
Hari ini Fandy menjemputku pergi bekerja pagi-pagi sekali. Aku berada di dalam mobilnya, memejamkan mata sejenak. Sebuah lagu dari siaran radio di dalam mobil Fandy mewakili perasaan dan kehidupanku saat ini di mana aku merasa tidak bisa mengenali lagi bagaimana rasa jatuh cinta. Aku mengganti siaran radio itu dengan suara musik yang lain.
"Kenapa lagunya diganti, Sher?" tanyanya.
"Masih pagi, jangan dengerin lagu yang sedih-sedih."
"Oke. Kamu masih jadi kekasihku, kan?" Fandy menoleh tersenyum.
"Menurut kamu?" Aku menatap Fandy tajam.
"Pastinya," jawabnya singkat.
Aku tidak membalas kata-katanya. Aku sendiri sebenarnya masih ragu dengan keputusanku. Satu bulan yang kuberikan bukan waktu yang lama.
Acara pertunangan yang akan segera tiba itu masih mengusik pikiranku. Aku belum pernah menceritakan rencana pertunanganku kepada Fandy. Bukannya ingin berbohong tapi aku sangat sulit menceritakannya. Aku harus memulainya dari mana.
Fandy meraih telapak tanganku, menggengamnya dan menciumnya dengan penuh rasa sayang. Hari ini aku bermaksud membicarakannya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.
"Fandy ada yang ingin aku katakan," ucapku membuka pembicaraan.
"Iya, ada apa?"
"Satu bulan lagi aku akan bertunangan dengan orang lain."
"Maksud kamu apa?"
"Aku akan bertunangan dengan orang lain." Aku mengulangi kata-kataku.
"Katakan padaku kalau kamu sedang bercanda!" dengkusnya. "Kamu kan juga sudah memberi aku waktu satu bulan. Kamu sedang mempermainkan aku?!" Fandy setengah berteriak kesal.
"Entah mempermainkan atau bukan, tapi masa depan hidupku pun sudah direncanakan Papa dan Mama. Sejak empat tahun lalu semua sudah diputuskan."
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan ini sebelumnya?"
"Iya, aku mengaku salah. Aku bingung bagaimana harus mengatakannya. Semua terjadi begitu cepat. Menjadi seserius ini pun dalam waktu dekat."
"Tapi ini terlalu mendadak untukku. Kamu benar-benar membuatku kecewa!" geramnya.
"Seharusnya aku yang kecewa karena aku yang dipermainkan dengan takdir seperti ini," bantahku tidak terima.
Mendadak Fandy menghentikan mobilnya. Dia membanting setirnya ke bahu jalan. Berhenti tiba-tiba. Dadaku terasa sakit tertahan sabuk pengaman.
"Sejak kapan rencana perjodohan itu terjadi?" tanyanya gusar.
"Empat tahun lalu. Aku pun sudah menolaknya, Fan. Lihatlah aku juga terus berada di sampingmu sampai saat ini. Aku ingin kita berjuang. Tapi ... ah sudahlah."
"Bagaimana kalau kita menikah saja tanpa restu orang tuamu?"
"Itu hal yang mustahil. Aku akan menghancurkan nama baik mereka. Terlalu banyak pihak yang akan disakiti."
__ADS_1
"Bersabarlah. Aku ingin kamu yang menjadi istriku kelak."
"Kamu serius? Waktuku tidak banyak."
"Walau modalku tidak banyak, kali ini aku benar-benar akan memikirkan masa depan kita. Aku tidak mau kehilangan kamu seperti kemarin."
"Terima kasih." Aku menatap Fandy dengan berbagai macam rasa yang menumpuk menjadi satu.
Tanpa sadar air mataku jatuh menahan haru. Bagaimana pun kami tidak akan tahu kalau kami tidak pernah mencoba. Fandy menepuk bahuku dan menenangkanku. Kemudian kami berdua meneruskan perjalanan menuju kantor kami masing-masing.
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Siang itu di kantorku datang seorang wanita paruh baya yang cantik dan anggun. Pakaiannya bagus dan modis. Rambutnya berwarna kecoklatan sedikit bergelombang. Aku tidak mengenalnya tapi yang lain bilang kalau dia adalah Ibu Aina Melati Pradipta. Dia adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja. Aku jarang melihatnya. Dia hanya datang di waktu-waktu tertentu.
Wanita itu berjalan beriringan dengan seorang pria dewasa. Aku tidak pernah melihatnya. Sosoknya terlihat berwibawa tapi juga mempunyai tatapan mata yang dingin. Dia adalah anak lelaki ibu Aina. Tinggi badannya sekitar 180 cm dengan tubuh yang berisi dan gagah. Umurnya 31 tahun. Wajahnya tampan dengan rambut yang sedikit bergelombang mirip dengan ibunya. Lelaki itu bernama Reynand Alex Pradipta.
Semua karyawan dan petinggi perusahaan dikumpulkan di sebuah auditorim. Bapak Rudi selaku direktur utama perusahaanku pun hadir dan mulai berbicara maksud dan tujuan kami semua dikumpulkan di auditorium kantor.
"Selamat siang Ibu Aina selaku pemilik dan pemegang saham terbesar Pradipta Corporation, para direktur dan tentunya para karyawan yang saya sayangi. Dalam kesempatan siang hari ini, saya bermaksud mengumumkan bahwa saya resmi pensiun dari perusahaan. Usia saya tidak lagi muda. Sudah sepantasnya ada generasi penerus yang bisa menggantikan posisi saya. Ibu Aina sendiri sudah resmi menunjuk anaknya yaitu Bapak Reynand Alex Pradipta untuk menggantikan saya dan ini sudah disetujui oleh para direktur dan para pemegang saham. Saya harap Pradipta Corporation akan terus berjaya di masa yang akan datang. Setelah ini Bapak Reynand akan menyampaikan beberapa hal. Terima kasih banyak atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya selama ini," Bapak Rudi berpidato untuk terakhir kalinya.
"Selamat siang semua. Saya tidak akan panjang lebar. Nama saya Reynand Alex Pradipta. Panggil saja saya Pak Reynand. Terima kasih atas waktunya telah mengizinkan saya berpidato di depan saudara-saudara sekalian. Saya berjanji akan memajukan perusahaan ini sekuat tenaga saya. Bukan karena perusahaan ini milik keluarga Mama saya saja, tapi saya memang tertarik dan tertantang dalam menjalankan sebuah bisnis yang tidak ada ujungnya. Artinya kita tidak boleh cepat merasa puas. Kita harus ada peningkatan dalam hidup dan berkarir lebih baik untuk ke depannya. Akhir kata saya meminta bantuan kepada saudara-saudara semua agar saling bahu membahu memajukan perusahaan ini. Terima kasih." Pak Reynand berpidato.
Aku sedikit memperhatikan Pak Reynand. Wajahnya seperti tidak asing bagiku. Dilihat sekilas mirip dengan Kak Baruna. Postur tubuhnya pun hampir sama dengan Kak Baruna. Ups...apa aku sedang menyamakan orang lain dengan Kak Baruna? Sepertinya aku sudah teracuni oleh sosok Kak Baruna.
"Sher, Pak Reynand tuh ganteng banget ya?" bisik Irene.
"Irene inget lo tuh udah punya pacar. Pikirin dia ajalah," sahutku.
"Gak apalah cuci mata sedikit. Mungkin di luar sana cowok gue juga memuji banyak cewek cantik."
"Ngomong-ngomong lo kemarin itu pulang kemana dan sama siapa? Cowok lo tuh nyariin. Eh tapi udah putus ya lo sama doi?" Irene membuka pembicaraan.
"Gue pulang bareng Kak Baruna. Tapi sekarang gue udah balikan lagi sama Fandy," jawabku sambil tersenyum.
"Baruna calon tunangan lo? Gue jadi bingung sama lo Sher. Sana sini oke. Si Fandy emangnya jadi mau ngelamar lo? Terus lo jadi pilih mana Sher?" Banyak pertanyaan dilontarkan Irene.
"Tahu lah. Harus dicoba dulu. Enggak ada yang tahu kalo belom dicoba," sahutku tertawa.
"Iya deh."
Setengah jam kemudian pertemuan pun selesai. Aku dan Irene kembali ke ruangan kerja kami. Tidak lama Wendy seorang office girl di kantorku datang menghampiriku yang sedang bekerja. Di tangannya ada sebuah buket bunga mawar dan sebuah coklat batang dengan merek terkenal.
"Mbak Sheryl ini ada titipan dari resepsionis buat Mbak," katanya sambil menyodorkan kedua barang tersebut.
"Terima kasih ya." Aku meraih kedua barang itu dan menemukan sebuah kartu ucapan. Lagi-lagi tidak ada nama pengirimnya.
"Siang yang manis ditemani wanita cantik berbuket bunga. Memakan sepotong coklat dengan hati yang gembira. Have a nice day."
"Dari siapa Sher?" Irene bertanya.
"Enggak tahu Ren. Enggak ada namanya lagi kayak kemarin. Gue rasa dari Fandy deh. Kan hari ini kita baikan lagi. Diam-diam bisa romantis juga dia."
__ADS_1
"Coba sih tanya. Kalau benar dia pasti telepon konfimasi enggak pake tebak-tebakan gini."
"Iya nanti gue tanya. Gue mau kerjain laporan dulu."
Beberapa jam telah berlalu. Aku melirik jam dinding di ruang kantorku yang sudah menunjukkan pukul setengah enam. Aku berjalan memasuki lift sambil memeluk buket bunga mawar. Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan Pak Reynand. Dia berjalan di belakangku. Lalu kami masuk bersamaan ke dalam lift. Aku menundukkan kepalaku hormat. Tapi dia membalas dengan senyuman.
"Mawarnya bagus." Pak Reynand berkomentar.
"Lumayan sih," jawabku.
"Nama kamu Sheryl ya?"
"Kok Bapak tahu?"
"Iya itu tertulis jelas di nametag kamu," jawabnya santai.
"Oh iya ya." Aku terkekeh
Kemudian kami keluar dari lift. Pak Reynand kelihatannya cukup ramah. Dia tidak segan menyapa karyawannya sendiri.
Aku sudah berada di lobi kantor cukup lama. Aku sedang menunggu Fandy menjemput di lobi kantor. Dia sudah mengabari akan telat datang karena ada meeting dengan direktur menyangkut kepergiannya nanti ke Jepang.
Ponselku berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Kak Reza, "Kamu di mana, Dek?"
"Masih di kantor kak. Kenapa?"
"Ikut kakak ke rumah sakit jenguk Om Anton bisa tidak?" tanyanya.
"Aku sedang menunggu Fandy jemput sih, Kak. Tapi nanti aku calling lagi ya Kak bisa atau tidaknya."
"Iya kabari Kakak kalau kamu bisa."
Aku menutup panggilan telepon kemudian menelepon Fandy.
"Kamu di mana?"
"Aku sebentar lagi sampai kantormu."
"Kita tidak usah langsung pulang ya. Antar aku ke rumah sakit dulu. Jenguk teman Papa."
"Oke bos," sahut Fandy lalu kami mengakhiri pembicaraan.
Aku menutup panggilan teleponku, mengirim pesan untuk Kak Reza kalau aku bisa menjenguk Om Anton langsung menuju rumah sakit bersama Fandy.
----------------------------------------------
Yang udah baca sampai sini masih mau lanjut gak?
Dukung author untuk terus berkarya. Please vote, komen dan like nya yah!!
__ADS_1
Salam
Viviani