Marriage Order

Marriage Order
S2 Interogasi


__ADS_3

Aku dan Kak Reza baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu saat Papa dan Mama terlihat sedang duduk di sana. Seperti biasa kami bersalaman dengan kedua orang tua kami. Kak Reza langsung berjalan masuk ke kamarnya. Aku juga hendak masuk ke kamarku. Namun, tiba-tiba saja, Papa memanggilku untuk duduk bersama mereka.


"Sheryl, sini duduk!"


Aku membalikkan badanku dan duduk berhadapan dengan mereka. Sedangkan Kak Reza tetap berjalan meninggalkan kami bertiga.


"Sher, Papa dengar dari Om Anton kalau Baruna sudah sadar?"


"Iya, Pa."


"Syukurlah," sahut Mama. "Besok Mama dan Papa akan pergi menjenguknya."


"Iya, kami besok akan pergi ke sana," tambah Papa.


"Besok juga aku akan ke sana lagi, Pa." sahutku," kataku tersenyum.


"Sher, tadi pagi Papa berbicara dengan Reynand. Dia bilang kalian saling mencintai. Apa itu benar?" Papa menatapku tajam.


Sorot matanya membuatku sedikit tidak nyaman, tapi aku juga tidak bisa berbohong. Ada sedikit ketertarikan dalam diriku jika melihatnya.


"Mungkin maksud Papa tertarik?" tanyaku.


"Tidak, dia mengatakan kalau kamu mencintainya. Jadi, apa benar?"


Aku menelan ludah seperti merasa terpojok oleh pertanyaannya. Aku mengangguk seraya menghela napas berat.


Papa menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat kecewa. Dia kembali bertanya, "Bagaimana dengan Baruna? Bukankah kamu mencintainya?"


"Sangat dan aku tidak meragukannya," jawabku mantap.


"Lalu mengapa kamu membiarkan orang lain masuk ke dalam hatimu?" Papa kembali bertanya. Caranya mengintrogasi lebih menohok dibanding cara Mama mengintrogasiku.


"Tidak tahu."


"Papa tidak menerima jawabanmu. Jawablah dengan benar. Jika kamu tidak tegas maka semua didikan Papa padamu memang telah sia-sia."


Lagi-lagi aku harus menelan ludah. Bingung untuk menjawab. Rasanya ingin segera pergi dari ruangan ini.


"Karena aku yang tidak tegas, Pa. Aku membiarkan dia mendekat tanpa persiapan hati yang mantap. Aku selalu mencari celah atas ketidaksempurnaan seseorang dan menganggap segala tindakanku berada di atas kata kebenaran. Aku memang bersalah."


"Begitukah? Reynand menawarkan dirinya membantu hutang perusahaan hanya karena kalian saling mencintai. Menurutmu bagaimana? Kamu bilang kemarin kalau kamu kecewa dengan isi surat perjanjian itu. Kamu pikir Baruna tidak tulus padamu."


"Iya."


"Baiklah, sekarang adalah kesempatanmu untuk memilih. Papa serahkan semua padamu. Bijaklah dalam berpikir," ucap Papa. Dia dan Mana lalu pergi meninggalkanku sendiri di ruang tamu.


Mengapa dia sampai nekat mengatakan hal seperti itu pada Papa padahal sudah berulang kali aku menolak cintanya?


Aku segera masuk ke dalam kamar. Duduk di tepi tempat tidur. Pikiranku menjadi kacau kembali. Aku tidak akan membiarkan pria itu masuk lebih dalam lagi ke hatiku. Hanya Kak Baruna yang aku inginkan walau hatiku belum yakin dia akan menerimaku kembali seutuhnya.


Ponselku berbunyi. Kak Baruna meneleponku. Aku segera menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Kamu di mana, Sayang? sudah sampai belum?"


"Iya, baru saja."


"Aku mengkhawatirkanmu karena belum juga menghubungiku. Sebentar saja aku sudah merindukanmu."


"Maaf, ya. Besok aku akan mengunjungimu lagi. Sepanjang hari akan menemanimu. Melepas rindu lagi bersamamu. Apa nantinya kamu akan jadi bosan?"


"Bosan bagaimana? Bahkan kalau perlu kamu menemaniku sepanjang malam."


"Jangan mulai lagi, deh. Beristirahatlah," sahutku menahan tawa.


"Iya. Kamu juga istirahatlah, Sayang. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Kak Baruna mematikan teleponnya. Aku bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan diriku. Masalah tadi akan aku pikirkan lagi. Setidaknya, aku sudah jujur pada kedua orang tuaku mengenai isi hatiku selama ini.


****


Reynand PoV


Keesokan Hari, Pukul 12.00


Suara panggilan masuk terdengar nyaring di telingaku. Getaran gawai yang kencang membangunkanku dari mimpi indah yang tidak ingin segera berakhir.


Aku meraih ponsel dari atas nakas. Dengan mata yang masih sedikit terpejam, berusaha memicingkan penglihatan. Layar smartphone itu menunjukkan nama Indira di sana. Kutarik layar ke atas dan mengangkatnya.


"Masih tidur, Dir. Kamu mengganggu mimpi indahku."


Tadi malam aku bermimpi Sheryl menjadi istriku dan kami sudah memiliki anak bernama Sheeren. Apa ini suatu tanda?


"Sedang memimpikan apa, Kak? Matahari sudah menjulang tepat di atas kepala dan Kakak masih berada di dalam mimipi? Aku dan Daniel di depan unit apartemenmu. Cepat bukakan pintunya. Kami sudah hampir setengah jam menunggu di sini," jelasnya setengah emosi.


"Hmm ... tunggu sebentar!"


Aku bangkit berdiri, berjalan menuju pintu dan membukanya. Pasangan suami istri itu berdiri di hadapanku. Wajah mereka terlihat sedikit kesal.


"Lama sekali .... Huh!" keluh Indira melangkah masuk. Dia membanting tubuhnya di atas sofa.


Daniel menatap wajahku datar. Menyusul Indira duduk di atas sofa. Aku berjalan ke meja bar dapur dan membuatkan mereka minuman. Setelahnya, meletakkan dua gelas minuman di atas meja.


Aku mendudukkan tubuhku di atas sofa. Indira dan Daniel menatapku dengan tatapan tajam seakan ingin menghakimiku.


"Kakak harus bertanggung jawab atas perbuatan Kakak pada Sheryl," Indira membuka pembicaraan.


Indira pasti tahu dari Mama.


Aku menghela napas berat. Bukannya aku tidak mau. Dia tidak memberikanku kesempatan sama sekali dan memilih bersama dengan Baruna.


"Bagaimana caranya? Dia tidak menginginkanku sama sekali. Baruna pun sudah sadar dari komanya."

__ADS_1


"Benarkah?" Daniel menanggapi.


"Iya. Kemarin pagi. Gue udah jenguk kemarin sore."


"Lalu bagaimana dengan hubungan kalian?" Indira masih terus bertanya.


"Aku tidak mengerti. Mungkin harus kukubur perasaanku dalam-dalam."


"Baruna juga harus tahu, Kakak dan Sheryl sudah melakukan hal itu. Jika tidak, dia pasti akan kecewa." Indira menatapku dalam-dalam.


Aku sebenarnya menginginkan dia mengetahuinya. Siapapun di dunia ini pasti tidak ingin merasakan pengkhianatan dan dia tidak akan bisa menerima tunangannya lagi.


"Disimpan serapat apapun, bangkai akan tercium juga. Aku menunggu keputusan Sheryl saja. Selama dia belum mengatakan apa-apa padaku, aku belum menyerah," sahutku.


Indira menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia galau antara membelaku atau temannya.


"Kamu tidak perlu memikirkanku, Dir. Jaga Mama saja baik-baik. Maafkan aku yang belum bisa kembali ke rumah. Nanti pada saatnya aku akan kembali."


"Berjanjilah Kakak akan melakukannya. Aku bisa menjaga Mama di rumah."


"Iya."


Indira dan Daniel kemudian menyesap minuman di hadapannya perlahan. Daniel bangkit dari duduknya saat tiba-tiba saja ada telepon masuk ke ponselnya.


"Gue ke resto sebentar, Rey," pamitnya. Dia lalu menoleh ke arah istrinya, "Dir, kamu di sini dulu. Nanti kujemput."


Aku dan Indira mengangguk berbarengan. Daniel pun pergi meninggalkan kami. Indira masih duduk termenung di sofa. Dia menoleh ke arahku yang duduk di sampingnya.


"Kakak, apa tidak apa-apa?" Matanya menatapku kasihan.


"Kamu tidak perlu mengasihaniku."


"Mengapa terus seperti ini? Aku merasa sangat bersalah meninggalkanmu sendiri."


"Hei, jangan membahas yang sudah lalu. Aku tidak apa-apa." Aku mengusap puncak kepalanya.


"Tapi, pasti akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh."


"Entahlah. Aku pikir sesimpel itu tadinya. Tapi aku sudah melangkah terlalu jauh. Tidak mungkin aku untuk mundur sekarang."


"Iya, aku mengerti. Aku hanya takut dia tiba-tiba mengandung anakmu."


"Anak ya?" Aku tersenyum sendiri.


"Iya, bagaimana pun itu beresiko. Tidak akan ada yang bisa menebak ke mana skenario Tuhan."


"Entahlah, Dir. Aku tidak tahu nantinya.".


"Berjanjilah padaku untuk menjadi bahagia."


"Aku tinggal dulu. Mau mandi." Aku bangkit berdiri. Tidak ingin menjanjikan sesuatu, apapun itu.

__ADS_1


"Iya, Kak."


__ADS_2