
Sheryl Pov
Sebenarnya pernikahan apa yang sedang kujalani? Apa karena aku amnesia, semuanya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Reynand bahkan hanya bisa menuduh Baruna berselingkuh. Namun ia tidak pernah mengatakan siapa wanita itu. Seolah mengiyakan tuduhan Reynand, sikapku menjadi dingin kepada Baruna. Apa dia memang seorang pria yang seperti Reynand tuduhkan? Jika tuduhan itu salah, betapa jahatnya diriku. Aku yang tak tahu apa-apa ini malah menikmati ciuman Reynand yang tak seharusnya kubalas dengan perasaan menggebu.
Aku menyalahkan diriku sendiri. Bayangan di cermin itu makin memperlihatkan air muka naif yang kubenci. Namun entah mengapa kalung permata yang Baruna berikan tak kunjung kuizinkan melingkar di leher. Perhiasan indah itu hanya mampu menghipnotis cantik dari luar dan tak dapat merasuk lebih dalam hingga menggodaku untuk mengenakannya.
"Haish! Ada apa denganmu, Sheryl? Kau sudah menikah tapi kau semahir itu memainkan perasaan dua orang pria," gumamku teringat momen semalam. Itu adalah tindakan paling berani yang kulakukan sekaligus membuat perasaan Reynand hancur berkeping-keping. Jahatnya diriku!
"Apa kamu sudah memutuskannya?" Tiba-tiba aku mendengar suara Baruna. Seketika ia membuatku menoleh dan melihat senyuman penuh arti untuk ke sekian kalinya.
"Aku belum bisa mengenakan ini," jawabku.
Baruna menaikkan sebelah alisnya. "Apa lagi yang kamu pikirkan? Bukankah kemarin aku sudah memberikanmu waktu berbicara dengannya?"
"Bukan karena itu, Mas."
"Lalu?"
"Ini tentang diriku."
"Kamu harus ingat, hilang atau tidaknya ingatanmu, kamu tetaplah istriku. Aku tidak akan menganggap serius lagi yang kamu rasakan adalah sebuah penyesalan karena telah memilih orang yang salah."
Deg! Perkataan Baruna sungguh menohok. Ia dengan sengaja menyindirku.
"Maaf bila perkataanku di rumah sakit kala itu telah membuat hatimu sakit," kataku.
Baruna tampak menarik segaris senyumnya. "Akhirnya kamu tahu mana yang seharusnya kamu bela dan tidak."
"Sebenarnya apa yang sedang kita bicarakan hingga kita bertengkar dan kecelakaan itu terjadi?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur bebas dari bibirku. Kali ini aku benar-benar penasaran dengan jawaban pastinya.
Baruna mengerutkan keningnya. Ia melangkah lebih dekat menghampiriku. "Karena Reynand. Hubungan kalian selalu membuatku gelisah," jawab Baruna cepat. Sorot matanya tajam menatap. Jantungku bergemuruh hebat mendapatkan tatapan yang berubah dengan cepat.
Baruna mengulurkan tangan, membelai rambut lalu menciumku dengan kasar. Ciuman itu makin dalam memaksaku membuka mulut. Yang kurasakan hanyalah rasa takut yang menerjang tiba-tiba. Aku tak bereaksi sama sekali untuk membalasnya. Rasanya sangat berbeda kala Reynand melakukan hal yang sama semalam. Begitu menggebu dan sama-sama ingin memiliki. Baruna kemudian menarik dirinya, menatapku dingin.
"Kamu seperti patung," ucapnya kesal lalu mengambil jasnya yang menggantung di dekatku, "otakmu benar-benar sudah rusak kronis. Rey benar-benar mendominasi pikiranmu. Bulan depan aku akan mengambil cuti. Kita pergi berbulan madu lagi. Siapa tahu udara Maldives akan membuatmu mengingat kembali perasaan cinta kala itu."
Aku yang terengah-engah, tak bisa menjawabnya. Hanya berdiri dan bergeming dengan tatapan kosong. Baruna berdecak kesal lalu meninggalkan kamar dengan langkah tergesa.
Tak kusangka, aku tak memiliki hasrat sama sekali untuk Baruna. Dia marah! Sheryl, kau benar-benar membuat suamimu marah!
__ADS_1
Bukan hanya Baruna yang marah. Reynand pun demikian saat aku mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami yang tak jelas itu hingga Bunda selalu menekankan diriku yang menyelingkuhi putranya. Ya! Akhirnya setelah ciuman semalam, aku yakin pantas dituding seperti itu. Namun aku sendiri tak pernah dapat menghindari Reynand. Dia seperti bayangan yang selalu menempelku pergi ke mana-mana.
***
Reynand Pov
Enak sekali dia mengatakan hal seperti itu! Dia benar-benar wanita yang tak bertanggung jawab!
Sejak mataku terbuka pagi ini, ingatan semalam terus melekat. Perkataan Sheryl semalam terngiang-ngiang di telinga. Ia benar-benar membuat perasaanku hancur untuk ke dua kalinya. Aku teringat lagi pembicaraan kami.
"Ya, aku bahagia," jawab Sheryl cepat, "tapi aku berniat mengakhirinya sekarang juga."
"Maksudmu?" Kedua mataku membulat tatapannya.
"Aku sedang mempertimbangkan keutuhan pernikahanku."
"Kau akan kembali kepadanya?"
"Mungkin saja." Sheryl mengangguk, lalu bangkit berdiri, "namun untuk saat ini tak ada seorang pun yang bisa kupercaya, Rey."
"Bagaimana bisa kau berpikir begitu? Aku selalu menginginkan kebahagiaanmu, Sher."
Lamunan itu buyar begitu saja saat mendengar suara ponsel yang berdering. Mama menelepon. Aku pun segera menjawabnya.
"Halo, Ma."
"Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak ke kantor?"
"Malas," jawabku seraya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Gara-gara Sheryl semalam, aku benar-benar jadi tak bersemangat.
"Pasti ada sesuatu hal yang membuatmu kesal. Yakin masih ingin tinggal di sana?" tanya Mama seolah menyindir.
Aku menghela napas panjang. "Katakan saja keperluan Mama," jawabku mengalihkan pembicaraan. Malas sekali mendengar ia menyindirku.
"Pulanglah! Ini sudah lebih dari seminggu kau berada di tempat ayahmu. Apa kau belum cukup merasa malu berada di sana?"
"Apa salahnya berada di rumah ayah sendiri?"
"Hah? Apa ia masih akan mengizinkanmu berada di sana jika niatmu menghancurkan rumah tangga anak kesayangannya?"
__ADS_1
Aku dan Mama terus saling sindir menyindir. Kini aku tahu dari mana asal kemampuan menyindirku begitu hebat. Tentu dari seorang ibu yang sama kerasnya sepertiku.
"Tidak. Ia mengancam untuk memutus hubungan." Aku menjawab pelan pertanyaan Mama.
Mama mengekeh kecil. "Bagus. Itu artinya dia masih menyayangimu dan ingin kau berpikir rasional untuk tak menjadi seorang perebut istri orang lain."
"Ck!" Aku berdecak kesal.
"Tunggu apa lagi? Cepat temani Mama di rumah. Sheryl tak akan pernah berpaling untukmu."
"Ya. Baiklah, aku akan berkemas dulu."
Setelah mengatakan itu, Mama menyudahi teleponnya. Aku pun segera membereskan barang-barangku. Ya! Untuk apa lagi aku berada di sini? Bahkan Sheryl tak memercayaiku yang menginginkan kebahagiaannya.
Selang beberapa waktu kemudian, aku sudah berada di teras bersama Tante Meri dan Rafael yang mengantarku.
"Hati-hati, Rey. Salam untuk Mamamu," ujar Tante Meri.
"Ya, Tante," sahutku menarik senyum kepadanya.
"Om Rey, kalau pulang dan bertemu Papa Rafa tolong katakan kepadanya kalau Rafael merindukannya."
Mendengar ucapan Rafael, pandanganku seketika melebar menatapnya. Miris. Sepertinya Felicia tak membiarkan Rafael bertemu dengan David.
"Ya, Rafa." Aku mengangguk seraya memberikan senyum manis untuknya.
"Rafa, jangan berkata seperti itu kepada Om Rey. Papa Rafa hanya sedang sibuk. Nanti Papa juga pasti akan datang ke sini."
"Benar, Nek?" Pandangan Rafa berubah berbinar penuh harap.
"Iya. Yakin sama Nenek. Nanti biar Mamamu menghubungi Papamu."
Rafael mengangguk. Tante Meri dan Rafael kemudian berbalik masuk kembali ke dalam rumah. Aku berkacak pinggang menatap mereka yang berangsur menghilang dari pandangan.
Akhirnya benar apa kata Mama, tak ada apapun yang kudapat di sini.
Aku segera membalik badan, hendak berjalan menuju mobil yang sejak tadi kupanaskan mesinnya. Baru beberapa langkah, suara Sheryl terdengar memanggilku.
"Rey …."
__ADS_1