
Sheryl Pov
Tiba-tiba Livia meletakkan gelasnya di atas meja. Tatapan matanya masih belum juga lepas dariku dan Reynand. Wanita itu terlihat mengembuskan napas panjang.
"Tampaknya saya telah salah menilai. Saya kira seorang Reynand Alex Pradipta sudah berubah, tapi tampaknya tidak," ujar Livia.
Mendengar perkataan Livia, seketika Reynand mengalihkan pandangannya kepada Livia. Keningnya mengerut menatapnya. "Maksudmu?"
Livia menyeringai kecil, menjawab pertanyaan Reynand, "Walau makan malam ini adalah permintaan kedua orang tua saya, sejujurnya saya cukup tertarik denganmu. Sayangnya, kau malah membawa mantan istri saudaramu."
"Kau mengenal kami sebelumnya?" Reynand bertanya kembali dengan alis hitam tebal yang terangkat.
"Siapa yang tidak mengenal kalian? Skandal kalian dulu bahkan tadinya membuat saya berpikir seribu kali untuk berdampingan dengan diri–"
"Jaga mulut Anda, Nona Livia!" Aku memotong perkataan Livia dengan suara hampir berteriak.
"Jaga, huh? Kau sendiri tak bisa menjaga tubuhmu." Livia menarik senyumnya, lalu menyesap winenya, "wanita sepertimu dan pria seperti Reynand memang harus bersama. Kalian tak akan bisa berubah begitu saja. Bahkan sekarang malah menanam saham lebih dulu. Anak.... Cih! Kalian benar-benar pasangan yang menjijikan."
Aku yang terperanjat mendengar jawaban Livia seketika memasang raut dingin.
Livia benar-benar sok tahu menilai hubungan kami.
Reynand yang mendengar menggerakkan bola matanya ke arahku. Jemarinya makin menggenggam erat seolah tahu bagaimana perasaanku saat ini. Namun, aku tak tahu bagaimana perasaan Reynand. Mungkin saja dia merasakan hal yang sama. Hanya saja, tak ingin terlalu memperlihatkannya kepadaku.
"Semua orang bebas menilai, tapi kami tak akan peduli dengan pandangan orang lain terhadap hubungan ini. Tak ada yang salah selama kami saling mencintai."
Ucapan Reynand begitu tegas menyahut perkataan Livia. Seketika, aku tersenyum kecil mendengar pembelaannya. Reynand benar-benar membuat suasana hatiku berubah menjadi lebih baik.
Livia tampaknya tak terlalu peduli. Ia kembali memasang seringainya di hadapan kami. "Baiklah, Rey. Mendengar pembelaanmu yang begitu mengagungkan hubungan menjijikan kalian, saya rasa rencana perjodohan ini harus dihentikan," katanya lalu meraih tasnya dan mengarahkan pandangannya kepada kami, "kalau begitu, saya pamit pergi. Sheryl, jaga kandunganmu baik-baik. Semoga kalian cepat menikah."
Aku tak menyahut karena Livia buru-buru membalik badannya beringsut pergi.
Aku menghela napas panjang, berkata lirih, "Meski tak suka dengan perkataannya yang menohok, aku tetap berterima kasih karena dia telah mendoakan kita berdua untuk segera menikah."
"Ya. Satu masalah selesai," sahut Reynand.
Aku sontak menoleh. Reynand ikut menoleh ke arahku. Kami saling berpandangan dan menatap lembut. Namun tatapan itu hanya bertahan beberapa saat. Aku menatapnya dengan pandangan tajam.
"Kau pasti menyesal wanita cantik itu mengurungkan niatnya dan pergi begitu saja."
"Kau ingin aku menyusulnya, huh?" Reynand malah membalas sindiranku dengan sahutan menohok.
Dengan cepat kuremas jemarinya yang sejak tadi menempel seolah kami adalah pasangan kembar siam.
"Tidak, dan jangan pernah memancingku untuk mencekikmu!"
__ADS_1
Reynand sontak tertawa renyah. Aku merengut. Namun, melihat ekspresinya yang manis membuat rengutan di wajahku dengan cepat menghilang. Ketika kami masih betah saling menyindir sekaligus meledek, seorang pelayan datang membawakan hidangan makan malam.
Pada akhirnya kami benar-benar makan malam berdua saja. Saling melemparkan pandangan penuh cinta menikmati hidangan makan malam. Sebuah momen mewah yang mungkin mungkin saja akan jarang akan kami lakukan setelah ini.
"Kau benar-benar di luar dugaan. Yang benar saja... hamil, huh?" Reynand tampak mengekeh sesaat, "apa yang membuatmu memakai ide buruk itu padahal kau menolak rencana gilaku untuk benar-benar menghamilimu?"
"Tidak tahu." Aku menggeleng, "ide itu terlintas begitu saja karena ia cantik tapi memiliki raut wajah yang begitu menyebalkan saat menatap kita berdua. Lalu...." Aku terdiam menggantung perkataanku.
"Lalu apa?" tanya Reynand.
"Aku tak ingin kehilangan orang yang kucintai lagi, Rey." Aku menjawabnya serius. Mulut Reynand seketika terkatup. Ia yang ingin meneguk air mineral di depannya, seketika menaruh botol itu kembali.
"Aku tak akan meninggalkanmu, Sheryl. Aku sudah berjanji untuk memperjuangkan hubungan kita." Reynand mengelus pipiku.
Aku meraih tangannya. Memejamkan mata dan membiarkan telapak halus itu terus bergerak pada di atas pipiku. Aku benar-benar ingin menikmatinya.
"Apa rencanamu esok hari?" Reynand mengalihkan pembicaraan.
Aku membuka mata. Napasku berembus pelan. Dalam kepalaku, terlintas bayangan wajah bayi kecil yang terpaksa lahir prematur. Sayangnya, wajah itu hanya bisa kulihat dalam rekaman USG terakhir kali.
"Sepertinya karena berpura-pura hamil, aku jadi teringat anakku. Sudah lama sekali tak berkunjung ke makamnya. Mungkin besok aku akan pergi ke sana untuk berziarah."
"Aku antar, ya," ucap Reynand yang langsung membuat kepalaku seketika mengangguk mengiyakan.
***
Keesokan harinya....
Aku memandang kosong sebuah makam kecil di taman makam. Rasa bersalah, menyesal, dan tentu saja rasa sedih bercampur jadi satu. Perasaan yang selalu kuhindari selama satu tahun ini. Ya. Aku terlalu takut menghadapi batu nisan kokoh yang terus mengingatkanku akan kesalahan itu.
Di sini adalah pembaringan terakhir anakku dan Sheryl. Seorang bayi yang belum sempat kami berikan nama, tapi Tuhan keburu mengambilnya. Kejadian yang sudah begitu lama berlalu dan mengubur semua mimpi-mimpiku.
Rafael ikut duduk di sampingku. Hari ini aku sengaja menjemputnya dari sekolah dan membawa ia ikut serta untuk berziarah.
"Ayah, sedang apa kita di sini?" Suara Rafael membuatku yang sedang menatap nanap sontak mengarah kepadanya. Bocah polos yang terlihat sehat itu menatapku dengan pandangan menggemaskannya.
"Mengunjungi adikmu, Rafa," jawabku lalu mengusap-usap puncak kepala Rafael. Bocah kecil itu mengangguk-angguk walau pada kenyataannya aku tak yakin ia mengerti, "dia anak Ayah dan Tante Sheryl," tambahku mencoba menerangkannya.
Sambil menatap batu nisan di depannya kening Rafael berubah mengerut seperti orang dewasa yang sedang berpikir. "Tante Sheryl?" Dia bertanya lagi.
"Ya. Kau tidak lupa 'kan dengannya?"
Rafael menggelengkan kepalanya. "Aku tak lupa, Ayah. Dia memberiku selamat karena Ayah."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Tante Sheryl memberikan selamat karena Ayah Baruna telah menjadi ayahku."
Aku mendengus dengan seringai kecut yang sontak menghiasi wajah. Rafael benar-benar anak polos, tapi memiliki ingatan yang sangat kuat. Karena kehadiran Rafael, aku berbohong dan mengabaikan Sheryl hingga kami terus bertengkar.
"Apa kau membenci Tante Sheryl karena ucapannya?"
"Tidak, Ayah." Rafael kembali menggeleng pelan.
"Ya. Kau tidak boleh membencinya. Dia ibu kandung adikmu," sahutku seraya menarik segaris senyuman.
Rafael hanya mengangguk mendengarnya. Aku lalu menaburkan bunga berwarna warni di atas tanah makam. Rafael yang melihatku ikut melakukan hal yang sama.
"Maafkan Papa ya, Nak. Meski Papa bukan ayah yang baik untukmu, Papa sangat menyayangimu," kataku seraya mengusap pelan batu nisan dan menciumnya.
Ponselku tiba-tiba berbunyi. Felicia menelepon. Aku segera menjawab panggilannya.
"Halo, Fel."
"Bar, kamu ada di mana sekarang? Bukankah tadi kamu ingin menjemput Rafa? Mengapa ia tak juga pulang ke rumah?" Felicia mencecarku dengan pertanyaannya.
"Kami ke makam, Fel. Aku mengajaknya mengunjungi makam anakku."
"Haish! Untuk apa kamu ke sana? Mengapa kamu tidak mengatakannya dulu kepadaku?"
"Jika aku bilang, kamu tidak akan mengizinkannya, 'kan?"
"Oh, ayolah... anakmu itu sudah tak ada, Bar. Mengapa kamu tidak memperhatikan yang masih hidup saja?"
"Dia juga anakku, Fely!" Aku menyahut tegas.
"Ya, baiklah. Bayi kecil yang seharusnya belum lahir itu memang anakmu, tapi kau harus ingat, Bar, Rafa tidak boleh terlalu lama di luar atau ia akan jatuh sakit karena banyak penyakit di luar sana. Kau tahu sendiri bagaimana tubuhnya, 'kan?"
Aku mengembus napas berat. Meski Rafael sudah sehat, aku tahu bagaimana Felicia sangat mengkhawatirkan kondisi Rafael.
"Ya, aku tahu. Kau pikir aku tidak memikirkan kondisi Rafa, huh?"
"Ya, sebagai suami kamu seharusnya peka dong, Bar. Aku ini 'kan sedang hamil. Kamu jangan sering membuatku stres karena hal seperti ini. Cepat antar Rafael pulang, Bar!"
Tut!
Felicia memutuskan sambungan teleponnya. Aku menoleh Rafael. "Rafa, ayo kita pulang. Mamamu sudah marah-marah."
Rafael mengangguk. "Iya, Yah."
Rafael bangkit berdiri saat aku meraih tangannya. Baru akan melangkah maju, aku mengurungkan niatku. Mendadak kami bergeming, terperanjat melihat Sheryl dan Reynand terlihat berdiri tepat di hadapan kami.
__ADS_1
"Sheryl?" kataku lirih. Tak percaya bisa melihat mantan istriku lagi setelah ia menghilang bagai ditelan bumi.
"Mas Baruna?" Dia balas menyebut namaku dengan mata membulat sama terkejutnya.