Marriage Order

Marriage Order
S3 Kata Maaf yang Tertahan


__ADS_3

Sheryl Pov


Kata-kata Tante Aina sungguh pedas! Sebenci itu kah ia kepadaku? Oh, Tuhan. Bagaimana jika sampai akhir aku tak mendapatkan restu darinya? Mungkinkah kami akan kembali berpisah? Kali ini dia sungguh keterlaluan. Dan kepalaku rasanya sungguh ingin meledak.


Tidak, Sheryl! Jika kau menyerah, maka tak ada kesempatan lagi untukmu dan Reynand. Bukankah kau ingin memperjuangkan hubungan ini? Maka, segera tarik napas dan buang napas panjang. Buang juga seluruh pikiran negatifmu tentang Tante Aina. Dia hanya sedang mencoba melindungi putranya.


Ya. Dua kata hatiku saling berdebat dalam sekejap. Pertanyaan tentang kehamilan yang baru saja Indira lontarkan harus mendapatkan jawaban yang benar-benar jelas. Mereka tak boleh salah paham.


"Aku tidak hamil," jawabku serius.


Seketika Indira mengelus dadanya. Ia tampak lega mendengar jawabanku. Sementara, Tante Aina langsung melengos tak peduli. Namun, aku dapat melihat bibirnya yang sedikit mengerucut. Sepertinya, ia tak terima jawabanku.


"Bisakah kau buktikan itu? Tante rasa kau hanya sedang bergurau." Tante Aina menyindir tanpa menatap mataku. Ia lebih suka memperhatikan gawai di tangannya.


"Mama, Sheryl tak mungkin berbohong! Aku dapat melihat itu dari matanya," Indira menyela. Dengan tatapan tak setuju ia mengarahkan pandangan kepada ibu tirinya.


"Diam, Dira! Walau Sheryl temanmu, kau tak tahu bagaimana sifatnya."


"Dia jujur, Ma. Sheryl dan Kak Rey, aku dapat melihat keduanya saling mencintai sejak dulu."


"Haish! Jika sejak dulu, mengapa dia pergi meninggalkan Rey dan malah memilih Baruna? Dia juga bilang mencintai kakakmu tapi tak bisa bersamanya. Omongannya tak ada yang bisa dipegang. Dia bisa mengatakan A saat ini, dan besoknya berubah mengatakan B."


"Saya tahu saya bukanlah wanita yang sempurna untuk Reynand. Terlalu banyak tindakan saya yang membuatnya sakit hati. Tapi, saya benar-benar tulus mengenai hubungan kami. Dan tentang kehamilan itu, saya dan Rey sengaja berbohong kepada Livia. Kami ingin membuatnya berubah pikiran, tak menyetujui perjodohan itu." Aku menyela perdebatan ibu dan anak itu.


"Omong kosong! Cinta yang kau gadang-gadangkan untuk Rey itu tak akan bertahan lama. Saya hanya ingin melindungi Rey dari wanita pilihannya. Seandainya wanita itu bukan kamu, saya tak perlu berpikir seribu kali."


Perkataan Tante Aina sontak membuat gemetar tubuhku. Bola mataku ikut basah saat itu juga, tapi sekuat tenaga aku menjaganya. Membiarkan cairan itu tetap bertahan pada pelupuk mata. Dengan mulut bergetar, aku berkata, "Tante, izinkanlah kami bersatu."

__ADS_1


Tante Aina bergeming. Dalam diamnya ia tampak berpikir. Namun belum sempat menjawab, kami dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka. Seketika, pandangan kami mengarah ke sana. Bukan pelayan restoran yang datang, melainkan Daniel dan Baruna.


Aku tak dapat lagi menahan air mata yang seketika menggelinang. Baruna menatap dengan bola matanya yang membulat. Raut wajahnya berubah geram. Berjalan dengan langkah cepat, berdiri di hadapan kami.


"Cukup, Tante! Tante baru saja membuat Sheryl menangis. Tante tak berhak membuatnya bersedih lebih dari ini!" katanya setengah berteriak. Ia langsung meraih pergelangan tanganku dan menariknya kuat. Masih dengan linangan air mata, aku terpaksa bangkit dari dudukku. "Sheryl, kamu ini sangat bodoh. Mengapa kamu malah ada di sini dan membiarkan Tante Aina membuatmu menyudutkanmu?!"


"Baruna, sedang apa kau di sini?" Tante Aina menatap dengan kernyitan pada dahinya.


"Aku ada janji dengan Sheryl! Jika Tante hanya ingin menjatuhkan mentalnya seperti ini, aku tak bisa diam saja."


"Bar, lo salah paham," Indira menyahut dengan raut cemas.


"Apanya yang salah? Lo gak lihat gimana temen lo sendiri nangis di depan nyokap lo, Dir?! Apalagi yang bisa nyokap lo lakuin selain jatuhin mental orang, hah!"


"Tapi–"


"Biar saja, Dira." Tante Aina menepuk bahu Indira, "jika kau sangat khawatir saya memperlakukan Sheryl dengan tak baik, bawa saja dia! Seharusnya saya memang memercayai firasat saya sebagai seorang ibu. Sheryl tak pernah layak mendapatkan Rey."


Tak lama, kami duduk di ruangan privasi yang cukup luas. Di atas meja sudah tersedia beberapa menu hidangan makan siang. Namun, aku tak menyentuhnya sama sekali. Kepalaku tertunduk menahan geram. Kedua tanganku mengepal kuat. Terdengar suara Daniel yang bercakap dengan Baruna.


"Kalau ada yang kurang telepon aja, ya!"


"Ya. Terima kasih, Niel," sahut Baruna.


"Ya. Enjoy your lunch!"


Sedetik kemudian, suara pintu menutup membuatku menoleh. Baruna mengulurkan tangannya, memberikan sehelai tisu kepadaku.

__ADS_1


"Hapus air matamu," katanya.


Aku meraih tisunya. Dengan cepat menyeka air mataku. "Mengapa kamu mencampuri urusanku dan malah membawaku keluar dari sana?" sahutku tak peduli dengan perkataannya.


"Siapa yang tahan melihatmu menangis begitu? Pasti Tante Aina berkata hal-hal yang menyakitkan," tebaknya lalu meraih garlic bread dari atas piring dan memakannya cepat-cepat.


Tebakan Baruna tak salah. Tante Aina sangat menyakitiku. Membuatku merasa rendah karena kata-katanya. Namun, bukankah aku memang sedang memperjuangkan hubunganku dengan Reynand? Baruna seharusnya tak ikut campur masalah kami.


Aku mengambil satu botol air mineral, lalu meminumnya seolah tak bernapas. "Kamu membuat harapanku semakin jauh. Setelah berpisah denganmu, kepercayaan Papa terhadap keluarga Asyraf menghilang. Dan hal itu berujung pada keraguannya terhadap Rey. Papa tak merestui kami. Lalu tadi apa yang kamu lakukan, Mas? Tindakanmu yang membelaku tadi akan membuat Tante Aina salah paham. Dia bisa menganggapku masih memiliki hubungan denganmu!" ocehku sangat emosi. Rasanya memperjuangkan hubunganku dan Reynand akan makin sulit.


"Sheryl...." Baruna berkata lirih.


Aku menghela napas panjang, melipat kedua tanganku dengan tatapan yang mengarah pada raut penyesalan Baruna. "Ya, sudah! Itu juga bukan urusanmu," kataku kemudian terdiam sejenak sebelum akhirnya aku pun bertanya sesuatu kepadanya, "jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku sekarang?"


Baruna menarik wajahnya, ia berdeham. "Sheryl, aku tahu kita memang telah berpisah. Bertemu denganmu di makam saat itu membuatku sadar kalau kau belum juga berubah. Kau masih sama menatap dingin kepada Rafael."


"Aku hanya tak suka melihatnya," sahutku masih dengan sedikit emosi yang tersisa.


Baruna tampak mengangguk-angguk, lalu terdiam. "Sikapmu ... tidakkah itu keterlaluan? Ya, aku tahu penyebab perpisahan kita tak bisa lepas karena kehadirannya. Tapi–"


"Harap diingat! Bukan hanya karena Rafael, tapi kamu dan Felicia juga."


Sungguh! Sebenarnya sangat malas membahas hal yang telah berlalu.


"Ya-ya. Itu memang salahku. Aku menyesal dan sudah meminta maaf kepadamu. Sebaliknya, bukankah kamu juga bersalah, huh? Tak ada kata penyesalan dari mulutmu karena berbagi hati dengan Rey," ucap Baruna yang membuat bola mataku seketika melebar menatapnya beberapa saat. Baruna yang tampak sedikit emosi membuka mulutnya lagi, "Rafael hanya anak kecil yang tak bisa memilih orang tua mana yang akan melahirkannya. Kelahirannya adalah kesalahanku dan Felicia. Jadi jangan luapkan ketidaksukaanmu kepadanya."


Untuk beberapa saat mendengar ucapan Baruna membuatku tercenung, menelan ludah. Perkataannya benar. Di dalam hati kecilku, masih ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku tak tenang. Dan itu adalah permintaan maaf tulus yang tertahan, tidak bisa kuucapkan kepada Baruna. Aku terus menyalahkannya.

__ADS_1


"Ya, kuakui aku salah. Aku benar-benar minta maaf, Mas. Aku juga akan berusaha mengubah sikapku kepada Rafael."


Mendengar ucapanku, Baruna tersenyum. "Terima kasih sudah mengerti. Aku sungguh lega telah mengatakannya. Hubungan kita harus benar-benar baik setelah ini," pungkas Baruna.


__ADS_2