
"Halo, Kak."
"Senang sekali kedengarannya. Ada apa?"
"Biasa saja. Apa terdengar seperti itu?"
"Iya, kamu sedang apa, Sher? Sudah makan siang belum?"
"Belum. Aku baru saja ingin menelepon Kakak, ternyata Kakak sudah menelepon duluan."
"Memang kalau sudah jodoh apa pun akan saling berhubungan. Apalagi bisa lewat pikiran, seperti telepati."
"Kakak bisa saja. Sekarang aku baru saja ingin makan siang."
"By the way, ada apa ingin meneleponku?"
"Ada yang ingin aku tanyakan ke Kakak."
"Tentang?"
"Apa Kakak suka mengirim paket untukku ke kantor tanpa nama?"
"Tidak. Kalau ingin mengirim pakai nama pengirim saja. Misterius sekali kalau tidak ada nama pengirim. Memangnya dia sudah mengirim apa saja?"
"Itulah yang membuatku penasaran. Sudah tiga kali pengiriman. Dia mengirim bunga, coklat, makanan, dan minuman. Semuanya ditujukan untukku, tapi tidak ada nama pengirim. Hanya kartu dengan tulisan yang membuat orang bertanya-tanya seperti surat kaleng."
"Pacarmu pasti yang mengirimnya."
"Tidak Kak, bahkan Fandy tidak tahu. Beberapa hari yang lalu sudah pernah aku tanyakan."
"Ya sudah, nanti aku membantumu untuk cari tahu. Aku juga baru mau makan siang. Selamat makan ya."
"Iya Kakak juga."
Aku menutup telepon, berjalan menuju mejaku, membanting buket bunga mawar kuning itu di atas meja.
"Jangan dibanting dong, Sher. Itu bunga cantik banget. Sini buat gue aja. Nanti gue pajang di rumah."
"Ya udah, buat lo aja. Gue tadinya mau simpan buat barang bukti. Tapi jadi males."
"Kenapa males?"
"Gue pikir yang kirim itu orang yang gue kenal. Tahu nya cuma sampah. Gak jelas!" Aku sedikit kecewa. Berharap Kak Baruna yang mengirimkan paket-paket itu untukku.
__ADS_1
Irene mengambil buket mawar kuning itu, kemudian membaca kartu yang menyembul di antaranya.
"Ini kata-kata kayak pantun aja. Hahahaha. Tapi kalau yang kirim ini ngajakin lo ketemuan, gimana?"
"Enggak mungkin. Dia pasti pengecut banget. Kirim surat aja bisanya jadi surat kaleng."
"Gak apa-apalah, yang penting bunganya cantik," kata Irene sambil memeluk buket itu.
"Terserah lo deh, Irene sayang. Makan dulu yuk Ren. Gue laper."
"Oh iya ya, udah istirahat. Yuk ke kantin! Eh, tapi lo bilang tadi ada paket makanan juga?"
"Gue kasih Mbak Maya."
Kami berjalan menuju kantin dan duduk di sebuah meja kosong dekat dengan ruang makan para eksekutif.
"Sher, itu si ganteng Pak Reynand tadi lewat."
"Mana?" Aku menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok Pak Reynand.
"Itu tadi lewat di samping lo."
"Ya udah sih. Orangnya juga kan mau makan, Ren."
Apa hebatnya sih Reynand itu? Apa Irene yang terlalu berlebihan melihat sosok pria itu? Dia tampan sih, tubuhnya juga tinggi dan kekar tapi itu sama sekali tidak menarik hatiku sama sekali. Mungkin karena aku sudah terlalu lama berpacaran jadi ltidak tertarik pada lelaki lain**?
Siang hari mulai digantikan oleh sore hari. Sebentar lagi langit pun akan gelap. Aku duduk termenung di lobi kantor sambil sesekali melihat arlojiku yang menunjukkan pukul enam sore. Sudah satu jam aku menunggu Kak Baruna yang katanya akan menjemputku. Tapi batang hidungnya belum muncul juga.
Hujan mulai turun rintik-rintik, tidak lama menjadi semakin deras seketika. Aku mencoba menelpon Kak Baruna lagi. Sudah lebih dari sepuluh kali aku menelepon, tapi dia tidak mengangkatnya. Aku beranjak dari tempat dudukku berjalan mondar-mandir mengkhawatirkannya. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya.
"Ke mana sih dia?" gumamku.
Dari kejauhan aku melihat sosok Pak Reynand baru saja keluar dari lift. Dia berjalan sedikit terburu-buru. Gayanya yang dingin tampak jelas di mataku.
"Sore Pak." Aku menyapanya sambil menundukkan kepala.
Pak Reynand hanya menoleh sejenak menjawab, "Sore."
Kemudian dia kembali berjalan menuju mobilnya.
Apa yang barusan aku lihat? Dingin sekali dia, seperti batu es yang belum mencair.
Aku mengernyitkan dahi heran dengan sikapnya terhadapku yang besok jadi sekretarisnya.
__ADS_1
Aku kembali duduk dan mulai memainkan smartphone-ku lagi. Tidak lama kemudian, Pak Wira sekuriti kantor datang menghampiriku.
"Mbak, maaf di depan ada yang cari Mbak Sheryl. Tapi orangnya masih di dalam mobil"
"Cari saya?"
"Iya Mbak."
Aku melangkah keluar gedung kantor. Mataku tertuju pada sebuah mobil yang sudah kukenal selama ini. Mobil Fandy terparkir di halaman depan. Aku segera berbalik arah masuk kembali ke dalam, tapi Fandy melihatku dan segera keluar berlari mengejarku. Dia menarik tanganku. Aku terpaksa mengikuti langkahnya. Dia membawaku masuk ke dalam mobil.
"Sher, kenapa tidak angkat teleponku? Pesanku pun tidak dibalas padahal aku tahu kamu online terus," tanyanya dengan wajah kecewa.
"Lalu kamu mau bicara apa?"
"Tadi aku berbicara berdua saja dengan Papamu."
"Terus Papa bilang apa?"
"Papamu menyuruhku menyerah pada hubungan ini. Papamu juga minta aku memutuskan hubungan denganmu."
"Jawabanmu?"
"Aku tidak bisa memutuskan kamu. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Tapi Papamu menentangnya. Papamu bilang kamu akan segera menikah dalam waktu kurang dari dua bulan. Aku bingung bagaimana menjawabnya. Aku tidak bisa menjawabnya, sedangkan aku harus pergi keluar negeri. Aku tidak bisa melepaskan keduanya."
"Sudah aku duga. Kata-katamu tidak bisa dipegang. Janji manismu hanya di mulut saja."
"Jadi kamu setuju menikah dengannya? Bagaimana bisa kamu menikah tapi tidak mencintai orang itu?"
"Buat apa bicara tentang cinta saat ini. Kamu yang sudah jelas-jelas membuatku kecewa. Kamu yang tidak pernah akan mengerti cinta yang sebenarnya. Aku sekarang yakin, lebih baik kita putus saja, Fan." Aku menatap matanya yakin.
"Oh aku baru tahu, Sheryl yang sekarang memang lebih memilih hidup dengan orang yang lebih bagus jabatannya dan banyak hartanya. Jadi begini cintamu?" ejek Fandy menyindir seraya tersenyum kecut.
Aku tidak tahan mendengar ejekannya. Terlalu sakit dan kecewa mendengar penilaian Fandy terhadapku saat ini. Seorang Fandy yang aku cintai selama ini bisa melontarkan kata-kata seperti itu. Seperti bukan Fandy yang selama ini aku kenal.
Plak!
Suara keras dari telapak tanganku yang mendarat di pipinya membuat ia berhenti berbicara. Aku menampar Fandy.
Fandy mengelus pipinya yang memerah, "Beraninya kamu tampar wajahku! Kamu tidak bisa mempermainkanku seperti ini Sher. Kita kan sudah merancang banyak cita-cita."
"Kita? Bukan, itu hanya cita-citamu. Maafkan aku dan terima kasih banyak untuk waktumu yang terbuang untukku selama enam tahun ini!"
Fandy hanya diam tidak menjawab kata-kataku. Dia mengalihkan pandangannya dari wajahku. Aku membuka pintu mobilnya dan berlari keluar terkena derasnya hujan. Tidak lama kemudian mobilnya keluar dari halaman parkir, pergi begitu saja.
__ADS_1