Marriage Order

Marriage Order
S2 Berdamai dengan Keadaan


__ADS_3

Kayla PoV


Pukul 06.30


Aku sedang berada dalam perjalanan menuju rumah Sheryl, di mana hari ini mereka akan menikah. Entah mengapa hatiku masih terasa sakit. Padahal sudah kutanamkan rasa benci pada sepasang pengantin yang tidak tahu malu itu.


Aku terus termenung sepanjang jalan. Meratapi nasib yang sangat tidak adil. Mencintai lelaki yang nyatanya tidak mencintaiku.


Anita sedang menyetir mobilku, mengantarku menuju puncak kesakithatian terakhir. Aku berjanji pada manajerku itu untuk melupakan Reynand setelah melihatnya menikah dan terus fokus pada karir entertainment yang sudah kupupuk sejak beberapa tahun lalu.


"Sampai jam berapa kamu akan berada di sana? Jangan terlalu lama jika kamu tidak ingin terlalu makan hati, Kay," tanya Anita.


"Aku akan mengabarimu jika aku sudah tidak kuat melihat mereka, Nit," sahutku sambil menyeka air mata yang terus meleleh sepanjang jalan dengan beberapa helai tisu.


"Baiklah. Jangan sampai pingsan, Kay. Aku sudah pernah menikah dan bercerai. Sangat mengerti perasaan orang yang sedang patah hati. Aku harap kamu tidak seperti itu," nasihat Anita.


"Iya, Nit. Aku mengerti. Aku janji ini yang terakhir," sahutku.


Anita menoleh ke arahku sambil tersenyum. Dia menambah kecepatan mobil hingga hampir pada batasnya. Membuat jantungku berdebar kencang sepanjang jalan.


Lima belas menit kemudian, kami tiba di gerbang halaman rumah Sheryl. Aku membuka pintu mobil, melangkah keluar. Nita menekan power window, menatap mataku.


"Jangan lupa kabari aku jika sudah selesai. Aku akan menjemputmu. Setelah itu kita bersenang-senang," ucapnya.


"Iya, Nita."


Mobil itu segera memutar arah meninggalkan gerbang depan. Berjalan dengan cepat meninggalkanku sendiri.


Aku membalik tubuhku ragu, melihat suasana rumahnya yang terlihat sudah sedikit ramai. Namun, acara belum mulai sama sekali.


Aku pasti bisa melalui hari ini. Jika aku lemah, dia yang menang. Aku harus kuat. Semangat, Kayla!


Aku pun melangkah masuk. Berjalan dengan anggun memakai gaun pesta berwarna coklat muda sepanjang lutut. Mengangkat wajah yang sudah dihias dengan sempurna. Satu yang harus dikuasai adalah mempunyai kepercayaan diri yang tinggi jika menjadi seorang model dan ini yang sedang kupraktekkan. Menganggap sepanjang jalan menuju kebun belakang rumahnya bagaikan karpet merah sebuah catwalk.


Sebuah mobil sedan berwarna putih yang sangat kukenal tiba-tiba saja masuk ke halaman rumah Sheryl. Seorang lelaki tampan dengan gaya kasual berkaus hitam polos berpadu celana jeans panjang berwarna biru turun dari mobilnya. Begitu tampan–Reynand berjalan dengan gagah masuk ke dalam rumah Sheryl. Namun, dia datang hanya sendiri tanpa keluarganya.


Ke mana Tante Aina dan yang lainnya? Ini 'kan acara penting. Masa sih mereka tidak datang?


Aku menghentikan langkah. Bertanya-tanya dalam hati mengapa dia seperti itu. Namun, segera kugelengkan kepala. Menghilangkan segala pikiran negatif.

__ADS_1


Reynand tidak mungkin melepas Sheryl. Dia sangat ingin memiliki wanita itu. Mungkin keluarganya akan segera menyusul. Pria itu datang lebih dulu karena dia belum bersiap-siap memakai jas pengantinnya.


Pikiranku mulai menjelajah ke segala arah. Menggantikan perasaan sedih yang tadi kurasakan. Segera, melangkah ke meja tamu. Meja bundar berwarna putih dengan kursi untuk beberapa orang di sana. Suasana yang sedikit ramai itu mulai membuatku sedikit melupakan rasa tidak nyaman.


Biarkan saja mereka menikah. Aku akan ikhlas mulai sekarang.


****


Reyanand PoV


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Tidak sabar rasanya bertemu dengan Sheryl. Restu Mama dan keluarga sudah kudapatkan. Aku tidak akan menyesal melakukan ini. Semuanya hanya demi kebahagiaan kami.


Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata. Begitu kacau memikirkan semuanya. Namun, semuanya sudah kuputuskan. Aku lebih memilih untuk ikhlas seperti Baruna yang melepas Sheryl.


Saudara tiriku itu, entah mengapa pada akhirnya dia memaafkan kami dengan tulus. Ketika sudah banyak kesalahan yang kami lakukan di belakangnya. Baruna pun meminta maaf atas kehidupannya yang sempurna selama ini dan segala kasih sayang yang dia terima dari keluarganya yang begitu hangat. Dia juga meminta maaf atas segala hal yang berada di luar kendalinya.


Sekarang aku mengerti. Mungkin aku terlalu membencinya hingga begitu iri saat menyadari dia memiliki segala hal yang aku inginkan. Keluarga yang utuh dan begitu hangat sampai dengan ajaran yang baik sedari kecil. Ajaran yang tidak pernah mendendam pada orang yang begitu jahat padanya. Dia juga mempunyai kekasih yang baik dengan paras yang cantik jelita. Sampai aku pun ikut jatuh cinta pada kekasihnya.


Kamu memang bersalah, Rey. Tidak seharusnya kamu malah dengan sengaja meniduri tunangannya atas nama cinta.


Aku masuk ke gerbang pintu kediaman Sheryl. Menghentikan kendaraanku tepat di halaman rumah yang terlihat sudah ramai itu. Segera kubuka pintu kemudi. Berjalan cepat ke dalam rumahnya. Tampak Papa dan Mamanya duduk di ruang tengah bersama keluarga besarnya. Mereka sudah bersiap-siap dengan dandanan dan pakaian berwarna senada. Begitupun untuk saudara prianya memakai kemeja dan jas dengan warna yang sama. Mereka lalu menoleh bersamaan saat melihatku.


Aku pun membelok ke arah ruang tengah. Ikut bergabung bersama mereka.


"Nah ini mempelai prianya, Nes," ucap Tante Rini lagi.


Aku tersenyum. Memandang wanita yang sedang diajak berbicara dengan Tante Rini. Dilihat dari wajahnya, dia terlihat sepantaran dengan Sheryl. Wanita itu balas tersenyum.


"Hai, Rey. Aku Nesya sepupu Sheryl," katanya sambil mengajak bersalaman.


Aku menyambut salam itu, "Reynand."


"Aku tidak menyangka kalau Sheryl akan menikah dengan orang lain. Padahal saat datang ke pernikahanku dulu dia membawa pria yang berbeda."


"Mungkin sudah takdirnya, Nes," sela Tante Rini.


"Iya, Tante," jawab Nesya. "Kenapa belum ganti busana pengantin, Rey?" tanya Nesya lagi.


"Ah, iya. Aku baru mau ganti, Nes," jawabku. Sepupu Sheryl ini terlihat sangat kepo.

__ADS_1


"Mama dan keluargamu yang lain mana?" tanya Om Agung tiba-tiba. Dia ikut dalam obrolan kami.


Aku menelan ludah mendengar pertanyaannya. Segera kujawab dengan begitu hati-hati. Menatap wajah calon mertuaku sambil tersenyum tipis.


"Nanti mereka akan datang belakangan."


"Oh .... Jangan sampai telat loh. Satu jam lagi acaranya akan dimulai," sahut Om Agung sambil melihat arlojinya.


"Iya, mereka akan datang," kataku.


Semua yang berada di ruangan itu hanya menganggukkan kepalanya. Reza dan Dita tiba-tiba datang menghampiriku. Mereka tersenyum sambil mengulurkan tangan.


"Selamat ya, Rey," ucap Dita.


"Terima kasih, Dit."


Reza terdiam sejenak. Terlihat ragu untuk berbicara. Dia tiba-tiba memelukku dan berkata, "Maafin gue yang selalu kasar sama lo."


"I-iya, Za." Aku tersentak kaget dengan sikapnya. Segera, kubalas pelukannya dan merasakan kedamaian di antara kami.


"Gue harap lo bisa membahagiakan adik gue satu-satunya itu. Jangan membuatnya bersedih," pesan Reza, lalu melepas pelukannya.


"Iya, Za. Sekarang Sheryl di mana?" tanyaku.


"Di kamarnya. Ayo gue antar," jawab Reza.


Aku dan Reza berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Kami pun tiba di depan pintu. Tanpa ragu, segera menatap mata Reza.


"Gue bukannya enggak mau bertanggung jawab, Za. Tapi gue udah putusin akan menghentikan acara pernikahan ini," kataku.


Reza terperangah mendengar perkataanku yang tiba-tiba ingin membatalkan acara pernikahan. Bola matanya melebar menatap terkejut. Aku menelan ludah bersiap untuk kalimat selanjutnya.


"Gue menyesal, Za. Gue akan membiarkan mereka untuk bersatu kembali," sahutku.


Reza tiba-tiba memelukku lagi. Menepuk-nepuk punggungku, kemudian menarik dirinya. Dia segera melirik jam tangannya.


"Lo yakin? Waktunya mepet banget. Dia enggak akan bisa menyusul Baruna," ujarnya.


"Maka dari itu, gue minta tolong sama lo untuk mengantarkan Sheryl ke bandara. Gue akan bicara dengannya sebentar lagi." Aku memutar handel pintu dan melangkah masuk ke kamar Sheryl.

__ADS_1


__ADS_2