Marriage Order

Marriage Order
S3 Sandaran


__ADS_3

Sheryl Pov


Katakan! Bagaimana caranya aku harus memercayaimu, Bar? Aku tak sanggup melihatmu dipeluk oleh wanita lain. Begitupun saat bibir itu menyentuh bibirmu. Astaga! Felicia! Apa yang sedang kau lakukan?!


Perkataan itu sontak menggema dalam sanubari. Begitupun dengan seruanku yang meminta Reynand berhenti menyerang Baruna. Mereka semua sontak mengalihkan perhatiannya ke arahku.


"Sheryl."


Samar-samar aku mendengar Baruna melirihkan namaku. Aku mengarahkan pandanganku kepadanya sambil menyeka air mata yang terlanjur luruh tanpa kupinta.


Aku langsung menghentak kesal menghampiri sahabat palsuku. Felicia bergeming di posisinya seakan menyambutku yang melotot penuh amarah.


Aku lalu berdiri di depannya. Mengangkat tanganku dan seketika sebuah tamparan keras mendarat pada wajah Felicia. Ia membelalak menatap terkejut sembari memegangi pipinya yang memerah.


"Jadi begini dirimu yang sebenarnya, huh?!" ucapku kesal.


Felicia tidak menjawab. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya hendak membalas tamparanku. Namun Baruna tiba-tiba datang mencengkeram pergelangan tangan Felicia dan menghentikannya dengan cepat.


"Hentikan, Fely!" ujar Baruna dengan sorot tajamnya menatap. Felicia segera menarik tangannya, lepas dari cengkeraman Baruna.


"Dia yang memulainya!" sahut Felicia menunjukku dengan air muka kesal. Wanita ular ini benar-benar membuatku geram.


Siapa? Aku? Yang benar saja, huh?! Bisa-bisanya dia mencium suami orang di depan istrinya! Dan aku sangat senang Baruna bersikap seperti itu. Tentu saja! Dia harus membelaku.


Baruna tidak menyahut perkataan Felicia. Dia menoleh ke arahku dengan sorot mata yang mendadak dingin hingga membuatku menarik wajahku, yang tadinya begitu menantang lalu berubah sedikit kecut.


Tapi, hei ada apa ini? Harusnya aku yang menatapmu dingin. Jauh-jauh dari Jakarta ingin bertemu karena merindu, malah mendapatkan kejutan seperti ini. Apa ini artinya Reynand tidak berbohong?


Aku mengerling kepada Reynand yang diam tanpa kata. Namun masih terlihat dengan jelas kegeraman yang sama di wajahnya. Dia tidak beranjak dari posisinya berdiri. Tetap di sana menatap kami bertiga.


"Sayang, sedang apa kamu di sini?" Nada suara Baruna mendadak datar dengan pertanyaan yang seharusnya dia tahu jawabannya.

__ADS_1


"A-aku ...." Entah mengapa lidahku kelu. Tak bisa menjawabnya. Tidak bisakah ia melihat air mukaku yang begitu merindunya?


Tidak mendapat jawaban dariku, Baruna kemudian menoleh ke arah Reynand sejenak, lalu ke arahku lagi. "Aku sudah bilang 'kan untuk tidak ke sini? Ingat kondisimu!"


"Tapi aku ingin bertemu denganmu, Sayang. Aku ingin tahu yang sebenarnya kamu lakukan. Selain itu, aku juga ingin tahu bagaimana kondisi Ayah," jawabku.


"Sudah kubilang untuk percaya kepadaku Kamu datang dengan Rey, huh?" tanyanya lagi. Tampak kegusaran dari wajahnya.


Aku mengangguk pelan. Bukankah sudah jelas? Mengapa dia harus bertanya lagi?


Tiba-tiba pandangan matanya bergetar menatapku. Dia mengusap wajahnya yang terlihat kacau entah mengapa.


"Apa pantas seperti itu? Suamimu melarang, tapi kau malah pergi bersamanya ke sini? Ini membuatku makin yakin dan berpikir kalau hubungan kalian tidak pernah usai hingga saat ini."


Deg!


Apa ini? Mengapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Apa dia sedang menuduhku dan Reynand? Ah, tidak! Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Felicia jelas-jelas memeluk dan menciumnya.


Dia .... Apalagi yang dilakukan wanita ular itu?


Baruna melihat sesuatu di sana. Tak lama kemudian, dia mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku melihat raut kekecewaan yang terpancar di sana. Dia tiba-tiba berbalik meninggalkan Felicia, lalu menghampiri Reynand yang berdiri tak jauh darinya.


"Nanti gue mau ngomong empat mata sama lo, tapi tolong bawa pulang Sheryl sekarang juga. Selain pernikahan gue yang lo sangat harapkan berakhir. Semoga lo juga gak berharap calon anak gue kenapa-kenapa, Rey," katanya kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan kami bertiga.


"Bar! Tunggu, Bar!" seru Reynand memanggil, tapi panggilan Reynand tak diindahkannya sama sekali. Baruna tetap melangkah pergi.


Perkataan Baruna kepada Reynand terdengar di telingaku. Bagaimana bisa dia memintaku pergi setelah begitu jauh aku datang menyusulnya?


"Sayang!" panggilku setengah berteriak. Dia benar-benar menyebalkan. Apa yang dilakukan Felicia hingga ia seperti itu kepadaku?


Aku berjalan hendak mengejar suamiku, tapi Felicia tiba-tiba meraih tangannku. Dengan seringai kecil di wajahnya ia berkata, "Sebagai istri yang baik seharusnya kau turuti apa kata Baruna, Sher!"

__ADS_1


"Ini tidak ada hubungannya denganmu!" Aku menarik tanganku lepas dari Felicia.


"Setelah ini, mungkin kau akan kehilangannya karena kebersamaanmu dan kakak iparmu itu," ucap Felicia terkekeh.


Astaga! Apalagi ini? batinku, kemudian teringat tentang Reynand yang mengatakan kalau Felicia adalah orang penting yang berada di balik seluruh media itu. Tentang beritaku dan Reynand yang tiada habisnya.


"Sialan!" kataku hendak menamparnya lagi, tapi Reynand tiba-tiba mencegahnya.


"Kita pergi dari sini, Sher!" Tangannya mencengkeramku sangat kuat lalu menariknya. Tapi aku bergeming tidak mau ikut dengannya.


"Tidak! Apa yang kau lakukan? Aku harus memberi pelajaran wanita ini, lalu berbicara dengan Baruna!" seruku, tapi tampaknya Reynand tidak peduli. Tidak bisa membuatku berjalan pergi bersamanya, dia kemudian berhenti. Memaksa dengan cara lain.


Sialan! Dia membopongku! Ini tidak benar sama sekali! Baruna pergi karena marah dan Reynand malah memperparahnya.


"Rey! Turunkan aku! Cepat! Sial! Pria sialan!" kataku dengan suara keras, tapi dia memang sialan. Walau meronta, tak sedikitpun melakukan apa yang kusuruh. Kekuatannya yang sangat besar tak dapat kulawan. Pria ini malah memanggil taksi dan memaksaku masuk ke dalamnya.


Sepanjang perjalanan, kami sama-sama diam. Walau duduk di dalam satu jok yang sama, aku dan dia sama-sama membuang muka hingga kami tiba di hotel.


Aku menghentak meninggalkannya yang keluar belakangan. Segera melangkah dengan cepat dan berusaha untuk tidak berhadapan lagi dengan pria sialan itu. Namun Reynand sepertinya memiliki seribu cara untuk mendekat. Dia meraih tanganku hingga aku membalik dan terpaksa berhadapan dengannya.


"Apa lagi?!" kataku dengan nada ketus.


"Kita pulang, Sher! Kau lihat sendiri bagaimana dia mengabaikanmu? Aku tidak ingin kau tetap di sini dan sakit hati sendirian," katanya.


"Dari perkataanmu, sepertinya kau ingin ikut sakit denganku?" balasku dengan nada malas.


"Jika kondisinya seperti ini, tentu saja! Aku yang lebih sakit darimu. Aku yang melepasmu untuknya agar dia membahagiakanmu, tapi kenyataannya tidak. Kau harus mengakuinya!"


"Aku bahagia dengannya. Aku yakin Felicia yang gatal kepada suamiku. Sialan! Bagaimana bisa dia melakukan–"


Aku belum sempat melanjutkan perkataanku ketika tiba-tiba Reynand memotongnya. Dia malah memelukku dan berbisik dengan perkataan yang langsung membuat air mataku kembali luruh.

__ADS_1


"Aku tahu kau ingin menangis dan aku siap menjadi sandaranmu saat ini," katanya.


__ADS_2