
Enam hari kemudian ....
Aku tidak pernah setakut ini jika periode bulananku telat. Namun, hari ini aku sangat gelisah memikirkannya sepanjang hari. Bekerja seharian pun rasanya tidak bisa berkonsentrasi. Lima hari aku telat dan akhirnya memberanikan diri untuk memeriksakan diriku ke dokter.
Tok-tok-tok!
Pintu ruanganku terdengar diketuk. Aku bangkit dari kursi dan membuka pintu. Melihat sosok Kak Reza berdiri menatapku. Dia lalu masuk dan membanting tubuhnya di kursi.
"Dek, sepertinya keuntungan perusahaan untuk tahun kemarin sedikit sekali. Kakak ragu tahun ini bisa meningkat."
"Masih lebih baik ada untungnya, Kak. Sebenarnya aku sempat terpikir masalah ini. Mengapa Kusuma tidak merger saja dengan Asyraf? Aku rasa cashflow-nya akan bagus walaupun bisa memakan waktu yang lama untuk bisa stabil. Dan lagi, tidak perlu adanya perjanjian MO itu. Kenapa harus berhutang?"
"Asyraf Corp sudah pernah menawarkan merger pada Papa, tapi ditolak olehnya. Kalau merger, tentunya manajemen semua akan berubah, direksi, investor bahkan para karyawan. Papa tidak sampai hati jika harus memutus hubungan kerja. Mereka mempunyai keluarga di rumah yang harus dinafkahi setiap harinya. Jadi lebih memilih tawaran hutang dan yang kamu tahu dengan perjanjian itu."
"Hmm .... Yah, mudah-mudahan saja tahun ini lebih baik, Kak. Bersatunya perusahaan juga bukan karena salah satu perusahaan yang merugi, tapi memang karena ingin membesarkan bisnis dari dua pihak keluarga," sahutku sambil tersenyum.
"Memangnya, kamu kapan menikah dengannya?" tanya Kaka Reza mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum tahu. Mungkin setelah dia benar-benar sembuh, Kak."
"Baguslah. Kakak juga punya rencana untuk menikah."
"Wah, kapan?" Aku terkesiap mendengar kata-katanya yang tiba-tiba itu.
"Tahun ini pasti kamu yang menikah. Mungkin tahun depan."
"Wah, aku sangat senang kalian akhirnya memutuskan untuk menikah. Papa dan Mama sudah tahu rencana Kakak?"
"Belum, nanti mungkin aku akan sampaikan setelah kamu resmi menikah dengan Baruna." Kak Reza lalu bangkit dari kursi hendak keluar.
"Kak, aku tidak pulang bersama hari ini. Aku mau ke dokter," ucapku mencegah Kak Reza membalikkan badannya. Dia menatapku sambil mengernyitkan keningnya.
"Kamu sakit?"
"Aku belum datang bulan. Ingin periksa saja. Padahal sudah lima hari terlewat.
"Nanti Kakak temani."
"Ti-tidak usah. Kakak pulang saja dengan Papa."
"Kenapa? Kamu seperti ragu?" tanyanya. Dia lalu memicingkan matanya menatap curiga, "Kamu sudah pernah melakukan hal itu dengan Baruna?" tebaknya sambil terkekeh.
"Haish .... Enak saja!" Aku mengambil sebuah bolpoin hendak melayangkan ke wajahnya.
"Ha-ha-ha .... Aku takut!" Kak Reza pergi seraya menggodaku dengan tawa renyahnya.
Aku hanya tersenyum menatap punggungnya yang menghilang dari balik pintu. Memikirkan kata-katanya barusan membuatku kembali mengingat kejadian dan lelaki itu.
Semoga tidak ada yang salah pada diriku. Semoga aku tidak hamil karena lelaki itu.
Tidak terasa jam pulang kantor telah tiba. Aku berjalan menuju lobi. Menemui taksiku yang sudah menunggu di sana.
"Ke RS Permata Asih, Pak," pintaku.
"Iya, Mbak."
__ADS_1
Taksiku pun keluar dari halaman gedung. Perjalanan menuju rumah sakit hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Aku masuk ke lobi dengan tergesa-gesa. Dokter yang kupilih sudah mulai jam prakteknya dari setengah jam yang lalu. Segera mendudukkan diri di depan pintu poliklinik obsgyn. Tampak para ibu hamil menunggu di ruang tunggu.
Wanita hamil semua datang ke sini ditemani bersama dengan suami mereka dan aku masih gadis dengan berani datang ke sini. Haish!
"Nona Sheryl!" Asisten perawat keluar dari balik pintu memanggil namaku.
Aku segera bangkit dari tempat dudukku dan masuk ke ruangan itu penuh dengan rasa was-was. Seorang dokter wanita duduk di meja konsultasi. Dokter itu menatap wajahku sambil tersenyum.
"Sore, Dok." Aku mengulurkan tanganku mengajaknya bersalaman.
"Sore, Nona Sheryl," jawabnya seraya berdiri menyambut tanganku.
"Ada keluhan apa?"
"Saya telat menstruasi. Apa saya hamil?"
"Bisa saja kalau kamu sudah melakukan hubungan suami istri. Kalau boleh tahu, hari pertama menstruasi kamu tanggal berapa?"
"Tanggal dua belas bulan lalu," jawabku.
"Ayo di USG dulu." Dokter itu bangkit dari duduknya. Aku mengikutinya dari belakang dan mulai merebahkan diri di atas ranjang periksa.
Deg-deg-deg!
Detak jantungku makin berdebar tidak karuan. Seperti mau copot saja. Ketakutanku memuncak saat dokter mengatakan, "Ada penebalan dinding rahim."
"Jadi kenapa, Dok?!" tanyaku terkejut.
Aku segera duduk melihat wajahnya yang tenang sambil mengetikkan sesuatu di komputernya.
"Kamu mengalami PCOS. Sel telurmu banyak dan kecil. Hormonmu tidak seimbang jadi kamu telat menstruasi."
"Apa gawat, Dok?"
"Tidak. Nanti saya resepkan obat untukmu. Jika keluhanmu berlanjut, kamu bisa kontrol kembali."
"I-iya, Dok. Terima kasih." Aku pun bangkit berdiri, bersalaman dengan Dokter itu.
"Semoga tidak perlu datang kembali. Namun, jika ingin berhubungan, tapi tidak ingin hamil, alangkah baiknya menggunakan pengamanan, Nona," nasihatnya.
Apa dia sedang menyindirku?
Aku hanya menggangguk, tapi di dalam hatiku merasa sangat jengkel. Segera keluar dari ruangan itu.
"Nyonya Indira!" Terdengar perawat memanggil sebuah nama wanita yang kukenal. Aku mendongak menghentikan langkah, melihat wajah Indira dan Daniel berdiri di hadapanku. Kami tidak sengaja berpapasan.
Deg-deg-deg!
Jantungku berdebar kencang kembali melihat sepasang suami istri itu.
"Sheryl, sedang apa di sini?" tanya Indira.
Aku hanya menyunggingkan senyum kecil, tidak menjawab pertanyaannya, dan bergegas pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Jangan sampai mereka berpikir aneh-aneh tentangku.
Dengan terburu-buru segera menuju ke apotek dan menebus obat yang diberikan dokter. Setengah jam kemudian pulang ke rumah.
Arlojiku menunjukkan pukul setengah delapan malam saat tiba di rumah. Aku segera masuk kamar. Berdiri menempel pintu dengan kaki yang lemas. Kemudian duduk pasrah di lantai. Pasangan suami istri itu pasti melapor kepada kakak mereka.
Suara panggilan telepon membuatku tersentak kaget. Kak Baruna meneleponku. Ada beberapa pesan dan panggilan yang kuabaikan dari tadi karena sengaja tidak ingin membunyikan notifikasinya.
"Kamu di mana? Kenapa tidak mengabariku? Sudah pulang, 'kan?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar sangat cemas.
"Maaf, Sayang. Tadi aku ke dokter."
"Kamu sakit? Kenapa tidak bilang? Kalau tahu, aku bisa menjemputmu."
"Tidak parah, kok. Hanya telat menstruasi. Aku ke dokter kandungan."
"Oh .... Lalu apa kata dokter?"
"Gangguan hormon saja. Hormonku tidak seimbang katanya."
"Syukurlah. Lain kali kabari aku kalau pulang telat dan ingin pergi ke mana. Aku sangat khawatir. Tidak ingin seperti dulu. Diabaikan walau hanya satu jam itu rasanya tidak enak."
"Iya, maafkan aku, Sayang. Aku mandi dulu, ya. Gerah sekali."
"Iya. Nanti telepon aku lagi. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Sayang."
Kak Baruna mematikan teleponnya. Aku bergegas bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Ada sedikit rasa syukur di hatiku saat mengetahui aku tidak mengandung anak Pak Reynand.
****
Baruna PoV
Aku baru saja selesai menelepon Sheryl yang tidak mengabariku sejak tadi sore. Dia lagi-lagi membuatku cemas dan merasa diabaikan.
Tiba-tiba Bunda masuk kamarku. Dia duduk di tepi tempat tidur. Memperhatikanku yang sedang memainkan ponsel. Aku mengangkat wajah balas menatap wajahnya.
"Ada apa, Bun?" tanyaku.
"Kamu ingin cepat sembuh?"
"Tentu saja, Bun. Aku ingin cepat sembuh dan segera menikah."
"Bagaimana kalau kamu berobat dan kontrolnya di luar negeri?"
"Luar negeri?"
"Iya, nanti Bunda temani. Pasti rumah sakit di luar negeri lebih bagus fasilitasnya. Bisa membantu kamu untuk bisa segera berjalan kembali."
Aku menghela napas panjang. Aku sungguh tidak ingin jauh dari Sheryl.
"Aku tidak mau, Bun. Berobat dan kontrol di sini saja. Aku tidak ingin jauh dari Sheryl."
"Ya sudah. Bunda sih terserah kamu saja bagusnya gimana. Nanti kabari Bunda kalau kamu berubah pikiran." Bunda bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarku.
__ADS_1