. Bibirku mengerut di depannya. Kemudian tanpa ragu-ragu, aku berbalik meninggalkan ia masuk ke dalam hotel, kembali ke kamarku.


Tidak! Ini salah! Sheryl, kau benar-benar tidak tahu diri! Kau seperti bola pingpong yang memantul tak tahu malu.


Aku mengunci pintu kamar hotel, lalu berdiri lemas seraya bersandar di belakang pintu. Merasa sangat rumit. Walau kalimat yang dilontarkan Reynand dengan begitu percaya diri itu terdengar konyol, hatiku tiba-tiba saja bergetar.


***


Reynand Pov


"Sher! Sher!" seruku sambil mengetuk pintu kamarnya yang ia kunci dari dalam.


Cukup lama aku berada di depan pintunya, tapi ia tidak juga membukanya untukku. Hal itu membuatku bingung. Sheryl tidak bisa ditebak. Beberapa saat yang lalu dia tidak keberatan dengan pelukanku, tapi sedetik kemudian ia pergi menjauh hingga membuatku mengumpat dalam hati.


Sial! Mengapa dia selalu seperti ini?


Sejurus kemudian, pintu kamar Sheryl pun terbuka. Sheryl memandangku sedikit dingin.


"Ada apa lagi?"


"Mengapa kau tiba-tiba pergi? Apa perasaanmu sudah lebih baik?"


"Sedikit. Terima kasih, Rey."


Aku tersenyum senang mendengar jawaban Sheryl. Seketika merasa pelukanku bermanfaat untuknya yang sedang merasa sedih. Aku mengangkat tanganku, mengusap puncak kepalanya.

__ADS_1


"Ingat! Ibu hamil tidak boleh stres. Kasihan anakmu," ucapku menghiburnya.


"Iya. Aku sudah tahu. Tidak usah memberitahuku." Bibirnya mengerucut menyahut perkataanku.


"Baiklah. Kalau begitu, tenangkanlah pikiranmu. Besok aku akan mengantarmu menemui Baruna lagi dan kau bisa berbicara dengannya. Ingat! Tanpa emosi."


"Tapi Rey, sepertinya aku akan pulang saja sesuai dengan apa yang ia katakan kepadamu. Kau tidak usah menemaniku. Aku bisa pulang sendiri," ucap Sheryl tiba-tiba.


***


Baruna Pov


Aku meninggalkan mereka bertiga di lobi. Terserah mereka mau melakukan apa. Kepala dan hatiku sudah terlanjur sakit. Ayah, Rafael, dan istriku sendiri.


Mengapa Sheryl datang ke sini bersama Reynand? Dia benar-benar tidak mendengarkan apa kataku.


Aku melangkah keluar dari lift. Panggilan yang sejak tadi masuk tak kuhiraukan, akhirnya kuputuskan untuk mengangkatnya.


"Bar, dari mana saja? Lama sekali mengangkat telepon Bunda. Katanya kau hanya sebentar menemui Fely?" Suara Bunda terdengar cemas di telingaku.


"Maaf, Bun. Ada sesuatu yang harus kuurus sebentar," jawabku.


"Oh ...."


Aku tidak tahu mengapa. Bunda tidak meneruskan perkataannya.


"Ayahmu sudah sadar. Dia mencarimu."


Kedua bola mataku sontak melebar mendengar ucapan Bunda. Aku mempercepat langkahku hendak menghampirinya. Namun saat berada di ruang tunggu, Bunda tak terlihat di sana.


"Bunda ada di mana?!" Aku balas bertanya.


"Sebentar!" katanya lalu memutus percakapan kami.


Pintu ruang intensif itu terbuka. Bunda muncul dari baliknya. Aku segera menghampiri ibu kandungku itu.


"Bagaimana dengan Ayah?" tanyaku.


Bunda tidak menyahut. Ia meraih pergelangan tanganku, lalu membawaku masuk ke dalam. Ayah … aku melihatnya berbaring tak berdaya dengan beberapa alat penopang hidupnya. Ketika berada di samping tempat tidurnya, air mataku luruh.


"Ayah …." Aku terisak, seketika merasa sangat durhaka menatap wajahnya.


Ayah menoleh kepadaku. Hanya seulas senyum yang terlihat di sana. Beliau mengangkat tangannya menggenggam lenganku. Lalu dengan suara lirihnya ia bertanya, "Mengapa kemarin kau ingin pergi, Nak?"


"Aku …." Aku tak bisa menjawabnya. Lidahku kaku mendadak.

__ADS_1


"Lakukan apa yang harus kau lakukan," sahutnya.


Aku terdiam sejenak. Terbayang wajah Sheryl. Aku ingin mengatakannya kepada Sheryl terlebih dulu sebelum tindakan itu dilakukan.


"Baruna ingin mengatakannya kepada Sheryl dulu, Mas," timpal Bunda yang tiba-tiba membantu menjelaskan apa yang berputar dalam benakku.


"Mengatakannya saja, 'kan? Bukan persetujuan?" Ayah kembali mengarahkan pandangannya kepadaku, lalu menunggu responku yang tiba-tiba melambat seperti orang bodoh yang tak mampu berpikir di situasi ini. "Bar, bila istrimu tidak setuju, Ayah ingin kau tetap melakukannya. Bagaimanapun, Rafael cucu Ayah,"


"Iya, Ayah. Aku juga sudah mengatakannya kepada Fely. Aku akan bertanggung jawab untuk Rafael," kataku seraya mengangguk.


"Ya. Kau harus bertanggung jawab. Saat ini, bocah itu adalah prioritasmu. Kondisinya sangat buruk. Kalau perlu, tetaplah di sini hingga pengobatannya selesai. Urusan istrimu yang mungkin tidak setuju, biar Ayah dan Bunda yang akan mengatasinya. Kami juga akan membantumu menjelaskan hal ini kepada keluarga Sheryl."


"Iya, Ayah."


Seakan sudah menjadi sebuah kebiasaan sepanjang hidupku, aku mengiyakan keputusan kedua orang tuaku. Lagipula, tak ada lagi yang dapat kulakukan. Ini semua salahku. Sudah bagus Ayah dan Bunda membantuku mengatasi hal ini.


Setelah mengiyakan apa kata Ayah, tanpa sengaja aku termenung. Kembali pada momen beberapa saat lalu. Melihatnya datang bersama dengan Reynand.


Sheryl … kau yang membuatku gusar saat ini. Tak dapat kupungkiri, hatiku meledak-ledak melihatmu dengannya. Sebenarnya, kau menganggapku apa? Walau dia Kakak tiriku sekalipun, rasanya tak pantas.


"Ayah tahu kau anak yang baik," ucap Ayah yang langsung membuyarkan pikiranku tentang Sheryl. Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dengan setengah senyuman.


Perawat di ruangan itu kemudian meminta kami untuk keluar dari sana. Alasannya, Ayah harus banyak beristirahat agar kondisinya kembali stabil. Bunda menggamit tanganku menggiring hingga keluar ruangan dan duduk kembali di ruang tunggu.


"Bar, semoga kau tidak keberatan dengan perkataan Ayahmu," ujar Bunda tiba-tiba.


"Tidak, Bun. Aku tahu kalian melakukan yang kalian mampu lakukan untukku."


"Tidak hanya untukmu. Semua ini pasti sudah dipikirkan Ayahmu untuk kebaikan Sheryl juga."


"Iya … untuk Sheryl," kataku kembali mengangguk-angguk.


"Sebenarnya tadi kau lama karena mengurus apa?" tanya Bunda tiba-tiba.


Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaan Bunda. Seketika menolehkan pandanganku ke arahnya. "Ma-maksud, Bunda?"


"Iya, tadi kau bilang kau lama karena mengurus sesuatu. Sebenarnya mengurus apa?" tanya Bunda lagi.


Belum sempat aku menjawab, pandanganku mengerling ke arah pintu lift yang terbuka. Dari kejauhan, aku menangkap sosok Reynand yang berjalan ke arah kami.


Mengapa dia muncul lagi di sini?


---------------


Gimana? Gimana? Wkwkwk. Maaf lama update. Kerja dan liburan membuatku terlena. Makasih yang udah setia memberikan komentarnya. Komentar bagaikan mood booster buat penulis.

__ADS_1


Semangat!


Viviani.


__ADS_2