Marriage Order

Marriage Order
S2 Rencana Pernikahan


__ADS_3

Reynand PoV


Aku meraih ponselku dari atas tempat tidur. Sebuah notifikasi pesan aplikasi masuk. Pesan audio dan video dari Kayla. Kubuka pesan tersebut. Terdengar dua suara wanita yang sedang berbicara. Suara yang sangat kukenal. Suara Sheryl dan Kayla.


Kayla : "Sheryl, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Reynand? Mengapa kamu begitu tega melakukan hubungan intim dengan pacarku? Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak mengkhianati temanmu sendiri, tapi lihat? Kamu pun ternyata tidak segan mengkhianati tunanganmu."



Sheryl : "...."



Kayla : "Ternyata kamu dan Reynand adalah manusia yang paling egois dan munafik di dunia ini!"


Rekaman suara itu tiba-tiba berhenti. Aku terperanjat kaget saat mendengar rekaman itu. Rekaman lainnya yang berupa video juga kubuka dengan hati-hati. Degup jantungku berdebar kencang. Video yang memutar pertemuan antara Kayla dan Sheryl terekam di sana.


Sebuah notifikasi pesan tulisan dari Kayla juga masuk.


"Masih ingin lanjutannya? Bagaimana kalau kedua rekaman ini aku rilis ke media? Perusahaan Papamu dan Papanya Sheryl pasti kalang kabut. Lalu aku berkoar-koar di infotainment mengenai aku yang menjadi korban atas hubunganmu dengan Sheryl. Hidup kalian akan hancur, Rey!"


Aku menggigit bibirku sendiri bingung. Kayla sangat nekat mencampuri urusanku. Seperti sekarang dia berani mengancamku sampai seperti ini.


Tanpa buang waktu, aku menelepon wanita itu. Emosiku membuncah hingga rasanya ingin memukulnya. Namun, Kayla adalah seorang wanita yang pantang kupukul dengan tanganku.


Lama suara nada sambung terdengar. Hingga akhirnya dia mengangkat teleponnya.


"Halo, Rey! Ah, lama sekali menunggumu meneleponku. Aku sudah tidak sabar berbicara dengan lelaki tampanku."


"Kay, jangan bercanda! Sungguh tidak lucu ancamanmu!" hardikku.


"Kamu lebih memilih diancam rupanya, baru bisa menghubungiku."


"...." Aku terdiam.


"Dengar ya, Rey! Jika aku sakit, maka kalian juga harus sakit. Aku penasaran bagaimana media akan menggoreng berita kalian. Berita bisnis dan entertainment yang menyatu. Membicarakan pergumulan antar saudara memperebutkan wanita yang sama. Parahnya, wanita itu sudah ditiduri oleh salah seorang di antaranya yang ternyata merupakan pacar model dan artis ternama yang sedang naik daun. Ah, pasti akan ramai." Tawa Kayla terdengar renyah di telingaku.


"Sialan kamu, Kay!"


"Lebih sialan mana dengan seseorang yang merenggut kehormatan seorang gadis saat gadis itu sedang mabuk?"


"Kay, jika kamu melakukan hal itu, aku tidak segan-segan melaporkanmu ke kantor polisi atas tindakan pengancaman dan pencemaran nama baik."


"Laporkan saja. Aku tidak takut, Rey sayang!"

__ADS_1


Kayla mematikan teleponnya. Wanita itu membuatku bertambah muak. Bisa-bisanya mempunyai ide seperti ini.


Tapi memang ini yang kumau. Aku ingin semua orang di sekitarku mengetahui hubungan kami dan sampai sejauh mana kami berhubungan. Namun, bukan dengan memberitakannya ke seantero negeri.


Aku kembali menelepon Kayla. Gadis itu menjawab dengan cepat.


"Jadi bagaimana, Rey sayang?"


"Kita perlu bertemu," kataku.


"Untuk?"


"Membicarakan hal ini."


"Tidak mau. Kecuali kamu setuju menikahiku."


Aku terdiam. Ancamannya kali ini tidak main-main.


"Bagaimana? Aku ingin kamu menemui Mamamu dan keluargaku untuk membicarakan pernikahan kita. Tidak usah pernikahan deh. Pertunangan dulu saja."


"Aku tidak bisa."


"Kalau begitu lupakan!"


"Jadi?"


"Beri aku waktu untuk berpikir."


"Oke, Rey. Aku memberikanmu waktu dua minggu. Aku harap mendapat kabar yang baik. Jika tidak, rekaman ini akan segera rilis ke media dan hanya aku yang memegang file aslinya."


Kayla kembali menutup teleponnya. Membuat hatiku sangat gusar. Bagaimana tidak, seorang yang kukira adalah gadis manja bisa melakukan hal senekat ini. Aku harus mencari cara untuk menghentikan tindakannya.


****


Baruna PoV


Sheryl baru saja pamit. Malam ini Bunda kembali menemaniku. Dia sedang mengupas buah apel di tangannya. Memotongnya hingga beberapa bagian dan menaruhnya di atas piring. Aku melirik ponsel di atas nakas dan meraihnya. Benda itu menjadi satu-satunya hiburanku selama di rumah sakit. Dokter mengatakan kalau kondisiku sudah stabil dan aku bisa pulang besok. Senangnya!


Sebuah notifikasi Instakilogram muncul. Profil wanita bernama Nayara meminta izin mengikuti profilku. Aku pun membuka profilnya. Wajah yang tidak asing berada di sana. Sesosok teman wanita yang sempat dekat denganku saat di sekolah menengah atas dulu.


Nayara Putri Letisha. Pikiranku melayang menembus waktu yang sudah lama terpendam dalam ingatan sebelas tahun yang lalu. Wanita cantik yang sempat kupuji-puji sosoknya saat Sheryl tidak juga membalas perasaanku. Kami menjadi dekat dan sempat malu-malu saling mengakui perasaan kami. Cinta monyet yang membuat hati selalu terasa berdebar-debar saat bertemu muka dengannya.


Aku jadi tersenyum sendiri mengingat hal yang tidak penting itu dan menjawab setuju permintaannya mengikuti media sosialku.

__ADS_1


"Nak, ini apelnya." Bunda menghampiriku dan memberikan potongan apel yang sudah bersih dari kulitnya.


Aku mengambil satu potong dan mengunyahnya pelan. Potongan apel itu terasa manis di mulutku. Ditambah dengan rasa sayang dari seorang ibu. Aku tersenyum menatapnya.


"Bun, terima kasih."


"Untuk?"


"Menjadi ibu yang baik selama ini. Mendidikku hingga seperti ini. Menungguiku selama aku sakit. Menjadikanku laki-laki dewasa yang sebentar lagi akan melepas lajang. Maafkan aku jika mempunyai banyak salah padamu."


Bunda tertegun sejenak mendengar perkataanku. Matanya sedikit berkaca-kaca hendak menangis. Tidak lama buliran air matanya jatuh.


"Bun, kenapa menangis?" tanyaku.


"Baruna, Bunda sangat terharu. Dulu kamu hanya segini dalam timangan Bunda." Bunda mempraktekkan caranya menggendongku saat bayi.


"Iya, Bun. Sekarang aku sudah dewasa. Malah akan memberikanmu cucu-cucu yang lucu nantinya."


"Iya, Sayang. Memang kapan rencananya kamu meneruskan rencana pernikahanmu dengan Sheryl?" tanya Bunda.


"Aku ingin secepatnya meminang Sheryl menjadi istriku. Bahkan, kalau perlu besok saat aku keluar dari rumah sakit. Mencatatkan pernikahan kami di kantor pencatatan sipil."


"Ish ... anak ini. Semuanya tidak bisa segampang itu." Bunda memperingatiku.


"Para orang tua itu, mengapa pikirannya sangat rumit? Menikah saja secara sederhana, Bun. Seperti itu juga aku sudah senang."


"Tidak boleh! Kamu anak kami satu-satunya. Semua harus terencana dengan sempurna. Bahkan, kalau perlu membuat busana pengantin lagi."


"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Pakai yang sudah ada juga masih bagus. Melani membuatkan busana kami dengan sempurna. Lagi pula membuat pesta besar merupakan pemborosan untuk perusahaan. Apa lagi setelah aku kecelakan seperti ini, semuanya sia-sia." Aku memberikan Bunda penjelasan.


"Sudah jangan memikirkan hal itu. Masalah biaya adalah urusan kedua orang tua. Kamu dan Sheryl tinggal mempersiapkan diri," sanggahnya.


Baiklah, orang tua memang selalu menang.


"Iya, aku mengerti." Aku mulai menyerah membantah perkataannya.


"Bagus jika kamu mengerti. Bunda tinggal mengurusnya. Tiga bulan lagi bagaimana?"


"Dua bulan," tawarku.


"Baik, nanti Bunda bicarakan pada Ayahmu."


Aku kembali meraih ponselku. Mengetikkan pesan untuk Sherylku yang pasti sudah sampai di rumahnya.

__ADS_1


"Selamat malam, Sayang. Selamat beristirahat. Semoga kamu bermimpi indah."


__ADS_2