
Reynand Pov
Tut!
Terputus. Sheryl memutus panggilan teleponnya. Aku bergegas menghubunginya kembali. Namun sayangnya tak aktif. Dia mematikan ponselnya.
"Kau benar-benar ratu tega, Sheryl!" gumamku kesal.
Tanpa membuang waktu lagi segera bersiap-siap. Aku akan segera menyusulnya. Meski tak tahu dia hendak ke mana, dari suara telepon, aku tahu dia sedang berada di bandara.
"Reynand!" Mama memanggilku saat aku menutup pintu.
Segera, aku menoleh ke belakang. Mendecih kesal dalam hati mengingat kami yang semalam bertengkar. Ia pasti akan menghalangiku lagi.
"Mau ke mana kau pagi-pagi sekali?" tanyanya seraya berjalan mendekat ke arahku.
"Bukan urusan Mama. Aku akan pergi sekarang. Saat ini aku tak ada waktu untuk berdebat!" sahutku dingin.
"Pasti berkaitan dengan Sheryl," tebaknya yang langsung membuatku terdiam, "dia baru saja berubah pikiran, 'kan?" tambah Mama.
"Ini semua pasti ada kaitannya dengan Mama. Bagaimana bisa dalam waktu semalam saja ia langsung mencampakkanku?"
"Mama tak heran kau ditinggalkan olehnya. Bagus kalau dia cepat sadar diri. Tak sia-sia Mama menyuruhnya menjauh darimu."
"Mama menyuruhnya?!" Alisku menajam menatap Mama.
"Ya, Mama menyuruh ia menjauh darimu."
"Haish!" protesku geram. Tanpa menunggu jawaban lagi darinya bergegas pergi. Dan seperti biasa dengan suara lantangnya, Mama terus memanggil.
"Suatu saat kau akan sadar semua yang Mama lakukan hanya untuk kebahagiaanmu, Rey!"
Aku tak memedulikan perkataan Mama. Terus melangkah masuk ke mobil.
Aku sungguh tak paham dengan jalan pikiran Mama. Dia ingin aku bahagia, tapi ia mengusir kebahagiaan dalam hidupku. Bagaimana lagi aku harus bertahan hidup di sampingnya? Bahkan ia juga menyuruhku tinggal di dekatnya karena takut aku berbuat sesuatu di luar kendali. Sungguh! Karenanya, aku jadi terpikirkan untuk ikut pergi menjauh. Apa kami lebih baik menikah tanpa restu saja?
Tak sampai sepuluh menit perjalanan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari nomor telepon rumah. Aku pun segera menjawabnya.
Suara panik asisten rumah tangga Mama terdengar, "Maaf, Pak Rey ada di mana sekarang?"
"Jalan!" sahutku ketus.
"Ibu pingsan, Pak!"
"Mama ...." Pandanganku seketika membeliak. Dengan segera membanting setir memutar arah.
__ADS_1
.
.
.
Keesokan hari kemudian....
Pagi ini aku sudah tiba di rumah sakit. Beringsut ke kamar perawatan Mama. Indira yang melihatku bangkit dari duduknya.
"Syukurlah Kakak sudah datang!" katanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Mama masih tidak mau makan. Mungkin Kak Rey bisa membujuknya."
Aku menghela napas panjang, lalu mengarahkan pandangan ke arah Mama. Wanita yang kusayangi itu tak menghiraukanku. Dia membuang wajahnya ke arah jendela.
"Baiklah, Dir." Aku mengangguk pelan.
"Jangan membuatnya emosi lagi, Kak. Kesampingkan dulu ego Kak Rey mengenai Sheryl. Jangan mengungkit dia dulu di depan Mama." Indira sontak berbisik.
"Ya. Kau pulanglah! Kasihan Ezra. Biar aku yang menjaga Mama."
Indira mengangguk-angguk. "Ya,Kak."
"Mama sudah makan?"
Mama mendengus tanpa menoleh ke arahku. "Makan, huh? Kau masih peduli kepada Mama?"
"Tentu saja. Mama adalah ibuku." Aku beranjak duduk di dekatnya. Menatap wajahnya yang masih mengarah lurus ke luar jendela.
"Ibumu... tapi kedudukannya di hatimu masih kalah dengan Sheryl."
Tiba-tiba Mama menyebut nama Sheryl lebih dulu hingga membuatku mengembuskan napas pelan. Sepertinya dia sangat suka memancing perdebatan di antara kami.
"Mengapa Mama malah membandingkan dirinya dengan Mama? Itu tidak sama. It's not apple to apple. Kalian berdua sama berharganya."
Mendengar perkataanku, Mama sontak menatap mengarahkan pandangannya kepadaku. "Kau tahu, Rey? Selain karena Sheryl pernah menyakitimu, melihatnya membuat Mama mengingat diri Mama pada saat itu."
"Saat itu?"
"Ya. Kau jangan tergesa-gesa, Rey. Posisi dirinya sekarang yang telah bercerai dengan Baruna mirip dengan Mama setelah bercerai dengan ayahmu. Mama tahu bagaimana perasaannya. Hatinya kacau dan ia sangat butuh seseorang untuk bersandar. Kebetulan kau datang menyambutnya. Dia menjadikanmu sandaran padahal tak jelas ke mana hatinya akan menepi. Sheryl terlalu bergantung kepadamu, Rey. Mama tak ingin kau hanya menjadi pelarian dari kegalauan hatinya. Lalu setelahnya, kalian menikah di atas dasar perasaan yang seperti itu. Percayalah! Tanpamu, dia bisa mencari kebahagiaannya sendiri."
Sejenak aku terdiam. Meski kekhawatiran itu terkadang muncul, tapi aku sangat yakin kali ini perasaannya tulus. Dan kami harus merayakannya. Kapal kami terlalu lama menunggu untuk berlayar.
__ADS_1
"Lalu Mama ingin aku melakukan apa?" tanyaku akhirnya. Aku tak ingin mendebat dirinya yang sedang tak berdaya seperti ini.
"Lupakan dia, ya? Wanita manapun akan senang mengantre untukmu, tapi jangan dia." Pandangan teduh Mama membuatku membuang napas panjang untuk ke sekian kalinya.
Aku mengangguk terpaksa. "Ya, baiklah. Lagipula aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan Mama."
Meski tak suka, aku menyahut perkataan Mama dengan senyuman getir. Sementara, Mama yang mendengar kalimatku langsung menyunggingkan senyumnya yang paling lebar.
"Terima kasih, Rey. Mama tahu kau yang terbaik!" Mama memelukku.
Aku mengangguk kembali. "Kalau begitu, Mama makan dulu, ya."
"Iya, Rey." Mama mengangguk patuh.
Aku meraih piring makan Mama dan mulai menyuapinya makan.
***
Satu tahun kemudian, kafe O dekat kantor Pradipta. Aku sedang duduk di salah satu meja kafe. Di hadapanku ada secangkir espresso yang hampir dingin karena terlalu lama menunggu seseorang.
Aku termangu sambil mengarahkan pandangan keluar kafe. Entah mengapa, mendadak pikiranku melayang pada Sheryl.
Aku tak tahu apa yang ada dalam kepala Sheryl. Sejak Mama keluar dari rumah sakit sampai satu tahun berlalu, Sheryl benar-benar memutus komunikasi di antara kami seperti yang pernah ia lakukan dulu saat aku tinggal lama di London. Bahkan keluarganya seperti telah diajak kerja sama olehnya. Tak ada yang mau membuka mulut mengatakan di mana Sheryl berada.
Teringat bagaimana pertemuanku dan Om Agung–Ayah Sheryl saat aku menanyakan keberadaan anaknya satu minggu setelah Sheryl pergi.
"Untuk apa kau menanyakan keberadaan Sheryl sekarang, Rey?"
"Saya ingin tahu keadaannya, Om," jawabku.
"Sheryl baik-baik saja. Sebaiknya kau melupakan dia. Anak Om tidak akan pernah Om izinkan untuk berhubungan lagi denganmu karena kau bagian dari keluarga Asyraf."
Mendengar jawaban Om Agung membuatku sontak menelan ludah. Rasanya ini tak adil. Baruna yang bersalah tapi aku yang mendapatkan getahnya.
"Saya Reynand Alex Pradipta. Bagian dari keluarga Pradipta, bukan Asyraf, Om. Saya tahu Om marah kepada Ayah dan Baruna, tapi rasanya tak adil jika menyamakan saya dengan salah satu dari mereka."
"Apa kau tak sadar? Pada kenyataannya, kau juga ikut andil dalam hancurnya pernikahan Sheryl dan adikmu, Rey!"
"Iya, saya paham. Saya mengaku bersalah atas tindakan saya yang tak terpuji itu. Namun di lubuk hati yang paling dalam, saya tulus mencintainya. Saya ingin ia bahagia. Saya merindukannya, Om."
Om Agung menyeringai miring. "Tidak. Kau tidak benar-benar mencintai Sheryl. Jika kau mencintainya, biarkan Sheryl menenangkan diri dan secara mandiri membangun kehidupannya kembali yang telah berantakan. Dia anak Om. Om yang paling tahu apa yang ia butuhkan. Tolong jauhkan dirimu darinya dan jangan cari-cari tahu kehidupannya saat ini."
"Om...." Napasku tertahan. Tak sanggup meneruskan kalimat.
"Rey, bukankah ibumu juga tak setuju kau mencintai putri Om?"
__ADS_1
Aku mengangguk pelan. Om Agung lalu memasang seulas senyuman.
"Maka, janganlah kau kecewakan orang tuamu," pungkasnya menutup pembicaraan kami.