Marriage Order

Marriage Order
S2 Makan Malam Bersama Keluarga Pradipta


__ADS_3

Baruna PoV


Aku baru saja keluar dari toilet. Melihat Reynand dan Sheryl sudah tidak ada di sana. Segera menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Mencoba untuk menenangkan diri. Melihat pasangan baru itu, membuatku meradang karena cemburu.


Reynand mengembalikan ucapanku padanya beberapa waktu lalu dan itu ternyata cukup menusuk jantungku. Melihat mereka berciuman di depan media saja sudah membuatku kesal setengah mati. Reynand malah menunjukkannya secara langsung dengan mengecup pipinya di depan kepala dan mataku sendiri.


Sheryl, begitu mudahnya kamu melupakanku.


Aku berjalan kembali menuju ruang tamu. Di sana hanya ada Bunda dan Nayara yang sedang duduk mengobrol. Sheryl dan Reynand sudah tidak ada.


"Sheryl dan Reynand ke mana, Bun?" tanyaku.


"Bunda baru mau tanya kamu. Bunda kira kamu tahu."


Aku mengangkat bahu, tapi Nayara tiba-tiba berkata, "Mereka tadi pergi keluar dengan terburu-buru."


"Tidak biasanya," gumam Bunda. Dia lalu menoleh ke arahku, "Apa ada yang terjadi?"


"Tidak tahu," jawabku tidak peduli. Kemudian duduk di atas sofa.


"Tante, Baruna, maaf ya, sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap Nayara tiba-tiba pamit sambil melirik jam tangannya.


"Loh, tidak nanti saja? Kita makan malam dulu," sahut Bunda.


"Lain kali, Tante. Tadi Mamaku baru saja telepon memintaku untuk segera pulang."


"Oh, ya sudah. Lain kali jangan menolak, loh," timpal Bunda.


"Iya, Tante." Wanita itu bangkit berdiri lalu mencium punggung tangan Bunda. "Bar, nanti kuhubungi lagi. Kalau kamu dan Tante jadi ke Malaysia nanti aku akan temani kalian di sana."


"Iya, Nay. Terima kasih," sahutku.


Kami mengantar wanita itu berjalan keluar. Dia masuk ke dalam mobilnya, lalu meninggalkan halaman rumahku.


Bunda membalik badan. Berjalan masuk ke dalam. Aku mengikutinya dari belakang.


"Bar, sepertinya tadi Sheryl dan Reynand datang untuk menyampaikan suatu hal padamu. Kalau tidak, mereka tidak akan senekat itu untuk datang ke sini. Apalagi setelah kejadian hari Minggu kemarin," ujar Mama tiba-tiba.


"Entahlah, Bun. Aku juga tidak tahu maksud mereka datang ke sini."


"Tanyakan saja jika ingin tahu. Kalian itu bersaudara. Jangan sampai gara-gara Sheryl hubungan kalian menjadi tidak baik."


"Hubungan kami sudah tidak baik sejak pertama bertemu, Bun. Sekarang, aku tambah membencinya," sahutku seraya berjalan menuju kamar.


Jika ada pria lain yang mengalami hal yang sama sepertiku dan tidak ada rasa benci sama sekali pada pria yang merebut kekasihnya, aku rasa pria itu adalah sosok malaikat yang sedang menyamar.

__ADS_1


****


Reynand PoV


Aku dan Sheryl masih bersama dalam perjalanan pulang dari kediaman Asyraf. Kami baru saja selesai berdebat. Iya, setiap hari kami selalu berdebat setelah wanita itu resmi menjadi calon istriku.


Sheryl terdiam. Baru saja aku mengatakan padanya bahwa Baruna sudah menemukan wanita pengganti dan setiap tangisannya itu hanya akan menjadi sia-sia. Merugikan dirinya yang terlalu larut tenggelam dalam perasaan.


"Sekarang kamu diam. Artinya kamu mengakui apa yang barusan aku katakan," kataku.


"Jangan sok tahu!"


"Jelas sekali kalau mereka saling tertarik. Apalagi Nayara itu cantik," ejekku.


"Diam kamu, Rey! Ember sekali mulutmu!" bentaknya.


Aku menyunggingkan sebuah seringai senyum di hadapannya. Sebodoh amat jika dia mengatakan aku ember. Aku memang apa adanya.


"Sheryl yang cantik sedang memarahiku." Aku menggodanya.


Dia kemudian terdiam. Tidak terpancing dengan perkataanku lagi. Dia mengabaikanku seperti biasa.


Oke, aku sedang membawa patung lagi di dalam mobilku.


Aku memacu kendaraanku dengan kecepatan tinggi. Ingin mengajaknya berputar-putar sebelum kuantarkan dia ke rumah. Sesekali aku menoleh dan melihatnya memejamkan mata sambil memegang sabuk pengamannya. Dia terlihat ketakutan karena aksi konyolku ini. Rasanya aku menikmati momen ini sambil tertawa di dalam hati.


Aku terus menginjak dalam gas mobil. Lagakku sudah seperti pembalap yang profesional. Sepuluh menit kemudian, dia berteriak, "Hentikan, Rey!"


Aku tersenyum puas. Segera menepikan kendaraanku di pinggir jalan. Dia tampak menarik dan membuang napasnya yang tidak beraturan. Tidak lama kemudian mulutnya mengerucut, merajuk, dan akhirnya menangis kembali.


Aku menghela napas panjang dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Menjinakkan wanita ini sungguh menguras energi. Membuatku hampir frustrasi.


"Maumu apa sih, Sher?" Aku menatap pelipis wajahnya dari samping.


"Hiks-hiks-hiks .... Apa harus kuulangi berkali-kali baru kamu mengerti?!" ucapnya sambil menangis.


"Jangan yang itu. Aku janji akan membahagiakanmu setelah kita menikah. Sudahlah move on saja. Biarkan Baruna menjalani kehidupannya sendiri," timpalku.


"Tidak mau. Tidak boleh. Kamu bunuh saja aku, daripada menyuruhku melakukan hal itu."


"Dengar ya, Sheryl! Faktanya ayahmu sudah kubantu. Kamu pun jadi milikku. Karena aku mencintaimu, aku tidak akan melepaskanmu. Perkataan Mamaku saja bisa kutentang gara-gara aku memilihmu dibanding Kayla," terangku.


Dia kembali diam, tidak membalas. Aku kembali memacu mobilku berjalan dengan kecepatan sedang.


"Kita ke rumah Mamaku saja malam ini agar kamu mendapat pencerahan. Jangan hanya bisa menangis dan menangis," tambahku seraya mengerlingkan pandangan ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.

__ADS_1


Sheryl sontak melihatku terkejut. Dia mungkin tidak akan pernah menyangka akan dipertemukan secara pribadi dengan sosok Mama yang begitu menyeramkan jika tidak mengenalnya secara langsung.


Setengah jam kemudian, kami tiba di halaman rumah Mama. Aku membuka pintu mobilku untuknya. Dia terlihat tidak mau turun.


"Turun!" perintahku.


Aku membuka sabuk pengamannya. Dia tetap bergeming. Tidak bergerak sama sekali.


"Oh .... Kamu lebih suka kalau aku membopongmu masuk, ya?" tanyaku.


Dia sontak bergerak turun dari mobil. Wanita ini memang lebih suka diancam baru bergerak. Sekali lagi aku hanya bisa menahan tawa.


Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Seerat hatiku yang tidak ingin berpisah dengannya walau hanya sedetik saja.


Pintu depan terbuka. Tampak Indira membukakan pintu. Dia terlihat sangat terkejut melihat kami yang datang berdua.


"Kakak .... Sheryl. Kebetulan sekali kalian datang. Kami baru saja akan makan malam," ucapnya.


"Wah, pas sekali," sahutku.


Aku menariknya masuk ke dalam. Diikuti oleh Indira dari belakang. Tampak Mama dan Daniel sudah duduk di ruang makan.


Mama menoleh ke arah kami. Raut wajahnya terlihat sedikit terkejut melihat Sheryl datang bersamaku. Tidak lama kemudian, dia menunjukkan air mukanya yang angkuh seperti biasa.


"Duduk Rey, Sher!" perintahnya.


Kami pun melangkah ke meja makan. Mendudukkan tubuh kami saling berdampingan di sana. Sheryl terlihat salah tingkah ketika Mama tiba-tiba saja menyunggingkan senyuman tipis padanya.


"Apa kabar, Sheryl?" tanya Mama.


"Ba-baik, Tante," jawabnya terbata.


"Kalian baru pulang dari kantor?" tanya Mama lagi.


"Tidak, Ma. Tadi aku ke rumah Ayah dulu," sahutku.


"Rumah Anton? Untuk apa?" tanya Mama. Matanya tertuju pada Sheryl. Seakan-akan ingin mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Ada sedikit urusan." Aku membantunya menjawab lagi.


Dahi wanita cantikku itu mulai banjir keringat. Mama tidak memalingkan pandangannya sama sekali dari wajah Sheryl. Aku kembali menggenggam punggung tangannya yang dingin. Entah, dia merasa takut atau hanya merasa canggung berhadapan dengan wanita nomor satu di hidupku.


_________________


Hai Readers maafkan aku kalau cerita ini selalu membuat tegang dari awal sampai akhir. Tapi percaya deh, aku pun ikut mumet. Hahaha jadi nikmati aja ya tiap momennya.

__ADS_1


Jangan lupa selalu support MO. Satu jempol dari kalian sangat berarti untuk kelanjutan cerita ini. Jangan lupa komen ya 😁😁😁


__ADS_2