
Baruna Pov
Aku yang paling tidak beruntung saat ini. Tanpa sengaja melihat Reynand datang kembali setelah sebelumnya ia datang bersama Sheryl. Kedatangan mereka sungguh membuatku terkejut sekaligus muak.
"Tadi aku mengurus Rey, Bun. Dia datang bersama Sheryl," ujarku dengan suara sedikit tertahan mengatakannya.
"Jadi Sheryl ada di sini?" Begitu sahutan terkejut Bunda kepadaku.
Aku tidak menjawab. Reynand sudah berdiri di dekat kami. Ia sejenak memandangku. Sementara Bunda belum menyadari kalau anak ayah yang paling tua itu sudah berdiri di dekat kami.
"Siang, Tante!" sapanya ramah hingga membuat ibu kandungku menoleh ke belakang.
"Loh, Rey? Ternyata kau ada di sini? Kapan tiba?" tanya Bunda yang langsung bangkit dari duduknya.
"Tadi pagi." Reynand menyunggingkan senyumnya sebentar lalu bertanya, "bagaimana keadaan Ayah, Tante?"
"Baru saja siuman, Rey."
"Syukurlah." Reynand memperlihatkan raut kelegaan pada wajahnya. Dia mengerling sebentar ke arahku. Seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami, ia lalu berkata, "Gue mau melihat keadaan Ayah, Bar."
Sembari menatap tajam, aku pun balas mengangguk dan mempersilakannya berlalu menuju ruangan intensif. Pandanganku tak lepas dari bahunya yang menjauh. Sosok pria yang sebenarnya baik, tapi menusukku diam-diam.
"Jadi dia benar-benar datang bersama Sheryl?" Bunda menepuk bahuku.
Aku menoleh kepadanya lalu mengembuskan napas berat. "Iya, Bun," jawabku mengangguk pelan.
"Lalu di mana Sheryl?" Bunda mengedarkan pandangannya dan tentu saja Sheryl tidak ada di sekitar kami. Kelihatannya Reynand kembali ke rumah sakit hanya sendiri saja.
"Aku tidak tahu."
"Bagaimana bisa kau tidak tahu, Bar? Kau itu suaminya. Jika Sheryl datang bersama Rey, mengapa dia tidak ikut ke sini?"
"Aku sudah menyuruhnya pulang," jawabku singkat.
"Apa?!" Bunda mengernyit, "sudah datang ke sini, kau malah suruh pulang? Cepat hubungi dia, Bar!"
"Tidak usah, Bun. Biarkan saja," kataku lalu kembali duduk.
Bunda mengikutiku duduk kembali. "Kenapa, Bar?"
__ADS_1
Aku tidak berani menatap wajah ibuku sendiri. Terlalu banyak pikiran negatif yang menggelayuti pikiranku. Belum selesai masalah Rafael, dan sekarang Felicia yang malah makin membuatku bingung dengan sikapnya. Bunda tidak boleh tahu apa yang Felicia lakukan kepadaku di lobi tadi atau kekhawatirannya akan makin bertambah, padahal Ayah belum stabil kondisinya.
"Sepertinya, dia sedang tidak ingin diganggu," kataku.
"Maksudmu?"
"Mereka datang berdua, Bun. Padahal aku melarang Sheryl untuk pergi. Menurut Bunda bagaimana?"
"Kau masih curiga terhadap hubungan istrimu dan Rey?"
"Bohong kalau aku tidak memikirkannya," pungkasku segera menutup pembicaraan kami.
***
Sheryl Pov
Pulang, huh?! Baiklah, jika ini yang kamu inginkan. Kamu sangat keterlaluan, Baruna Adrian Asyraf! Aku sangat kesal sekarang. Bahkan kamu tidak menghubungiku sama sekali untuk menjelaskan semuanya. Tega ….
"Haish! Ini pasti gara-gara Felicia sialan itu!"
Aku terus mengumpat dalam hati dan bibirku. Sementara tanganku sibuk membereskan beberapa potong pakaian ke dalam koper. Ya! Sesuai keinginan suamiku tercinta, aku akan pulang dan mendekam dalam kamar. Aku akan menurutinya. Tidak pergi jauh-jauh, sambil terus menunggunya pulang.
Perutku tiba-tiba kembali bergejolak. Anak kami pasti tahu bagaimana perasaan ibunya saat ini. Marah dan kecewa yang melebur jadi satu. Dengan cepat, aku segera mengistirahatkan tubuh di atas sofa kamar hotel, lalu megusap-usap lembut perutku.
"Astaga! Kenapa jadi seperti ini? Ibu tidak apa-apa, Nak," kataku mencoba berbicara dengannya agar ia cepat tenang.
Perlahan oksigen dalam ruangan itu kuhirup dalam-dalam, lalu dengan cepat membuangnya. Aku mengulanginya terus hingga tenang. Emosiku yang sempat memuncak pun perlahan mereda. Kemudian otakku memutar momen tadi. Percakapanku dan Reynand sebelum ia pergi kembali ke rumah sakit.
"Baiklah. Kalau begitu, tenangkanlah pikiranmu. Besok aku akan mengantarmu menemui Baruna lagi dan kau bisa berbicara dengannya. Ingat! Tanpa emosi."
"Tapi Rey, sepertinya aku akan pulang saja sesuai dengan apa yang ia katakan kepadamu. Kau tidak usah menemaniku. Aku bisa pulang sendiri," sahutku.
Aku melihatnya mendengkus, lalu kedua tangannya terulur meraih kedua tanganku. Dan lagi-lagi aku membiarkan hal itu. Telapaknya hangat, menyentuh kulit dinginku yang sedang dikuasai emosi. Kedua bola mata Reynand tampak tulus memandang.
"Baiklah, kalau begitu aku ikut denganmu. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian. Tapi, tolong tunggu aku sebentar."
"Tunggu?" Kedua alisku mengernyit.
"Aku akan kembali ke rumah sakit. Aku ingin melihat keadaan Ayah."
__ADS_1
"Baiklah."
Aku mengangguk pelan. Ada baiknya bila aku pulang bersamanya dibanding pulang sendiri. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan udara nanti. Tubuhku sebenarnya masih lelah berada di dalam pesawat dalam waktu yang lama, tapi apa boleh buat. Baruna yang menyuruh kami pulang dan aku enggan menghubunginya lebih dulu.
***
Reynand Pov
Baruna menatapku dengan pandangan dingin. Sorot matanya kemudian berubah sinis saat kami membahas wanita yang sama-sama kami cintai. Sementara reaksiku hanya menyunggingkan setengah senyum kepadanya.
Aneh sekali. Dia yang ketahuan selingkuh tapi aku yang dituduhnya. Kasihan Sheryl terlanjur menikah dengan pria sepertinya. Sungguh! Aku tidak akan melepas Sheryl untuk yang ke dua kalinya.
Americano dingin tampaknya tak dapat meredakan amarah adik tiriku. Dia masih menatap sinis, walau dinginnya kopi pahit itu mengalir di tenggorokannya. Kemudian dengan cepat, menaruhnya gelasnya lagi ke atas meja.
"Lo kayaknya gak pernah capek, ya? Sheryl sedang hamil pun, masih ingin lo miliki," ujar Baruna.
Aku menyeringai miring. "Gue gak akan kayak gini kalau suaminya benar-benar cinta sama dia. Gue ingat momen di saat gue ngelepas dia. Gue ingin dia menemukan kebahagiaannya yang gak bisa gue kasih, Bar."
"Atas dasar apa lo bilang Sheryl gak bahagia?" Sebelah alis Baruna terangkat.
"Lo gak sadar? Lo baru aja bikin dia nangis. Lo sama Fely … gue gak nyangka. Mana cinta yang lo gadang-gadangkan buat dia dulu? Cinta yang katanya udah lama lo perjuangin," ejekku.
"Rey, apa yang terjadi hari ini benar-benar bukan urusan lo. Sebaiknya lo gak usah ikut campur. Gue yakin dia datang ke sini pun karena lo yang memanas-manasi. Yang kalian lihat itu, gak seperti apa yang kalian pikirin. Gue sama Fely gak ada apa-apa, tapi sebaliknya … hari ini mata gue terbuka. Kalian selalu ada apa-apa."
"Kalau lo pikir gue dan Sheryl ada apa-apa pun, menurut gue gak masalah. Kelihatannya dia juga udah berubah. Perlahan-lahan kalau sikap lo kayak gini terus, gue yakin bisa ambil hatinya dari lo, Bar. Camkan itu!"
Setelah mengatakan hal itu, tidak peduli dengan apa yang ada dalam pikirannya, aku segera bangkit berdiri. Merasakan diriku yang berada di atas angin.
--------
Hai, pembaca MO ….
Mungkin beberapa dari kalian bosen atau mikir jalan cerita ini terlalu ruwet. Kalau gak suka, gak usah baca apalagi komen hidup authornya juga ruwet. Percayalah! Itu bikin mood gak bagus. Pasti bukan aku aja yang ngerasa komen kayak gitu mengganggu. Kalau gak suka cukup unlove, gak usah baca, dan blokir sekalian.
Masalah update lama, aku memang sesantuy itu. Mungkin uang memang penting, tapi lebih penting lagi kesehatan, 'kan? Jadi kalau author gak update, positif thinking aja authornya lagi banyak kegiatan.
With love,
Viviani
__ADS_1