Marriage Order

Marriage Order
Salah Tingkah


__ADS_3

"Wildan." Wanita itu mengulurkan tangan mengajak berjabatan tangan.


"Sheryl." Aku meraih tangannya. Kami saling berjabat tangan.


Nama Wanita itu Wildan Prastanti Inayah. Wajahnya manis dengan kulit putih bersih, rambut lurus tergerai, dan tinggi yang semampai. Fisiknya menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian besar mata lelaki yang melihatnya. Kami bertatap muka dan berkenalan.


Aku menatap wajahnya. Segala memori yang dulu terjadi kembali teringat saat kami saling berjabat tangan. Wildan membalas tatapan mataku dengan senyum berarti seakan-akan hendak mengatakan "Bagaimana kabarmu? Masih ingat denganku Sher?"


Wildan adalah teman dekatku sewaktu kami masih duduk di kelas satu SMA sampai dengan kuliah tingkat satu. Dia gadis yang baik. Kami selalu berbagi cerita apa pun yang kami rasakan baik suka maupun duka. Tapi itu tidak bertahan lama. Sejak aku memutuskan untuk berpacaran dengan Fandy tiba-tiba dia menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Ternyata dia juga menyukai Fandy dan diam-diam mendekatinya tanpa sepengetahuanku. Satu hal yang tidak pernah aku lupa, mereka pernah berpacaran di belakangku meskipun dalam waktu yang singkat. Belakangan saat kami lulus kuliah aku baru tahu hal tersebut. Aku sangat marah dan sampai saat ini aku sadar aku belum melupakan kenangan buruk itu. Dia hilang begitu saja tidak ada meminta maaf atau semacamnya sampai dengan saat ini.


Aku termenung saat Irene memanggilku, "Sher, lo lama banget jabat tangan aja. Cewek loh ini bukan cowok. Lihatnya begitu banget sih."


Aku sontak kaget dan kembali pada kesadaranku. Aku melepas tangannya dan langsung duduk di kursi bersebelahan dengan Irene.


"Apa kalian saling kenal?" tanya Irene mengernyitkan dahinya.


"Iya kami satu sekolah dan satu kampus dulu," jawab Wildan menatap wajahku santai.


"...." Aku diam. Aku memalingkan wajahku malas.


"Wah dunia sempit ya. Bisa reunian di kantor ini. Seneng deh kalau bisa tambah temen. Jadi rame kan," Irene memekik kegirangan.


"Iya. Gue seneng banget bisa ketemu temen lama. Semoga kita bisa menjadi teman lagi ya?" Wildan tersenyum lagi. Sorot matanya mengartikan hal lain di mataku.


"Sher, dia sebelum pindah kerja di sini dia kerja di perusahaan yang sama dengan Fandy. Dia juga kenal Fandy," jelas Irene dengan senyumnya.


"Oh .... Cocoklah," jawabku tersenyum menyeringai.


Irene lalu menoleh ke arah Wildan bingung. Wildan mengangkat bahunya tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


Siapa juga yang masih mau berteman dengan Wildan, orang yang pernah menusukku dari belakang? Dan Fandy, dia tidak pernah bercerita apa pun kalau Wildan bekerja di satu tempat kerja dengannya.


"Ren, gue cabut duluan. Tiba-tiba perut gue jadi kenyang," ucapku.


"Loh kenapa Sher? Belum juga makan," tanya Irene.


"Gue lupa tadi pesen makanan online," jawabku asal.


"Oh oke," sahut Irene heran.


Aku beranjak dari kursi meninggalkan mereka berdua. Mood ku seketika berubah tidak karuan. Melihat gadis itu lagi membuat kepalaku jadi ikut sakit seperti Pak Reynand.


"Kenapa Wildan bisa ada di kantor ini sih? Membuatku tidak mood saja," keluhku sambil berjalan kembali ke mejaku.


Mataku masih fokus dengan layar komputer. Pekerjaan yang Pak Reynand berikan tidak ada habisnya. Aku harus mengatur kembali jadwal meeting Pak Reynand yang tertunda karena dia sedang sakit entah sampai kapan. Membalas dan menyisihkan surat-surat yang masuk baik email maupun surat yang datang langsung ke perusahaan. Mengerjakan laporan-laporan perusahaan. Belum lagi pekerjaan-pekerjaan lain yang Pak Reynand berikan.


Aku sedikit mengintip ke dalam ruangan Pak Reynand. Ibu Aina sudah tidak ada di sana. Pak Reynand masih merebahkan tubuhnya di atas sofa. Bungkusan sushi yang kupesan tadi sudah tidak ada di atas mejanya. Dia sudah habis memakannya.


Selang beberapa lama kemudian perutku memberontak kesakitan akibat menahan lapar. Aku meringis kesakitan sambil memegang perutku dan mengambil obat mag yang pernah dibelikan Kak Baruna kemarin dan meminumnya.


Pak Reynand yang mendengar suaraku tiba-tiba keluar dari ruangannya. Dia mengucek matanya yang baru saja bangun dari tidurnya melihatku memegang perut kesakitan.


"Sher, kamu kenapa?" tanyanya.


"Sakit perut."


"Kok bisa? Kan tadi saya sudah suruh makan."


"Enggak mood."

__ADS_1


Pak Reynand masuk kembali ke ruangannya lalu tidak lama kembali membawa beberapa makanan dan obat mag.


"Ini minum obat dulu. Kebetulan tadi ibu saya bawa banyak makanan. Ini buat kamu daripada mubazir tidak dimakan."


"Saya sudah minum obat Pak. Terima kasih untuk makanannya." Aku menyambut makanan yang Pak Reynand berikan. Ada makanan cepat saji dan cemilan.


"Ya sudah saya pulang duluan ya. Pekerjaan yang saya kasih tolong diselesaikan secepatnya dan laporkan ke saya. Untuk meeting tolong diatur ulang. Saya mau istirahat besok jadi tidak ke kantor. Mungkin lusa saya baru masuk."


"Iya Pak," sahutku meringis kesakitan.


"Iya." Pak Reynand kembali ke ruangannya dan membawa tasnya keluar. Dengan langkah cepatnya tanpa menoleh lagi dia pergi meninggalkanku.


Aku membuka makanan cepat saji itu. Sepotong ayam tepung goreng dengan kentang goreng tersaji di hadapanku. Aku pun mulai memakannya.


Hari tidak terasa sudah sore. Jam dinding ruangan menunjukkan pukul lima lewat lima menit. Pekerjaan-pekerjaan yang Pak Reynand berikan sudah selesai dan sudah dilaporkan via email. Aku lalu membereskan barang-barangku dan bersiap pulang.


Kak Baruna sudah tiba di parkiran gedung Pradipta Corporation menungguku di dalam mobilnya. Selang beberapa lama kemudian kami akhirnya bertemu.


"Akhirnya aku bisa melihat wajahmu juga," kata Kak Baruna memandangku dengan wajah berseri-seri.


Aku yang ditatap seperti itu jadi merasa canggung dan membalas kata-katanya dengan candaan yang tidak lucu, "Wajahku sama saja Kak dari kemarin. Tidak ada yang berubah."


Kak Baruna masih memandangku. Dia tidak memalingkan wajahnya sama sekali. Dia mengembangkan senyumnya, "Kamu cantik sekali hari ini."


Rasanya aku tidak bisa bernapas. Hidungku kembang kempis dan jantungku berdetak kencang. Wajah Kak Baruna semakin mendekat. Aku memejamkan mataku.


"Ceklek!" Aku mendengar suara sabuk pengaman yang direkatkan.


Aku membuka mataku. Kak Baruna tersenyum sendiri. Matanya melihat lurus ke depan. Ya Tuhan, dia hanya membantuku memasang sabuk pengaman. Dia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan langsung tancap gas dengan mobilnya menuju butik Melani.

__ADS_1


Wajahku memerah. Aku sangat malu .... Aku pikir dia akan menciumku. Aku menutup wajahku dengan tas di pangkuanku. Kamu membuatku salah tingkah Kak.


__ADS_2