Marriage Order

Marriage Order
S2 Kami Sudah Gila


__ADS_3

Suasana di ruang tunggu itu menjadi tegang. Tidak ada penunggu lain di sana, karena pasien ICU hari itu hanya Kak Baruna.


Kak Reza memandang Pak Reynand dengan air muka yang berapi-api, begitu marah tidak terkira. Aku tidak pernah melihatnya sampai seperti ini. Bahkan Kak Dita pun terlihat takut melihat kekasihnya marah.


"Rey, sebaiknya lo pergi dari sini!" Kak Reza mengusir pria itu pergi.


Dia tersenyum tipis menanggapi perkataannya, "Hanya Sheryl yang berhak usir gue."


Kak Reza terlihat memejamkan matanya gemas. Tangannya mengepal hendak melayangkan tinju. Namun, aku segera mencegah Kakakku itu untuk bertindak lebih lanjut.


"Kak, jangan membuat keributan lagi. Aku akan berbicara dengannya." Aku menatap wajah Kak Reza sambil menggelengkan kepala. Kak Reza memberikan sapu tangan dari balik sakunya.


"Seka air matamu dengan itu. Kakak tidak ingin melihatmu menangis lagi. Apalagi di dalam pelukan pria itu," sindirnya.


Aku hanya mengangguk, lalu mengajaknya pergi ke kafe yang berada di lobi lantai satu. Pak Reynand berjalan di sampingku tidak berkata apa-apa. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.


Pria itu mendorong pintu masuk yang terbuat dari kaca tebal dan membiarkanku masuk lebih dulu. Aku menuju sebuah meja kosong yang berada di sudut ruangan.


"Kamu pesan apa?"


"Orange juice," jawabku sambil duduk.


"Baiklah," katanya lalu pergi untuk memesan.


Tiba-tiba sebuah lagu dari seorang penyanyi terkenal, Pinkan Mambo berjudul 'Dirimu Dirinya' mengalun lembut.


Saat ku pertama menatap dalam dirimu


Ku begitu yakin ini cinta


Tatap dirinya rasa ku pun juga sama


Kumencintai dirimu dan mencintai dirinya


Tak ingin hidup tanpa rasa bahagia


Bahagia ku bila banyak cinta


Untukmu setia, namun hidup rasa hampa


Bukannya aku jahanam


Ku hanya mencari senang


Hatiku takkan bisa ku berdusta


Cinta ini memang untuk dirimu


Dan untuk dirinya


Dan bila diantara kita menghilang


Tak kembali untuk selama-lamanya


Tak mungkin kusendiri kan kucari lagi

__ADS_1


Takkan kubuang waktu


Tanpa cinta ku merana


Hatiku takkan bisa ku berdusta


Cinta ini memang untuk dirimu


Dan untuk dirinya


Dan bila diantara kita .…


Aku terdiam menunggu Pak Reynand membawa pesananku. Menelan ludah mendengar kata demi kata yang mengalun dengan merdu.


Mengapa harus ada lagu seperti ini? Membuatku bertambah gila memikirkan lelaki di hadapanku dan tunanganku yang sedang menantang maut.


Tidak lama Pak Reynand kembali membawa segelas orange juice dan segelas ice americano. Pria itu lalu duduk di hadapanku. Dia menghela napasnya dan memandang dengan wajahnya yang lembut.


"Jadi, bagaimana?" tanyanya.


"Apa yang bagaimana?" Aku balik bertanya sambil menyeruput orange juice.


"Mau dibawa ke mana hubungan kita?" tanyanya lagi.


"Seperti yang saya katakan sebelumnya, kita bahkan belum memulai hubungan apapun," sahutku.


"Iya, dan sekarang saya menunggu keputusanmu."


"Keputusan saya tetap sama. Saya hanya ingin berbahagia dengan Baruna," jawabku.


Pak Reynand menghela napasnya, "Tapi kamu harus bertanggung jawab atas perasaan saya."


"Karena nanti di dalam rahimmu akan hadir anak kita."


"Yakin sekali?" Aku tersenyum menyeringai.


"Tentu saja. Kamu bagaimana? Apa kamu yakin kalau Baruna akan menerimamu kembali? Kehormatanmu sudah saya renggut," katanya tersenyum. Dia lalu menyeruput ice americano-nya.


Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan gampangnya. Entah terbuat dari apa isi kepalanya.


"Hal itu sudah menjadi resiko saya," kataku lagi.


"Bagaimana dengan perjanjian itu? Tentunya Papamu tidak akan sanggup membayar hutangnya. Jika bisa pun, perusahaan kalian akan terancam bangkrut. Setidaknya, jika kamu memilih bersama dengan saya, saya akan membantu meringankan beban keluargamu," jelasnya.


Aku menelan ludah. Perkataannya tidak ada yang salah. Namun, aku tetap pada pendirianku. Entah bagaimanapun caranya, kebahagiaanku hanya bersama Kak Baruna.


"Mengapa diam? Baru berpikir? Posisimu tidak kuat sama sekali. Orang-orang akan berpikir betapa rendahnya anak perempuan keluarga Kusuma. Menyerahkan kehormatannya saat mabuk dengan saudara tiri tunangannya." Pak Reynand tersenyum.


Aku menarik napas dalam dan mengembuskannya, berusaha untuk berpikir jernih.


"Saya belum memikirkannya. Saat ini kesembuhan Baruna yang terpenting."


"Baiklah, kamu bisa memikirkannya pelan-pelan. Saya akan tetap menunggu," sahutnya tersenyum.


Senyumannya yang memang begitu manis, berhasil menghipnotisku sejenak. Aku segera mengalihkan pandangan ke lain arah. Takut jika ia makin besar kepala.

__ADS_1


"Sher ...," panggilnya.


Aku menoleh ke arah Pak Reynand, "Apa lagi?"


Tiba-tiba dia berdiri, sedikit membungkuk, dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku, dengan jarak meja kecil yang menghalangi. Sebuah kecupan singkat mendarat di keningku.


"Hei, apa yang kamu lakukan?!" seruku marah. Dia mulai berani melakukan hal seperti itu.


"Hanya sebuah ciuman sayang," katanya masih dengan senyuman.


Aku menggelengkan kepala dan memanyunkan bibir, sangat marah padanya__menggosok dahiku dengan lengan baju.


"Dasar gila!" umpatku, segera berdiri dan melangkah keluar kafe meninggalkan pria itu.


Sialan! Pak Reynand sialan! Dasar tidak tahu diri! Laki-laki mesum!


Aku kembali ke ruang tunggu ICU. Kak Dita dan Kak Reza masih berada di sana. Raut wajah mereka terlihat sedih.


"Bagaimana? Sudah ada perkembangan?" tanyaku.


Kak Reza menggelengkan kepalanya. Aku menghela napas, selalu merasa kecewa ketika harapanku selalu menjadi pupus mengetahui ia yang belum bangun dari tidurnya. Lalu segera mendudukkan tubuhku di samping Kak Reza.


"Orang itu, apa sudah pulang?" tanya Kak Reza.


"Sudah."


"Kalian membicarakan apa saja?"


"Entahlah. Dia gila!"


"Huft .... Jangan biarkan dia mendekatimu dan jangan pernah mengecewakan keluarga kita dan keluarga Baruna. Kamu tahu, mereka sangat menyayangimu," sahutnya kesal sambil menatap tajam ke arahku.


"Za, jangan terlalu menekan Sheryl." Tiba-tiba Kak Dita menyela.


"Sayang, dia harus diberitahu. Adikku ini tidak bisa tegas pada apapun!" balas Kak Reza.


"Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri. Kamu tahu, adikmu itu sudah dewasa. Dia harus bisa bertanggung jawab atas hidupnya," kata Kak Dita lagi.


Kak Dita benar. Aku memang harus bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Namun, bagaimana jika keadaannya seperti ini?


"Dek, lihat Dita pun membelamu. Kamu harus bertanggung jawab atas hidupmu dengan hati-hati. Kakak sungguh tidak menyukai Reynand. Lagi pula, kamu harus ingat tentang perjanjian itu. Hidup mati perusahaan ada di tanganmu."


Perkataan Kak Reza membuatku makin bingung. Ketika pilihan maju dan mundur menjadi serba salah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Hanya bisa berharap Kak Baruna yang sadar dan sembuh dari komanya.


"Bisakah kita tidak membicarakan hal itu? Bahkan Kak Baruna belum sadar dari komanya. Kakak mestinya mengerti perasaanku. Aku masih begitu sedih dengan keadaan tunanganku. Kakak malah membuatku tertekan."


"Apa yang membuat hatimu tertekan? Apa karena cintamu yang terbagi dua?" pertanyaan Kak Reza begitu menohok tepat mengenai hatiku.


"Reza!" Kak Dita berusaha menyela.


"Biarkan aku berbicara, Dit. Sudah lama aku ingin mengatakan ini. Sejak orang itu datang ke kehidupan adikku. Dia menjadi wanita yang tidak berpendirian."


Air mataku tiba-tiba luruh kembali. Rasanya aku sedang diadili oleh Kakakku. Dia masih menatap tajam ke arahku. Menunggu jawaban apa yang akan kulontarkan padanya.


"Lihat, bisanya hanya menangis. Mencari pengampunan!" tambahnya saat melihatku mengeluarkan air mata yang semakin deras.

__ADS_1


"Kamu keterlaluan, Za!" Kak Dita bangkit dari duduknya, kemudian memelukku dan menenangkanku.


Di dalam dekapan Kak Dita, aku menangis sejadi-jadinya, begitu sedih mengakui seratus persen apa yang Kak Reza katakan adalah kenyataan sebenarnya. Betapa jahatnya diriku terhadap Kak Baruna. Membayangkan hidupku yang akan menjadi kiamat jika ia tidak memaafkanku.


__ADS_2