Marriage Order

Marriage Order
S3 Yang Kuingat Hanya Kamu


__ADS_3

Sheryl Pov


Tidak! Jangan biarkan mereka berkelahi, Sheryl!


Aku berteriak histeris dalam hati. Seketika membeliakkan pandangan ke arah Kak Reza yang terus melangkah masuk bersama dengan amarahnya. Tak ingin membuang-buang waktu, aku segera keluar dari mobil menyusulnya.


"Berhenti! Berhenti, Kak!" teriakku, tapi Kak Reza tidak mengindahkan. Ia terus berjalan dengan langkahnya yang tegap.


Benar saja. Dalam sekejap dan tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, Kak Reza melayangkan satu kepalan tangan tepat di wajah Baruna. Di saat itu pula terdengar suara jeritan Mama yang juga sedang berada di ruang tamu.


"Reza! Apa yang kau lakukan?!" sergah Mama yang langsung memeluk Kak Reza. Menjauhkan Kakakku itu dari Baruna.


Dengan sekuat tenaga, aku berlari menghampiri mereka. Baruna mengusap sebercak darah yang menghiasi sudut bibirnya. Pandangan mata yang menegang terus mengarah pada Kak Reza dan Mama.


Kak Reza yang tidak terima, memberontak dalam pelukan Mama. Tangannya terulur menunjuk Baruna. "Gue gak nyangka lo begini, Bar! Benar-benar! Nyesel gue dukung hubungan lo sama Sheryl!"


"Lo kalo gak tahu apa-apa, mending diam aja deh, Za! Lagipula, ini pernikahan gue. Lo enggak usah ikut campur!" Dengan raut yang sama Baruna balas menunjuk sahabatnya. Kedua tangannya tampak mengepal kuat, seakan sedang menahan emosi yang meluap-luap. Aku langsung memeluknya. Tak membiarkan ia bergerak mendekat dan membalas pukulan telak itu.


"Berengsek lo, ya!" balas Kak Reza.


"Sudah! Sudah! Cukup, Kakak!" teriakku berusaha menenangkan situasi.


Sungguh! Aku tidak tahu harus berada di pihak mana saat ini. Dua orang pria yang kusayangi bertengkar di hadapanku.


Masih dengan emosinya, Baruna mengalihkan perhatian, menatapku dengan pandangan yang tidak biasa. "Sayang, cepat bereskan barang-barangmu dan kita pulang sekarang juga!" perintahnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku mengkhawatirkannya. Apalagi saat melihat sudut bibirnya yang memerah.


"Menurutmu?!" Baruna membalas dengan nada menekan.


"Tidak." Aku cepat-cepat menggelengkan kepala, "ma-maksudku, aku akan segera membereskan barang-barangku," kataku yang hanya dijawab oleh sebuah anggukan dari Baruna. Ia tidak berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


.


.


.


Hujan deras menyambut perjalanan pulangku dan Baruna. Kami berada dalam satu mobil menuju "rumah kami". Entahlah, apa rumah itu masih layak diberi nama rumah kami bila nantinya ada Felicia dan Rafael di sana. Aku masih belum rela.


Aku menoleh ke arah suamiku yang masih menunjukkan emosi luar biasa. Pertengkarannya dengan Kak Reza tak kunjung usai hingga kami meninggalkan rumah Mama. Mereka masih saling beradu mulut dengan perkataan yang sama-sama kasarnya. Dan di dalam mobil ini aku dan Baruna terus terdiam seribu bahasa dengan pikiran masing-masing.


"Mengenai Kak Reza, aku sungguh minta maaf. Dia tidak dapat menahan emosinya hingga nekat memukulmu," kataku memecah keheningan di antara kami.


Baruna mendengus, tersenyum kecil. Tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya. Tanpa menoleh, tatapannya ke jalan raya sungguh tidak biasa. Melebar dan sedikit arogan.


"Dengar ya, Sheryl! Mungkin aku memang pantas mendapatkan pukulan dari Reza. Dan aku yakin kamu yang paling senang melihat ia memukulku. Ya! Kamu menang banyak. Semua orang membela dan mendukungmu. Orang tuamu, Kakakmu, dan Rey. Tak ada yang mengerti bagaimana posisiku. Hanya Ayah dan Bunda yang mengerti dengan situasiku saat ini."


"Maksudmu apa? Mengapa kamu berkata seperti itu? Ini bukan masalah menang atau kalah, Mas. Dan asal kamu tahu, aku tidak suka dengan kekerasan. Tidak seperti yang kamu katakan, sungguh! Aku tidak senang melihat Kakak meninjumu," sahutku. Tak kusangka, kelembutan Baruna hilang bergantikan amarah yang tidak biasa.


"Untuk apa aku berbohong? Aku hanya tidak setuju kamu membawa Fely dan Rafa ke dalam rumah kita."


"Atas dasar apa kamu tidak menyetujuinya? Dia anakku dan Fely adalah ibunya! Mereka tidak mungkin dipisahkan. Sebaiknya kamu cepat beradaptasi dengan kehadiran mereka nanti di rumah."


"Mas!" sentakku benar-benar tidak setuju.


Walau tak menoleh, lagi-lagi aku tahu Baruna menyeringai miring. "Kecemburuan dan ketidaksetujuanmu itu sungguh tidak berasalan. Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya. Sebaliknya, kamu yang harus bercermin. Jangan kamu pikir kalau aku tidak tahu akan kedekatanmu dan Rey. Ayah dan Bunda pun sudah menceritakannya. Diam-diam kamu sering bertemu dengannya, 'kan?"


Pertanyaan Baruna sungguh menohok jantungku. Kami memang bertemu, tapi pertemuan itu tidak pernah direncanakan. Aku merasa tak melakukan hal di luar kewajaran. Hanya Reynand saja yang berharap, tapi perasaanku …. Tidak! Seharusnya aku tidak memikirkan dirinya saat ini.


"Jika kamu berbicara seperti itu tentangku, bagaimana dengan dirimu sendiri? Aku sungguh tidak tahu apa yang kalian lakukan di Tokyo. Bertiga? Oh, tidak … aku rasa Rafael hanya sebagai alasan saja. Aku yakin, ada sesuatu di antara kalian." Aku membalasnya dengan sindiran pedas.


Masih dalam kecepatan tinggi mobil, Baruna sontak menoleh ke arahku. "Kamu sengaja, 'kan? Sengaja memancing amarahku," ujarnya sambil menunjukku dan dirinya.

__ADS_1


Mendengar perkataannya membuat puncak kepalaku memanas. Seketika napas memburu dengan cepat. Saat itu juga emosiku ikut bergejolak. Pandanganku fokus pada dirinya yang menghantarkan kemarahan.


Tanpa kami sadari, mobil melaju cepat tak beraturan di jalan licin akibat air hujan. Sejenak kemudian aku tersadar akan cahaya dari lampu dim mobil yang berkedip dari sebelah kiri. Sontak aku mengalihkan pandangan ke arah yang sama. Samar-samar di antara derasnya hujan, terlihat sebuah mobil MPV melaju dengan kecepatan yang sama. Baruna tak sempat lagi menghindar. Begitu cepatnya menghantarkan suara keras tabrakan hingga menjadikan pandanganku menggelap seketika.


***


Reynand Pov


Aku masih duduk di dalam ruangan, membaca beberapa dokumen yang sejak tadi tergeletak dan tak tersentuh. Sesaat kemudian, aku melirik arloji yang melingkar. Pukul tujuh. Hujan tak juga berhenti sejak tadi. Begitu derasnya membuat malas untuk pulang ke apartemen.


Setelah Sheryl pulang dari apartemen pagi tadi, entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak. Terus memikirkan dirinya yang tidak ada kabar hingga saat ini. Sejujurnya, aku terus menunggu kabar darinya.


Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia sudah bertemu dengan Baruna? Apa mereka sudah berbaikan?


Aku terus bertanya dalam hati. Sesekali mengutuk hatiku yang berharap sesuatu yang buruk terjadi dalam pernikahan mereka.


"Haish! Mengapa aku jadi sangat jahat?" gumamku seraya menggaruk kepala yang tak gatal, "ck! Tidak! Aku tidak jahat. Aku hanya ingin memastikan keadaannya baik-baik saja," sanggahku kemudian.


Aku melepaskan bolpoin, menaruhnya sembarang di atas meja. Kuraih ponsel yang sejak tadi menjadi perhatian dari meja yang sama. Kosong. Tak ada notifikasi apapun di layar.


Aku mengembuskan napas berat. "Apa kutelepon saja, ya?" kataku pada diri sendiri.


Tidak membutuhkan waktu lama, aku lalu memutuskan untuk menghubunginya. Nada sambung pun terdengar. Cukup lama, hingga suara seorang pria yang tak kukenal terdengar di telinga.


"Halo," sapanya.


"Halo. Maaf, kalau boleh tahu saya sedang berbicara dengan siapa? Di mana pemilik ponsel ini?"


"Maaf, Pak. Bisakah Anda datang ke rumah sakit Citra Kasih sekarang juga? Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan," jawabnya.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2