Marriage Order

Marriage Order
Rencana Masa Depan?


__ADS_3

Tok-tok-tok!


"Dek!"


Suara ketukan pintu dan suara Kak Reza berbarengan memanggilku untuk bertemu muka dengannya lagi.


Aku membuka pintu kamar. Melihat wajah Kak Reza yang menatapku serius. Tanpa basa-basi, dia memelukku. Mengusap punggungku berusaha menenangkan tangis yang menjadi.


"Maafkan kami yang telah menyembunyikan semuanya darimu. Semua terjadi begitu saja. Perusahaan kolaps hampir bangkrut saat itu. Hanya keluarga Asyraf yang mau menolong kami dengan catatan mereka ingin menjadikanmu menantu di keluarganya," jelasnya.


"Kalian jahat! Mempermainkan hatiku seenaknya. Menjadikanku seperti barang yang dengan mudah diperjualbelikan," sahutku masih terisak, kemudian menarik tubuhku keluar dari pelukannya. "Lalu Kak Baruna ...."


"Dia tidak bersalah. Kamu harus mempercayai kata-kataku. Baruna tulus padamu."


"Kakak bisa berkata seperti itu karena Kakak adalah sahabatnya. Dari dulu aku tahu tidak ada lelaki yang berani mendekatiku karena Kakak. Hanya Fandy yang bertahan, sampai ...." Aku tidak meneruskan kalimatku.


"Fandy memang tidak cocok untukmu. Hanya sahabatku yang tulus padamu."


"Tidak, sekarang semuanya begitu sulit. Aku hampir tidak tahu yang benar dan salah. Aku ingin sendiri." Aku mendorong tubuh Kak Reza keluar dari kamar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.


Kalian pikir aku bodoh? Sejauh ini mempermainkan hatiku. Membuatku bingung tidak menentu. Sekarang bagaimana aku harus menikah? Siapa yang bisa kupercaya?


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Pagi telah datang menunjukkan kekuasaannya. Pukul enam pagi sudah berada di ruangan, termenung menyendiri.


Aku sengaja datang pagi-pagi sekali agar tidak berangkat bersama dengan Papa dan Kak Reza. Dua orang lelaki yang sedang kuhindari. Aku sedang berada dalam suasana membenci keluargaku.


Marriage Order Agreement itu, aku tidak menyangkanya sama sekali kalau perusahaan ini mempunyai banyak masalah keuangan sejak dulu. Padahal aku begitu tidak acuh pada perusahaan keluarga. Namun, setelah mengetahui hal seperti itu sekarang, rasanya aku sedikit menyesal telah meninggalkan perusahaan yang telah Ayah bangun selama ini dan memilih keegoisanku untuk berkarir di lain tempat.


Aku menatap layar ponsel. Sebuah panggilan tidak terjawab dari Kak Baruna. Pasti dia ingin mengabariku kalau ia sudah di bandara. Rasa enggan berkomunikasi menggelayuti di otakku. Aku sama sekali belum siap berbicara dengannya.


****


Reynand PoV


Satu hari kemudian ....


Aku memandang layar ponsel. Pagi yang sama dengan rutinitas yang sama. Bertemu dengan orang-orang menyebalkan. Tahu begini, aku tidak usah susah-susah pindah ke kantor Ayah Anton. Ayah yang menyebalkan sejagat raya.


Aku memantaskan diri di depan cermin. Memakai dasi berwarna biru navy dengan corak garis diagonal berwarna putih. Jas berwarna navy juga kupadankan dengan setelan celana bahan yang juga berwarna senada. Membentuk tubuh sempurna seorang laki-laki yang akan disukai banyak wanita. Ditambah wajah tampan yang juga akan selalu dipuja para wanita.


Apakah aku bahagia dengan karunia yang Tuhan berikan ini?

__ADS_1


Aku tidak menginginkan hal lain selain Sheryl. Cukup dia saja untukku dan akan menjadi kebahagiaanku selamanya. Dia pun sudah mengakuinya. Mempunyai perasaan cinta untukku. Hanya saja, dia sudah terlanjur bertunangan dengan Baruna dan akan menikah dengan saudaraku itu.


Lalu ke mana perasaanku ini akan berlabuh? Apa akan menguap bersamaan dengan waktu yang berjalan setiap harinya?


Empat hari lagi dia akan menikah dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah itu semua terjadi. Tabunganku mungkin hanya seperempat dari yang ayah katakan. Setengah kekayaan Pradipta Corporation bukanlah jumlah yang sedikit.


Mungkin saja aku akan menuruti yang dia inginkan. Mencoba memulai kembali hubunganku dengan Kayla walau akan membohongi perasaanku seperti sedia kala.


Aku membuka gorden jendela kamar. Cuaca cerah pukul setengah delapan pagi. Mentari memancarkan sinarnya yang sempurna. Begitu cerah, cocok untuk memulai hari baru.


Aku melangkah keluar. Segera menyambar kunci mobil dan membuka pintu apartemen. Kayla sudah berdiri di depanku. Kepalanya menunduk tidak berani bertatap muka.


"Sedang apa kamu di sini?" tanyaku ketus seperti biasa.


"Rey, hari ini dengan segala kerendahan hatiku, bisakah kita membicarakan hubungan kita lebih serius? Orang tuaku akan menjodohkanku dengan lelaki lain," jawabnya pelan.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Hanya kamu. Berikan satu kesempatan untukku dan aku akan buktikan bahwa aku akan menjadi seperti yang kamu mau. Bahkan jika aku harus menjadi seorang Sheryl," katanya memelas.


Aku membelalakkan mata, menatap matanya yang begitu tulus.


"Aku serius," jawabnya. Dia menatap dalam wajahku lalu berkata kembali, "Rey, maafkan aku. Aku terlalu memaksakan perasaanku seperti ini, tapi sungguh aku tidak ingin orang lain selain kamu."


Pikiranku melayang sejenak, lalu menghela napas, "Ayo kita mulai hubungan ini dari awal."


Kayla sontak memeluk tubuhku. Matanya terbelalak tidak percaya dengan kata-kata yang barusan kuucapkan.


"Aku tidak sedang dibohongi, 'kan? Apa kamu serius, Rey?" tanyanya.


Aku mengangguk. Mencoba untuk meninggalkan perasaan cinta pada Sheryl dengan menerima Kayla di sampingku.


"Aku sangat senang. Ah ... kalau begitu antar aku ke Elf FM. Jam sepuluh aku menjadi pembicara di radio itu," ajaknya dengan mata berbinar.


Aku tidak menjawab melainkan langsung berjalan cepat di depannya. Meninggalkan wanita itu yang masih berdiri mematung.


Semoga aku mengambil langkah yang benar.


****


Baruna PoV

__ADS_1


Pagi-pagi sekali aku sudah berada di bandara, menunggu keberangkatan internasional. Aku akan ke Malaysia. Aku ingin memberikan kejutan untuk Sheryl. Mengatur tempat tinggal kami nantinya setelah menikah. Ya, aku memutuskan untuk tinggal di negara itu bersamanya nanti.


Aku sudah menulis surat pernyataan mengenai hak pewaris yang akan kuberikan kepada saudara tiriku. Seperti yang Tante Aina inginkan, beginilah bentuk simpatiku padanya. Dia tidak ada salah. Salah dia satu-satunya adalah berani mencintai tunanganku.


Biarkan saja harta itu dikuasai olehnya dan ibunya. Aku tidak peduli. Bahkan saat Bunda memarahiku habis-habisan yang memutuskan untuk bertindak seperti itu tanpa berpikir panjang. Aku akan berdiri di atas kakiku sendiri. Pergi jauh dari berbagai macam drama kehidupan keluargaku.


Aku berharap dapat memulai hidup baru dengannya. Menjalani rumah tangga kami yang sederhana bersama keturunan-keturunan kami nantinya. Cukup, hanya itulah keinginanku.


Arlojiku menunjukkan pukul lima pagi. Sebentar lagi pesawatku akan berangkat. Aku meraih ponsel dari dalam tas, segera menghubungi Sheryl. Namun, pangggilanku tidak dijawab. Mungkin dia masih tidur.


Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke dalam ponselku. Ayah menelepon. Aku segera mengangkatnya.


"Baruna," katanya.


"Iya, Ayah."


"Apa kamu yakin ingin pergi dari Ayah dan Bundamu?"


"Iya, aku sangat yakin."


"Kami tinggal berdua saja. Apa kamu tega? Bundamu dari tadi menangisi kepergianmu."


"Oh Ayah, yang benar saja. Aku hanya pergi selama dua hari. Masalah kepindahanku nanti pun sudah kukatakan berkali-kali kepada Bunda. Setelah menikah aku akan tinggal di luar negeri. Bagaimana pun caranya."


"Kamu sangat keras kepala."


"Begitulah Ayah mendidikku. Jangan salahkan aku menjadi pribadi seperti ini."


"Iya, Ayah memang banyak salah pada kamu dan Reynand. Ayah juga tidak punya pilihan. Walau berat, dia harus menerima kalau kamu yang akan menikahi Sheryl."


"Iya, Ayah. Terima kasih sudah mendukungku untuk masalah ini. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia adalah hidupku."


"Kamu sedang menjadi budak cintanya, Bar."


"Biarkan itu terjadi, selama aku bahagia."


"Ya sudah, hati-hati di jalan."


"Iya, Ayah."


Ayah mematikan telepon. Suara panggilan untuk para penumpang pesawat sudah terdengar. Aku bergegas melanjutkan langkahku. Sebuah langkah awal menuju masa depan kami.

__ADS_1


__ADS_2