Marriage Order

Marriage Order
S3 Penyelesaian Masalah


__ADS_3

Reynand Pov


Begitu berat saat aku memaksa membuka kedua mataku. Mengerjapkannya beberapa kali dan mendapati Sheryl tidur dengan posisi kepala yang menelungkup pada sebelah tangannya. Sementara tangan lainnya menggenggam telapak tanganku. Pandanganku lalu mengarah pada Mama yang merebahkan dirinya di atas sofa.


"Hmmmp!" Napasku sedikit tertahan karena rasa nyeri yang seketika muncul kala hendak menegakkan tubuh untuk duduk bersandar.


Sheryl tiba-tiba membuka matanya. Melihatku, wanita itu panik dan langsung bangkit dari duduknya. "Rey, kau tak boleh banyak bergerak!" Sheryl kemudian membantuku untuk duduk. Raut cemasnya membuat bibirku melengkungkan senyuman. Dia mengerutkan keningnya, berkata gusar, "Haish! Mengapa kau malah tersenyum, sih?!"


"Melihatmu mengkhawatirkanku, aku sungguh bersyukur kau masih mendampingiku di sini."


"Tapi gara-gara aku, kau jadi terluka." Raut Sheryl berubah serius, "dia ingin aku menderita sama seperti dirinya." tambah Sheryl hendak duduk kembali di kursinya.


Aku menghela napas. Dia yang dimaksud Sheryl adalah Felicia. Wanita yang selalu iri dengan kekasihku karena Baruna tak mencintai dirinya sebesar Baruna mencintai Sheryl.


"Sini," kataku pelan. Sheryl mengerutkan keningnya tak mengerti. Aku menarik garis senyumku, "mendekatlah dan duduk di sampingku." Aku menepuk ranjang, menyuruh ia duduk di sampingku.


Sheryl bangkit menuruti dan duduk tepat di sampingku. Aku langsung merangkulnya. Ia menoleh hingga akhirnya kami saling menatap dengan senyum menyungging.


"Aku senang masih bisa hidup dan melihatmu, Sher," kataku seraya menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang telinga. Kemudian tanpa sengaja bola mataku mendapati ada sesuatu yang tak beres pada lehernya. Terlihat bekas kemerahan di sana, "astaga! Apa dia juga yang melakukannya?"


"Maksudmu?" Sheryl tampak bingung untuk sesaat, tapi dia langsung menyadari mataku yang mengarah pada lehernya. Dengan cepat, wanita itu menutupi dengan rambut panjangnya.


"Lehermu. Walau kau tak mengatakannya, aku dapat melihat perbuatan wanita itu kepadamu!" geramku. Satu tindakan lain Felicia yang mencoba membunuh Sheryl membuatku marah seketika.


"Aku tidak apa-apa, Rey." Sheryl menggelengkan kepalanya, "justru aku tak tahu apa yang akan terjadi jika saat itu kau dan Baruna terlambat datang menyelamatkanku."


"Dia benar-benar sakit jiwa. Aku tak akan membiarkan dia lolos dari hukuman karena menyerangku dan kamu," kataku lagi.


"Jangan, Rey. Sebenarnya aku sedikit kasihan kepadanya." Sheryl terdengar memohon, "Felicia ... setelah menusukmu, tapi ia juga melukai dirinya sendiri," sahut Sheryl.


"Hah? Melukai bagaimana?" Keningku mengerut bingung.


"Fely berusaha bunuh diri dengan melukai pergelangan tangannya. Dia ...."


Sheryl lalu menceritakan semua yang terjadi setelah aku tak sadarkan diri karena sebuah luka tusukan. Baiklah! Aku memang payah, tapi kau mengerti 'kan? Aku bukan dokter atau seseorang yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Siapapun yang melihat darah sebanyak itu pasti akan pingsan. Kecuali jika kau adalah seorang psikopat yang menikmati pemandangan seperti itu.

__ADS_1


Cerita yang keluar dari mulut Sheryl membuatku terperangah, tak bisa berkata apa-apa. Felicia sudah kelewat batas. Pikirannya sangat pendek. Wanita egois yang tidak memikirkan nasib anak-anaknya jika ia benar-benar kehilangan nyawanya.


"Baiklah, aku tak akan menuntutnya," kataku akhirnya menuruti keinginan Sheryl.


Mendengar perkataanku, Sheryl mengangguk pelan. "Terima kasih, Rey."


Aku langsung memeluk wanitaku. Sungguh! Aku ingin selalu berada di dekatnya. Aku tak ingin ia menjauh lagi. Apalagi saat Mama akhirnya memberikan restunya untuk kami. Tak ada yang perlu kami khawatirkan ke depannya.


"Tapi, Rey...." Suara Sheryl kembali terdengar. Aku langsung mengurai pelukanku. Wanita itu langsung mengarahkan pandangannya ke belakang. Menatap Mama yang masih tertidur begitu pulas di sofanya, "Mamamu, dia sudah melaporkan Felicia pada pihak yang berwajib."


Aku mengembuskan napas panjang. Ikut mengarahkan pandanganku pada Mama. "Aku akan berbicara kepadanya, Sher. Kau tenang saja."


***


Sheryl Pov


Keesokan harinya....


Aku menutup pintu kamar perawatan meninggalkan Reynand dan Tante Aina di dalam dengan dalih ingin membeli secangkir kopi panas di lobi. Setelah permintaanku kemarin, aku ingin membiarkan mereka berbicara, terutama tentang kasus kriminal yang Felicia lakukan terhadap kami.


Pintu lift seketika terbuka. Bukannya melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan kecil itu, aku malah terdiam menatap seseorang yang berdiri sendirian di sana. Baruna.


Aku mengangguk dan mencoba untuk setenang mungkin melangkah ke dalam lift. Tak terbayang bagaimana perasaan Baruna saat ini. Raut mukanya menunjukkan berbagai macam emosi yang tak dapat kujelaskan.


Walau hanya berdua saja di dalam lift, kami hanya terdiam tanpa kata. Baruna lalu menyibukkan dirinya dengan mengangkat sebuah panggilan telepon. Aku mendengar ia menyebut nama Pak Haris di telepon. Tak lama, Baruna mengakhiri percakapan dengan alasan suaranya tidak jelas karena sedang berada di dalam lift.


"Aku meminta Rey untuk mencabut laporan terhadap Fely. Jadi, kamu tak perlu repot meminta bantuan pengacara keluarga Asyraf untuk mengurus tindakan kriminal Fely," kataku datar tanpa menoleh kepadanya.


Baruna langsung menoleh kepadaku. "Sheryl, apa kamu serius dengan ucapanmu?"


"Iya. Aku serius, Mas," kataku balas menatapnya.


"Aku sungguh menyesal, Sher." Raut muka Baruna yang mendadak berubah menujukkan penyesalan membuatku menelan ludah, tak bereaksi.


Tak lama, pintu lift terbuka tepat di lantai satu lobi utama. Aku pun bergegas melangkah keluar.

__ADS_1


"Sher! Sheryl!"


Baruna memanggilku, membuat langkahku terhenti dan memutar tubuh menghadapnya. Pria itu mempercepat langkahnya beringsut mendekat.


"Apa lagi? Aku sungguh tak bisa berlama-lama berada di sekitarmu. Jika Fely tahu, ia mungkin akan kembali mengamuk."


"Tidak, Sher. Aku hanya ingin berbicara denganmu," jawab Baruna.


Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberikan satu anggukan sebagai jawaban. Baruna membawaku masuk ke dalam kafe lalu duduk berhadapan di salah satu mejanya. Namun Baruna tak langsung berbicara. Ia seolah sedang memikirkan sesuatu. Hal itu membuatku sedikit gusar karena tadi dia yang menginginkan kami untuk berbicara.


"Bagaimana keadaan Fely dan bayinya?" Aku membuka pembicaraan.


"Masa kritis Fely sudah lewat. Fely dan bayi kami selamat," jawab Baruna. Ia lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara kembali, "aku sungguh menyesali semua yang terjadi kemarin semalam. Kejadian itu hampir merenggut nyawamu dan Reynand. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sungguh ingin meminta maaf atas nama Felicia."


Aku menghela napas panjang. Menatap wajahnya yang lelah karena harus mengurus Felicia yang masuk ruang intensif akibat tindakan bodohnya.


"Aku sungguh tak tahu harus berkata apa untuk merespon permintaan maafmu, Mas. Itu adalah kesalahannya...," sahutku lalu mengarahkan pandangan pada seorang pelayan kafe yang meletakkan dua cangkir kopi hitam untuk kami. Baruna mengucapkan terima kasihnya kepada pelayan itu sebelum ia pergi dari meja kami, "...kamu tak seharusnya meminta maaf atas nama Felicia," tambahku.


"Aku tahu. Namun, aku juga sadar yang terjadi kemarin malam tak akan pernah terjadi bila aku tak berniat menceraikan Felicia setelah anak kami lahir. Sikapku juga tak baik kepadanya. Aku yang membahayakan kalian."


Aku menarik napas dalam-dalam. "Maka jangan lakukan itu. Berikan dirimu kesempatan untuk membuka hati dan mencintainya seperti yang pernah kamu berikan kepadaku."


Baruna memasang segaris senyum. Ia lalu mengangguk-angguk. "Saat Felicia masih koma, aku menungguinya. Aku terus berpikir tentang semua yang kulakukan kepadanya. Lalu terbesit satu pertanyaan tentang rencanaku untuk menggugat cerai dirinya. Apakah tindakanku itu sudah benar...." Baruna menggantung perkataannya.


"Lalu?"


"Aku rasa, aku tak bisa menceraikan Fely begitu saja. Dia adalah ibu dari anak-anakku. Rafa dan calon bayi kami membutuhkan sosoknya. Aku tak akan bisa menyangkal hal itu," tutur Baruna panjang lebar. Aku dapat melihat bola matanya yang tampak berkaca-kaca.


Aku menelan ludah, tak bisa berkata-kata. Di saat seperti ini, aku dapat merasakan sebuah kenyataan bagaimana Baruna masih ingin mencoba mempertahankan keutuhan rumah tangganya.


"Mas...."


"Aku harap, kalian benar-benar dapat memaafkan istriku," ujar Baruna lagi seraya meraih cangkir, lalu menyesap kopinya.


"Ya, kami sudah memaafkannya, Mas. Bahkan sebelum kamu memintanya." Aku ikut menyesap kopiku.

__ADS_1


"Terima kasih, Sher." Baruna mengangguk pelan.


"Sama-sama, Mas," sahutku seketika merasa sangat lega mendengar perkataan Baruna yang tak lagi mengungkit perasaannya kepadaku. Sama sepertiku, ia sepertinya sudah memutuskan arah masa depannya sendiri.


__ADS_2