
Aku membuka mataku, tersentak kaget. Mengedarkan pandanganku ke sekeliling seketika. Aku berada di atas tempat tidur di sebuah kamar berukuran lumayan besar. Tidak ada ventilasi udara dan jendela di antara dinding-dindingnya.
Aku melirik tubuhku, pakaian kerja masih menempel dengan sempurna. Aku mulai takut menyadari kalau aku sendirian di sini.
Aku di mana?
Hanya keheningan yang kurasakan. Bunyi detak jarum jam yang berputar di kamar tidak mampu membantuku menghilangkan perasaan takut. Aku mengangkat kepalaku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh. Entah pukul tujuh pagi atau tujuh malam.
Ponselku? Aku harus menghubungi seseorang.
Benda pipih itu tidak ada di sekitarku, bahkan tas dan barang bawaan pun juga tidak ada.
Apa yang orang-orang tadi lakukan padaku?
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya membawa nampan di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.
"Bibi, ini di mana ya?" tanyaku.
Wanita itu hanya diam tidak menjawab lalu pergi meninggalkanku. Aku beranjak menyusulnya tapi pintu kamar sudah keburu terkunci rapat olehnya.
Aku melihat nampan yang ia letakkan di atas meja. Sepiring nasi beserta lauk pauk dan minuman sebagai makananku.
Ya Tuhan sebenarnya aku ada di mana? Aku harus segera pulang.
Ketakutan yang mulai menyusup masuk ke dalam otakku sontak membuat air mataku meleleh seketika. Tidak sadar, bulir-bulir air mataku jatuh.
****
Baruna PoV
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam apartemen. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hari ini sangat melelahkan.
Aku baru saja menghadiri acara makan malam sebagai tanda perpisahan yang diselenggarakan oleh para karyawan untuk melepasku kembali ke rumah besok pagi. Acara makan malam itu membuatku sedikit mabuk karena alkohol.
Drrt ... drrt ... drrt ....
Aku meraih ponselku dari dalam saku. Melirik nama pemanggil telepon. Nama Pak Wicak muncul di layar. Aku segera menjawab panggilan di ponsel itu.
"Halo Pak."
"Halo Mas. Apa saya mengganggu waktu istirahat, Mas?"
"Tidak. Ada berita apa?"
"Mengenai perjanjian itu saya sudah menemukan informasi."
"Benarkah?"
"Iya. Mbak Sheryl menjadi penjamin hutang keluarganya sendiri."
"Maksudnya?"
"Lima tahun yang lalu perusahaan keluarganya hampir bangkrut. Keluarga Mas yang menolong mereka bangkit dari keterpurukan. Tapi ada syarat yang menggelikan di sana."
"Menggelikan bagaimana, Pak?"
__ADS_1
"Pak Awan akan membantu Kusuma Corp. asalkan mereka mau menikahkan putrinya yaitu Mbak Sheryl dan Mas Baruna cucunya. Maka pinjaman mereka pun akan dianggap lunas jika Mas akhirnya benar-benar menikah dengannya."
"Jika tidak?"
"Tentu saja Kusuma Corporation harus membayar hutang berikut bunganya sampai dengan sekarang."
Deg!
Seketika jantungku seakan mau berhenti mendengar penjelasan Pak Wicak. Aku tidak menyangka kakekku sendiri akan melakukan hal tersebut. Maksudku, seluruh keluargaku mengetahuinya dan aku sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Pak Wicak, apa bapak yakin? Ayahku dan Papanya Sheryl, mereka berteman akrab."
"Iya tentu saja. Saya hanya menyampaikan apa yang tertulis di sana. Mengenai persahabatan mereka saya kurang tahu, Mas. Satu lagi, ada hal menarik lainnya yang saya tangkap."
"Apa itu?"
"Mas Baruna akan menjadi satu-satunya pewaris perusahaan setelah kalian menikah. Hal itu tidak bisa diganggu gugat."
Aku menghela napas mendengar penjelasan Pak Wicak. Hal itu tidak menjadi kabar baru bagiku karena aku sempat mendengar kabar itu dari pembicaraan kakek dan ayah. Hal itu pula yang membuat hubunganku dan Reynand menjadi sedikit rumit.
"Terima kasih infonya, Pak."
"Iya Mas. Besok jadi pulang kan?"
"Iya saya pulang besok."
"Baiklah, saya akan kirim soft copy perjanjian itu via email. Mas Baruna bisa mengeceknya sendiri."
"Baik Pak. Terima kasih atas bantuannya. Bapak memang bisa saya andalkan."
"Sama-sama, Mas."
Mengapa kakek tega melakukan hal seperti itu? Orang tuaku ... mengapa mereka mendukung perjanjian tertulis seperti itu? Lalu Sheryl ... apa reaksinya kalau dia tahu ada hal seperti ini?
Aku melangkah mengambil segelas air putih, meneguknya tidak sabar. Aku berusaha menjernihkan pikiranku. Tidak lama kemudian Reza menelepon.
"Halo Za."
"Bar, lo udah telepon Sheryl belum?"
"'Cuma tadi pagi sih. Gue belum telepon lagi. Kenapa Za?"
"Ponselnya mati. Dia juga belum kembali ke rumah sejak tadi pulang dari kantor."
"Kok bisa Za? Lo jangan main-main." tanyaku panik.
"Ngapain gue main-main, Bar. Tadi waktu pulang dia bilang ada meeting dengan kliennya sebentar. Tapi sampai sekarang belum juga pulang. Gue udah telepon sekretarisnya, dan dia bilang enggak ada jadwal meeting sore itu."
"Terus dia ke mana, Za?"
"Makanya gue tanya lo. Lo udah telepon dia atau belum."
"Hari ini gue belum sempet telepon. Tadi dia sempet telepon sekitar jam sepuluh pagi. Sayangnya, gue enggak angkat dan gue belum sempat telepon balik."
"Gimana sih Bar? Giliran udah dapet dan tunangan mulai cuek. Dulu aja, dikejar-kejar."
"Reza, lo lagi ngejek gue? Iya gue akui memang beberapa hari ini gue agak cuek tapi bukan itu alasannya. Gue di sini banyak kerjaan. Ya udah, Gue balik sekarang juga."
__ADS_1
"Iya, ya udah. Intinya jangan bikin kecewa. Bukannya besok baru balik?"
"Gue enggak bisa nunggu kalau begini keadaannya. Gue siap-siap dulu."
"Iya. Hati-hati Bar."
"Iya Za."
Aku menutup telepon, kemudian mencoba menelepon Sheryl. Tapi ponselnya benar-benar tidak bisa dihubungi. Hanya suara voice mail yang terdengar.
Aku pun bergegas membereskan barang-barang yang akan kubawa. Kepala yang terasa pusing akibat minuman terkutuk itu mulai menyerang semakin parah tapi aku tidak memedulikannya.
Tidak lama kemudian aku sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju bandara. Termenung sendiri memikirkan Sheryl yang sekarang entah berada di mana.
Sayang, di mana kamu sekarang?
****
Reynand PoV
Aku masih berada di dalam kamar perawatan. Menatap wajah Mama yang tertidur pulas. Besok dia sudah diperbolehkan untuk pulang karena sudah tidak ada keluhan yang berarti.
Aku melihat layar ponselku. Mengecek email pekerjaan yang masuk. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat tiba-tiba muncul nama Indira di layar, dia meneleponku.
"Kak."
"Hmm ...."
"Mama bagaimana?"
"Sedang tidur, Dir."
"Besok jadi pulang."
"Iya mudah-mudahan."
"Kak dari tadi aku coba hubungi Sheryl tapi ponselnya tidak aktif."
"Terus? Kenapa cerita ke Kakak?"
"Yah hanya mau cerita saja. Tidak biasanya saja, Kak. Sampai sekarang pun tidak bisa dihubungi."
"Kamu yakin?"
"Iya. Tadinya aku mau tanya Baruna, tapi aku baru ingat kalau Sheryl bilang dia sedang tugas di luar negeri."
"Oh ...."
"Ya sudah Kak, aku mau tanya itu saja. Besok aku ikut jemput Mama ya."
"Tidak usah. Nanti ketemu di rumah saja ya."
"Ya sudah deh."
Indira mengakhiri panggilannya. Aku lalu mencoba menghubungi Sheryl. Kata-kata Indira membuatku penasaran.
Apa benar dia tidak bisa dihubungi?
__ADS_1
Terdengar pesan suara yang menandakan ponselnya tidak aktif. Aku bangkit dari dudukku. Berjalan mondar-mandir tidak karuan. Rasa cemas mulai merasuki otakku.
Di mana dia? Aku terus memikirkannya sepanjang hari. Mendapat kabar seperti ini membuat diriku semakin kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.