
Hari H Pernikahan
Pukul 06.30
Aku duduk di depan meja rias kamar. Memandang bayangan wajah yang terpantul di cermin. Irene melakukan tugasnya dengan sangat baik. Make up nya terlihat sempurna, tapi aku tidak merasa senang. Lagi-lagi air mata luruh menuruni pipi. Menangis kembali.
Irene menggelengkan kepalanya. Dia segera mengambil beberapa helai tisu untukku. Aku menyambut tisu itu dan menyeka air mata dengan hati-hati.
"Sheryl, gue nyerah. Kapan gue selesai make up-in lo kalau air mata itu masih terus mengalir? Udah dong jangan nangis terus. Enggak rugi juga punya suami kayak Pak Reynand. Yah, sebelas dua belaslah sama Baruna. Secara ayah mereka sama," keluhnya.
Aku terdiam sejenak, tapi masih mengalirkan air mata bagai sungai yang begitu panjang tanpa ujung. Menoleh lalu menatap wajah Irene yang kebingungan. Tangannya masih memegang kuas make up.
"Lo enggak akan ngerti seberapa sakitnya gue sekarang," ucapku lemas.
"Sheryl, kalian tidak berjodoh. Baruna akan menemukan wanita yang lebih cocok untuknya."
"Gue benar-benar belum rela sama sekali, Ren. Kak Baruna hari ini pergi. Dia akan pergi bersama wanita itu," jelasku sambil kembali terisak.
"Ah, gue bingung mesti kasih tahu lo bagaimana lagi, Sher."
Tok-tok-tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Irene membalikkan badannya beranjak membukakan pintu. Aku melihat Farhan yang datang dengan dua buah kotak besar di tangannya.
"Sheryl, aku membawakan gaun pengantin yang sudah selesai kuperbaiki. Kamu bisa memakainya sekarang juga." Farhan memberikanku gaun pengantin dari dalam kotak.
Aku meraih gaun itu dan menggantinya di walk in closet kamarku. Irene membantuku menautkan resleting yang berada di punggung. Gaun yang indah berwarna biru muda itu akan menjadikanku pusat perhatian untuk beberapa jam ke depan.
"Cantik sekali, Sheryl. Sayang sekali jika mempelai wanitanya tidak tersenyum ketika memakainya," Irene berkomentar.
Aku mengembuskan napas berat, lalu menyeringai di hadapan temanku itu. Irene pun terdiam. Dia tahu kalau aku tidak suka dengan perkataannya.
"Sudahlah jangan menangis. Kamu lihat jam dinding itu, sebentar lagi kamu resmi menjadi nyonya Reynand Alex Pradipta," ujar Irene.
Kami berdua keluar dari ruang ganti. Menyunggingkan sebuah senyum manis di hadapan Farhan. Aku tidak ingin teman Reynand ini mengetahui gejolak dalam hatiku.
"Cantik sekali. Pantas temanku tergila-gila padamu, Sheryl," pujinya seraya memperhatikanku dari ujung kaki sampai dengan ujung kepala. Tidak lama kemudian, dia mengerutkan keningnya bingung, "Aku tidak pernah melihat mempelai wanita yang terlihat penuh beban sepertimu. Seharusnya para wanita yang akan menikah terus tersenyum tiap detiknya karena bahagia. Maaf, kalau aku boleh bertanya, apa kamu terpaksa menikah dengan temanku?"
Aku terdiam seketika mendengar pertanyaannya. Pertanyaan itu tidak ingin kudengar di hari pernikahanku. Namun, raut wajah memang tidak pernah bisa berbohong. Farhan terus menatap menunggu jawaban.
Tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka. Reynand masuk ke dalam. Sontak mata kami bertiga melebar melihat pria itu. Dia belum memakai setelan pengantinnya. Bergaya kasual mengenakan kaus berwarna hitam polos dengan celana jeans panjang berwarna biru.
__ADS_1
"Rey, akhirnya kamu datang. Ayo, pakailah setelan jasmu. Semua sudah kusiapkan untuk kalian berdua." Farhan memberikannya setelan jas pengantin laki-laki.
"Far, Ren, bisa tinggalkan kami berdua saja sekarang?" pintanya dengan wajah serius
Farhan dan Irene saling pandang bingung. Reynand begitu serius meminta mereka keluar dari tempat itu. Namun, Irene menyunggingkan senyuman seketika.
"Pak Rey, anda sudah tidak tahan rupanya berduaan saja dengan calon istri," celetuknya.
"Saya tidak sedang bercanda, Ren. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan calon istri saya," jawab Reynand.
Irene terdiam. Dia tidak berani membalas perkataan Reynand. Wanita itu segera membalikkan badannya berjalan keluar diikuti Farhan dari belakang.
Aku bergeming. Menatap calon suamiku yang tiba-tiba datang tanpa basa-basi. Raut wajahnya begitu serius menatap wajahku.
"Ha-hai, Rey," sapaku canggung.
Dia tidak membalas sapaanku. Tiba-tiba saja berujar, "Ada yang ingin aku bicarakan, Sher,"
"Apa?"
"Aku sudah memikirkannya semalaman ...." Reynand menggantung kalimatnya. Hal itu membuatku bertanya-tanya apa kalimat selanjutnya.
"Memikirkan apa?"
"Ayo kita hentikan pernikahan ini," bisik pria itu pelan.
Kalimat itu membuatku terkesiap mendengarnya. Dia mengatakan hal seperti itu di saat kami akan resmi menjadi suami istri kurang dari satu jam lagi. Padahal sebelumnya dia selalu menolak permintaanku itu.
Tidak lama kemudian dia melepas pelukannya. Memandangku dengan senyuman yang paling tulus yang pernah kulihat selama mengenalnya.
"Aku memang mencintai dan menyayangimu, tapi aku juga menyayangi saudara tiriku. Perkataan Baruna semalam sudah menyadarkanku, kalau kalian berdua sangat berharga bagi hidupku."
"Maksudmu?"
"Maafkan aku, Sheryl. Aku sudah menghancurkan hubungan kalian. Sekarang belum terlambat. Kamu masih bisa mengejarnya," ujar Reynand seraya melirik jam tangannya.
"Rey ...."
Tidak terasa air mataku meleleh. Bukan .... Bukan tangisan sedih lagi kali ini. Namun, sebuah tangisan haru yang menyerangku. Aku memandang wajahnya yang teduh. Membalas senyuman yang tulus untuknya.
Terima kasih, Rey!
__ADS_1
Aku menghampiri Reynand dan membalas pelukannya sejenak, kemudian melepasnya kembali.
"Rey, terima kasih ... terima kasih banyak .... Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu," kataku dengan mata berbinar-binar. Reynand hanya mengangguk. Matanya terlihat berkaca-kaca.
Aku buru-buru keluar dari kamar. Hanya mengingatnya. Sosok Kak Baruna yang akan segera pergi dari tanah air.
"Dek!" Tiba-tiba saja terdengar suara Kak Reza memanggil. Aku segera menghentikan langkah. Menengok ke belakang.
"Kakak ...," panggilku lirih.
"Ayo Kakak antar! Kita pergi ke bandara," ucapnya. Kak Reza sepertinya mengetahui apa saja yang barusan Reynand katakan padaku.
"Iya, Kakak. Kalau tidak, aku akan kehilangan dia selama-lamanya," sahutku lagi.
Kak Reza mengangguk. Dia meraih tanganku. Semua orang sudah berkumpul dan sibuk di kebun belakang rumah. Kami berjalan mengendap-endap menuju garasi rumah. Berharap tidak ada yang mengetahui kepergian kami.
Kak Baruna, tunggu kami! Aku dan Kak Reza akan menyusulmu ke bandara. Tidak akan membiarkanmu meninggalkanku lagi. Hanya kamu yang kucintai.
"Sayang!" terdengar suara Kak Dita memanggil Kakakku.
Kami menoleh bersamaan. Menghampiri sosok wanita itu dengan senyum yang mengembang.
"Kamu tunggu aku di sini, ya. Aku akan mengantar Sheryl bertemu dengan Baruna," jawab Kak Reza.
"Loh kok?" tanya Kak Dita bingung.
"Nanti aku ceritakan. Tidak ada waktu lagi, Sayang," jawab Kak Reza. Kekasihnya itu pun hanya bisa mengangguk tanda mengerti.
Kak Reza mulai menghidupkan mesin mobilnya. Tidak lama, mobil pun berjalan meninggalkan halaman rumah kami. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan hampir maksimal.
"Dek, kamu yakin ini yang kamu inginkan, 'kan?" tanya Kak Reza tiba-tiba.
"Iya, Kak. Aku tidak bisa menikah dengan Rey. Aku hanya ingin bersama dengan Kak Baruna. Seperti yang Kakak bilang, dia yang terbaik untukku. Aku sangat mencintainya. Entah, ini benar atau tidak. Sebenarnya, ada rasa di hatiku yang sangat takut kalau nantinya dia akan menolakku seperti kemarin," jawabku.
Kak Reza menoleh sejenak ke arahku. Dia berkata sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku tahu siapa dia. Walau dia bilang dia tidak menginginkanmu lagi, pada akhirnya dia akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka. Selalu mencintaimu tanpa mengharapkan balasan."
"Kakak, terima kasih. Aku sayang padamu. Kakak yang membuatku dekat dengannya. Kakak yang selalu mendukung hubungan kami. Kakak yang menegurku saat aku salah langkah. Tapi, aku tidak pernah mendengarkanmu. Aku sungguh bukan adik yang baik," jelasku menyesal.
"Menjadi baik pun membutuhkan sebuah proses, Dek. Kamu tetaplah adikku yang paling aku sayangi."
__ADS_1
Aku mengangguk, menghela napas panjang. Sungguh malu rasanya jika mengingat diriku yang sering kali membantah perkataannya. Dia Kakak terbaik yang kumiliki.