Marriage Order

Marriage Order
Suara Hati


__ADS_3

Pak Reynand menarik tubuhnya, melepaskan pelukannya terhadapku saat ia menyadari Kak Baruna dan keluargaku datang secara bersamaan. Aku yang masih menangis sontak menoleh ke arah pintu, terkesiap.


"Sheryl," lirih Kak Baruna.


Dia melangkah mendekat dengan wajah terkejut lalu berubah begitu dingin menarik lenganku, menyuruhku bersembunyi di balik tubuhnya yang tegap. Mereka kini saling berhadapan.


"Terima kasih udah nyelamatin tunangan gue," ucapnya dengan senyuman penuh arti.


"Iya, Bar. Maaf gue bergerak sendiri. Satya udah gue ikat di kamar. Mungkin polisi juga akan datang sebentar lagi," sahut Pak Reynand balas tersenyum simpul.


Kak Baruna mengangguk, dia lalu memelukku dan mencium keningku. Aku menoleh ke arah Pak Reynand. Memandang wajahnya yang sedikit sendu.


"Pak Rey, terima kasih banyak sudah menyelamatkan saya," tambahku.


"Iya Sher. Saya lega bisa menolongmu di waktu yang tepat." Pak Reynand memandang wajahku penuh arti.


"Apa kamu terluka, sayang?" tanya Kak Baruna menoleh menatap lembut mataku seraya merapikan rambutku yang berantakan.


Aku menggeleng.


"Syukurlah. Maaf aku telat menyelamatkanmu," bisiknya.


"Iya sayang. Aku tidak apa sekarang," sahutku.


"Rey, Terima kasih udah nyelamatin adek gue," ucap Kak Reza.


"Nak Rey, terima kasih sudah menyelamatkan anak Om," tambah Papa.


"Iya, sama-sama semuanya. Maaf jika saya ikut campur masalah ini. Saya hanya peduli dengan mantan sekretaris saya." Pak Reynand terlihat canggung menimpali ucapan Papa dan Kak Reza.


"Om tidak menyangka, kepedulianmu terhadap mantan sekretarismu itu sangat tinggi," timpal Papa sedikit tertawa.


Pak Reynand hanya tersenyum menanggapinya. Terlihat sekali jika dia begitu salah tingkah. Aku menatap teman Pak Reynand yang sedari tadi memperhatikan kami. Dia terlihat bingung dengan situasi yang terjadi.


"Maaf Pak Rey, siapa nama temanmu itu?" tanyaku menunjuk laki-laki berkacamata di sampingnya.


Pak Reynand menoleh ke arah temannya, "Oh iya, maaf gue lupain lo, Nu," ucapnya terkekeh. Wisnu yang sedari tadi merasa tidak diacuhkan, tersenyum getir menatap temannya. "Dia Wisnu, teman saya Sher. Salah satu ahli IT terbaik di negara ini. Dia yang membantu saya menemukanmu lewat bantuan radar satelit."

__ADS_1


"Wow hebat sekali!" Aku menjulurkan tanganku bersalaman, sedikit menundukkan kepalaku menghormatinya. Diikuti oleh Kak Baruna, Kak Reza, dan Papa yang juga bersalaman dengannya.


"Ah tidak perlu sungkan seperti itu. Saya cuma ahli IT abal. Reynand terlalu menyanjung," timpal Wisnu merendah.


"Apa pun itu, kami semua berhutang budi pada kalian semua," tambah Papa.


"Hei, bagaimana dengan preman-preman ini?" Kak Reza mengalihkan pembicaraan. Matanya memandang tiga orang laki-laki yang tergeletak di lantai.


"Kita ikat mereka," ucap Kak Baruna yang masih menggenggam jari jemariku, sangat takut jika aku akan hilang dalam pandangannya.


Aku menoleh ke arahnya, "Sayang, kamu tidak perlu menggenggam tanganku seerat ini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."


Kak Baruna tersenyum lembut lalu melepaskan tangannya saat aku memintanya seperti itu. Dia dan para lelaki lainnya lalu mulai mengikat para penjahat yang sudah tidak berdaya itu.


Setengah jam kemudian, beberapa polisi datang meringkus para penjahat di rumah itu termasuk Satya. Kedua tangannya diborgol ke belakang. Dia melihat kami dengan tatapan matanya yang kecut lalu menunduk mengikuti para polisi yang memaksanya masuk ke dalam mobil dinas.


Aku menghela napas lega. Akhirnya semua ini berakhir walaupun sedikit menyisakan trauma yang cukup dalam di hatiku.


Reynand PoV


"Astaga Reynand! Lihat wajahmu, mengapa babak belur seperti itu?" tanya Mama setengah berteriak terkejut melihatku. Dia bangkit dari sofa menghampiriku. Mencoba menyentuh wajahku yang mulai membengkak.


"Tidak apa, Ma. Nanti juga sembuh." Aku menepis jari Mama yang mencoba menyentuh wajahku.


"Rey, kamu membuatku khawatir," tambah Kayla yang juga bangkit dari tempat duduknya menghampiriku.


"Aku tidak apa-apa. Kamu bisa kembali duduk, Kay. Aku ke kamar dulu. Mau bersih-bersih."


Mama dan Kayla tidak bisa berkata apa-apa. Dari dulu kata-kataku memang tidak pernah bisa mereka bantah. Pembawaanku yang sedikit dingin dan tegas membuat orang-orang rumah dan kantor takut padaku. Kecuali Indira, dia wanita yang paling mengerti diriku.


Mama melirik Indira dan menyuruhnya mengikutiku masuk ke dalam kamar untuk menginterogasi.


Aku masuk ke dalam kamar. Menyadari Indira yang juga ikut masuk dan duduk di pinggir tempat tidur, sudah siap dengan handuk kecil dan es batu untuk mengompres luka memar.


Aku membiarkannya duduk di situ. Tanpa kata-kata, aku masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhku.


Cukup lama aku berada di kamar mandi. Pikiranku sudah penuh dengan sosok Sheryl. Dia menari-nari sambil tersenyum di alam bawah sadarku, bahkan di setiap helaan napasku. Benar-benar membuatku tidak sanggup jika harus berada jauh darinya.

__ADS_1


Apa aku harus merebutmu dari Baruna, Sher? Masalah mengenai harta waris saja belum selesai. Apa aku tidak keterlaluan jika melakukan hal itu?


Tok tok tok.


Terdengar pintu kamar mandi yang diketuk. Indira berteriak memanggil namaku.


"Kak Rey! Kamu pingsan di kamar mandi, hah?!"


"Iya sebentar," timpalku.


Tidak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi. Sudah lengkap dengan kaus dan celana pendek yang menempel di tubuh. Indira menatapku geram. Dia menggemertakkan giginya gemas melihatku.


"Hei bujang! Ada apa denganmu?!"


Aku tertawa sambil meringis menahan sakit.


"Aku tidak butuh tawamu. Aku butuh penjelasan, mengapa Kakak begitu berbeda akhir-akhir ini? Apakah ada seseorang yang mengganggu pikiranmu?"


"Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu," kilahku tidak ingin membahas masalah perasaan lebih jauh dengannya.


Indira mulai mengompres luka lebam di sekitar wajahku. Dia menatap mataku, sepertinya dia menyadari aku hanya berkilah dan tidak ingin bercerita lebih jauh.


"Ternyata Kakak mulai memiliki rahasia di belakangku." Indira tertawa.


"Setiap orang memang memiliki rahasia, Dir," kataku ikut tertawa.


"Tidak-tidak, yang ini berbeda. Kakak sedang jatuh cinta. Bukan dengan Kayla, tapi orang lain." Tebakan Indira tepat menohok hatiku. Aku rasa di kehidupan lain dia adalah seorang peramal.


"Oke, aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu adikku."


"Jangan bilang wanita itu Sheryl, Kak!"


Tepat sekali! Dua ratus poin untukmu, Dir. Kamu sudah menebak dua kegelisahan hatiku dengan benar. Kapan-kapan aku akan memberikan uang jajan lebih untukmu.


Aku mengangguk. Tidak ada yang bisa kusembunyikan dari Indira. Dia memang wanita yang paling mengerti jalan pikiranku.


Indira terkesiap, dia ternganga melihat jawabanku yang cukup jelas itu. Aku menatap matanya serius. Iya, aku benar-benar serius.

__ADS_1


__ADS_2