
Baruna POV
"Tu-tunggu! Dra, sepertinya kau salah paham," sahutku mengerutkan kening. Sepertinya ia menyangka kalau aku menikah dengan Felicia.
Andra menaikkan sebelah alisnya. "Salah paham bagaimana, Bar?" tanya Andra.
"Aku tidak pernah menikah dengan Felicia. Wanita itu bukan istriku, Dra," timpalku lagi.
Mendengar jawabanku, Andra menoleh ke arah Frans lalu ke arahku bergantian. Bahkan Andra mengurai gandengan lengan wanita yang ada di sampingnya lalu Frans mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke wajahku.
"Jadi dengan siapa kau menikah, Bar?" tanya Andra.
Belum sempat aku menjawab, Frans menyela, "Sheryl, Dra."
"Sheryl? Bukannya wanita itu menikah dengan kakak tirimu?" tanya Andra yang mungkin tahu kabar gosip yang sempat berembus di media beberapa bulan lalu.
Aku mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk. "Ya, Sheryl yang itu. Wanita yang dijodohkan denganku sejak lama," jawabku dengan segaris senyuman. "Aku pernah mengirimkan undangannya, bukan? Mentang-mentang kau tinggal di luar, kau tidak membacanya dengan baik," kataku lagi.
"Parah kau, Dra. Teman sendiri juga." Frans menggelengkan pelan, lalu mengangkat gelas wine di depannya.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau kakak tirimu tidak jadi menikah dengan Sheryl waktu itu. Dan lagi bagaimana bisa Sheryl mau menjadi istrimu, padahal kau sudah tidur dengan Felicia."
Ucapan Andra seakan menjadi bahan bakar dalam hatiku. Aku meraih gelasku, menatap tajam kedua pria itu bergantian, lalu menggelengkan kepala. "Tidak usah dibahas! Aku heran dengan kalian berdua. Apa kalian tidak pernah menyesal karena pernah menjebakku, huh?"
"Menjebak?" Frans menyahut lalu menggelengkan kepalanya.
Andra yang mendengar perkataanku lantas terkekeh. "Hei, tapi kau menikmatinya, bukan? Keperjakaanmu hilang karena tidur dengan Felicia."
"Ini tidak lucu, Dra!" teriakku kepada Andra, lalu mengarahkan pandanganku kepada Frans. "Kau juga Frans, kau bekerja sama dengan Andra menaruh sesuatu di minumanku saat itu."
Rasanya darahku seakan mendidih berbicara dengan mereka yang mengungkit peristiwa itu seperti candaan yang tak kunjung habisnya. Padahal aku sudah lupa dan hanya ingin merekatkan hubungan pertemanan kami seperti saat masih kuliah dulu. Namun mereka malah membuat kepalaku sakit serasa ingin meledak. Apalagi, belum lama ini Felicia sempat menemuiku secara pribadi mengatakan kalau dia masih menyukaiku. Sheryl pun sering mengatakan kalau mata anak itu mirip denganku. Setiap Sheryl mengatakannya, aku selalu berharap kekhawatiranku tidak menjadi kenyataan. Namun aku tidak berani menanyakan hal itu langsung kepada Felicia.
__ADS_1
"Jadi kau tahu?" Frans malah terkekeh. Dia menoleh kepada Andra sesaat lalu mengarahkan pandangannya lagi kepadaku. "Kami hanya ingin membuatmu bersenang-senang di hari terakhir kita di Sydney, Bar. Kau terlalu serius dengan wanita yang tidak menyukaimu saat itu hingga melupakan Felicia yang diam-diam menaruh hati kepadamu. Yang kami lakukan hanya memberikan momen yang tepat untuk kalian berdua. Sayang sekali kalau akhirnya kalian tidak jadian dan tidak menikah. Ya, 'kan, Dra?"
"He-em." Andra manggut-manggut.
Aku menatap geram keduanya. Ingin sekali membanting gelas yang ada dalam genggamanku di depan mereka. Namun berusaha menahannya. Ini tempat umum, aku tidak boleh membuat keributan di depan dua pria setengah mabuk ini.
Ponselku, tiba-tiba saja berbunyi. Segera mengambilnya dari dalam saku kemeja. Melirik sebentar layarnya, Sheryl memanggil. Aku mengabaikannya dan memasukkannya kembali ke dalam saku.
Sheryl tidak boleh tahu aku berada di tempat ini.
***
Sheryl POV
Aku dan Pak Amri menurunkan Reynand dari dalam mobil saat sebuah brankar berhenti tepat di depan pintu belakang penumpang. Seorang security dan seorang perawat merebahkan sosok tegap itu di atasnya kemudian membawa Reynand masuk ke IGD. Aku dan Pak Amri yang panik mengekor brankar itu dari belakang. Namun saat kami akan masuk ke dalam bilik yang membawa Reynand, Nayara tiba-tiba hadir di depan kami.
"Tunggulah di depan! Aku dan dokter jaga IGD akan memeriksanya," ujar Nayara segera menutup tirainya.
"Ya, Sher. Tenang saja." Nayara mengangguk. Ia seakan tahu apa yang kurasakan.
Aku dan Pak Amri membalik badan, duduk di kursi tunggu ruang IGD. Aku sedikit lega, Reynand sudah berada di tangan yang tepat.
"Aku harus menghubungi Baruna," imbuhku yang langsung mengambil ponsel dan menghubunginya. Namun sayang, panggilanku tidak diangkatnya. Mungkin saat ini ia sedang bersenang-senang dengan kawan lamanya dan tidak ingin diganggu.
"Tidak diangkat, Bu?" tanya Pak Amri yang duduk di sampingku.
Aku menggeleng pelan lalu menghela napas panjang. "Saya akan menghubungi Dira, Pak."
Pak Amri hanya mengangguk. Tidak lama, panggilanku terhubung oleh Indira. Adik Reynand itu menjawab panggilanku, begitu panik.
"Sheryl, jadi sekarang bagaimana keadaan Kak Rey?" Suara Indira benar-benar panik.
__ADS_1
"Masih di IGD. Kami masih menunggu dokter memeriksanya, Dir," jawabku.
"Baiklah. Aku akan ke sana bersama Mama dan Daniel. Tunggu kami!"
"Ya, Dir," jawabku kemudian mengakhiri pembicaraan kami.
Selang beberapa saat kemudian, Nayara memanggilku masuk ke ruangan. Aku pun beranjak dari kursi setelah sebelumnya meminta Pak Amri untuk menunggu saja di ruang tunggu IGD.
Aku dan Nayara sudah berdiri di salah satu bilik melihat Reynand memakai selang di hidung yang menghubungkannya dengan tabung oksigen.
"Dia terkena pneumonia, Sher," ucap Nayara tiba-tiba tanpa menoleh ke arahku. Pandangannya menekur pada sosok Reynand yang tampak sayu melihat ke arah kami.
"Tapi dia tidak apa-apa, 'kan, Nay?" Aku balik bertanya kepada dokter wanita itu.
"Untung kau mengantarnya tepat waktu. Jika tidak, nyawanya bisa terancam."
Perkataan Nayara membuatku sontak menoleh ke arahnya. "Astaga! Aku benar-benar menyangka akan seburuk itu."
"Dari jauh-jauh hari, aku sudah memperingati ia untuk berhenti merokok dan minum tapi sepertinya makin parah akhir-akhir ini hingga membuat ia sesak walau rasa sesak itu hilang timbul. Lalu puncaknya saat ini, Sher."
Aku tidak berkomentar dan hanya bisa mengembus napas berat. Melihat keadaannya seperti ini benar-benar membuatku tidak tega walau tadi siang sudah membuatku kesal setengah mati.
"Dia harus dirawat, Sher. Apa kau sudah menghubungi keluarganya?" tanya Nayara.
"Sudah. Biar aku yang menjadi penanggungjawabnya sembari menunggu mereka datang. Rey harus mendapat perawatan secepatnya, Nay."
Nayara mengangguk. Tidak lama setelah pembicaraan kami, aku pun mengurus semua yang dibutuhkan dalam administrasi perawatannya. Hanya berselang sepuluh menit kemudian, Reynand sudah berada di sebuah kamar perawatan dengan fasilitas mewah.
Aku duduk pada kursi di samping tempat tidurnya. Melihat prihatin wajah Reynand. Dia sudah sedikit tenang mendapatkan oksigen yang dengan bebas masuk dan keluar dari hidung dan mulutnya tanpa berusaha keras.
"Terima kasih," katanya kepadaku dengan ulasan senyum kecilnya.
__ADS_1
"Ya. Kamu tidak boleh sakit. Jika kamu sakit, aku yang akan paling merasa bersalah, Rey," sahutku balas menarik segaris senyum untuknya.