
Reynand PoV
Pukul 19.00
Aku baru saja tiba di unit apartemenku. Mengeluarkan kunci dari dalam tas dan membuka pintu apartemen. Kemudian masuk dan merebahkan diri sebentar di atas sofa dengan kepala menengadah ke atas. Pekerjaan hari ini sangat padat.
Empat hari lagi deadline jawabanku atas ancaman Kayla. Aku belum memberikan jawaban dan tidak ingin mengikuti ambisinya. Aku biarkan semuanya terjadi. Perasaanku adalah milikku. Dia tidak berhak mempermainkannya.
Drrt-drrt-drrt!
Ponselku terasa bergetar di dalam tas. Aku meraih ponsel itu dari dalam tas. Nama Indira muncul di layar.
Ada apa dia meneleponku? Apa terjadi sesuatu dengan Mama?
Perasaanku jadi tidak enak. Buru-buru segera mengangkat teleponnya.
"Ada apa, Dir?"
"Kak, aku dan Daniel bertemu dengan Sheryl saat kontrol hamil."
"Mungkin dia sedang sakit, Dir," jawabku.
"Iya, tapi dia keluar dari dokter kandungan, Kak. Bagaimana pikiranku tidak ke mana-mana? Dia pasti hamil."
"Hamil?!" seruku setengah berteriak.
"Iya, pasti dia hamil anakmu. Aku yakin itu. Dia juga terlihat canggung saat bertemu dengan kami dan hanya tersenyum singkat. Tidak membalas salamku dan malah pergi terburu-buru."
"Apa kamu yakin, Dir?"
"Iya. Apa lagi coba, Kak?"
"Baiklah, aku akan menghubunginya." Aku mematikan panggilanku. Segera membuat panggilan untuk Sheryl.
Lama sekali panggilanku tidak dijawab. Ini kedua kalinya aku menelepon dan tidak dijawabnya juga. Aku segera mengirimkan pesan.
"Tadi kamu ke rumah sakit?"
Lama sekali dia tidak membalas pesanku. Padahal aku tahu dia sedang online. Aku bergegas mandi dan bersiap pergi ke kediamannya.
Jalanan cukup lengang di malam hari. Dalam lima belas menit sudah sampai di kediamannya. Aku memarkir mobilku di halaman rumahnya, kemudian duduk menunggu di teras. Menunggu pintu utama terbuka untukku.
Lima menit kemudian pintu itu akhirnya terbuka. Aku melihat Sheryl berdiri di sana. Membukakan pintu untukku.
__ADS_1
"Sheryl!" pekikku senang. "Akhirnya saya bertemu denganmu. Beberapa hari ini merasa sangat sepi jika tidak melihat wajahmu, Sher."
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Tadi kamu pergi ke dokter kandungan?"
"Pasti Dira yang mengadu padamu. Kakak dan adik sama saja. Ember mulutnya!" sindirnya keras.
"Wajarlah jika ia mengadu. Hal ini berkaitan dengan keturunan saya."
"Huh!" dengkusnya. "Saya tidak hamil, Pak Rey."
"Tidak, kamu pasti hamil!" tolakku.
"Dokter yang mengatakan kalau saya tidak hamil! Ckck .... Mengapa kamu bersikeras mengatakan saya hamil? Saya pun tidak pernah bercita-cita mempunyai anak dari benihmu!" Sheryl berdecak kesal.
"Maka dari itu, besok saya akan menemanimu pergi ke dokter kembali. Saya butuh jawaban, tapi bukan dari mulutmu, Sher."
Sheryl terdiam. Wajahnya terlihat sangat marah mendengar perkataanku yang terdengar sangat menyudutkannya. Tiba-tiba saja, muncul Reza keluar dari balik pintu. Dia sangat terkejut melihatku berada di rumahnya. Begitu pun aku dan Sheryl yang tiba-tiba melihatnya berdiri di hadapan kami. Kami terperanjat melihatnya. Saling menatap dengan mata terbelalak.
"Apa aku salah mendengar? Katakan Sheryl, kamu sedang mengandung anak darinya?!" Reza menoleh menatap adiknya. Mukanya memerah bersiap untuk marah. Ekspresi wajahnya terlihat mengeras.
Sheryl menoleh ke arah Reza dan dia berkata, "Aku sedang tidak mengandung, Kak! Dia hanya sedang membual. Kakak tahu sendiri bagaimana ambisi dia terhadapku."
Jantungku berdebar kencang menunggu jawaban yang keluar dari mulut Sheryl. Dia terdiam cukup lama dengan kedua mata berkaca-kaca. Mulutnya mengerucut. Dadanya terlihat naik turun mengambil dan membuang napas dengan terburu-buru.
"Iya. Aku pernah tidur dengannya, Kak," ucapnya pelan dengan bibir bergetar. Tangisnya tiba-tiba pecah.
Reza mengangkat telapak tangannya hendak menampar wajah Sheryl. Aku bergegas melangkah maju menghentikan tindakan itu. Cepat-cepat meraih pergelangan tangannya.
"Enggak, Za! Bukan begini caranya!" sentakku dengan wajah kesal.
Sheryl menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tangisannya terdengar sendu merobek perasaanku.
"Diem lo! Ini urusan keluarga gue!" balasnya dengan napasnya yang memburu. "Dasar berengsek!" Tanpa ragu Reza melayangkan sebuah tinju ke arahku.
Aku terjajar hingga beberapa langkah ke belakang. Memegang sudut kanan bibirku yang mengeluarkan secuil cairan merah darah.
Tiba-tiba kedua orang tua mereka keluar menghampiri kami. Reza menurunkan tangannya. Dia tidak jadi memukul adiknya. Om Agung melihat kami semua dengan sorot matanya yang tajam.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Papa, lihat kelakuan anak gadis Papa. Dia sudah berhubungan badan dengan pria ini." Reza mengadu.
__ADS_1
Om Agung dan Tante Rini terkesiap mendengar perkataan anak lelaki mereka. Segera menolehkan pandangannya ke arah Sheryl.
"Sheryl, apa benar yang kakakmu katakan?"
Sheryl hanya menangis tanpa berkata iya dan tidak. Namun, tidak lama dia mengangguk. Om Agung melangkah mendekatinya. Begitu cepat sebuah tamparan keras mengenai pipi putrinya itu.
Tante Rini terperanjat kaget melihat kelakuan suaminya. Mulutnya menganga dan berteriak, "Astaga, Mas! Tega kamu memukul anakmu sendiri!"
Tante Rini segera melangkah memeluk Sheryl yang masih menangis sesegukan. Dia memegang pipinya yang memerah akibat tamparan keras Om Agung. Sedangkan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Anak gadis yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya pantas mendapatkan hal itu. Lebih tega yang mana, aku memukulnya atau dia yang sudah mencoreng nama baik keluarga?!" tegasnya. Rahangnya menegang menatap Sheryl.
"Cukup! Kita belum tahu kejadian sebenarnya! Tapi aku sudah tahu apa yang putriku rasakan sekarang." Tante Rini mendebat suaminya sendiri. Dia segera merangkul putrinya dan membawanya ke dalam. Reza ikut masuk menyusul ibu dan adiknya.
Hanya aku dan Om Agung yang masih berdiri di teras. Om Agung menatapku. Wajahnya terlihat menyeramkan membuatku menelan ludah seketika.
"Duduk!" perintahnya seraya mendudukkan dirinya di atas kursi.
Aku mematuhinya. Segera duduk di sampingnya. Dia menoleh ke arahku. Wajahnya menampakkan kemarahan yang tidak bisa kulukiskan.
"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Saya tidak akan menyerahkan putri saya kepada Baruna, jika memang dia telah bersalah mengkhianati kepercayaan tunangannya. Mau ditaruh mana muka keluarga saya di hadapan keluarga Anton?"
Aku terdiam tidak bisa menjawab pertanyaannya. Memang aku yang sudah bersalah. Memanfaatkan keadaan putrinya saat mabuk dan berdalih semua yang kulakukan hanya atas nama cinta padanya.
"Saya tidak habis pikir, kamu bisa mengecewakan kedua orang tuamu. Apa kamu tidak malu? Merebut Sheryl dari adikmu sendiri?!"
"Saya memang bersalah. Semua yang saya lakukan karena saya mencintainya. Saya pun sangat ingin bertanggung jawab, tapi Sheryl tidak bersedia. Kalau Om ingat, saya juga sudah pernah katakan pada Om kalau saya berniat membayarkan hutang berdasarkan MOA itu," jelasku.
"Kalian harus menikah secepatnya. Saya harap kamu menepati janjimu," sahut Om Agung.
"Baik, Om. Saya akan membicarakannya dulu dengan keluarga saya." Aku bangkit dari dudukku. "Saya pamit, Om."
"Iya," jawabnya singkat. Wajah Om Agung masih tampak tegang melihatku dingin.
Aku melangkah masuk ke dalam mobilku. Kemudian memutar kemudiku keluar dari halaman rumah kediaman Sheryl. Memacunya untuk pergi ke rumah Mama.
Sebentar lagi tujuanku akan tercapai. Aku tinggal meyakinkan Mama untuk bisa menikahi Sheryl.
Sebuah senyum mengembang terpantul di kaca spion tengah. Aku sangat bahagia melebihi apapun di dunia ini. Sebentar lagi dia akan jadi milikku selamanya. Hanya dia ... bidadariku.
Kling!
Terdengar suara sebuah notifikasi pesan masuk. Segera kulirik layar smartphone-ku. Notifikasi pesan dari Sheryl.
__ADS_1
Baru saja kupikirkan, dia sudah mengirim pesan. Bukankah kami memang berjodoh?