
Reynand PoV
Di waktu yang sama dengan episode yang lalu ....
Aku baru saja membuka pintu keluar ruang rawat inap saat aku tidak sengaja melihat Sheryl berdiri di depan pintu berseberangan dengan tempatku berdiri. Di lorong ruang rawat yang sepi itu, dia menangis pilu, terasa sangat menyedihkan.
"Sheryl," panggilku.
Wanita yang tadinya menunduk itu segera mengangkat kepalanya menatapku terkejut. Aku melangkah mendekatinya.
"Mengapa menangis?" tanyanya.
"Sepupuku Bima ... dia meninggal." Sheryl menangis terisak.
Aku menatap wajahnya sedikit menunduk. Sontak mengangkat tanganku menyentuh kedua sudut matanya dan menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya yang mulus.
Dia memperhatikanku dengan tatapan bingung. Aku yang melakukan tindakan itu secara tiba-tiba lalu menarik tanganku. Dia kembali terisak. Ingin sekali aku memeluk tubuhnya, menenangkan jiwanya yang sedang terguncang.
"Hei ... hei ... jangan menangis." Tidak sadar, aku bahkan memeluk tubuhnya. Dia menangis di pelukanku seketika.
Tiba-tiba seorang gadis remaja keluar pintu ruangan yang berada tepat di sampingnya. Wajah gadis yang sedikit kebarat-baratan itu menatap kami dengan tatapan mata tidak suka. Dia menarik tangan Sheryl dengan satu hentakan membuat Sheryl tersadar menoleh ke arahnya lepas dari pelukanku.
"Kak Sheryl, aku dipesan Kak Baruna untuk tidak membiarkan laki-laki lain menggodamu. Kakak tidak boleh dekat-dekat dengannya!" protes gadis itu.
Sheryl menyeka air matanya sambil menoleh ke arah gadis itu, "Khanza ayo kita masuk lagi." Lalu Sheryl menoleh, sedikit menundukkan kepalanya lalu berkata, "Maaf Pak Rey, saya benar-benar tidak sadar."
Aku mengangguk, tersenyum kecut. Wanita itu berbalik arah masuk kembali ke dalam ruangan bersama gadis bernama Khanza itu.
Aku melangkahkan kakiku berjalan menuju lift. Meninggalkan Mama dan Indira di ruangan. Keluar dari ruang perawatan yang membuat dadaku sesak.
Seketika pikiranku menjadi tidak fokus. Memikirkan Sheryl yang menangis dan Mama yang sedang menderita radang usus buntu. Mama harus segera dioperasi nanti malam.
Aku masuk ke dalam kafe. Mungkin meminum secangkir kopi akan membuat pikiranku jernih kembali.
Terdengar lagu dan musik yang mengalun lembut dari band terkenal Ada Band dengan judul "Haruskah Ku Mati", lengkap merayakan perasaanku yang sedang campur aduk malam itu.
Bagaimana mestinya...
Membuatmu jatuh hati kepadaku
Tlah kutulis kan sejuta puisi
Meyakinkanmu membalas cintaku
Haruskah kumati karenamu
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku
Hanya demi cinta yg mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku
Untuk memilikimu
Adakah keikhasan
Dalam palung jiwamu mengetukku
__ADS_1
Ajarkan mu bahasa perasaan
Hingga hatimu tak lagi membeku
Haruskah kumati karenamu
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah kurelakan hidupku
Hanya demi cinta yg mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku
Untuk memilikimu
Tiadakah ruang di hatimu untukku
Yang mungkin bisa? tuk kusinggahi
Hanya sekedar penyejuk disaat ku layu
Ku tlah menantimu hingga akhir masa
Aku melihat sekeliling kafe sambil menikmati kopi di hadapanku. Beberapa orang sedang bersenda gurau dengan rekannya, ada yang terdiam membisu, dan ada yang bersedih menangis sendirian.
Mendengar lagu patah hati seperti ini membuat diriku kembali memikirkan wanita itu. Memeluknya sebentar membuat patah hatiku sedikit terobati.
Apa yang kamu harapkan Rey? Dia sudah menjadi milik orang lain. Milik Baruna saudara tirimu. Cih .... Aku benci, kenapa aku jadi melow seperti ini? Ingat Rey, kamu itu laki-laki tangguh.
"Rey kamu di mana?"
"Rumah sakit, Kay."
"Siapa yang sakit Rey?"
"Mama."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Iya maaf, baru masuk ruangan."
"Ya sudah aku ke sana ya Rey. Tunggu aku!"
Belum sempat aku menjawab, Kayla sudah menutup teleponnya. Aku kembali memasukkan ponselku ke dalam saku.
Setengah jam kemudian Kayla sudah duduk di hadapanku. Kami bertemu di dalam kafe.
"Ayo kita lihat Tante Aina, Rey!" rengeknya.
"Nanti Kay. Operasinya dimulai jam tujuh malam. Aku masih betah di sini. Sekarang saja masih jam enam."
"Baiklah. Rey, kapan kita akan bertunangan?" Kayla bertanya sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan di otakku.
"Bertunangan?"
"Iya, aku juga ingin seperti Sheryl sekretarismu yang kemarin bertunangan."
"Aku belum memikirkan hal itu."
__ADS_1
"Ayolah Rey, aku juga ingin berkeluarga." Kayla makin merengek.
"Aku tidak ingin membahas masalah ini Kay. Pikiranku sedang tidak bisa diajak kompromi."
"Aku akan mengadu pada ibumu." Kayla mengancam.
"Silakan saja. Semakin kamu mengadu, semakin aku tidak memiliki minat terhadapmu," sahutku datar.
"Pasti kamu seperti ini karena Sheryl kan? Aku sangat yakin kamu menyukai sekretarismu." Kayla menunjuk ke arahku. Wajahnya memerah marah.
Aku menarik napas panjang menatapnya tajam, "Sikapmu mencerminkan kepribadianmu. Sebagai seorang wanita terpelajar kamu harus menjaga sikap Kay."
"Tapi aku tidak suka caramu memandangnya. Sejak dia menjadi sekretarismu, sikapmu menjadi lebih dingin padaku dan itu sangat membuatku marah." Kayla masih menunjuk ke arahku.
"Hubungan kita baru menginjak dua bulan dan kamu sudah berani mengatur bagaimana caraku memandang seseorang, hah?!"
Kayla terdiam mematung. Dia tidak membalas kata-kataku. Kedua bola matanya terlihat takut menatapku. Aku marah, benar-benar marah padanya.
****
Baruna PoV
Aku berada di dalam apartemen, sedang menikmati makan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Sheryl tiba-tiba meneleponku dan memberi kabar bahwa Bima sepupunya telah meninggal dunia.
Kematian memang tidak bisa diprediksi. Kebahagiaan yang sempat dirasakan Bima selama satu tahun pernikahan kini hanya bisa menjadi kenangan bagi istrinya. Pasti sangat sedih mengalami hal seperti itu. Apalagi aku tidak pernah membayangkan Sheryl akan pergi dari sisiku. Kami juga sebentar lagi akan menikah.
Seketika aku teringat akan perjanjian tertulis yang ayah katakan waktu itu. Marriage Order Agreement. Aku tidak bisa menunggu kakek untuk menjelaskannya. Aku harus mencari tahu sendiri agar rasa penasaranku hilang.
Aku meraih ponselku mencari sebuah nama yang mungkin bisa membantuku. Pak Wicak asistenku, dia pasti bisa membantuku mencari tahu maksud dari perjanjian itu.
"Halo Pak Wi, maaf saya mengganggu waktu Bapak."
"Halo Mas Bar. Iya tidak apa-apa. Ada apa ya? Bukankah Mas Bar masih di Tokyo? Saya baru saja akan pulang kantor."
"Iya Pak saya masih di Tokyo. Saya punya permintaan. Bisa minta tolong menyelidiki sesuatu?"
"Tentu saja. Jangan sungkan. Saya akan membantu sebisa saya."
"Ini bukan masalah pekerjaan Pak. Ini masalah pribadi. Bisakah Bapak menyelidiki tentang surat Marriage Order Agreement, yang perjanjiannya disepakati oleh keluarga saya dan keluarga Kusuma?"
"Baik Mas. Mulai besok saya akan segera menyelidiki tentang perjanjian itu."
"Terima kasih Pak. Saya harap mendapatkan kabar baik secepatnya."
"Iya Mas."
Aku mengakhiri panggilan teleponku. Sekarang aku tinggal menunggu kabar dari Pak Wicak. Aku tidak akan tinggal diam jika perjanjian itu berisi suatu hal yang merugikan bagi salah satu pihak.
_________________________
Hai Readers pilih mana nih?
Bang Rey yang lagi patah hati atau Bang Baruna yang sweet banget?
Reynand
Baruna
__ADS_1