
Reynand PoV
Aku melihatnya duduk di hadapanku dengan wajah menunduk malu. Kayla tidak berani menatap mataku. Siang ini aku baru bisa bertemu dengan wanita itu secara sengaja dengan datang ke lokasi syuting film terbarunya.
Kami duduk di sebuah bangku plastik yang saling berhadapan. Aku melipat kedua tanganku di depan dada. Melihatnya dengan tatapan mata yang tajam. Ingin sekali mengadili wanita ini dan memukulnya.
Tidak Reynand, dia wanita!
Kata hatiku berkali-kali mengingatkan kalau dia adalah wanita agar aku tidak hilang akal tiba-tiba memukulnya.
"Angkat wajahmu! Lawan bicaramu sedang menatapmu," perintahku.
Dia tidak juga mengangkat wajahnya. Terlihat sekali jika ia takut dan malu.
"Apa aku harus menggunakan kekerasan untuk berbicara denganmu, Kayla?!" hardikku.
"Berengsek!" katanya sambil mendongak.
"Sesama berengsek jangan saling mengumpat," sindirku.
"Huh, kamu pikir kamu siapa? Sok ketampanan membuatku hampir gila!" ucapnya lagi.
"Mau gila sendiri saja! Jangan merugikan orang lain. Tapi, sebenarnya aku ingin berterima kasih padamu. Tindakanmu kemarin sudah memuluskan rencana pernikahanku dengan Sheryl. Tanpa kami mengaku pada Baruna, dia sudah mengetahuinya lebih dahulu dari media."
"Nama kalian berdua sudah jelek," ucap Kayla.
"Aku tidak peduli apa kata orang. Bahkan, sampai saat ini perusahaan ayah baik-baik saja. Tindakanmu sia-sia dan hanya akan menjadi bumerang untukmu, Kayla." Aku tersenyum menyeringai.
"Tidak peduli. Aku tidak mau merasakan apapun lagi padamu."
"Baguslah. Lebih baik kamu menjauh. Atau kamu lebih suka aku laporkan ke polisi?"
Kayla tidak menjawab. Kembali menundukkan kepala. Aku hanya ingin menggertaknya. Nyalinya sama sekali tidak ada saat menghadapiku.
Aku bangkit dari dudukku. Membalik badan bersiap meninggalkannya. Tiba-tiba saja dia menarik pergelangan tanganku. Membuatku langkahku terhenti.
"Jangan pisahkan kedua hati yang saling mencintai. Aku pun tahu bagaimana rasanya. Kamulah penjahat sesungguhnya, Rey!"
"Jangan ikut campur!" perintahku seraya melepaskan tanganku darinya.
Aku bergegas melangkah masuk ke dalam mobil. Memutarnya meninggalkan lokasi syuting itu dan kembali ke kantor.
Aku bukan penjahat! Aku mencintai Sheryl dan ingin membahagiakan dia dengan cara menikahinya.
Setengah jam kemudian masuk ke dalam halaman parkir Pradipta Corporation. Mama tadi meneleponku dan menyuruhku datang ke kantor. Seperti yang terjadi pagi tadi di kantor Sheryl, pandangan semua orang tertuju padaku. Membuatku sedikit jengkel.
"Siang, Pak Rey!" salah seorang resepsionis yang terkenal biang gosip menyapaku. Aku hanya melirik dan mengangkat sebelah alisku, berlalu meninggalkan wanita itu. Bergegas pergi ke ruangan Mama.
Tanpa mengetukkan pintu, aku masuk dan mendapati dia sedang duduk fokus pada beberapa berkas di hadapannya.
"Sudah datang rupanya," katanya tanpa mendongakkan kepala.
"Iya, Ma," ucapku sambil menjatuhkan tubuhku di atas kursi.
__ADS_1
Mama mengangkat wajahnya melihatku. Dia mengerutkan kening. Kemudian membuka kacamata plusnya.
"Untung wajahmu masih bersih, Nak," ujarnya.
"Maksud Mama?" tanyaku bingung.
"Iya, untung saja si Anton itu tidak mencoba memukulmu seperti semalam. Kamu sih cari gara-gara," keluh Mama.
"Tidak masalah selama hal itu sebanding dengan yang kudapatkan. Mama lihat sendiri semalam, Sheryl melindungiku dari amukan Ayah."
"Huh, cintamu buta terhadap wanita itu," timpal Mama.
Aku hanya tertawa. Mama kemudian kembali memandang wajahku. Dia bertanya, "Kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya, seperti yang kukatakan pada media hari ini."
"Rey .... Rey .... Untuk apa melayani wartawan? Merepotkan saja," sahut Mama.
"Kasihanlah, Ma. Mereka itu 'kan pekerjaannya mencari berita. Masa aku menghindar dari mereka?"
"Bilang saja kalau kamu ingin pamer hubungan pada Baruna dan keluarganya," Mama tertawa.
"Aku tidak seperti itu, Ma," jawabku.
Mama tertawa mendengar jawabanku. Aku memang sama sekali tidak kepikiran untuk melakukan hal seperti itu. Hanya mencoba menjawab pertanyaan wartawan.
"Kapan kamu mau melangsungkan pernikahan?"
"Itu terlalu cepat, Rey."
"Aku rasa tidak, Ma. Aku sudah tidak sabar untuk menikahinya," bantahku.
"Tapi untuk WO dan busana pengantinnya mana bisa secepat itu?"
"Tidak usah megah. Pesta sederhana saja di rumah Sheryl. Hanya mengundang kerabat dan teman. Aku ingin yang privat, sih. Untuk busana gampanglah. Nanti beli di butik saja."
"Hei, Mama tidak enak pada besan," protesnya.
"Nanti aku yang akan membicarakannya." Aku bangkit dari dudukku memeluk Mama, dan berbisik, "Aku sayang Mama."
"Mama juga sayang kamu."
"Aku kembali ke kantor Ayah dulu, Ma." Aku melepaskan pelukan Mama dan membalikkan badan bersiap keluar dari kamar.
"Jangan lupa kamu harus pindah lagi ke rumah," Mama mengingatkan.
"Iya, Ma," jawabku, kemudian keluar dari ruang kerja Mama.
Aku berjalan di koridor kantor dan secara kebetulan bertemu dengan salah satu teman Sheryl. Dia menundukkan kepalanya sambil tersenyum memberi hormat padaku. Aku pun membalas senyumnya. Mungkin dia akan menganggapku aneh karena tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
****
Sheryl PoV
__ADS_1
Aku berkali-kali melihat layar ponsel. Berharap Kak Baruna mengirimkan pesan atau menghubungiku barang sedetik saja. Hal itu bahkan sudah membuatku bahagia. Namun, yang terjadi adalah tidak ada satu pun pesan atau telepon yang masuk selain dari Reynand.
Berkali-kali pula aku membuka dan menutup aplikasi pesan. Mengetikkan sesuatu, tapi menghapusnya kemudian. Merasakan keraguan karena takut akan penolakan. Sekali lagi aku mencoba mengetik.
"Sayang, aku merindukanmu."
Kupandang tulisan itu begitu lama. Ingin sekali mengirimnya, tapi begitu ragu. Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk. Irene meneleponku.
"Halo, Ren."
"Sheryl, apa yang gue lihat tadi lo gak bakal percaya. Pak Reynand tadi ke kantor, gue sapa dengan senyum dan dia balas tersenyum ke gue."
"Terus?"
"Ya gue seneng aja dibalas senyum sama Pak ganteng. Lo gimana kabarnya sama Baruna?"
Irene menanyakan sesuatu yang membuatku kembali meluruhkan air mata. Buliran air yang membuatku menderita sejak kemarin. Apa dia tidak mengetahui berita sama sekali?
"Putus." Aku menangis.
"Putus? Kok bisa? Bercanda lo gak lucu. Belum lama dia sadar dari koma, 'kan?"
"Lo gak lihat berita yang beredar dari kemarin di tv dan media online?"
"Ada apa? Gue kemarin sibuk banget. Nyokap lagi sakit. Ini aja sebenarnya gue harusnya gak masuk, tapi gue bela-belain masuk karena gak enak kelamaan cuti."
"Gue sama Pak Reynand akan menikah." Aku masih terisak.
"Kok bisa?! Ish kok gitu sih? Baruna kasihan dong." Irene terdengar sangat terkejut.
Aku pun menceritakan semua yang telah terjadi padanya. Memang sudah lama sekali kami tidak saling mengirimkan pesan atau bertemu. Mencurahkan hati pada sahabat lama membuatku sedikit lega.
"Bisa begitu ya? Enggak ada yang tahu jodoh."
"Gue enggak mau nikah sama dia, Ren," keluhku.
"Udah, lo jalanin aja. Dia baik sepertinya. Nanti juga lama-lama jatuh cinta kayak dulu lo move on dari Fandy." Irene menghiburku.
Aku terdiam tidak menjawab. Menatap lurus ke depan. Melamun.
Beda. Rasa ini berbeda sama sekali. Aku mencintai Kak Baruna berbeda dengan rasa yang kurasakan saat bersama Fandy. Walaupun singkat, hatiku sudah jatuh terlalu dalam untuknya. Terasa mati saat berpisah, dan tidak bisa hidup kembali.
"Sher? Sheryl? Kok diem?" tanya Irene masih di seberang telepon.
"Eh ... iya Ren. Maaf gue bengong."
"Jangan bengong sering-sering. Ya udah, gue lanjut kerja. Kapan-kapan kita ketemuan, ya."
"Iya, Ren."
Irene mengakhiri panggilannya. Aku kembali melamun. Terus melamun sepanjang hari. Percuma masuk kerja. Pikiranku selalu tertuju pada Kak Baruna.
Aku melirik ponselku. Pesanku tidak sengaja terkirim kepadanya. Bercentang dua berwarna biru sejak sepuluh menit yang lalu. Namun, tidak ada balasan.
__ADS_1