
Aku memandang pantulan cermin di dalam toilet. Wajahku sembab, setelah menangis beberapa lama. Aku merasa sangat sedih sekaligus marah saat mendengar suara Kak Baruna yang meninggi melontarkan kemarahannya padaku. Meneriakkan umpatan dan sumpah serapah yang seharusnya dia katakan untuk Pak Reynand di telingaku.
Hanya karena dia mendengarkan ceritaku pagi ini yang tidak sengaja berangkat kerja bersama dengannya, dia langsung menuduhku, membiarkan Pak Reynand masuk ke dalam hubungan kami. Melarangku dekat-dekat dengannya. Lalu bagaimana jika dia tahu kalau Pak Reynand menciumku tadi pagi? Aku tidak bisa membayangkan akan semarah apa dia.
Aku tidak tahan mendengarkannya, dengan sengaja mematikan ponselku sendiri. Pikiranku melayang tanpa aku sadari, teringat kejadian tadi pagi di mobilnya. Saat di mana Pak Reynand menciumku dengan lembut. Saat bibirnya menyentuh bibirku, otakku terus melarangnya melakukan hal itu. Tapi anehnya, tubuhku mengkhianati diriku sendiri. Aku menikmati setiap sentuhannya hingga akhirnya aku tersadar jika itu adalah tindakan yang salah. Ciuman itu berbeda dengan ciuman sebelumnya yang penuh amarah.
Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus menghindar darinya. Aku mencintai Kak Baruna. Aku tidak ingin menghancurkan hubunganku dengannya.
Aku melangkah keluar dari toilet. Langkahku terhenti ketika aku melihat Kak Reza berdiri di depan pintu toilet perempuan. Mataku mengerling ke arahnya.
"Kakak, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Dek, Kakak ingin bicara," jawabnya.
Aku melihat jam tanganku yang ternyata memang sudah menunjukkan jam makan siang. Kak Reza menatapku serius.
"Kebetulan sudah jam makan siang. Kita bicara sambil makan siang saja, Kak," sahutku.
Kak Reza mengangguk setuju. Kami pun melangkah bersama menuju kantin yang terletak dekat dengan lobi kantor.
Aku menatap Kak Reza. Saat ini kami sudah berada di sebuah meja kantin yang sudah ramai dengan para karyawan.
"Mana ponselmu?" tanyanya membuka pembicaraan.
"Ada di ruanganku. Aku tidak membawanya sekarang."
"Ada apa? Tidak biasanya kamu meninggalkan benda canggih itu."
"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya bosan saja. Aku sedang ingin menjernihkan pikiranku."
"Kamu sedang ada masalah dengan Baruna?"
"Pasti dia sudah lebih dulu bercerita dengan Kakak." Aku berdecak kesal.
"Kamu lebih tahu sedang berbicara dengan siapa. Tentu saja Kakak lebih tahu mengenai hubungan kalian," jelas Kak Reza. "Kakak harap kamu tidak mengecewakannya, Dek. Kita banyak berhutang budi padanya dan keluarganya."
Hutang budi?
__ADS_1
Keningku berkerut mendengar penjelasan Kak Reza. Aku tidak mengerti dengan apa yang barusan dia katakan.
"Aku mencintainya lebih dari rasa hutang budi, Kak. Cintaku tulus padanya," tegasku.
"Baguslah! Kalian harus segera berbaikan. Jangan biarkan dia tidak bisa menghubungimu sampai sekarang. Mungkin saat ini kamu satu-satunya orang yang bisa mendukungnya," tutur Kak Reza lagi.
Aku menarik napas dalam, hanya diam tidak berkomentar mendengar perkataan Kak Reza. Aku tidak suka dia mencampuri urusan pribadiku, walaupun aku tahu mereka bersahabat dekat. Kemudian, kami pun meneruskan acara makan siang kami.
Aku masuk ke dalam ruanganku, meraih ponsel yang tergeletak bebas di atas meja. Segera, aku menghidupkannya. Ada dua puluh notifikasi terlihat. Sepuluh panggilan tidak terjawab dari Kak Baruna, juga sepuluh pesan dari aplikasi berwarna hijau. Aku membuka pesan itu, sembilan pesan dari Kak Baruna yang mencariku dan satu pesan dari Pak Reynand.
Belum sempat aku membaca, ponselku berdering, Kak Baruna memanggilku. Aku lalu mengangkatnya.
"Akhirnya kamu menghidupkan ponselmu, Sayang."
"Iya, aku tahu kamu mengadu pada kakakku."
"Tidak, aku hanya bertanga mengapa kamu tidak bisa dihubungi setelah teleponku yang terakhir. Aku sangat khawatir."
"Aku tidak suka pada kecemburuanmu yang berlebihan itu. Aku pun sudah minta maaf padamu. Tidak seharusnya kamu mengumpat kemarahanmu terhadap Pak Reynand di telingaku. Aku bukan dia, aku ini tunanganmu, sayang."
Aku tertegun sejenak mendengar perkataan Kak Baruna. Dia mengalihkan pembicaraan.
"Jadi bagaimana posisimu selanjutnya, sayang?"
"Sesuai apa kata kakek, mungkin nanti aku akan menggantikannya setelah menikah."
"Iya aku tahu. Tapi bagaimana dengan saat ini?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku masih akan membantu mereka, sayang. Kamu tidak perlu mencemaskanku. Maafkan aku yang sudah memarahimu tadi pagi."
"Iya, maafkan aku juga. Tetap semangat, sayang. Aku selalu mendukung apa pun yang kamu putuskan."
"Terima kasih. Nanti sore aku akan menjemputmu."
"Aku akan menunggumu. Aku mencintaimu."
"Aku selalu lebih mencintaimu."
__ADS_1
Kak Baruna mengakhiri panggilannya. Aku lalu membuka pesan yang belum sempat kubaca, dari Pak Reynand.
"Saya serius dengan kata-kata saya tadi pagi."
Apa sih yang dia pikirkan? Apa dia tidak sadar dengan siapa dia berbicara? Aku ini tunangan saudara tirinya.
Aku lalu membalas pesannya.
"Saya akan menganggap tidak terjadi apa-apa pagi ini. Saya mohon, Bapak tidak menyulitkan hubungan kami."
Setelah itu tidak ada balasan apa-apa darinya. Aku rasa dia sudah mengerti dengan kata-kataku yang cukup jelas.
****
Reynand PoV
Di hari yang sama, pukul 17.30 ....
Aku baru saja menjejakkan kakiku masuk ke dalam mobil. Bersiap untuk pulang dari kantor. Hari ini begitu melelahkan. Mulai besok Asyraf Corp. adalah kantorku. Pradipta Corp. akan dikelola sementara oleh Indira dan Mama sampai Mama menemukan orang lain sebagai pengganti. Sebenarnya bukan basic-nya wanita hamil itu berada di sana. Tapi aku percaya dia bisa.
Aku teringat kembali akan pesan terakhir Sheryl untukku dan aku takmulai mengutuk diriku sendiri mengenai keberanianku tadi pagi mencium bibirnya. Tapi aku yakin sebenarnya dia juga mempunyai sedikit perasaan yang sama padaku.
Tiba-tiba saja pikiranku berkecamuk bagaikan malaikat dan iblis yang sedang bertengkar dan saling berargumentasi.
Oh ayolah Rey, kenapa kamu melakukan hal yang begitu ceroboh tadi pagi? Tentu saja Sheryl marah denganmu. (Malaikat mode on)
Lalu kalau tidak cepat-cepat, kapan lagi? Dia akan segera menikah kurang dari tiga minggu. (Iblis mode on)
Terima saja nasibmu wahai bujangan. Sudah ada Kayla yang bersedia jadi istrimu. (Malaikat mode on)
Iya, Kayla juga wanita yang cantik. Kamu tidak perlu mencari wanita lain yang sudah memiliki pasangan. (Iblis mode on yang tiba-tiba berubah mendukung malaikat)
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Jantungku kembali berdetak kencang memikirkan Sheryl. Bayangannya, senyumnya, terus menerus menggodaku. Aku tidak bisa berpikir sehat saat ini. Dengan beraninya aku sudah menantang Baruna merebut Sheryl dari sisinya. Harapanku? Entah, mungkin hanya lima puluh persen.
Gila, kamu memang gila, Reynand. Ke mana perginya rasa percaya dirimu yang tadi pagi, Reynand?
Aku segera melajukan kendaraanku keluar dari halaman parkir. Suasana hatiku yang tidak menentu akhir-akhir ini membuat diriku sulit mengendalikan diri.
__ADS_1