Marriage Order

Marriage Order
Resepsi


__ADS_3

Siang itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat Aku dan Kak Baruna baru saja tiba di hotel Delrain. Kak Baruna mengulurkan tangannya di hadapanku dan tanpa ragu aku menyambutnya. Dia menggenggam tanganku erat lalu kami berjalan beriringan dengan langkah yang canggung. Aku menoleh ke arahnya tersenyum. Masih teringat jelas kejadian tadi membuat kami gugup satu sama lain.


Hotel berbintang lima itu bernuansa zaman renaissance ala Eropa. Terlihat sangat menarik dengan ukiran-ukiran dan lukisan antik pada interiornya. Halamannya luas dengan udara yang sedikit sejuk karena dekat dengan suasana pegunungan. Kami yang menikmati tempat itu, terus berjalan beriringan memasuki ballroom tempat diselenggarakannya pesta pernikahan Nesya.


Kami masuk ke dalam ballroom, menulis nama kami pada daftar tamu di meja penerima tamu. Suara musik terdengar lembut. Suasana resepsi pernikahan sudah ramai dengan para tamu yang sedang menikmati hidangan pesta maupun para tamu yang akan bersalaman dengan kedua pengantin yang sedang berbahagia di atas pelaminan. Mataku menangkap sosok Kak Reza dan Kekasihnya yang sedang asik bercengkerama tertawa bersama. Aku pun mengajak Kak Baruna menghampiri mereka.


"Kakak," ucapku manja seraya menepuk pundaknya dari belakang.


"Adikku tersayang kenapa baru datang? Tuh lihat sebentar lagi makanan habis tak bersisa," selorohnya tertawa.


"Huuh .... Aku sedang enggak mood bercanda Kak. Papa dan Mama mana Kak?"


"Itu duduk di situ, meja keluarga." Kak Reza menunjuk dengan bibirnya yang dimajukan.


"Apa kabar lo Bro?" Kak Baruna memeluk Kak Reza dalam waktu yang agak lama. Mungkin dia rindu tidak bertemu muka semalam.


"Ah gila lo. Ini tempat rame. Masa peluk gue lama begini? Enggak inget pernah dicap pasangan homo di kampus dulu?" protes Kak Reza masih dalam pelukan sahabatnya.


Kak Baruna lalu melepas pelukannya, "Emangnya gue pikirin. Sahabat lo ini sayang sama lo dan respon lo kayak gitu."


"Ya ampun, kita baru ketemu kemarin Bar. Astaga, kacau nih anak."


"Tapi gue enggak ketemu lo semalam. Gue kepalang rindu sama sahabat sendiri. Sedih hati gue ini. Ya gak Dit?" Kak Baruna tertawa seraya menoleh ke arah Kak Dita.


"Bolehlah sedih tapi Reza sudah suka wanita kok. Hahaha," sahut Kak Dita tertawa.


"What?? Jadi kamu percaya aku pernah homo?" Kak Reza terkejut sekaligus protes perempuan yang dicintainya berkata seperti itu.


"Aduh sayang, aku cuma bercanda." Kak Dita membelai lembut punggung kakakku menenangkan.


"Sudah dramanya?" tanyaku tertawa.


"Iya sana kamu temui Nesya. Dia menanyakanmu dari tadi." Kak Reza menunjuk ke arah Nesya dan suaminya yang sedang sibuk menyalami para tamu di atas pelaminan.


Nesya Anugerah Pratiwi, sepupuku dari pihak Mama. Wajahnya yang cantik ditambah dengan riasan yang membuatku pangling melihatnya karena kami sudah lama tidak bertemu. Dia memakai gaun berwarna senada dengan seragam keluarga kami. Suaminya bernama Aditya Pratama Mahardika. Dia terlihat tampan dalam balutan jas warna senada. Pasangan yang serasi itu terus tersenyum sepanjang acara.


"Ayo sayang." Aku mengajak Kak Baruna berjalan menuju pelaminan yang antriannya terlihat panjang itu.


"Sayang, kalau kita menikah nanti apa kamu sanggup berdiri seperti itu sepanjang acara? Lihat antrian ini, pasti kita tidak akan sempat untuk sekedar duduk." Tiba-tiba Kak Baruna mengatakan hal yang belum pernah terpikirkan olehku.

__ADS_1


"Iya juga ya? Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya," sahutku.


"Aku sebenarnya ingin yang private sih di mana hanya ada tamu dari pihak keluarga dan teman terdekat, tapi sepertinya tidak bisa."


"Iya sayang aku juga mau yang seperti itu. Tapi itu hanyalah mimpi mengingat kamu adalah anak tunggal."


"Iya ibuku sudah menyiapkan tiga ribu undangan untuk kita."


"Apa?!!" Aku terkesiap mendengar kata-kata Kak Baruna. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku yang keterlaluan.


"Tiga ribu? Berarti aku harus bersalaman dengan enam ribu orang jika mereka datang berpasangan. Oke aku akan anggap kata-kata Kak Baruna tadi adalah sekedar lelucon agar aku tidak terlalu memikirkannya," batinku menenangkan.


"Aku serius sayang," tambah Kak Baruna.


"Damn it!" gumamku kesal.


"Barusan kamu bilang apa?" Kak Baruna menoleh menatapku.


"Enggak apa-apa sayang," sahutku tersenyum lebar menyembunyikan kekesalanku.


Kami terus saling berbicara hingga akhirnya tiba di depan Nesya dan suaminya. Kedua orang yang sedang berbahagia itu menyambut kami dengan senyumannya yang merekah bagai bunga yang baru saja mekar di pagi hari. Begitu indah dipandang mata.


"Sheryl, akhirnya kamu datang. Aku mencarimu dari tadi," sambut Nesya.


"Enggak apa-apa Sher. Kenalin ini suamiku Adit. Adit ini sepupuku yang sering kuceritakan dan dia akan menikah juga bulan depan." Aku dan Kak Baruna lalu bersalaman dengan Nesya dan suaminya.


"Terima kasih sudah datang ya," sambut Adit pada kami.


"Semoga selalu berbahagia," ucapku.


"Oh cowok tampan ini pasti calon suamimu. Siapa namanya?" tanya Nesya


"Baruna," jawabku singkat.


"Baruna, tolong titip sepupuku ini. Dia ini agak bodoh dalam percintaan," celoteh Nesya tertawa.


Deg!


"Nesya, kamu menjatuhkan harga diriku di depan calon suamiku. Yang kamu lakukan itu jahat Nes. Aku memang bodoh berpacaran terlalu lama dengan orang yang sama tapi kan aku sudah move on," batinku berontak.

__ADS_1


Kak Baruna hanya tertawa mendengar kata-kata Nesya. Aku memasang wajah masam membuat Nesya sedikit bersalah.


"Sheryl kamu marah? Maaf, aku hanya bercanda," pintanya tulus, "Baruna juga, aku hanya bercanda jangan anggap kata-kataku terlalu serius. Oke?"


"Oke. Karena kamu sepupu tersayangku aku maafkan tapi tidak lain kali," sahutku.


Kak Baruna hanya mengangguk tersenyum mengiyakan kalau dia tidak menganggap serius dengan kata-kata Nesya. Kami sudah terlalu lama di atas pelaminan membuat antrian bersalaman untuk pengantin bertambah panjang. Aku menarik lengan Kak Baruna mengajaknya cepat-cepat turun setelah sebelumnya bersalaman memberi selamat kepada Tante Ratih dan Om Bayu yang merupakan orang tua dari Nesya. Mereka hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih sudah datang memberi selamat.


"Sayang kita ke meja Mama dan Papa dulu ya," ujarku.


"Ayo," ucap Kak Baruna.


Kami berjalan menuju meja keluarga di mana orang tuaku sedang bercengkerama dengan keluarga besarku sambil menikmati hidangan pesta.


"Mama kami datang." Aku tersenyum lebar.


"Anak ini, baru datang. Kamu ketinggalan foto keluarga."


"Biarkanlah Ma, yang penting kami datang kan."


Aku dan Kak Baruna lalu menghampiri anggota keluarga yang lain sambil menyalaminya dan tidak lupa terus tersenyum di hadapan mereka. Aku rasa gigiku sudah cukup kering terus tersenyum sejak tadi.


"Wah baru lagi cowoknya ya Kak Sher?" tanya Ali sepupuku. Umurnya tiga tahun di bawahku.


"Berisik!" sahutku berbisik.


"Baguslah ada kemajuan daripada dipacarin tapi gak dinikah-nikahin." Ali meledek.


"Ali jangan begitu sama kakak sepupu kamu. Bulan depan itu dia menikah." Tante Adel membelaku.


Adik sepupuku itu hanya cengar-cengir mendengar nasihat ibunya. Aku menoleh Kak Baruna yang hanya menyunggingkan senyum tak henti-hentinya dari tadi.


"Hati-hati Kak bisa gila senyum terus. Gigimu itu pasti kering sepertiku sekarang."


Anggota keluargaku banyak sekali sampai aku tidak bisa menyebutkan mereka satu persatu. Keluarga besar berkumpul semua di sini.


"Aku ke toilet dulu ya sayang," ucapku pada Kak Baruna diikuti anggukan kepalanya. Kak Baruna lalu duduk berbaur dengan keluargaku.


Aku melangkah berjalan menuju toilet yang letaknya tidak jauh dari ballroom itu. Tiba-tiba tubuhku ditabrak oleh seorang laki-laki yang membawa segelas minuman.

__ADS_1


Prang!


Sebuah gelas terjatuh pecah, isinya keluar memuncrat membasahi gaun di pergelangan tanganku. Semua orang menoleh memperhatikan kami yang berada di tengah keramaian. Aku mendongakkan kepalaku melihat ke arah laki-laki itu. Satya berdiri di hadapanku.


__ADS_2