Marriage Order

Marriage Order
S3 Rencana Dadakan


__ADS_3

Reynand Pov


Wanita itu menatap bingung kepadaku dan Sheryl beberapa saat, lalu ia bangkit dari duduknya.


"Kau ... Reynand?" tanyanya.


"Ya. Kau...."


Dia buru-buru mengulurkan tangannya. "Saya Livia. Livia Joana," kata Livia seraya tersenyum.


Aku melepas tanganku dari Sheryl, beralih meraih telapak tangan Livia. "Saya Reynand," kataku kemudian menoleh ke arah Sheryl, "dan dia adalah Sheryl. Dia–"


"Reynand adalah calon suami saya." Sheryl memotong dengan cepat hingga membuatku sontak menoleh kepadanya. Sheryl ikut mengulurkan tangannya kepada Livia.


"Livia," ujar Livia menyambut tangan Sheryl dengan senyum samar pada wajahnya.


Aku terkejut sekaligus mengekeh dalam hati.


Sheryl benar-benar tak terduga. Aku baru saja ingin mengatakan hal yang sama. Memperkenalkan dirinya sebagai calon istri, tapi ternyata dia malah mendahuluiku.


Livia menarik tangannya. Sekilas aku melihat raut muka Livia Joana terlihat menekuk tak suka. Namun dengan cepat mengubahnya seolah tak mendengar apa-apa dari mulut Sheryl.


"Duduklah!"


Pandanganku masih tertuju pada Shery yang bergeming kepada Livia. Tatapannya terlihat menghunus. Tiba-tiba ia meremas jari jemariku begitu kuat hingga membuatku menunduk tertuju pada tautan tangan kami.


Sheryl berbisik dengan nada menggerutu, "Kelihatannya dia tertarik kepadamu. Namun jika tertarik, mengapa dia masih terlihat begitu tenang setelah aku mengatakan kau calon suamiku?! Membuat kesal saja!"


"Sesal kemudian tak ada gunanya. Kau sendiri yang memaksaku untuk datang, 'kan?" sahutku menggoda di telinganya. Mulut Sheryl sontak mengerucut sedikit hingga membuatku kembali mengekeh dalam hati.


Melihatmu cemburu sangat menyenangkan.


"Sial! Mengapa Livia Joana terlihat sangat cantik sekarang?!" gerutunya lagi.


Aku balas berbisik, "Kau khawatir, huh?"


"Sedikit," jawabnya dengan kerutan menghunjam di dahinya.


Entah mengapa walau hanya sesaat, ekspresi cemburu Sheryl dapat sedikit mengurangi beban pikiranku tentang kelangsungan hubungan kami ke depannya.


Livia yang sudah lebih dulu duduk kembali mendongak. "Apa yang sedang kalian lakukan? Mengapa tak juga duduk?"

__ADS_1


Mendengar perkataan Livia, aku dan Sheryl saling memandang, lalu segera duduk. Livia menaikkan sebelah alisnya, memandang kami berdua bergantian.


"Kedatangan kalian berdua sekarang tak akan mempengaruhi saya. Saya datang karena kedua orang tua saya yang meminta," ujarnya.


"Baiklah. Kami tidak akan lama–"


"Tunggu sebentar! Saya harus menyelesaikan sesuatu terlebih dulu." Livia memotong perkataanku.


"Baiklah." Aku mengangguk, sedangkan Sheryl mendesis kesal di telingaku.


"Sebenarnya dia niat atau tidak, sih? Mengapa dia begitu tak sopan, sengaja membuat orang menunggu begitu saja!"


"Kau terus saja menggerutu. Haruskah aku menuangkan air dalam botol mineral itu ke wajahnya agar kau puas?" Aku balas berbisik, mencoba menenangkannya.


"Tak sampai seperti itu, Rey," sahutnya lirih, tak terpengaruh ucapanku.


Entah mendengar atau tidak, Livia tak bereaksi. Ia meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu pada layar dan beberapa saat kemudian menelepon seseorang, terdengar membahas suatu pekerjaan. Wanita itu tak memedulikan kami hingga pelayan restoran datang menaruh hidangan makan malam dan menuangkan wine ke dalam gelas kami.


"Selamat menikmati," kata pelayan itu sesaat sebelum meninggalkan meja kami.


Livia dan Sheryl sama-sama tak membuka mulut mereka. Livia yang sibuk masih berkutat dengan ponselnya. Sementara, Sheryl-ku terus menatap dingin kepada Livia. Anehnya, wanita itu masih juga tak bereaksi atau merasa terganggu.


Beberapa saat kemudian, Livia meletakkan ponsel di atas meja, lalu mengangkat gelas anggurnya di hadapan kami. "Mari bersulang!"


"Ada apa?" tanyaku pelan.


"Ya, ada apa denganmu, Sher?" Livia yang sejak tadi tampak tak peduli ikut menaruh gelasnya. Keningnya mengerut bingung memandang Sheryl.


Sheryl menoleh ke arahku dan Livia bergantian. Ia tampak menghela napas panjang, lalu menjawab pertanyaan kami dengan nada manja, "Aku tak bisa minum alkohol, Sayang."


"Kenapa? Kau tidak enak badan?" Aku cemas. Segera menaruh telapak tanganku pada dahinya, tapi dahinya tak terasa panas sama sekali.


"Aku takut membahayakan janinku."


Sontak mataku membulat. Salivaku dengan cepat menuruni tenggorokan yang kering. Perkataan Sheryl membuat jantungku serasa akan copot. Bagaimana bisa? Sedangkan kami belum melakukan hubungan seperti itu di London.


"Ka-kau hamil?" Aku tergagap.


"Ya. Maaf karena menyembunyikannya. Ini anakmu, Rey." Sheryl menunduk mengelus perutnya, lalu meraih tanganku, memaksa telapak tangan ini melakukan hal yang sama.


"Bagaimana bisa? Aku kan belum–" Aku kembali bertanya, tapi wanitaku hanya memandang dengan air muka penuh arti.

__ADS_1


Apa ini adalah salah satu rencananya?


***


Sheryl Pov


Sial! Sial! Sial! Livia Joana tampak sangat cantik sekaligus anggun. Seketika aku menyesal menyuruh Reynand bertemu dengannya walau pada kenyataannya kami datang bersama menemui wanita itu.


Aku tahu Reynand berusaha menjaga perasaan kami sebagai wanita. Dia tak mungkin setega itu menyakiti wanita yang ia tak kenal hanya demi memuaskanku. Jadi, aku hanya bisa terus menggerutu berbisik di telinganya. Sengaja membuat ia tahu kalau aku tak kerasan berada di antara mereka.


Rencana yang kusiapkan sejak siang hari untuk memperingati Livia agar tak berani mendekati Reynand tak efektif sama sekali. Walau aku sudah mengaku sebagai calon istri Reynand, Livia sama sekali tak terpengaruh.


Livia bilang dia datang karena kedua orang tuanya. Wanita yang terlihat anggun itu malah asik sendiri dengan kesibukannya. Ya! Dia mengabaikan kami, padahal kami sudah datang jauh-jauh menemuinya. Benar-benar wanita menyebalkan!


Apa dia seperti itu karena tahu tatapan mataku yang tak suka kepadanya? Ah, entahlah. Mungkin Livia sedang mencoba untuk jual mahal.


Tiba-tiba wanita itu meletakkan ponsel, lalu dengan cepat mengangkat gelas winenya. "Mari bersulang!" serunya.


Reynand mengangkat gelas mengikuti ajakannya. Aku sontak melengos, mendengus kesal. Tak suka dengan tindakannya yang terlihat sedang mencoba mengakrabkan diri.


Cih! Aku sama sekali tak akan menyambut ajakan minumnya.


Aku menolaknya dalam hati. Di saat itu pula, Reynand kembali menautkan tangannya padaku. "Ada apa?" tanyanya pelan. Nadanya begitu lembut terdengar di telingaku.


"Ya, ada apa denganmu, Sher?" tambah Livia ikut bertanya dengan nada cemas.


Aku menoleh ke arah Livia dan Reynand bergantian. Saking kesalnya, sebuah ide gila mendadak melintas di kepalaku.


"Aku takut membahayakan janinku." Aku menunduk seraya mengelus perut pelan.


"Ka-kau hamil?" Reynand bertanya dengan tergagap. Wajahnya terlihat bingung sekaligus khawatir.


"Ya. Maaf karena menyembunyikannya. Ini anakmu, Rey." Walau merasa lucu, aku kembali mengelus perutku, lalu meraih tangan Reynand, memaksa telapak tangannya melakukan hal yang sama.


"Bagaimana bisa? Aku kan belum–" Reynand kembali bertanya, tapi aku langsung memandang dengan penuh arti.


"Oh, ayolah! Masa kau lupa telah menghamiliku padahal kita sering melakukannya," tambahku lagi seraya mengangkat kaki, dengan sengaja menginjak sepatu Reynand.


Mata Reynand membulat terkejut karena tindakanku itu. Aku balas memandang gemas. Dia tampak bodoh tak mengerti juga dengan rencana dadakan ini. Namun rasa bingungnya hanya bertahan beberapa saat. Priaku langsung mengedipkan matanya.


"Aaah, iya!" Reynand mengangguk-angguk. Tampaknya ia baru mengerti apa yang kumaksud. Priaku itu lalu menepuk dahinya. "Astaga! Mengapa aku sangat bodoh? Aku tak ingat betapa kita saling mencintai dan menginginkan seorang bayi? Aku sangat senang, Sheryl. Sangat senang!" katanya seraya menunjukkan raut pura-pura bahagianya.

__ADS_1


Aku yang penasaran segera mengalihkan pandangan kepada Livia yang sontak terdiam memandang jijik ke arah kami.


__ADS_2