
Suasana lobi rumah sakit terlihat ramai dengan hiruk pikuk dari para pengunjung yang sedang berlalu lalang. Entah mereka datang untuk berobat atau sekedar mengantar kerabat dan keluarga mereka. Aku memperhatikan sebagian besar dari mereka memakai masker untuk perlindungan diri dari virus yang mungkin saja menyerang mereka mengingat akhir-akhir ini virus berbahaya sedang menjadi pandemik di seluruh dunia.
Kak Baruna membawaku masuk ke dalam sebuah kafe yang letaknya berhadapan dengan lift. Kami duduk di pojok ruang kafe. Sebuah alunan musik gabungan antara saksofon dan piano menyambut kami begitu lembut dan damai. Musik dari grup band Dewa 19 dengan judul "Kangen".
Aku mendengar musik itu lalu mulai bersenandung lirih.
"Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku akupun rindu kamu. Ku akan pulang, melepas semua kerinduan, yang terpendam ...."
"Hei kamu sedang bernyanyi?" tanya Kak Baruna menatapku seraya tersenyum.
Aku memalingkan wajahku malu, "Kamu mendengarkannya?"
"Iya. Teruskan saja."
"Ah aku malu. By the way sayang, kamu tidak takut tertular penyakit?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Kamu sendiri?"
"Aku lebih takut tertular virus cinta lain selain cintamu," jawabku.
"Aih ... sudah pintar menggombal rupanya," sahutnya tersenyum.
Aku membalas senyum dengan tidak kalah manisnya. Dia lalu mengulurkan tangannya mengacak-acak rambutku. Aku balas menggenggam erat telapak tangannya yang sudah dari tadi berada di atas meja.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Kak Baruna.
"Strawberry smoothies. Apa kita mau duduk-duduk dulu di sini?"
"Iya sebentar saja. Dari tadi kan aku tidak menghubungimu. Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu sayang."
Lagi-lagi aku tersenyum. Rona merah di pipi kami mulai timbul. Suasana hatiku kembali membaik. Kak Baruna bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju meja pesan makanan.
Aku melihat layar ponsel. Media sosialku banjir oleh komentar dan hujatan. Belum lagi dengan banyaknya orang yang mulai mengikuti media sosialku. Berbagai macam berita tentang kami sudah mulai tersebar luas, dari fakta sampai dengan hoaks. Mata ini tiba-tiba tertuju pada sebuah video konfirmasi dari Pak Wicak sebagai juru bicara Kak Baruna yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan di sebuah saluran berita.
Wartawan 1 :
"Pak Wicak, apa tanggapan dewan direksi mengenai video yang sedang viral di masyakarat? Bagaimana keadaan Pak Baruna paska video itu beredar?"
Pak Wicak :
"Tidak ada komentar. Semua berjalan normal. Pak Baruna juga dalam keadaan yang sehat tidak memikirkan video itu. Dia pun sudah menjelaskan duduk perkara mengapa dia melakukan tindakan itu."
Wartawan 2 :
"Apa tindakan itu dilakukan akibat membela seorang wanita? Pacarnya atau calon istrinya? Saya dengar dia juga anak salah seorang pengusaha yang terkenal.
Pak Wicak :
__ADS_1
"Untuk masalah ini merupakan hak privasi Pak Baruna sendiri. Saya tidak berhak menjawab pertanyaan ini."
Wartawan 3 :
"Kami dengar harga saham perusahaan sedang turun. Bagaimana cara Pak Baruna terhadap anjloknya harga saham perusahaan keluarganya?"
Pak Wicak :
"Kami sedang melakukan berbagai macam upaya untuk menormalkan kembali situasi ini. Hanya tinggal menunggu waktu."
Wartawan 4 :
"Kami dengar Bapak Satya dari perusahaan Mahardika selaku korban sedang dirawat di rumah sakit akibat perkelahian itu. Apa tanggapan Pak Baruna jika dia menuntut jalur hukum?"
Pak Wicak :
"Saya tidak bisa menjawab karena itu belum terjadi. Sudah ya wawancaranya."
Wartawan 5 :
Pak Wicak :
"Saya tidak akan berkomentar lagi. Lain waktu saja ya. Terima kasih sudah peduli pada perusahaan kami."
Aku buru-buru mematikan ponsel, menundukkan kepala lemas. Berita itu sudah meluas dengan banyaknya orang-orang di kafe ini yang memperhatikanku. Mereka mengenaliku dan saling berbisik serta menatap. Dunia maya memang kejam.
Aku mendongakkan kepala mengalihkan pandangan ke arah lain. Tampak Pak Reynand dan Ibu Aina melangkah masuk ke dalam kafe, duduk tidak jauh dari meja kami. Pak Reynand bangkit dari duduknya berjalan menuju meja pesan. Kak Baruna yang sedang membawa minuman sontak bertemu muka dengannya, saling menatap sekejap lalu ia melangkah kembali menuju meja kami.
"Bos kamu sudah datang dengan ibunya," ucapnya sambil duduk berhadapan denganku.
"Kakakmu itu," sahutku.
"Yah dia kakakku. Puas kamu meledekku?"
"Aku tidak sedang meledek. Jadi mau pindah tempat saja?" tanyaku.
"Tidak perlu. Tidak penting memedulikan mereka."
"Sayang, kalau kamu mempunyai beban dalam hatimu, kamu boleh menceritakan semuanya padaku."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Kamu tidak perlu memasang senyum itu jika kamu tidak ingin."
"Tentu saja aku ingin. Kamu kira aku sedang berpura-pura?"
"Tidak, hanya saja tadi aku melihat raut wajahmu berbeda. Kusut."
"Entah bagaimana aku harus bercerita. Akibat video itu posisiku sulit di perusahaan. Seharian ini wartawan terus-terusan datang ke kantor mencariku. Belum lagi telepon yang tiap detik berdering dari media bisnis yang ingin mengonfirmasi kebenaran berita itu. Harga jual saham kami pun anjlok. Lalu ditambah keadaan kakek yang seperti ini. Aku pusing memikirkannya."
Aku menggigit bibirku sendiri, berpikir dengan cemas lalu menggenggam erat telapak tangan Kak Baruna berusaha untuk menguatkan.
"Aku bingung harus melakukan apa. Tapi video itu hanya sepotong sayang. Hanya merekam bagian perkelahian saja. Orang-orang jadi salah paham."
"Iya aku tahu. Aku pun sudah menjelaskan perihal itu kepada semua pihak. Tapi mereka tidak mau tahu sayang. Memukul orang lain di depan umum juga merupakan kesalahan."
Aku menarik napas dalam-dalam, "Aku juga sudah dengar sedikit dari Pak Reynand, kalau kamu akan sulit dipercaya untuk menjadi pemimpin perusahaan."
"Iya bahkan tadi sudah terdengar selentingan kabar para dewan direksi menginginkan anak ayah yang lain untuk menggantikan posisi kakek di perusahaan."
"Bagaimana mereka bisa tahu?"
"Dunia ini sempit sayang. Apalagi dunia bisnis. Orang-orangnya itu-itu saja."
"Lalu menurut kamu bagaimana?"
"Aku tidak masalah, hanya saja ...." Kak Baruna tidak meneruskan kata-katanya. Wajahnya terlihat ragu.
"Ada apa?"
"Lupakan saja. Mungkin aku hanya salah mendengar."
"Kamu membuatku penasaran saja," protesku.
"Hahaha .... Lihat strawberry smoothies-mu** menunggu untuk diminum." Kak Baruna mengalihkan pembicaraan.
Aku melirik ke minuman di hadapanku. Minuman segar yang menggoda dahaga meminta untuk dinikmati. Aku buru-buru menyesapnya sambil memikirkan sebenarnya Kak Baruna ingin berkata apa padaku.
"Kenapa Kak Baruna tidak jadi bercerita? Membuatku penasaran saja. Huft!"
Aku melihat Kak Baruna menyesap kopi miliknya perlahan. Matanya mengerling ke arah Pak Reynand dan ibu Aina. Aku ikut menoleh. Tiba-tiba Ibu Aina menoleh, tatapan mata kami bertemu seketika. Wanita paruh baya itu menatap angkuh kepadaku.
"Kenapa Tante tua itu menatapmu seperti itu?" tanya Kak Baruna.
"Mana kutahu, aku merasa tidak punya salah apa-apa. Selain dia mengenaliku di kantor sebagai sekretaris anaknya."
"Kamu sudah buat surat pengunduran dirimu?"
"Sudah. Mulai minggu depan aku tidak akan bekerja di sana lagi."
"Baguslah kali ini kamu menurutiku walaupun sebenarnya aku menyuruhmu keluar hari ini juga." Kak Baruna tersenyum menyeringai.
"Intinya aku keluar kan?" Aku kesal melihat senyumnya itu.
"Iya sayangku." Kak Baruna tertawa lalu bangkit dari duduknya menuju meja pesan kembali, memesan dua minuman kopi untuk kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian menghampiriku dengan dua kotak minuman di tangannya. Kami lalu keluar kafe berjalan beriringan.
__ADS_1