Marriage Order

Marriage Order
S3 Penolakan Papa


__ADS_3

Sheryl Pov


Reynand serius dengan ucapannya. Saat aku mengajak ia ke dapur, pria itu langsung menyapa sopan Mama dan asisten rumah tangga kami.


"Sore, Tante, Bibik." Reynand menyapa ramah, mengarahkan pandangannya pada dua wanita itu. Asisten rumah tangga Mama mengangguk seraya menyunggingkan senyumnya. Sedangkan Mama memandang terkejut Reynand yang memasuki dapur kami


"Sheryl, kenapa tamunya ke sini?" tanya Mama kepadaku.


"Di-dia–"


"Saya ingin membantu, boleh?" Reynand dengan cepat meregas perkataanku.


"Membantu apa?" Mama mengerutkan keningnya.


"Saya akan membantu Tante dan Bibik memasak," jawab Reynand begitu santai.


Mama dan asistennya menatap terkejut sosok Reynand, sedangkan aku hanya bisa menyengir kuda, begitu rikuh di hadapan mereka.


"Jangan, Rey. Kau tidak usah repot-repot. Seorang pria tak seharusnya menghabiskan waktunya di dapur. Apalagi kau adalah tamu Sheryl. Biar Tante dan Bibik yang melakukannya." Mama menolak bantuan pria itu.


"Ehm, sayang sekali. Padahal saya membeli beberapa ekor ikan gurame saat menuju kemari. Berharap Om Agung bisa mengubah pandangannya terhadap saya dan hubungan kami."


"Kau ingin merayunya lewat masakanmu?" Mama bertanya.


"Ya, Tante."


Entah apa yang merasuki otaknya hingga ide seperti itu muncul. Reynand benar-benar nekat. Papa sangat selektif dalam memilih makanan. Bagaimana bisa ia begitu yakin bisa menarik simpatinya dari beberapa ekor ikan yang akan dimasak itu?


Aku menoleh Mama yang tampak membuang napas, lalu melukiskan senyum pada wajahnya, "Ya, sudah. Anggaplah ini salah satu caranya," ucap Mama kemudian menoleh kepadaku, "ambilkan Rey apron bersih, Nak."


"Ya-ya, Ma," kataku buru-buru mengambil sebuah apron bersih dari dalam lemari dapur.


Aku memakaikan apron itu pada tubuh Reynand. Tak yakin pada kemampuan ia membuatku langsung berbisik di telinganya, "Apa yang sedang kau lakukan, Rey? Papa sangat selektif dalam memilih makanan. Bagaimana kalau kau malah menghancurkan seleranya?"


Reynand seketika berbalik menatapku. "Kau tak yakin pada kemampuanku?"

__ADS_1


"Kau 'kan pria. Kalau sekadar omelet aku yakin kau bisa tapi kalau mengenai selera Papa... aku tak yakin sama sekali." Aku menggeleng pelan.


Reynand mengangkat kedua sudut bibirnya. Tangannya meraih kedua tanganku. "Kau lupa kalau aku pernah membuatkanmu masakan lain? Beef teriyaki dengan wijen dan capcay sayur. Kau lupa pernah mengatakan rasanya enak kala itu?"


Perkataan Reynand membuat ingatanku kembali ke masa di mana ia sangat berusaha mendapatkan hatiku setelah kehilangan Baruna. Namun aku benar-benar lupa rasa masakannya. Saat itu yang teringat hanyalah rasa sedihku saja.


Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak. Aku tak ingat."


"Karena kau hanya memikirkan Baruna saat itu tanpa memandangku." Reynand menjawab dengan nada suara sedikit berbeda. Terdengar sekali bagaimana nada suaranya kala ia cemburu.


"Oh, ayolah. Aku benar-benar tak ingat masakanmu enak atau tidak kala itu. Mengapa nada suaramu jadi berubah kepadaku?"


Reynand tampak mengembus napas kasar, lalu menarik senyum tipis. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit sedih saja mengingatnya."


"I love you, Rey." Aku langsung mendaratkan satu kecupan pada pipinya. "Seperti katamu, kita tidak usah mengingat yang telah lalu. Benar-benar enak atau tidak rasanya saat itu, aku tahu kau melakukannya dengan sepenuh hati. Hanya aku saja yang tidak mengerti bagaimana ketulusanmu."


Setelah berkata itu, aku melihat wajah Reynand yang mendadak bersemu merah. "I love–"


"Kapan kau akan memulainya, Rey?" Mama tiba-tiba memotong perkataan priaku itu. Aku menoleh ke arah dua wanita yang ternyata sejak tadi memperhatikan kami.


Selang beberapa saat kemudian, semua masakan selesai dibuat. Kami menunggu kedatangan Papa dan yang lainnya di ruang tengah.


Waktu menunjukkan pukul enam sore. Reynand dan Mama tampak asik mengobrol santai.


"Gurame asam manis buatanmu enak. Sejak kapan kau bisa masak, Rey?" tanya Mama tiba-tiba dengan pertanyaan randomnya.


"Terima kasih, Tante," sahut Reynand kemudian ia terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Mama, "mungkin saat kuliah. Saat itu saya tinggal di luar negeri sendirian. Karena tak terlalu suka dengan masakan lokal sana, saya memilih untuk memasak sendiri sesederhana apapun masakan itu."


Mama mengangguk-angguk. Sementara aku hanya menyimak obrolan keduanya sejak tadi. Setengah otakku dikuasai oleh kecemasan berlebih tentang Papa yang mungkin akan langsung menunjukkan ketidaksukaannya kepada Reynand.


"Sher, kau harus banyak belajar dari Rey."


Aku sontak menoleh Mama dengan sebelah alis yang terangkat. Mengatakan sebuah pembelaan dari ucapan Reynand sebelumnya saat kami di London. "Rey bilang, dia mencari pendamping hidup, bukan seorang koki."


"Haish! Tetap saja! Apa kau tak merasa ingin memberikan yang terbaik untuk pasanganmu? Dulu kau juga tak bisa memasak untuk Ba–."

__ADS_1


"Haruskah membahasnya? Aku sudah tutup buku dengannya, Ma. Jangan membandingkan hubungan yang telah lalu dengan sekarang. Rey tidak masalah denganku yang tak bisa memasak."


Aku langsung memotong perkataan Mama. Bagaimanapun sama sekali tak suka Mama menyebut namanya dan mengurai pengalaman buruk pernikahan kami yang berumur sangat singkat.


Reynand tiba-tiba mendaratkan genggaman erat tangannya pada punggung tanganku, berkata kepada Mama, "Iya, Tante. Bagaimanapun Sheryl, saya menghormati dan mencintainya. Bisa memasak adalah urusan ke sekian. Yang terpenting adalah kebahagiaan kami dalam menjalankan hubungan ini."


Mama tampak menghela napas panjang lalu mendengus terkekeh. "Baiklah, baiklah! Karena kau dan Sheryl terlihat begitu saling mencintai, Tante tak akan banyak berkomentar lagi."


Seketika, Aku dan Reynand saling memandang. Rona merah muncul begitu saja pada wajah kami. Situasi menjadi hening untuk beberapa saat hingga tiba-tiba saja bel pintu utama berbunyi.


"Itu pasti Papamu!" Mama langsung beranjak dari duduknya menuju ruang tamu.


"Rey, bagaimana ini? Mengapa aku yang menjadi sangat gugup karena akan bertemu Papaku sendiri?" Aku bertanya kepada Reynand dengan degupan jantung kuat yang tak beraturan.


Seketika Reynand menyunggingkan seulas senyuman. Tangannya terulur mengusap puncak kepalaku begitu lembut. "Tenanglah. Jika aku belum bisa mendapatkan hati Papamu, kita masih ada waktu lain kali untuk melakukannya."


Sontak aku mengangguk dengan seulas senyuman yang sama untuknya. Meski terlihat tenang, aku tahu bagaimana perasaannya kali ini. Dia juga pasti merasa gugup dan cemas bertemu dengan Papa.


Aku dan Reynand lalu bangkit berdiri, berjalan menyusul Mama yang sudah lebih dulu menyambut Papa.


Bukan hanya Papa, di ambang pintu juga terlihat Kak Reza dan Kak Dita yang berdiri memandang kami dengan masing-masing tanda tanya pada wajah mereka. Ingin rasanya memeluk ayah kandungku itu, tapi entah kenapa aku hanya bisa terpaku memandang ke arah mereka.


"Mengapa ada pria itu di sini, Sheryl?" tanya Papa bernada dingin saat ia melihat Reynand yang berdiri di sampingku.


Entah dari mana keberanianku muncul. Aku sontak meraih tangan Reynand dan menggenggamnya begitu erat di hadapan mereka. Melihat tindakanku, Papa makin melebarkan bola matanya begitu marah.


"Sher...." Reynand memanggilku lirih. Mungkin ia terkejut dengan tindakanku yang begitu terang-terangan menaut pada telapak tangannya.


"Bukankah kau bilang kita harus menghadapinya bersama?" Aku balas berkata lirih tanpa menoleh pada Reynand.


"Sayang, Rey akan ikut makan malam bersama kita," ucap Mama langsung menggamit lengan Papa dengan cepat.


"Ck! Mengapa kamu tak juga mengerti, Rin? Aku tak akan pernah menyetujui hubungan Sheryl dengan Reynand. Anak Anton, dua-duanya sama saja. Lambat laun dia juga pasti akan menyakiti hati Sheryl!" tegas Papa segera menarik lengannya dari Mama. Ia akan angkat kaki dari hadapan kami.


"Tapi Sa–"

__ADS_1


Tak tahan. Seketika aku berteriak memotong perkataan Mama, "Pa, aku mohon jangan seperti ini. Berikanlah kami kesempatan!"


__ADS_2