
Jam tanganku menunjukkan pukul sepuluh malam saat aku dan Kak Baruna akan pulang dari kediaman Kak Daniel dan Indira. Hujan yang baru saja berhenti turun membuat hawa dingin menyusup masuk ke dalam kulit dan sendi. Sepertinya suhu tubuhku mulai menghangat dan lendir bening mulai keluar dari hidungku. Kak Baruna melihatku terkejut.
"Seka ingusmu itu," perintahnya seraya mengeluarkan sapu tangan dari balik kantungnya memberikannya padaku.
Aku menyeka ingusku membalikkan badan dari mereka. Indira dan Kak Daniel hanya tertawa melihat tingkah kami.
"Niel, Dir, gue sama Sheryl pulang dulu ya. Kapan-kapan gue mampir lagi ke sini."
"Iya Bar siap," sahut Kak Daniel.
"Cepet sana pulang jangan keluyuran lagi. Sheryl udah kena flu tuh," tambah Indira.
"Udah ngobrol sama nyokap dan kakak lo Dir?" tanya Kak Baruna.
Indira menarik napas panjang dan berkata, "Iya tenang aja. Beres semua." Dia tersenyum.
"Udah jangan bohong deh Dir. Mereka masih kesal kan sama lo?"
"Iya sih tapi nanti juga baik lagi. Hari ini mereka menginap Bar." Lagi-lagi Indira tersenyum.
"Ya sudah."
"Kak Daniel, Dira, gue pamit ya. Maaf gak salaman dulu. Tangan gue penuh virus. Hahaha," kataku seraya tertawa.
Mereka semua tertawa melihatku. Aku dan Kak Baruna lalu melangkahkan kaki, membuka pintu belakang mobil dan mengambil jasnya, memberikannya kepadaku.
"Pakai ini agar tubuhmu hangat," katanya.
"Terima kasih sayang."
Aroma parfum tubuh Kak Baruna menempel kuat di antara lekukan jasnya. Wangi itu merasuk masuk ke dalam hidungku yang sebenarnya sudah mulai tersumbat. Wangi perpaduan vanilla lembut eksotis, woody yang maskulin dan kesan wangi apel membuatku betah memeluk jasnya itu sambil memejamkan mata.
Kak Baruna mengamati tingkahku lalu berkata, "Wah aku cemburu melihat jasku diperlakukan seperti itu."
__ADS_1
Aku tersentak kaget membuka mataku karena mendengar kata-kata Kak Baruna. Rona wajahku yang malu tidak bisa berbohong, langsung memerah begitu saja. Aku menunduk malu dan masuk ke dalam mobil.
"Pakai jasnya jangan kamu peluk terus sayang. Nanti aku benar-benar cemburu padanya," ucapnya.
"Iya sayang." Aku mulai memakainya dan memasang sabuk pengaman.
Mobil pun hidup dan berjalan melesat kencang menyusuri kegelapan malam itu yang tanpa bintang karena tertutup awan gelap.
****
Reynand PoV
Aku menyibakkan sedikit gorden kamar di lantai dua, mengintip dari balik jendela, melihat Baruna dan Sheryl yang berpamitan pulang di teras rumah bersama Daniel dan Indira adikku. Pandanganku tidak bisa lepas dari gerak-gerik wanita itu. Sekretarisku yang baru sekitar tiga minggu bekerja denganku.
Wajahnya cantik rupawan mengalihkan duniaku. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan lekukan tubuh yang sempurna seakan menghipnotisku setiap kami bertemu.
Sikapnya yang berani melawanku membuatku sulit tertidur di setiap malam memikirkannya. Sifatnya sedikit mirip dengan adikku Indira. Mungkin saja aku telah menyukainya, mengingat aku dan Indira pernah menjalin hubungan kekasih, atau mungkin karena dia milik Baruna membuatku tertantang untuk segera merebutnya dari pelukannya. Apa aku memang iri dengan adik tiriku itu? Entah aku tidak bisa mendefinisikan apa alasanku terus-menerus memandanginya seperti ini.
Aku menoleh ke arahnya, ibuku satu-satunya yang sangat aku cintai, dia memandangku dengan tatapan teduhnya. Aku melangkah menghampirinya.
"Ada apa Ma?" tanyaku.
"Sedang apa kamu mengintip dari balik jendela?"
"Mereka sudah pulang," jawabku.
"Kamu tahu Nak, Mama sangat sedih saat Dira mengatakan kata-kata seperti itu."
"Sudahlah Ma tidak usah dipikirkan lagi. Mama lebih baik istirahat," hiburku.
"Tidak bisa. Bertahun-tahun hidup seperti ini dan mengonsumsi obat ini bukan tanpa resiko sayang."
"Tenanglah Ma. Lalu aku harus bagaimana?" Aku memeluk erat Mamaku. Wanita paruh baya ini yang menguatkanku akan segala kondisi baik maupun buruk yang kuhadapi.
__ADS_1
"Semua orang tidak tahu hal yang sebenarnya terjadi sayang," Mama menarik tubuhnya dari pelukanku.
"Iya Ma aku tahu. Kenapa Mama tidak memberitahukan mereka?"
"Mama sebenarnya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Tapi Mama merasa bersalah menyembunyikan hal penting seperti ini selama bertahun-tahun darimu. Kamu harus terus mengingat hal ini."
"Iya aku ingat selalu kata-kata Mama. Mama menikah karena perjodohan, menjadi istri dan korban kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan ayah Anton. Dia juga telah mengkhianati Mama lebih dulu. Menjalin hubungan gelap dengan Tante Meri di belakang Mama. Hal itu yang terus tertanam di dalam otakku Ma."
"Iya kamu harus ingat betapa Mama membenci mereka semua. Mama sudah berusaha menjadi istri yang baik walaupun Mama menghabiskan banyak waktu di perusahaan kakekmu Pradipta. Lalu pada akhirnya bertemu dengan ayah Indira yang sudah menjadi duda dan menikah dengannya." Mama bercerita masa lalunya yang selalu kudengar berkali-kali belakangan ini.
Bosan? Tentu saja. Tapi banyak orang tua memang seperti itu. Suka menceritakan hal-hal yang sebenarnya sudah mereka bicarakan sebelumnya.
Aku hanya diam. Perasaan Mama akan dendamnya seakan-akan merasuki tubuhku sesak.
"Tapi Rey, kamu tetap darah daging ayahmu. Kamu berhak mendapatkan harta warisannya walaupun ternyata kakek kamulah yang masih memegang kuasa atas semua harta warisan itu. Mama tidak rela anak dari selingkuhannya itu menjadi pewaris tunggal."
Aku menarik napas dalam-dalam lalu berkata dengan suara berat, "Iya Ma, semua yang kulakukan adalah untukmu."
"Iya kamu harus patuh pada Mamamu. Jangan coba-coba bermain api," seru Mama tegas. "Oh iya, perjodohan itu sebenarnya tidak selamanya buruk. Kamu juga harus menikah. Mau sampai kapan kamu akan melajang Rey?"
"Pasti Mama mau membahas Kayla," tebakku.
"Iya Rey. Kurang apa dia? Cantik, tinggi semampai, modis pula. Itu kan tipe wanita yang kami sukai."
Kayla, Kayla, wanita cantik pilihan Mama yang dikenalkannya kepadaku memang memiliki semua yang Mama sebutkan. Tapi dia hanya wanita manja. Aku hanya mempermainkannya agar tidak jenuh pada kehidupanku akibat patah hati saat Dira lebih memilih Daniel daripada diriku.
Mama kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Mama juga akan berjuang untuk kamu Rey," ucapnya lirih.
"Iya Ma," sahutku singkat.
Aku mengusap rambut Mama yang sudah memutih itu. Meninggalkannya saat ia sudah mulai terlelap lalu berbalik arah mengeluarkan sebatang rokok dari balik jaketku, melangkah keluar menuju balkon kamar dan mulai mengisapnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1