Marriage Order

Marriage Order
S3 Kebingungan


__ADS_3

Reynand Pov


Keeseokan harinya, tepat saat aku akan duduk di meja makan untuk sarapan, ayah tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Rey, Ayah ingin berbicara denganmu."


"Tentang?" tanyaku yang langsung mendorong masuk kembali kursi meja makan di depanku.


"Ayo ikut ke ruang kerja Ayah!" jawabnya dengan air muka yang sangat serius.


Kami pun berjalan bersama masuk ke ruang kerjanya di rumah ini. Aku tidak tahu pasti apa yang hendak ia bicarakan. Namun aku yakin masih ada kaitannya dengan Felicia dan Rafael. Tadi malam, aku baru tahu kalau mereka tinggal di rumah ini bersama sandiwara yang sangat mengejutkan. Baruna benar-benar gila membawanya pulang ke rumah.


Aku duduk di depan ayah, menunggunya berbicara. Terpancar keraguan pada wajah ayah seolah sangat berat mengatakan apa yang ada dalam kepalanya.


"Apa yang ingin Ayah bicarakan?" Aku membuka pembicaraan di antara kami.


Ayah terlihat menghela napas panjang. Dia menatapku serius. "Rey, seharusnya kau bilang lebih dulu kepada Ayah jika ingin tinggal di sini."


"Kenapa, Yah? Bukankah aku juga memiliki hak berada di sini?" Aku membalas perkataan Ayah kandungku dengan nada sedikit kesal.


"Ya, memang. Tapi Ayah rasa ini bukanlah waktu yang tepat. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi pernikahan adikmu dan istrinya yang saat ini hilang ingatan."


"Bukan itu saja alasannya 'kan, Yah?" sahutku menyeringai miring.


"Ya. Jika kau hendak menyebut nama Felly dan Rafa sepertinya kau tidak akan sepaham dengan Ayah." Ayah membalas ucapanku dingin.


"Ternyata kalian sudah sedemikian akrab seolah mereka bukanlah orang lain lagi di rumah ini." Aku mendengus tertawa kecil.


"Jangan memancing keributan, Rey."


"Aku tidak memancing keributan. Aku merasa sangat lucu mendengar Ayah memanggil mereka seperti itu seakan-akan keduanya adalah anggota keluarga resmi keluarga Asyraf. Ayah lebih memihak mereka daripada menantu Ayah sendiri."


"Saat ini masalah rumah tangga Sheryl dan Baruna hanya tinggal menunggu waktu saja. Setelah ingatan Sheryl kembali, ia harus kembali ke kenyataan dan menerima Rafael sebagai anak tirinya." Ayah menyahut begitu tenang.


"Apa Ayah sadar dengan apa yang Ayah katakan? Itu akan sangat menyakitkan baginya. Apalagi menyadari kehadiran Felicia di sini." Emosiku mulai terpancing. Rasanya kepalaku mulai memanas.


"Kita tidak bisa memisahkan Fely dengan Rafa, Rey. Fely tidak mengizinkan anaknya berada di rumah ini jika ia tak ada di samping Rafa."

__ADS_1


"Lalu masa depan wanita itu bagaimana? Dia masih muda dan pastinya juga memiliki kehidupan pribadi, Yah. Dia tidak mungkin tinggal di rumah ini untuk selamanya. Bagaimana dengan hal itu? Apa Ayah dan Baruna sudah memiliki rencana untuknya?"


Dada Ayah mengembang, menarik napas panjang, lalu mengempis sedetik kemudian. Namun sayangnya ia tidak bisa menjawab pertanyaanku dengan jelas, dan itu malah makin membuatku makin meradang. Dengan rasa kesal, aku bangkit berdiri.


"Jika Ayah tidak tegas, aku yang akan menegaskannya!"


Ayah tiba-tiba ikut bangkit dari duduknya. "Tentang Felly dan Rafa, Ayah mohon kau jangan membuat situasinya bertambah rumit, sekalipun kau masih memiliki perasaan untuk Sheryl. Ayah akan mengizinkanmu tinggal di sini karena niatmu hanya untuk membantu Sheryl mendapatkan ingatannya kembali, tidak lebih. Apalagi, jika kau memiliki niat jahat memisahkan keduanya. Ayah akan benar-benar marah kepadamu. Dan jangan pernah anggap aku adalah ayahmu."


Mendengar perkataan ayah, membuat napasku tertahan. Rasanya begitu menohok menghunjam jantung. Dengan cepat, kutarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya begitu kasar. Sambil membalik badan, terpaksa menjawabnya dengan patuh, "Ya, Ayah. Bagiku kebahagiaan Sheryl lebih penting dari apapun di dunia ini."


Kututup pintu ruang kerja ayah dengan perasaan kacau. Air mataku kembali menetes. Sepertinya tak ada seorang pun yang memikirkan Sheryl seperti aku memikirkannya.


"Rey?"


Aku menoleh ke belakang, mendengar suara Sheryl yang memanggilku. Sheryl berjalan menghampiri dari ujung lorong. Seketika, aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Dia selalu tampak cantik dengan pakaian apapun yang menempel di tubuhnya.


"Kau mau ke mana?" tanyaku.


"Meja makan."


"Iya. Bukankah kita akan sarapan bersama?" Sheryl balik bertanya.


"He-em." Aku mengangguk mengiyakannya lalu terdiam. Semuanya langsung buyar setelah berbicara dengan ayah.


Sheryl mengernyit menatapku. "Ada apa? Sepertinya ada yang kau pikirkan? Tidurmu nyenyak, 'kan?"


Aku tersenyum, lalu menjawab pertanyaannya dengan cepat, "Tidak. Tidak apa-apa. Ayo ke meja makan!"


***


Sheryl Pov


Semua mata tertuju pada kami saat aku dan Reynand tiba di ruang makan. Felicia, Bunda, dan Baruna menatap dingin, dan untuk beberapa saat menghentikan sarapan mereka. Namun sedetik kemudian Baruna bangkit dari duduknya.


"Seharusnya kamu tidak perlu memaksakan diri ikut makan bersama, Sayang. Aku sudah meminta Bik Rindang mengantarkan sarapanmu ke kamar," katanya yang langsung meraih tanganku mengajak duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Banyak tidur membuat kepalaku bertambah pusing dan aku rasa itu tidak akan membantuku mengingat apapun," jawabku.


"Semua ada waktunya. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu, Sher," tambah Felicia yang duduk di depan Baruna.


"Iya, Kak. Terima kasih atas perhatiannya." Aku mengangkat kedua sudut bibirku, menatapnya. Ia tampak ramah, tapi entah mengapa keramahannya membuatku tak nyaman.


"Kau tidak perlu sungkan. Ya 'kan, Raf?" Felicia menoleh pada anaknya.


"Iya, Tante." Dengan patuh Rafael menundukkan kepalanya sambil tersenyum kepadaku.


Sekali lagi aku tersenyum kepada mereka. Baruna tak banyak berbicara. Ia mengambilkan makanan untukku tanpa kuminta. "Aku bisa sendiri," kataku kepadanya.


"Melayani seorang istri yang sedang sakit juga merupakan bentuk cinta kepadanya," sahutnya walau dengan susah payah mengambil semua yang ada di meja dengan tangan kiri.


"Tapi kamu juga belum sembuh," sahutku.


"Aku akan cepat sembuh, Sayang. Kau lihat, kakiku yang dulu sempat patah pun kini sudah sembuh."


Aku menunduk, melihat kakinya yang tampak kuat itu. Tak menyangka sama sekali kalau ia pernah mengalami patah tulang pada kakinya.


"Kecelakaan kemarin aja Sheryl gak ingat. Apalagi dengan kecelakaan yang sudah lama itu. Lo pikir, diri lo selalu ada di hati dan kepalanya?." Tiba-tiba Reynand berkomentar.


Kecelakaan? Aku bertanya dalam hati.


"Jadi kamu pernah mengalami kecelakaan sebanyak dua kali?" tanyaku kepada Baruna.


Baruna mengubah air mukanya yang semula tenang, tiba-tiba berubah menjadi raut kecewa dan sedih. Hal itu membuatku sedikit iba.


"Aku muak sekarang," katanya dengan helaan napasnya yang panjang.


"Muak?"


"Sher, bisakah kau mengubah sikapmu yang dingin itu kepadaku? Aku ini bukan orang asing. Aku suamimu! Sejak kemarin kamu membuatku harus bersabar. Sekarang juga ubah panggilanmu! Dan tegaskan kepada Reynand kalau perasaanmu tak pernah berubah sekalipun kamu melupakanku."


Baruna menatapku dalam-dalam hingga membuatku bergeming. Hanya bola mata yang sontak bergerak mengarahkan pandanganku pada Reynand. Dia melipat kedua tangannya di dada, balas menatapku dengan sorot mata yang juga penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


__ADS_2