
Reynand Pov
Aku dan Mama baru saja tiba di sebuah apartemen yang berada di pusat kota London. Kami langsung membereskan barang-barang. Mengeluarkan semuanya dari dalam koper besar yang kami bawa, lalu menatanya dengan segera di kamar masing-masing.
Ya! Aku memilih untuk mengikuti kemauan Mama. Tinggal di negara ini selama satu bulan demi proyek besar yang kupegang, meski pada kenyataannya aku tak yakin bisa bertahan untuk berjauhan selama itu tanpa bertemu satu kali pun dengan Sheryl. Seperti kali ini, perasaanku tambah tak enak setelah pertemuan terakhir kami.
Langkahku terhenti sejenak. Benar-benar tak tahan untuk tidak menghubunginya. Walau kalimat terakhirnya adalah kalimat perpisahan, aku tak ingin mengiyakannya. Kami harus berbicara. Aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Setelah tangisan itu sirna, mungkinkah ia akan tertawa setelahnya? Apa Baruna memperlakukan ia dengan baik?
Aku memutuskan untuk duduk di tepian tempat tidur. Mataku melirik ponsel yang begitu hening meski pesan chat sudah terkirim sejak masih berada di bandara. Tak ada balasan sama sekali darinya. Bahkan panggilanku diabaikannya.
"Huft! Apa yang dia lakukan? Mengapa pesan chatku tak juga dibaca?!" gerutuku kesal sambil menatap layar ponsel.
Tak lama kemudian, aku menoleh saat mendengar pintu kamar yang diketuk dari luar.
"Rey, apa kau sudah selesai?" Suara Mama terdengar memanggil.
"Ya, Ma." Aku buru-buru bangkit berdiri dan membuka pintu.
"Ayo cari sarapan!"
Aku melirik waktu pada arlojiku. Jam delapan. Pantas bila perutku terasa lapar. Kami belum sempat sarapan begitu tiba di bandara Heathrow London.
"Ayo, Ma," sahutku.
Kami berdua pun meninggalkan apartemen, mencari satu restoran yang bisa kami kunjungi pagi hari. Gabs Fish and Chips Restauran adalah satu restoran yang paling dekat dengan apartemen kami. (Author Note: Promo karya sedikit boleh lah ya! Cari nama Viviani, judul karya : Aku... Sang Putri?)
Saat kami membuka pintu, seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan kami, "Welcome to Gabs Fish and Chips! I am Margareth. Can I help you?" tanyanya yang langsung membuatku melirik nametag yang ia pakai. Wanita itu memang bernama Margareth.
"Yes, please. Breakfast for two. Can we see the menu, Mrs. Margareth?"
Wanita itu mengangguk. Kami duduk di salah satu meja yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Mama mengedarkan pandangannya beberapa saat.
"Yah, lumayan," katanya.
Aku mengangguk. Tak lama, wanita asing tadi menghampiri kami dan memberikan buku menunya. Mama kemudian sibuk memilih makanan.
Mataku langsung tertuju pada layar ponsel ketika tiba-tiba saja sebuah notifikasi pesan masuk terdengar. Sungguh berharap itu adalah salah satu pesan chat balasan darinya. Tapi ternyata tidak. Pesan chat dari Freddy.
[Rey, maaf aku benar-benar lupa. Lukisan Sheryl sudah selesai sejak lama. Ke mana aku harus mengirimkannya?]
Aku menghela napas panjang. Kukira itu pesan chat dari Sheryl, ternyata malah dari Freddy, gerutuku dalam hati.
__ADS_1
"Ada apa, Rey? Sejak tadi Mama perhatikan atensimu tak lepas dari ponsel yang kau pegang. Siapa yang sedang kau tunggu? Sheryl?" tanya Mama dengan alisnya yang seketika mengerut.
Aku menelan ludah, lalu berbohong, "Bukan. Bukan Sheryl. Julian sejak tadi mengirimkan laporan yang salah kepadaku. Kalau begini terus, kantor pusat di Jakarta tak bisa kutinggal lama-lama."
Mama mendengus, lalu menarik senyum kecilnya. "Minggu depan Mama kembali ke Jakarta, jadi kau tenang saja. Urusan kantor pusat menjadi urusan ibumu."
"Ya-ya-ya. Terserah Mama saja." Aku mengembuskan napas sedikit kecewa. Kelihatannya kali ini Mama benar-benar ingin memenjarakanku di kota ini. Dia bilang tak boleh pulang hingga proyek itu berjalan baik. Setidaknya harus menunggu satu bulan lamanya.
Mama hanya menggelengkan kepalanya lalu menoleh. Ia kemudian menyebutkan pesanan kami kepada Margareth. Segera setelahnya, Pelayan wanita itu pun segera pergi.
Aku kembali fokus pada layar ponsel. Mengetikkan pesan balasan untuk Freddy.
[Aku sedang berada di London. Mungkin baru kembali satu bulan kemudian. Kau bisa mengirim lukisan itu ke kediaman Sheryl. Alamatnya di ....]
Aku mengetikkan alamat rumah Sheryl. Ia harus melihat sendiri wajahnya di lukisan Freddy, bukan? Penampilan dengan wajah tembam dan perut buncit itu terlihat sangat menggemaskan. Pasti lukisan itu bisa sedikit menghiburnya.
***
Sheryl Pov
Dua hari kemudian ....
Aku mematikan alarm, menggeliat sebentar, lalu menegakkan badan dan bersandar pada bantal yang menempel pada dipan ranjang. Banyak notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab belum kulihat. Sejak tiba di rumah dua hari yang lalu, aku memang mengabaikan alat komunikasi itu.
Aku membaca pesan chat dari paling bawah. Beberapa pesan grup kantor, teman, dan juga ada sebuah pesan chat Baruna. Pesan chat yang ia kirim juga masuk sejak dua hari yang lalu.
[Pengacaraku akan segera mengurus proses perceraian kita.]
Kalimat itu membuat debaran jantungku kembali bertalu-talu. Rasa sakit yang belum hilang kembali menusuk hati. Tanpa membuang waktu segera membalas pesan chatnya.
[Aku akan menunggu kabar baik itu.]
Seperti yang kukatakan sebelumnya, pesan chat dari Baruna bukan satu-satunya pesan. Yang terbanyak adalah notifikasi pesan chat dan telepon dari Reynand.
[Sheryl, maaf karena meninggalkanmu di saat kau sedang bersedih.]
[Apa yang terjadi? Mengapa kau tak membalasku?]
[Panggilan tak terjawab pukul 14.30.]
[Panggilan tak terjawab pukul 14.32.]
__ADS_1
[Panggilan tak terjawab pukul 14.34.]
[Panggilan tak terjawab pukul 14.36.]
[Baiklah, kalau kau tidak mau berbicara denganku. Hari ini aku pergi ke London bersama Mama]
Kemarin.
[Aku baru tiba di London pagi ini. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku tahu pasti bagaimana perasaanmu.]
[Aku merindukanmu. Tak bisakah kau menyahut hanya dengan mengetikkan satu kata saja?]
[Astaga! Jawablah, Sheryl! Kau membuatku gila karena berprasangka sendiri]
[Tidakkah kau ingin berbagi denganku?]
[Panggilan tak terjawab pukul 12.00.]
[Panggilan tak terjawab pukul 12.02.]
[Panggilan tak terjawab pukul 12.04.]
[Aku meminta Freddy mengirim lukisanmu ke rumah ayah.]
Secepat kilat bola mataku melebar membaca pesan chat itu. "Lukisan? Rey tidak tahu kalau aku sudah pergi dari rumah itu."
Jantungku sontak berdetak cepat. Aku segera menghubungi Reynand. Tak lama kemudian, ia pun menjawab panggilanku.
"Sher, akhirnya kau meluluhkan hatimu untuk menghubungiku," katanya tanpa berbasa-basi.
"Ya! Rey, mengapa kau tidak bilang kalau kau akan mengirim lukisan itu ke kediaman Asyraf?!" Aku langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Lukisan?" Reynand terdiam sejenak, lalu kembali berbicara sedetik kemudian, "apa lukisan itu sudah sampai? Kau menyukainya? Pasti sangat bagus karena Freddy lebih dulu mengirimkan gambarnya kepadaku lewat email...."
Belum sempat aku menjawab, pintu kamarku terdengar diketuk dari luar. Tanpa memedulika Reynand yang masih berbicara, aku langsung memutus panggilan itu, lalu beranjak membukakan pintu. Kak Reza tampak berdiri di sana.
"Dek, maaf kalau Kakak telah mengganggu tidur nyenyakmu. Tapi, kau harus segera turun. Baruna baru saja datang dan mencarimu," ujar Kak Reza.
"Aku tak ingin bertemu dengannya!"
"Walau tangan Kakak terasa gatal ingin sekali memukul Baruna demi membalas sakit hatimu, tapi dengan susah payah Kakak menahannya. Kakak ingin kalian berbicara. Kali ini janganlah mengedepankan emosimu. Jika ingin berpisah, maka berpisahlah baik-baik. Sepertinya ia pun sudah mendapatkan hukuman dari Om Anton," pungkas Kak Reza yang langsung membuatku membuang napas kasar.
__ADS_1