
Empat hari kemudian ....
Aku memandang pantulan bayanganku di cermin bersiap-siap untuk berangkat kerja. Hari ini adalah hari kedua aku bekerja di perusahaan keluarga. Berbekal dengan ilmu dan pengalaman yang kupunya, aku yakin bisa membantu Papa mengatasi kesulitan dalam perusahaan.
Aku melangkah santai keluar dari kamar karena waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Masih terlalu pagi untuk terburu-buru.
Mama, Papa, dan Kak Reza sudah berkumpul duduk di meja makan. Suara dentingan garpu dan sendok menghiasi suasana sarapan pagi.
"Selamat pagi semua," sapaku seraya mengecup pipi Papa dan Mama.
"Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurnya, nyenyak?" tanya Mama.
"Iya Ma."
Aku menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Kak Reza.
"Hari ini pergi bareng?" tanya Kak Reza.
"Iya Kak."
"Aku pikir kamu pergi bareng Baruna."
"Tidak. Dia masih ada di Tokyo."
Kak Reza menganggukkan kepalanya mengerti lalu memasukkan suapan nasi beserta lauknya ke dalam mulut.
"Kapan dia pulang?" tanyanya.
"Besok. Semoga tidak mundur dari jadwal," sahutku.
Dua puluh menit kemudian kami selesai menikmati sarapan kami. Papa bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajaknya seraya beranjak dari tempat duduknya diikuti olehku dan Kak Reza.
Kak Reza menghidupkan mesin mobilnya. Dia duduk di kursi kemudi. Setengah jam kemudian mobil sudah berjalan di tengah-tengah hiruk pikuknya jalan raya.
Pukul delapan kurang lima belas kami tiba di kantor. Berdiri di depan lift menunggunya membawa kami ke lantai ruangan masing-masing.
Aku terperanjat kaget saat melihat Satya berjalan melangkah ke arah kami. Dia berjalan bersama kakaknya, Aditya.
Apa yang sedang mereka lakukan di sini?
Aku menelan ludahku. Satya melihat ke arahku tersenyum simpul. Aku buru-buru menundukkan kepala, tidak ingin bertemu muka dengannya.
Ting!
Lift terbuka. Kami semua masuk ke dalam lift. Lift yang melaju ke lantai sepuluh itu melaju dengan sangat lambat tidak seperti biasanya.
Satya yang berdiri tepat di belakangku lalu berbisik di telingaku, "Gue kangen lo, Sher."
Wajahku menegang dengan detak jantung yang menderu tidak karuan. Tubuh pun melakukan reaksi yang sama, gemetar takut seketika mendengar kata-katanya.
Mengapa kami harus bertemu lagi di sini?
Aku meraih tangan Kak Reza yang berdiri di sampingku, menggenggamnya erat. Kak Reza menoleh seketika pandangannya berubah mengerti saat ada Satya di belakangku.
Ting!
Lift terbuka. Kamu semua keluar dari lift berjalan ke arah masing-masing tujuan. Sialnya Satya ikut keluar mengikuti kami.
Aku melihat ke arah Kak Reza seraya berbisik, "Kakak, mengapa Satya ikut keluar di lantai yang sama?"
__ADS_1
"Tentu saja, bulan ini sudah masuk periode akhir tahun. Banyak rapat yang harus dihadiri oleh para pemegang saham. Ruangan mereka pun satu lantai dengan kita." balasnya lirih.
"Oh ... maaf aku baru tahu karena berbeda budaya dengan Pradipta Kak."
Kak Reza mengangguk mengerti.
Kami pun berpisah ke ruangan masing-masing. Aku dipercaya Papa sebagai manajer di departemen sales dan marketing sesuai dengan pengalamanku selama ini dalam bekerja. Sedangkan direktur sebelumnya telah diberhentikan karena terkena kasus korupsi dalam perusahaan.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas. Pagi ini aku belum menelepon Kak Baruna. Rasa rindu karena menunggu itu terasa menyesakkan. Aku pun membuat panggilan.
Aku menunggu teleponku dijawab. Nada sambungnya begitu lama terdengar sampai akhirnya dijawab.
"Halo sayangku, bagaimana tidurmu semalam?"
"Nyenyak. Sabtu ini jadi pulang kan?"
"Iya mudah-mudahan. Sudah ada progres yang baik di sini. Jadi aku tenang untuk meninggalkannya."
"Aku sudah sangat merindukanmu."
"Iya, percayalah aku juga merasakan hal itu. Merindukanmu sepanjang hari-hariku di sini."
"Aku bertemu dengan Satya tadi."
"....."
"Kenapa diam?"
"Sebentar .... Maaf, aku akan menghubungimu lagi nanti."
Kak Baruna mematikan teleponnya sepihak.
Aku menaruh ponselku di atas meja, bertopang dagu melihat lurus ke depan. Tanpa sadar aku mulai melamun.
Pikiranku menerawang kembali ke hari di mana aku bertemu Pak Reynand di rumah sakit. Bertanya-tanya sedang apa ia berada di sana. Wajahnya lusuh tidak bersemangat.
Apakah ibunya sedang sakit? Dan Oh My God, dia memelukku yang sedang bersedih kala itu. Hei, apa yang dia pikirkan?
Seketika wajahku merona merah malu. Aku pun tidak sadar sudah memeluknya. Posisiku saat itu sangat syok dengan keadaan berduka.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Masuk!" seruku.
Seseorang memutar handel pintu dan apa yang aku lihat? Satya berdiri di hadapanku kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi menatapku.
"Ada apa?" tanyaku dengan wajah tidak suka.
"Sher, lo galak banget sih," sahutnya tersenyum.
"Iya mau apa? Kalau enggak punya urusan lebih baik lo enggak usah ganggu gue lagi. Cukup lo jaga jarak dan kita enggak usah saling kenal."
"Hahaha ...." Satya tertawa lebar. "Ah sebenarnya gue mau berdamai sama lo Sher. Tapi lo memang lebih cantik kalo lagi marah. Gue suka itu. By the way, selamat atas pertunangan lo dan Baruna ya." Dia kembali tersenyum
"Enggak perlu basa-basi, Sat."
Satya bangkit dari tempat duduknya berdiri di belakangku mencium puncak kepalaku. Jantungku berdetak kencang. Aku bergeming ketakutan. Menggigit bibirku cemas. Dia benar-benar membuatku takut.
Satya berbisik, "Iya, emang gue lagi basa-basi. Gue gak bakal terima kalau lo bahagia di atas kesedihan gue. Gue akan tetap jadi bayang- bayang lo, Sheryl sayang."
__ADS_1
"Sat, please jangan ganggu hidup gue lagi."
"Nanti sepulang kerja di kafe M. Gue tunggu. Jangan sampai ada orang yang tahu. Cukup lo dan gue, Sher. Setelah kita bertemu berdua aja mungkin gue bakal berubah pikiran." Satya tersenyum kembali dengan penuh arti.
"Apa ini ajakan kencan?"
"Bisa jadi. Apa pun itu gue mau bicara dengan lo hanya berdua saja," ucapnya lalu keluar dari ruanganku.
Aku menarik napas lega, akhirnya dia keluar dari ruanganku. Aku meraih ponselku ingin segera menelepon Kak Baruna menceritakan yang barusan terjadi. Tapi dia tidak mengangkatnya setelah kucoba berkali-kali. Dia pasti sangat sibuk.
Apa aku mencoba cara terakhir ini? Bertemu dengannya hanya berdua. Kalau aku berbicara dengan Kak Baruna pasti dia tidak setuju. Tapi aku tidak tahan jika dia selalu menjadi bayang-bayangku. Aku akan menyelesaikan masalahku ini secepatnya.
Waktu tidak terasa berlalu begitu cepat, delapan jam telah berlalu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
"Dek!"
Aku menoleh ke belakang. Tampak Kak Reza berjalan menghampiriku.
"Kak, aku tidak bisa pulang bersama hari ini. Ada meeting dadakan dengan klien."
"Yang benar saja meeting di luar jam kantor."
"Iya cuma sebentar kok. Kakak dan Papa pulang duluan saja."
"Benar nih?"
"Iya Kak."
"Ya sudah. Jangan lama-lama." Kak Reza mengusap rambutku. "Kakak percaya kamu kuat menghadapi semua rintangan."
"Hei kenapa berbicara seperti itu?"
"Tidak ada alasan untuk mengatakan begini dan begitu kan? Aku hanya ingin mengatakan kalau aku bangga punya adik seperti dirimu."
Aku tersenyum, tidak biasa-biasanya Kak Reza menyemangatiku.
"Kakak salah minum obat ya?" Aku memegang kening Kak Reza yang tidak menghangat itu.
"Ish .... Kamu tuh ya. Serba salah jadinya. Dibilang salah minum obat pula." Kak Reza menjitak kepalaku pelan.
Aku hanya tertawa melihat tingkah kakakku itu. Kami berpisah di lobi. Aku berjalan keluar ke arah jalan raya. Menunggu driver online yang sudah kupesan di sebuah halte bus.
Halte bus terlihat sepi dari biasanya. Aku duduk sendiri di sana.
Lima menit kemudian sebuah mobil SUV berhenti di hadapanku. Tiga orang laki-laki berperawakan tinggi besar menghampiriku.
Aku mendongakkan kepala melihat mereka. Wajahnya yang mengerikan membuatku sedikit takut. Mereka memandangku dengan tatapan tajam.
"Kalian siapa?" tanyaku sopan.
"Ikut kami, Nona."
"Ada urusan apa ya?"
Mereka saling memandang dan mengangguk. Lalu salah satu pria berambut gondrong menarik tanganku. Dua orang lainnya mendorongku, memaksa masuk ke dalam mobil.
Aku tersentak kaget menghadapi perlakuan mereka, sontak berteriak, "Tolong! Tolong!"
Tapi sayang, Suaraku kalah oleh bisingnya kendaraan di jalan raya. Tidak ada yang mendengar. Semua tidak mengacuhkanku.
Sebuah sapu tangan berwarna coklat ditempelkan di hidungku. Lambat laun aku mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1