Marriage Order

Marriage Order
Menjenguk


__ADS_3

Aku membuka mataku. Pagi ini tubuhku masih terasa sedikit demam. Kamar rawat inap yang kutempati terasa begitu sepi. Aku bangun dari tidurku seraya memegang kepalaku yang terasa sakit. Mama yang sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah majalah langsung bangkit dari tempat duduknya menghampiriku dengan wajah cemas.


"Sudah bangun?" tanyanya.


"Iya, Ma."


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Nak?"


"Kepalaku sakit dan masih terasa sedikit demam, Ma."


"Tidurlah lagi," perintahnya.


Aku mengangguk pelan. Mengerjapkan mata yang masih sedikit mengantuk. Tiba-tiba teringat akan Kak Baruna yang datang semalam dan aku mengusirnya.


Jahatnya diriku.


Aku teringat semalam pulang dengan pakaian basah dan disambut dengan ceramah menohok dari Kak Reza karena aku telah berani memutuskan hubunganku secara sepihak dengan Kak Baruna sahabatnya. Yang aku ingat kemudian adalah aku berendam dalam bathtub-ku dengan harapan bisa menghilangkan beban pikiran sekaligus rasa lelah yang menyelimuti tubuh. Rasa perut tidak nyaman tidak kuhiraukan lagi sejak tadi. Aku tidak makan sejak siang hari. Itu pun hanya kopi dan sebuah roti croissant. Tiba-tiba dadaku sesak dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku pingsan saat sedang berendam.


Lalu siapa yang mengangkatku keluar dari bathtub?


Aku membuka kelopak mataku kembali, sulit untuk jatuh tertidur. Pikiranku melayang mengingat wajah Kak Baruna yang sedih dan terluka atas segala yang kulakukan padanya.


"Ma ...," panggilku.


Mama yang sedang duduk di sampingku segera melihatku dengan tatapan lembutnya. "Ada apa?"


"Siapa yang mengangkatku keluar dari bathtub?"


"Baruna, Sayang."


Seketika wajahku memerah membayangkan yang telah terjadi. Semalam aku sudah menyakiti hatinya dan menolaknya berbicara denganku, padahal di malam itu juga dia sudah menyelamatkan nyawaku.


"Ponselku, apa Mama membawanya?" tanyaku.


"Maaf, Nak. Ponselmu tertinggal di rumah. Kamu ingin menghubungi siapa?"


"Aku ingin berbicara dengan Kak Baruna. Aku ingin meminta maaf padanya," sahutku dengan nada bicara yang sedikit tersekat.


Mama mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tote bag-nya. Aku meraih ponsel Mama dan segera menelepon tunanganku itu. Dua kali aku mencoba menghubunginya tapi tidak juga diangkat.


Aku mengembalikan ponsel Mama dengan raut wajah kecewa.


"Kenapa?" tanya Mama.


"Tidak diangkat. Mungkin dia masih marah padaku."


"Tidak mungkin Baruna seperti itu, Nak. Mungkin masih sibuk di kantor," sahut Mama menghibur.


"Dia masih cuti berduka, Ma."


"Oh ... maaf, Mama tidak tahu."


Aku melirik jam dinding yang berada di kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia tidak juga membalas panggilanku.


Ke mana Kak Baruna?


"Makan dulu ya, Sher? Kamu belum minum obat." Mama membuka plastik pembungkus nampan menu makanan.


Aku melirik ke arah menu makanan tersebut. Sepiring bubur lembek dengan lauk pauk yang juga tidak mengundang selera makan. Aku menggelengkan kepalaku.


"Tidak mau, Ma. Rasanya mulutku pahit dan perutku pun masih mual," tolakku mengingat semalaman aku muntah beberapa kali.

__ADS_1


"Ini minum obat mualnya dulu." Mama memberikan obat penghilang mual. Aku segera meminumnya.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu terdengar. Mama beranjak dari tempat duduknya membuka pintu ruangan. Aku melongok melihat siapa yang datang. Mama mempersilakan tamu itu masuk. Sosok Pak Reynand kembali hadir di hadapanku.


"Pagi, Sher! Bagaimana keadaanmu?" tanyanya berseri-seri. Buah tangan yang dibawanya segera diberikan pada Mama.


Dia kenapa bisa datang ke sini?


Wajahnya yang berseri-seri itu berhasil mengunci pandanganku lurus ke arahnya. Pak Reynand berdiri di hadapanku dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Dia lalu duduk di kursi yang terletak di samping ranjangku. Mama berdiri melihat kami yang saling bertemu muka.


"Bapak bisa lihat kalau saya baik-baik saja," jawabku datar.


"Apa kabar, Nak Reynand? Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu muka seperti ini," sambut Mama ramah.


"Baik, Tante Rini. Tante bagaimana?"


"Baik dong. Eh iya Rey, bisa tolong jaga Sheryl sebentar? Tante ingin ke bawah membeli sesuatu."


"Tentu saja. Apa sih yang tidak untuk Tante?"


"Kamu bisa saja merayu Tante." Mama tertawa yang disambut dengan tawa renyah Pak Reynand. "Kalau bisa tolong bujuk dia agar mau makan. Maaf kalau merepotkan."


Aku tersentak kaget mendengar Mama meminta hal seperti itu pada Pak Reynand. Sebuah permintaan yang seharusnya bukan ditujukan untuknya.


Dia orang lain, Mama!


Pak Reynand menoleh ke arah Mama lalu menjawab sambil tersenyum semringah, "Iya, Tante. Saya pastikan dia akan memakan makanannya."


"Terima kasih, Nak Rey." Mama pun berbalik arah meninggalkan kami berdua keluar dari kamar.


Pak Reynand mengalihkan pandangannya menatapku dengan senyumannya yang khas. Sebuah senyuman yang dapat membuat seluruh wanita di bumi ini berteriak-teriak mengelu-elukan namanya.


Apa kamu sudah tergoda padanya Sheryl? (Iblis mode on)


Tidak, aku tidak akan tergoda. (Malaikat mode on)


Yakin tidak tergoda? Kamu sudah memutuskan untuk berpisah dengan Baruna semalam, bukan? (Iblis mode on)


Aku mencintai Kak Baruna dan aku telah menyakitinya dengan kata-kataku semalam. Tidak mungkin secepat itu aku berpaling. (Malaikat mode on)


Aku menggeleng pelan. Begitu berani memandang wajah lelaki itu. Wajah yang selalu membayangi hubunganku dengan Kak Baruna selama ini.


Apa benar kamu sudah bermain hati dengan pria ini, Sher? Jangan biarkan dirimu jatuh terlalu jauh.


Pak Reynand meraih sendok makan di hadapannya. Mengisinya dengan bubur serta lauk pauk yang ada. Dia lalu mengantarkan sendok yang sudah penuh itu masuk ke dalam mulutku. Aku tersentak kaget dengan sikapnya. Lamunanku akan malaikat dan iblis yang saling bersahutan hilang begitu saja.


"Bagaimana? Enak?" tanyanya masih memandang wajahku.


Rasa mual tiba-tiba menyerangku. "Hooeek!" Aku muntah di hadapannya. Begitu banyak hingga terciprat pada kemeja yang ia pakai.


"Hooeek! Hooeek!" Pak Reynand panik melihatku yang muntah begitu banyak. Dia mengambil sebuah plastik kecil di atas nakas. Menadahi muntahku di dalamnya.


Muntahan itu sampai pada ujungnya. Terasa sangat pahit mengganggu kenyamanan mulut dan tenggorokanku. Dia menundukkan kepalanya melihat wajah lemasku dengan rasa cemas.


"Sudah?" tanyanya.


"Iya. Terima kasih," jawabku sambil mengambil botol air dari atas nakas dan segera meminumnya.


Tanpa rasa jijik, Pak Reynand lalu membersihkan sisa muntahan yang berhambur di atas ranjang dan kemejanya dengan sebuah kain lap yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Maaf, saya sudah membuat kemejamu kotor, Pak," kataku meminta maaf.


"Tidak apa, yang penting kamu lega. Saya masih ada kemeja di dalam mobil."


"Sebentar, saya akan memanggil petugas cleaning service untuk membersihkannya," ucapku lagi sambil mengangkat telepon di sampingku.


Dia hanya mengangguk dan bangkit dari tempat duduknya melangkah menuju toilet untuk membersihkan kemejanya.


Pria itu, mengapa tidak jijik pada muntahanku yang bau ini? Aku saja masih mual mencium baunya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Kak Baruna datang membawa sebuah bungkusan di tangannya. Dia berjalan menghampiriku. Mengangkat kedua sudut bibirnya yang memesona.


"Sayang, bagaimana? Sudah enakan?" tanyanya sambil mengecup santai keningku, bagaikan tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami semalam.


Aku terpaku melihat wajahnya. Bagaimana bisa kedua saudara ini datang bersamaan? Mereka berdua membuatku jadi salah tingkah.


"Ehm .... Aku habis memuntahkan seluruh isi perutku, tapi tadi baru saja menelepon petugas cleaning service untuk segera datang."


"Oh ... Mamamu mana? Tadi dia meneleponku, ada apa ya? Apa dia sedang di toilet?" tanyanya karena mendengar suara gemericik air dari dalam toilet.


"Mama sedang ke bawah. Aku yang tadi meneleponmu."


"Lalu siapa di dalam toilet?" tanya Kak Baruna. Dia melangkah menuju toilet karena penasaran.


"Apa tidak ada yang ingin kamu bicarakan?" Aku berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Iya, tapi aku penasaran siapa yang ada di toilet itu." Bola matanya tidak bisa kualihkan dengan satu untaian kalimat.


"Pak Reynand," sahutku singkat.


Air muka Kak Baruna sontak berubah. Tapi kali ini tidak menampakkan amarah yang hebat. Terlihat menjadi lebih tenang walaupun mendadak berubah dingin menatapku.


"Apa yang dia lakukan di sini? Apa kamu yang menyuruhnya datang?" tanyanya melihat tajam ke arahku. Aku menarik tangannya, menyuruhnya untuk duduk menemaniku di tepi ranjang.


"Dia datang sendiri. Aku tidak tahu dia mendapatkan informasi tentang diriku dari mana," ucapku berbisik.


"Pasti Daniel!" gumam Kak Baruna geram.


Pak Reynand keluar dari pintu kamar mandi. Dia hanya diam terpaku melihat aku dan Kak Baruna yang sudah duduk berdampingan di hadapannya, kemudian menyunggingkan sebuah senyum kecil di wajahnya.


"Apa kabar, Baruna?" sapanya.


"Ada urusan apa ke sini?" Kak Baruna menatap dingin ke arah Pak Reynand.


"Jenguk Sheryl," jawabnya santai.


"Apa peringatan gue kemarin kurang, Rey?"


"Apa ada yang salah kalau gue menjenguk orang sakit?" sahutnya datar.


"Cih .... Lo bener-bener buat gue muak, Rey. Pergi dari sini. Jangan sampai gue kehilangan kesabaran," ancam Kak Baruna.


"Gue tamu Sheryl di sini. Dia yang berhak mengusir gue," sahutnya.


"Gue tunangannya!"


"Kalian sudahlah, jangan bertengkar!" Aku berteriak seraya menarik tangan Kak Baruna yang bersiap memberikan mantan bosku itu pelajaran.


"Sayang, lepaskan tanganku! Dia tidak bisa diberitahu dengan sebuah peringatan," perintah Kak Baruna.


Aku melepaskan tangan Kak Baruna lalu berteriak, "Aarrrgghhhh .... Keluar kalian berdua dari sini!"

__ADS_1


__ADS_2