Marriage Order

Marriage Order
Patah Hati


__ADS_3

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Orang-orang bilang masa depan adalah misteri. Namun hari ini aku sudah bisa menebaknya. Aku bertemu lagi dengan pasangan dari Kayla, Bapak Reynand Alex Pradipta yang datang masih lengkap dengan kemeja kerjanya. Dia datang karena Kayla memintanya datang. Begitu penurut bagiku jika ia bukanlah sebagai seorang kekasih baginya.


Tapi apa sebenarnya hubungan mereka? Yang satu bilang sudah putus. Yang lainnya bilang baik-baik saja.


Mereka berdua berdiri di hadapanku dan Kak Baruna saat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Acara shopping kami hari ini telah usai. Aku dan Kak Baruna segera pamit pada mereka.


"Aku pulang duluan ya, Kay," pamitku mencium kedua belah pipi wanita cantik itu.


"Terima kasih Sher, sudah menemaniku. Aku sangat senang hari ini." Kayla balas memelukku.


"Kami pulang duluan, Pak," pamitku pada Pak Reynand yang masih memandang kami berdua dengan tatapan matanya yang dingin lalu dibalas dengan anggukan pelannya.


"Ayo kita pulang, Sayang." Kak Baruna mengambil tas belanjaan yang kubawa. Dia juga meraih tanganku dan menggandengnya.


Aku mengangguk membalas genggaman tangannya erat. Berjalan menyusuri keramaian mall X yang semakin sore semakin ramai pengunjung. Baru saja kami berjalan mengarah pintu keluar, terdengar suara wanita memanggilku.


"Sheryl!"


Aku menengok ke belakang, Kayla setengah berlari mengejarku yang diikuti oleh Pak Reynand dari belakang.


"Sher, bagaimana jika kita makan malam bersama?" tanya Kayla padaku.


Aku menoleh ke arah Kak Baruna yang terlihat sudah bosan berada di tempat itu. Air mukanya terlihat tidak suka berlama-lama bertemu. Dia mengetuk-ngetuk pelan kakinya beradu dengan lantai, ingin segera mengajakku keluar dari mall.


"Bagaimana Sayang?"


"Kamu tidak lelah seharian berjalan ke sana ke mari mengelilingi mall ini?"


Belum sempat aku menjawab, Kayla sudah lebih dahulu menjawab pertanyaan Kak Baruna dengan kesal, "Hei ... jangan meremehkan kekuatan wanita yang sedang shopping ya. Percayalah sepuluh kali berjalan berlenggak-lenggok keliling mall ini saja tidak akan terasa lelah, dibandingkan dengan berjalan di atas catwalk."


Kak Baruna memandang wanita itu sambil tersenyum tidak membalas. Kayla lalu menarik tanganku berjalan lebih dahulu mendahului kedua lelaki yang masing-masing membawa tas belanjaan kami.


Kayla membawaku masuk ke dalam sebuah supermarket besar. Aku melihat ke arahnya bingung.


"Mau apa?" tanyaku.


"Kita beli bahan-bahan makanan."


"Untuk apa, Kay?" tanyaku lagi.


"Kita masak makan malam," jawabnya bersemangat seraya mengambil sebuah troli belanjaan.


"Mengapa harus memasak? Kita 'kan bisa membelinya."


"Kalau beli tidak ada seninya," sahut Kayla tertawa.


"Aku tidak bisa memasak, Kay," ucapku pelan.

__ADS_1


"Yang bisa memasak pun pernah merasakan rasanya pertama kali memasak. Kamu tidak usah khawatir," balasnya.


Aku mengulum senyumku kepada wanita itu. Auranya yang terlihat bersemangat membuatku ikut terhipnotis untuk bersemangat.


Dia berjalan terlebih dahulu mendorong troli belanjaan. Aku mengikutinya dari belakang. Membantunya memilih berbagai macam bahan pokok dan bahan mentah yang akan kami gunakan untuk memasak lalu memasukkannya ke dalam troli belanjaan.


"Sayang, kamu yakin?" Kak Baruna menarik tanganku.


Aku memutar tubuhku memandang wajah tampan di hadapanku itu. "Kenapa? Jarang-jarang kita bisa melakukan hal ini, Sayang."


"Ya sudah aku temani kamu," sahutnya tersenyum.


Kayla sudah berjalan menjauh diikuti oleh Pak Reynand yang menyusulnya. Aku dan Kak Baruna berjalan santai bersama mengikuti mereka dari belakang. Terlihat mereka begitu kompak memilih berbagai macam bahan makanan.


Kayla begitu cantik. Mereka pun terlihat sangat serasi jika bersama. Kenapa Pak Reynand tidak mencintainya?


Aku menggelengkan kepalaku, yang lagi-lagi ikut memikirkan urusan pribadinya. Kak Baruna terlihat lebih diam dari biasanya. Dia hanya berjalan menatap lurus ke depan.


Apa lagi yang kamu pikirkan, Sayang? Aku tidak dapat menebaknya jika kamu tidak mengatakannya.


Kak Baruna melirik ke arahku lalu merangkul pundakku, dia berkata, "Mereka sangat cocok. Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa ada rasa cemburu di hatimu?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Kelihatannya rasa kesalmu kepadaku dan Pak Reynand belum hilang sepenuhnya. Aku hanya milikmu, Sayang." Aku menatap wajahnya sejenak.


Kak Baruna memandangku dengan tatapan tidak percaya. Aku lalu melepas rangkulannya, berjalan cepat meninggalkan tunanganku. Menghela napas panjang, berusaha menahan emosi. Kami baru saja berbaikan dan dia sudah mulai menyulut emosiku lagi.


"Kita pulang! Ada yang ingin aku bicarakan!" serunya.


Tanpa basa-basi, aku dan Kak Baruna meninggalkan pasangan yang masih berbelanja di depan kami. Berjalan menuju area parkir mobil dengan langkah cepat lalu segera masuk ke dalam mobilnya.


"Aku ingin kita menghabiskan waktu berdua saja," ucapnya pelan sambil mendongakkan wajahnya menatap ke langit-langit mobil.


"Kecemburuanmu terhadap Pak Reynand menurutku terlalu berlebihan."


"Apa? Berlebihan? Kamu sudah berciuman dengannya dan masih mengatakan aku yang berlebihan?" Kak Baruna sontak mengalihkan pandangannya ke arahku.


Deg!


Aku menelan ludah mendengar perkataannya. Bagaikan maling yang sudah tertangkap basah oleh sang empu rumah. Tidak tahu harus berkata apa. Aku menatap sinar mata miliknya yang terluka oleh sebuah kenyataan pahit.


Napasku yang tersekat tiba-tiba membuatku sesak. Melihatnya yang begitu terluka atas segala hal yang tidak aku inginkan. Dari awal dialah yang kupilih tapi aku juga yang menyakitinya.


"Aku tidak pernah menginginkannya. Semua sudah jujur kukatakan padamu kecuali hal itu. Dia menciumku tiba-tiba, tapi aku tidak membalasnya."


Kak Baruna terdiam. Dia masih memandang wajahku, menatap pilu mendengar penjelasan yang kulontarkan.


"Jika kamu terlalu tersakiti atas apa yang telah terjadi, kita bisa membatalkan semuanya sebelum terlambat." Sebuah kalimat sangat menyakitkan terlontar begitu saja dari mulutku.

__ADS_1


"Kamu mengharapkan berpisah denganku setelah apa yang kulakukan selama ini?"


"Aku terlalu takut untuk mengecewakanmu. Hidupmu terlalu berharga untuk terus mencintaiku. Sedangkan aku terkadang ragu dan selalu goyah atas apa yang kupilih. Kamu pun tahu hal itu, dimulai dari Fandy lalu kamu, Sayang." Aku menatap wajahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Menahan air mata yang bisa turun kapan saja.


"Tapi Fandy sudah mengkhianatimu duluan. Kamu pantas mencampakkannya!" seru Kak Baruna sambil memegang erat punggung tanganku.


"Lalu jika aku yang berkhianat lebih dahulu. Apa kamu juga akan mencampakkanku, Sayang?"


"Jadi kamu mengkhianatiku?" tanyanya pelan.


"Aku sudah mengatakan semuanya. Menurutmu bagaimana? Apa aku sudah mengkhianatimu?"


Kak Baruna terdiam lagi. Dia tidak bisa menjawab. Terasa gemetar genggaman jari jemarinya di punggung tanganku.


"Aku butuh waktu untuk berpikir kembali. Aku tidak bisa seperti ini." Aku membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan Kak Baruna sendiri di dalamnya. Dia tidak mengejarku. Hanya memandang kepergianku dengan tatapan sendu.


Aku sudah salah dan membuatnya kecewa. Kakak, maafkan aku. Pernikahan kita sudah di depan mata, tapi aku masih seperti ini. Begitu labil membuatmu sedih.


Aku berjalan sendiri menyusuri jalan setapak dan berhenti duduk di bangku halte bus. Sesekali menyeka air mataku yang jatuh. Taksi online yang kupesan belum juga datang.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam di mana bulan tidak juga menampakkan dirinya karena awan gelap menghiasi langit. Tidak lama kemudian rintik hujan mulai turun membasahi bumi seakan-akan ikut larut dalam kesedihanku.


Aku tidak tahu mengapa hatiku sesakit ini? Rasa sakit yang berbeda dari yang dulu pernah kurasakan. Apakah cintaku akan kandas lagi? Tidak ada lagi senyumnya, tawanya, dan candanya. Hidupku tidak lagi berwarna, hilang terhempas begitu saja. Membiarkan rasa yang lain hadir dalam sanubariku.


Aku terus termenung begitu lama menyalahkan diriku. Menyadari ada sebuah tangan menyentuh lembut kepalaku. Aku masih terdiam, menikmati sentuhan lembut itu. Sungguh aku tidak tahu, siapakah dia dan sejak kapan dia ada di sini, tapi aku sangat membutuhkan sentuhan lembut ini. Menyadari betapa butuhnya aku akan seseorang untuk dijadikan sandaran.


Bolehkah aku tetap seperti ini? Merasakan lebih lama sentuhan lembut yg kini mengusap kepalaku dengan penuh rasa kasih sayang. Siapa gerangan dirinya? Ah entahlah, rasanya aku terlihat sangat menyedihkan sekarang.


Tangisku kembali pecah, terus terisak diiringi hujan yang turun semakin deras. Suaranya saling mengadu membuat ragaku bergetar. Tiba-tiba tangan itu menarik tubuhku untuk bersandar padanya. Dia merengkuhku dalam dekapan yang erat. Mungkin karena ia mendengar suara isak tangis yang semakin menjadi. Aku tidak peduli lagi, aku butuh pelukan itu saat ini, dan aku pun pasrah terbenam dalam dekapannya.


"Sheryl, menangislah jika itu bisa membuat perasaanmu lega," ucapnya pelan.


Aku mengangkat kepalaku melihat wajah orang yang sedang memelukku erat, kemudian sontak mendorong tubuhnya. Pria itu ... ternyata adalah sosok Pak Reynand. Aku segera menyeka air mataku dan berlari menjauh bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras.


"Sheryl!" panggilnya.


Aku tidak memedulikannya, berlari sejauh mungkin, dan menghentikan taksi yang kebetulan berhenti di depanku. Segera, aku masuk ke dalam mobil itu, meninggalkan dia yang memandangku pergi begitu saja.


______________________


Hai Readers dukung terus kisah ini.


Berikan tanda cinta dengan like, komen, favorit, rate, dan vote ya kalau bisa. Dukungan kalian sangat berharga bagi author.


Terima kasih


With love

__ADS_1


Viviani


__ADS_2