Marriage Order

Marriage Order
S3 Gosip Menyebalkan


__ADS_3

Baruna POV


Aku melihat Ayah langsung menolehkan pandangannya kepada Sheryl. Seketika melipat korannya hingga artikel yang ia baca terlihat sangat jelas.


"Sheryl, apa kau bisa menjelaskan berita di koran ini?" Ayah menunjuk artikel tersebut. Headline yang jelas terbaca membuat bola mataku melebar.


Menantu Anton Wirawan Asyraf Kedapatan Berduaan di Pelataran Parkir Hotel Y Bersama Putranya yang Lain


Di artikel gosip bisnis itu terlihat foto Reynand yang menggenggam pergelangan tangan Sheryl. Mereka berdiri saling berhadapan.


Aku sontak mengalihkan pandanganku ke arah Sheryl yang raut wajahnya langsung memucat. Dia menoleh ke arahku hingga kami saling bertatapan.


"Apa yang terjadi, Sayang? Kapan kalian bertemu? Mengapa aku tidak mengetahuinya?" Aku melotot dengan tiga pertanyaan menohok.


Aku tidak menyangka kalau diam-diam mereka masih bertemu di belakangku. Dan aku rasa, foto itu diambil semalam saat satu kesempatan Sheryl pergi dari sisiku, yaitu saat ia menghilang karena hendak mengambil minuman.


"I-itu ...." Sheryl tidak mampu menjawab pertanyaanku. Sedangkan aku, Ayah, dan Bunda menunggu jawaban darinya.


"Mengapa kamu jadi gugup? Ini benar-benar fotomu dan Reynand. Apa yang kalian lakukan di tempat itu?" tandasku makin menghakimi.


"Aku tidak sengaja membuat jasnya kotor dan dia memintaku mengantarnya mengambil jas bersih lain miliknya di mobil," jawab Sheryl, tapi entah mengapa aku tidak bisa percaya begitu saja.


Aku bernapas panjang. Menatap wajahnya yang tampak menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tahu kalau perkataannya tidak sepenuhnya bohong dan aku sungguh penasaran dengan apa yang dia sembunyikan.


"Harus ada acara pegang tangan segala?" Sindiranku makin memojokkan Sheryl.


"Itu–"


Belum sempat istriku melanjutkan kalimatnya, Bunda tiba-tiba saja memotongnya, "Sudah, Bar. Ini masih pagi. Kalian juga akan pergi bekerja. Kalian selesaikan nanti, ya." Bunda melirik ke arah Ayah. "Mas, habiskan sarapan saja. Tidak usah pikirkan urusan Baruna dan Sheryl. Mereka sudah dewasa. Pasti tahu bagaimana caranya menyelesaikan masalah."


Wajah Ayah tampak tidak enak dilihat. Dia sepertinya kesal dengan berita itu. Kami bukan publik figur, tapi para wartawan itu selalu saja mencari bahan pemberitaan hingga seluk beluk kehidupan pribadi kami.


Ayah membanting sendok dan garpunya di atas piring. Dia mengambil jasnya. Seketika pandangan matanya menatap tajam ke arahku dan Sheryl bergantian.


"Ayah harap sesampainya kau di kantor, urusan ini sudah selesai. Jika tidak, Ayah sendiri yang akan berbicara dengan Rey," katanya.


"Mas, kamu belum menghabiskan sarapanmu," ujar Bunda.


"Aku tidak bernafsu, Mer." Pria tua yang kuhormati itu langsung berjalan keluar. Bunda bergegas menyusulnya, meninggalkan aku dan Sheryl di meja makan.


Sheryl memejamkan matanya, tampak mengembuskan napas begitu berat. Aku menatapnya sedikit kasihan. Apalagi, dia sedang mengandung janin kami.

__ADS_1


"Maaf. Maafkan aku, Sayang," kataku langsung membelai rambutnya yang hitam lebat.


Istriku itu membuka mata. Menolehkan pandangannya kepadaku. "Kenapa kamu yang meminta maaf?"


"Jadi, kamu yang ingin meminta maaf? Kamu mengaku telah berbuat salah?" Aku membalasnya dengan pertanyaan yang membuatnya tidak bisa berkutik.


Sheryl menghela napas panjang. Menatapku dengan matanya yang tiba-tiba saja berair, siap jatuh kapan saja. Aku tidak tahu mengapa ia menjadi lebih sensitif padahal aku tidak memarahinya.


"Maafkan aku yang tidak menceritakan pertemuan kami semalam dengan lengkap."


"Apa sekarang kamu ingin menceritakannya?"


Sheryl mengangguk. Dia pun mulai bercerita pertemuannya dengan Reynand semalam. Bukan itu saja, dia juga menceritakan pertemuan sebelumnya di butik Nayara.


"Dia masih memiliki perasaan kepadaku. Bagaimana aku harus menghadapinya?" ucap Sheryl lirih.


Sepertinya stok kemarahanku sudah habis. Aku tidak bisa merasakan amarah lagi untuk Reynand. Siapa yang bisa mengatur dan melarang cinta tumbuh di hati seseorang, termasuk Reynand. Bagaimanapun kami saudara meski tidak sekandung. Yang terpenting, istriku dapat menjaga diri dan tidak mengkhianati pernikahan kami.


"Hadapi saja seperti biasa. Jangan terpengaruh apapun. Selalu ingat aku dan calon anak kita." Aku mengelus perutnya.


Sheryl mengangguk. "Iya, demi anak kita," katanya.


"Sekarang habiskan makananmu. Kamu harus memiliki tenaga yang cukup karena sekarang tenaga itu bukan hanya hakmu, tapi juga hak janin kita."


"Sudah, tidak apa-apa," sahutku.


***


Sheryl POV


Aku baru saja mendudukkan tubuh di atas kursi ruang kerja. Hatiku berkecamuk tidak menentu. Kesal.


Pagi ini ... mengapa harus pagi ini? Ayah mertuaku membaca gosip tidak penting di koran paginya, lalu dengan tatapan tajam menatapku seperti ingin membunuh mangsanya.


Berita menyebalkan! Paparazi di zaman sekarang terasa ada di mana-mana. Tidak peduli dengan profesi mereka, semua orang tiba-tiba saja bisa menjadi seorang pewarta berita asal menemukan sesuatu yang seru.


Ini sudah kali ke dua, aku dan Reynand mengalami hal seperti ini. Aku bukan aktris. Rey juga bukan aktor. Mengapa harus selalu kami? Sungguh membuatku kesal setengah mati.


Seketika pikiran itu melintas di kepala. Aku masih beruntung Baruna tidak marah-marah di meja makan. Bahkan, dia tetap tenang mengantarku sampai kantor. Namun, rasa sangat bersalah kepada suamiku itu masih menggelayuti hati hingga saat ini.


Kling!

__ADS_1


Suara notifikasi pesan chat masuk. Aku meraih ponsel yang sengaja digeletakkan di atas meja sejak tadi. Pesan chat dari Reynand.


[Sher, maafkan aku. Aku bersumpah baru mengetahui gosip murahan itu dari asistenku. Kamu tidak apa-apa? Apa Baruna marah kepadamu?]


Aku mengembuskan napas kasar. Mengetikkan chat balasan untuknya.


[Aku tidak apa-apa. Baruna tidak marah karena aku mengatakan semuanya tanpa terkecuali. Dia sudah tahu semuanya.]


Lama aku menunggu, Reynand tidak juga membalas pesan itu. Aku kembali menenggelamkan diri pada pekerjaan kantor. Selang beberapa saat kemudian, aku mengangkat wajah. Kak Reza tanpa basa-basi terlihat mengintip dari balik jendela.


Dengan cepat, segera beranjak dari kursi dan membukakan pintu ruangan. "Ada apa? Mengapa hanya mengintip saja?" tanyaku sambil berkacak pinggang di depannya.


Kakakku itu hanya menunjukkan cengirannya yang manis. "Kupikir kamu sedang galau, Dek." Kak Reza menerobos masuk ke dalam ruang kerja dan duduk di atas sofa. Aku pun beringsut duduk depannya.


"Mengapa harus galau, huh?" tanyaku tidak suka. Aku bersumpah tidak sedang merasa galau. Ya, kalian bisa mengulang bacaan narasiku di atas.


"Berita itu. Mengapa bisa ada berita seperti itu? Kamu tidak sedang berencana membuat istana haremmu sendiri, 'kan?" sindirnya.


"Astaga, Kakak!" Aku menggelengkan kepala, tidak habis pikir.


"Bercanda, Sher. Serius sekali." Kak Reza terbahak. Padahal aku yakin sindirannya tadi sangat serius.


"Haish! Aku ini penganut monogami. Mengapa Kakak suka sekali menyindir?"


Bukannya menjawab, Kak Reza terus tertawa. Aku yang kesal segera melempar bantal sofa ke wajahnya. Namun, dia tidak juga menghentikan tawanya.


"Aku sudah menikah. Aku tidak mungkin melakukan hal gila seperti dulu," kataku lalu terdiam sesaat, menatap wajahnya dengan serius. "Lagipula, aku sedang hamil, Kak."


"Serius?" Kak Reza menatapku tidak percaya.


"Tentu saja serius. Nanti siang, aku dan Baruna akan pergi ke dokter kandungan."


"Selamat ya, Dek!" Seketika Kak Reza bangkit dari duduknya dan memelukku dengan hangat.


"He-em. Terima kasih, Kak." Aku menyunggingkan senyuman. "Mengenai gosip itu, jangan sampai Papa dan Mama tahu," tambahku.


"Telat. Mereka sudah mengetahuinya pagi ini," sahut Kakakku spontan menjawabnya.


.


.

__ADS_1


.


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih.


__ADS_2