
Tepat pukul dua belas siang pada hari Sabtu di ruang tamuku, duduk beberapa orang tamu yang sudah ditunggu-tunggu sejak kemarin malam untuk datang. Mereka adalah keluarga Satya. Papa yang mengundang mereka makan siang dengan maksud melakukan mediasi antara aku dengannya.
Sesaat aku melihat Satya, masih terlihat sedikit bekas lebam tertera di wajahnya. Pria itu berpakaian rapi dengan kaus berkerah berwarna hitam dan celana chinos bahan berwarna coklat. Dia menyadari kalau aku memperhatikannya lalu menyunggingkan senyumnya. Sontak saja aku mengalihkan pandanganku menghindari tatapan matanya.
Hanya keluarga inti Satya yang datang ke rumahku, termasuk Nesya sepupuku. Dia datang bersama suaminya yang tidak lain kakak kandung dari Satya.
Papa, Mama, dan Kak Reza menyambut keluarga Satya dengan ramah seperti tamu pada umumnya sedangkan aku terus memasang wajah masam di hadapan mereka. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangku.
*Apa sih yang Papa harapkan dengan mengundang mer*eka? Pertemuan ini hanya akan menjadi sia-sia**.
"Selamat siang Pak Arya dan keluarga. Terima kasih sudah datang ke gubuk kami yang sederhana ini." Papa tersenyum menyambut ayah Satya.
"Selamat siang juga Pak Agung dan keluarga. Tidak perlu merendah. Rumah semewah ini bukanlah sebuah gubuk bagi kami. Terima kasih sudah mengundang kami sekeluarga," balas Pak Arya.
"Pak Arya terlalu memuji. Jangan sungkan-sungkan sudah bertamu ke rumah ini. Silakan masuk, mari langsung saja kita ke ruang makan," ajak Papa.
Kami semua pun melangkah berjalan menuju ruang makan. Keluarga kami duduk saling berhadapan. Aku duduk di samping Kak Reza yang berhadapan tepat dengan Satya. Satya terus menatapku membuatku merasa semakin tidak nyaman berada di antara mereka. Sesak terasa di dadaku menebak pemikirannya saat ini. Dia pasti merencanakan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku.
"Lo enggak perlu tegang seperti itu Sher. Gue enggak makan lo kok, kecuali terpaksa," ucapnya tenang seraya tersenyum licik.
Aku membisu menunduk menahan lidahku yang mungkin akan mengacaukan acara ini. Kak Reza yang mendengarnya mengatakan hal tersebut ikut mengubah air mukanya, menatap Satya dengan tatapan kesal.
"Jangan macam-macam dengan Sheryl, Sat. Jangan lo pikir gue gak tahu apa yang lo lakukan terhadap Sheryl di resepsi pernikahan kakak lo." Kak Reza membelaku.
Pria berkacamata itu menggelengkan kepalanya seraya tertawa kecil tidak membalas kata-kata Kak Reza.
Beberapa pelayan di rumahku membuka troli makanan mulai dari menu appetizer, main course, dan dessert yang segera dihidangkan di hadapan kami. Hidangan yang tersaji sangatlah lezat. Papa khusus mendatangkan satu koki dari bisnis hotelnya. Tidak lama kemudian kami mulai menikmati hidangan tersebut sampai selesai.
Setelah acara makan siang berakhir, Papa mengajak keluarga Satya berbincang-bincang santai bersama keluarga Satya dimulai di ruang tengah.
"Maksud saya mengundang Satya dan keluarga adalah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi antara Sheryl dan Satya agar tidak berlarut-larut di masa depan."
"Iya saya juga sudah dengar sedikit cerita tentang masalah mereka. Biasalah kalau anak muda bertengkar karena cemburu."
Aku dan Kak Reza sontak menoleh ke arah Om Arya. Dia mengatakan hal yang tidak aku mengerti.
__ADS_1
"Apa maksud Om Arya berkata seperti itu?"
"Cemburu?" tanya Papa.
"Iya Sheryl dan Satya kan berpacaran, laki-laki yang memukul Satya di video itu cemburu melihat hubungan mereka. Dia iri melihat Sheryl dekat dengan Satya, kemudian memukul anak kami sampai babak belur."
"Nah maksud kedatangan kami ke sini juga sekaligus ingin melakukan pertemuan keluarga. Semoga selanjutnya hubungan mereka berhasil sampai jenjang pernikahan," tambah Tante Miska, ibu Satya menambahkan.
Nesya yang mendengar kata-kata mertuanya langsung melirik tajam ke arahku menaikkan kedua alisnya, membulatkan kedua matanya terkejut, berbisik di sampingku, "Apa itu benar Sher?"
Aku segera menggelengkan kepalaku kuat-kuat.
Apa lagi yang orang gila ini rencanakan? Tidak cukupkah berita di media kalau Kak Baruna adalah calon suamiku?
Papa melihatku, air mukanya berubah kesal, "Sheryl, Papa minta penjelasanmu mengenai hal ini."
"Aku ...." Belum sempat aku menjawab, Kak Reza sudah menjawab mewakiliku. Aku menoleh ke arah Satya yang makin mendongakkan kepalanya bersikap sombong.
"Om Arya, sepertinya anda salah paham. Sheryl dan Satya tidak pernah menjalin hubungan kekasih. Adik saya ini sudah mempunyai calon suami. Laki-laki yang memukul Satya adalah calon suaminya, namanya Baruna. Pewaris tunggal perusahaan Asyraf Corp. Satya yang sebenarnya iri dan ingin mempermalukan adik saya. Sepertinya anda sudah dipermainkan oleh anak anda sendiri," sela Kak Reza membelaku lagi.
Satya mengangkat kedua sudut bibirnya tersenyum, dia lalu berkata, "Ayah, Ibu, asal kalian tahu, Sheryl ini adalah wanita yang kucintai sekaligus kubenci. Dia yang telah mengintimidasiku sejak sekolah dulu. Ayah tahu kan bagaimana aku dulu? Betapa aku sulit untuk bangkit dari traumaku."
Om Arya sontak menoleh ke arahku. Lirikan tajamnya seakan-akan ingin membunuhku, "Bagaimana ini Nak Sheryl?"
Tidak, kali ini aku harus berani melawan dia.
"Maaf Om Arya dan Tante Miska karena aku lancang sudah memperlakukan Satya dengan tidak baik di masa lalu. Aku amat sangat menyesal telah melakukannya. Aku pun sudah meminta maaf kepada Satya," jelasku.
Satya bertepuk tangan mendengar ucapanku, "Menurut lo gue akan maafin lo semudah lo ngomong dengan mulut lo itu! Lo mesti harus jadi milik gue Sheryl sayang."
"Satya!" Teriak Om Arya. "Kamu sungguh kurang ajar! Kamu telah mempermalukan kami. Kamu mengarang cerita seperti itu. Kami kira kami akan datang bertemu keluarga Sheryl memintanya untuk jadi pendamping hidupmu. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menyimpan dendam begitu lama!"
Plak!
Aku menutup mataku saat Aditya tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan menampar pipi adiknya itu dengan sangat keras. Satya memegang pipinya yang panas memandang wajah kakaknya.
__ADS_1
"Kakak ...." ucapnya lirih.
"Adik kurang ajar!" Mata Aditya melotot seperti hendak memakan mangsanya.
Papa, Mama, dan Kak Reza membulatkan matanya terkesiap melihat drama keluarga itu. Mereka diam seribu bahasa. Satya benar-benar berhasil membuat keluarganya malu. Satya lalu bangkit beranjak meninggalkan kami.
"Pak Agung saya benar-benar minta maaf atas perilaku anak saya itu. Dia memang sulit ditebak. Saya sekeluarga sangat malu menghadapi anda Pak."
"Tidak, saya yang semestinya mendengarkan kata-kata anak saya. Saya juga malu telah membuat acara mediasi ini kacau. Tapi saya sangat senang kalian meluangkan waktu untuk datang."
"Om, Tante, maafin Nesya yang tidak percaya dengan cerita Sheryl," kata Nesya tiba-tiba.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Nesya. Kami yang sebenarnya harusnya mengerti posisi anak kami," sahut Mama.
"Sher, maafkan aku dan keluargaku ya." Nesya menoleh padaku dan memelukku.
"Tidak Nes, aku yang salah melakukan hal yang tidak baik kepada Satya sehingga sulit dimaafkan sampai sekarang. Tapi aku sekarang tidak mempedulikannya." Aku membalas pelukannya.
Nesya mengangguk setuju lalu menoleh ke arah Kak Reza dengan wajah menyesal.
"Kak Reza, maafin adik ipar Nesya ya. Nesya malu."
"Iya Nesya. Bukan salahmu kenapa kamu yang malu."
"Tetap saja Kak. Kami ini satu keluarga," ucap Nesya.
Kak Reza menganggukkan kepalanya. Aditya juga mengatakan hal yang sama pada kami. Dia sungguh tidak menyangka perilaku adiknya itu seperti itu. Adik yang diam-diam menghanyutkan, mempermalukan keluarga sendiri.
Tidak lama setelahnya Nesya dan keluarganya pamit pulang. Aku dan keluargaku mengantarkan mereka sampai dengan halaman rumah.
--------------------------------
Hai Readers dapet salam dari neng Sheryl nih. Hahaha
__ADS_1