
Reynand PoV
Dua hari kemudian ....
Pagi-pagi sekali aku sudah berada di ruang kerjaku ditemani beberapa berkas penting yang sudah berada di atas meja kerja. Menghela napas panjang saat tiba-tiba ponselku berbunyi. Mama meneleponku, dengan segera aku menjawabnya.
"Rey, hari ini keluarga kita diundang makan malam di rumah Kayla jam tujuh. Kamu harus ikut karena kamu tokoh utamanya."
"Mama, bisakah menghentikan rencana ini? Pusing aku, Ma."
"Hei ... mau sampai kapan kamu membujang? Mau tunggu Mamamu ini mati dulu baru kamu menikah, hah?"
"Ya tidak seperti itu juga, Ma. Lagi pula kenapa harus bawa-bawa kata mati terus, sih. Memangnya tidak ada yang lebih baik selain kata mati?"
"Yang lebih baik itu kamu menikah, Rey." Mama membalikkan kata-kataku.
"Tapi kenapa harus Kayla?"
"Masih berharap Sheryl itu? Sadarlah Nak, dia itu sudah ada yang memiliki. Nanti kamu patah hati."
"Sudah dari kemarin aku patah hati. Tapi patah hati itu tidak boleh lama-lama, Ma. Harus bangkit lagi untuk mendapatkannya."
"Jangan nekat kamu, Rey!"
"Sudahlah Ma, aku sibuk!"
"Ya ampun, ini anak dinasehati orang tua susah sekali. Pokoknya jangan lupa nanti jam tujuh."
"Iya. Aku berangkat dari kantor," sahutku datar.
Mama mematikan teleponnya. Kepalaku bertambah pusing dibuatnya. Namun, aku harus segera jujur pada mereka semua. Hubungan ini benar-benar tidak bisa dilanjutkan.
Aku mengalihkan pikiran. Tidak ingin terlalu serius memikirkan rencana nanti malam. Tapi hei ... Sheryl mulai datang, dan lagi-lagi menari di otakku.
Sheryl ... Sheryl ... apa yang harus aku lakukan? Pasti kamu sudah membenciku sekarang.
Aku mencoba meneleponnya. Tapi dia tidak mengangkat. Pesanku pun tidak dibalas. Aku harus melakukan sesuatu.
Tidak lama kemudian, aku menelepon sekretarisku. Sebuah ide gila tiba-tiba muncul di kepala. Aku akan mengirimkan sesuatu untuknya.
Beberapa jam kemudian ....
Aku melirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Aku bangkit dari tempat dudukku. Mengambil jas yang bersandar pada kursi dan mengenakannya.
__ADS_1
Aku melangkah malas keluar ruangan. Seharian ini aku tidak melihat Baruna. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Sepi, jika tidak melihat saudara sekaligus sainganku itu.
Satu jam kemudian, aku baru tiba di rumah Kayla. Dia menyambutku yang baru saja memarkirkan mobil. Wanita itu menatap dengan senyumannya yang manis, tapi aku membalasnya dengan tatapan dingin.
"Rey, aku kira kamu tidak akan datang." Kayla meraih lenganku menggandengku masuk ke dalam rumah.
"Ini yang kamu mau, 'kan, Kay?"
"Tentu saja. Kapan lagi kamu mau datang bertemu dengan kedua orang tuaku, jika Mamamu tidak memaksa?"
"Kamu jenius, Kay. Tapi aku super jenius," sahutku tersenyum menyeringai.
"Maksudmu apa, Rey?"
"Kita lihat nanti. Sejauh apa kamu bisa memaksaku, Kay."
Kayla melihatku dengan pandangan bingung. Dia benar-benar tidak tahu apa yang aku rencanakan saat ini. Mama dan yang lainnya sudah menungguku di ruang makan.
"Selamat malam semuanya." Aku mengucapkan salamku saat kami berdua tiba di ruang makan.
Semua yang berada di sana mendongak bersamaan. Mereka memandang ke arahku, mengembangkan senyumannya.
"Akhirnya yang ditunggu datang juga. Duduk Rey!" perintah Om Bagas, yang tidak lain adalah ayah dari Kayla.
Aku memandang sekeliling. Mama, Indira, dan Daniel sudah duduk sejak tadi di meja makan. Aku melirik keluarga Kayla. Di meja makan hanya ada Om Bagas dan Tante Clarissa sang Mama. Kayla memang putri kandung mereka satu-satunya. Sikapnya yang bagaikan putri raja memang akibat didikan manja yang diberikan sejak kecil.
Para pelayan melayani dengan mengambilkan hidangan yang disediakan untukku. Aku mulai menyantap hidangan tersebut. Saat ini hal yang kurasakan adalah semua orang memperhatikanku yang sedang menyantap makanan. Aku memang tokoh utamanya malam ini, tapi aku merasa sangat risih berada di antara mereka.
Aku harus mengatakan yang sejujurnya kali ini.
Hal itu tidak berlangsung lama sampai tiba-tiba Tante Clarissa memecah keheningan.
"Makan yang banyak, Nak Rey. Apa hidangannya kurang lezat?" tanya Tante Clarissa.
Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya. Makanannya memang sangat lezat, tapi acara jamuan makan malamnya membuatku gerah sejak tadi. Padahal pendinginan ruangan sudah bekerja maksimal. Jangankan menikmati, untuk sekedar meletakkan pikiranku di suasana ini saja aku tidak bisa.
"Rey, jawab pertanyaan Mamanya Kayla. Mesem saja!" tegur Mama.
Aku menoleh ke arah Mama lalu mengalihkan pandanganku langsung ke arah Tante Clarissa. "Ah iya Tante, aku sedang diet," jawabku sekenanya.
"Astaga! Porsi tubuhmu sudah bagus. Bahkan Kayla bilang perutmu sixpack. Untuk apa berdiet segala?" balas Tante Clarissa terkejut.
"Loh Kayla, tahu dari mana perut Reynand sixpack?" tanya Mama bingung.
__ADS_1
Wajah Kayla sontak merona malu ketika Mama menanyakan hal itu. Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.
"I-itu Tante, a-aku pernah melihatnya berenang," jawabnya tergagap.
"Oh ...." Mama membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Dia lalu menoleh ke arahku. "Rey, apa yang sedang kamu pikirkan? Mama merasa tubuhmu ada di sini tapi jiwamu entah ke mana. Om Bagas dan Tante Clarissa sengaja mengundang kita untuk membicarakan masalah pertunangan, loh."
"Kak, mereka semua menatapmu," bisik Indira yang duduk di sampingku.
Aku yang menunduk tidak peduli, lalu mengangkat wajahku. "Maafkan aku, semuanya. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kayla bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku."
Suasana ruang makan menjadi hening seketika dengan pernyataanku yang tiba-tiba. Om Bagas yang mendengar itu langsung tertawa.
"Reynand, kamu lucu sekali. Leluconmu mampu membuat Om tertawa."
"Tidak Om, aku serius. Aku belum merasa cocok dengan Kayla. Kami masih tahap penjajakan. Sekali lagi, aku minta maaf Om, Tante, aku tidak mencintainya," jelasku panjang lebar. Om Bagas sontak menghentikan tawanya lalu terlihat serius mendengarkan perkataanku.
Aku bangkit berdiri dan menundukkan tubuh meminta maaf pada semuanya yang berada di situ.
"Pantas saja jika kamu tidak pernah ingin menemui kami. Rupanya ini sifat aslimu!" seru Tante Clarissa yang langsung memeluk anaknya.
Air mata Kayla luruh membasahi pipinya seketika saat mendengar perkataanku. Padahal aku sudah berkali-kali mengatakan hal ini padanya. Tapi dia keras kepada dan tidak pernah menanggapinya serius.
Maaf Kayla, memang ini yang harus aku lakukan sebelum semuanya terlambat.
Kayla lalu bangkit dari tempat duduknya sontak berlari masuk ke dalam kamar. Tante Clarissa ikut bangkit dan menyusulnya. Om Bagas menatap tajam ke arahku. Amarah seorang ayah yang melihat anaknya disakiti diperlihatkannya kepadaku.
"Terserah, Om mau anggap aku bagaimana. Yang terpenting aku sudah jujur pada kalian semua."
"Baiklah Rey, Om mengerti alasanmu." Om Bagas ikut berdiri.
Aku bergeming, tidak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Tenggorokanku tercekat, lidah yang barusan berkata pedas mulai terasa kelu saat melihat Mama yang menatap tajam ke arahku. Baginya, mungkin ini adalah penghinaan terburuk di hadapan kawan bisnisnya. Wajahnya pun berubah murka. Aku tidak peduli lagi. Aku sudah hampir menggila.
"Rey, jaga bicaramu! Kamu pikir sedang berada di mana?!" seru Mama yang ikut bangkit berdiri.
"Maafkan aku Ma, yang satu ini, biarkan aku yang memilih." Aku beranjak melangkah keluar ruangan meninggalkan mereka. Langkah yang cepat, secepat aku ingin segera mengejar mimpiku. Indira mengejarku sampai dengan halaman rumah.
"Kakak!"
Aku menoleh padanya. "Apa lagi yang mau kamu sampaikan? Apa kamu disuruh Mama lagi untuk mengejarku?"
"Tidak Kak Rey, tapi Mama ada benarnya. Kamu tidak bisa terus menerus mencintai Sheryl. Dia dan Baruna akan menikah. Mereka berdua temanku. Aku tidak bisa mengikutimu dan ikut mengharapkan hancurnya hubungan mereka."
Aku menghela napas panjang. "Indira, lebih baik kamu fokus pada kesehatan bayi di kandunganmu. Tidak usah memedulikan Kakak. Kakak tahu yang kakak lakukan."
__ADS_1
Aku berbalik arah meninggalkan Indira yang menatapku pergi dengan wajah sendunya. Kemudian bergegas mengendarai mobilku yang kupaksa melaju kencang. Hari ini, aku benar-benar membuat Mama marah.