
Langit sore itu begitu cerah didominasi oleh langit berwarna jingga. Pak Zaki duduk di kursi kemudi mengemudikan mobil dengan fokusnya. Aku dan pak Reynand duduk di kursi belakang. Kami sama-sama diam tidak banyak berbicara setelah kami bertemu dengan Indira.
Aku jadi terus bertanya-tanya apakah mereka memang bersaudara? Mengapa dia mengatakan tidak mengenal Indira, sedangkan Indira sebaliknya? Memang ini bukanlah urusanku dan aku terlalu takut untuk bertanya. Untuk apa aku jadi mengurusi urusannya, sedangkan aku tidak ingin dia mengurusi urusan pribadiku?
Aku menoleh ke arahnya, dia terlihat sedang termenung sendiri. Dia lalu balas menoleh ke arahku menyadari aku yang baru saja mengamatinya. Aku buru-buru memalingkan wajah agar tidak menarik perhatian. Menyibukan diri dengan smartphone dalam genggaman.
"Jangan melihat saya seperti itu!" perintahnya dengan nada ketus.
"Maaf, Pak."
"Saya mohon anggaplah kejadian tadi tidak pernah ada dan saya tidak punya kewajiban untuk menjelaskan mengenai hal itu kepada kamu."
Perkataannya tepat sekali menohok pemikiranku. Aku rasa aku juga jadi tidak peduli atas apa yang terjadi. Itu adalah urusan pribadinya.
"Iya Pak, saya mengerti."
Pak Reynand lalu sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia tersenyum dan serius berbarengan saat memandang benda digital kecil itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima saat kami tiba di kantor. Macetnya jalanan ibukota membuat lalu lintas sedikit terhambat. Aku berjalan masuk dan melakukan absen sidik jari pulang. Pak Reynand berjalan masuk ke dalam lift menuju ruangannya.
"Sher!"
Aku lalu menoleh ke arah sumber suara, "Irene!"
"Gimana hari ini? Kerja bareng bos ganteng." Irene bertanya sambil terkekeh.
"Ganteng sih ganteng. Tapi kepribadiannya itu loh, enggak banget."
"Masa sih? Kok bisa ya? Perasaan perkenalan waktu itu biasa aja."
"Gue pikir juga begitu. Kan sebelumnya juga gue pernah ketemu di lift sempet ngobrol."
"Kayaknya yang itu lo belum cerita Sher."
"Enggak pentinglah. Pulang aja, yuk! Sebentar lagi Kakak gue jemput." Aku mengajak Irene pulang diikuti dengan anggukan setuju Irene.
Baru saja aku dan Irene berjalan melangkah keluar, Pak Reynand meneleponku. Aku pun menjawab teleponnya.
"Sheryl, tolong kamu ke ruangan saya sebentar!" perintahnya.
"Tapi sekarang sudah waktunya jam pulang, Pak," bantahku.
"Kamu sedang membantah?!" Suara Pak Reynand meninggi.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Irene yang sedang menungguku menerima telepon dan memberi isyarat agar dia bisa pulang lebih dulu. Irene pun mengerti dan bergegas pulang sendiri.
"Baik Pak, saya segera ke sana."
Aku memutus panggilan telepon dan bergegas masuk ke dalam lift. Melangkahkan kaki dengan cepat menuju ruangannya.
Tok-tok-tok!
"Masuk!" sahutnya dari dalam ruangan.
Aku masuk dan melihat Pak Reynand sedang berdiri memandang keluar jendela yang terbuat dari dinding kaca besar di hadapannya.
"Ada apa memanggil saya lagi, Pak?"
Pak Reynand menoleh sejenak, melangkah duduk di kursinya.
"Silakan duduk."
Aku mendudukkan tubuhku di hadapannya. Melihat wajahnya yang tampak serius. Matanya juga menatap dengan tajam.
"Saya tidak tahu apa motivasi kamu bekerja di perusahaan saya. Anak perempuan satu-satunya dari Bapak Agung Praja Kusuma yang mempunyai perusahaan sebesar itu bisa bekerja di perusahaan saya yang bisa dibilang adalah pesaing dari perusahaannya sendiri. Saya tidak ingin ada mata-mata di sini. Saya ingin mengingatkan kamu sekali lagi, saya paling tidak suka dengan orang yang berbohong dan berkhianat." Pak Reynand memperingatiku.
"Hebat sekali pengetahuan Bapak menganalisis saya sejauh itu. Saya tidak ada niat yang aneh-aneh, Pak. Saya hanya ingin bekerja di tempat lain dengan nyaman. Itu saja."
"Iya Pak. Masa saya bohong? Saya kurang loyalitas apa di perusahaan ini? Saya pikir Bapak memanggil saya karena ada hal serius tapi ternyata .... Ya sudahlah, saya pulang duluan." Aku beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkannya sendiri.
Pak Reynand hanya terdiam membisu tidak membalas perkataanku. Matanya masih menatapku tidak percaya. Biarkan saja dia berpikiran apa yang dia inginkan. Aku sama sekali tidak peduli.
Beberapa lama kemudian aku sudah ada di depan lobi. Ponselku tiba-tiba berdering. Kak Baruna meneleponku.
"Sudah pulang?" tanya Kak Baruna.
"Iya Kak. Aku sedang menunggu Kak Reza menjemputku."
"Oh .... Urusanku di sini ternyata lebih cepat selesai dari yang diperkirakan. Besok aku bisa pulang."
"Baguslah. Aku ikut senang kalau cepat selesai."
"Aku mandi dulu. Nanti aku hubungi lagi."
"Iya, Kak."
Kak Baruna lalu memutus sambungan teleponnya bersamaan dengan mobil Kak Reza yang berhenti tepat di depanku. Aku pun segera masuk ke kursi belakang.
__ADS_1
"Dek, kamu bisa kerja sama orang seperti itu?" tanyanya sambil mengemudikan mobil.
"Kesal sih, tapi nanti juga akan terbiasa. Tenang saja Kak."
"Ya sudah, kalau kamu masih bisa menanganinya, Kakak bisa tenang," sahut Kak Reza.
"Kapan Baruna pulang, Nak?" tanya Papa.
"Kemungkinan besok, Pa."
Papa hanya mengangguk mengerti. Dia tidak bertanya apa-apa lagi padaku. Kemudian kami bertiga hanya mengobrol ringan selama perjalanan menuju rumah.
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh saat kami sampai di rumah. Kak Reza memarkirkan mobilnya. Papa dan aku masuk ke dalam disambut oleh Mama yang langsung membawakan tas kerja Papa masuk ke dalam kamar.
Aku masuk ke dalam kamarku dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Tanganku meraih ponsel dan melihat beberapa kabar di media sosial.
Setelahnya, aku mendengar ponselku berdering, sebuah panggilan dari Tante Meri. Aku pun menjawab telepon darinya.
"Halo, Nak Sheryl."
"Halo Tante."
"Apa kamu sudah sampai rumah?"
"Sudah Tante. Ada apa ya Tante, malam begini telepon aku?"
"Tante hanya mau kasih tahu kamu kalau Melani sudah merancang beberapa gaun yang mungkin kamu suka untuk kamu pakai di pesta pernikahan nanti."
"Gaun pengantin?"
"Iya. Sebentar lagi kan kamu dan Baruna akan menikah. Memang waktunya sempit sih tapi Tante sudah bilang ke Melani untuk membuatkan beberapa rancangan agar kamu bisa pilih."
"Aku yang pilih ya, Tan?"
"Iya kamu yang pilih, 'kan kamu yang akan menikah. Kapan kamu bisa ke butiknya? Kalau bisa, lebih cepat lebih baik."
"Aku terserah Kak Baruna saja bisa kapan. Kami harus mencobanya berdua, bukan?"
"Oh iya ya, Baruna juga 'kan harus menyesuaikan pakaian ya. Tante hampir lupa. Ya sudah, nanti Tante sampaikan ke Baruna biar sama-sama berangkat ke butik Melani denganmu."
"Iya, Tante."
Tante Meri lalu menutup telepon. Aku duduk di tepi tempat tidur. Baru menyadari bahwa ternyata aku sama sekali tidak memikirkan tentang gaun pengantin dan pernikahan. Memikirkan acara pertunangan saja kepalaku rasanya sudah pusing apalagi pernikahan. Padahal acara pertunangan dan pernikahan kami sudah semakin dekat.
__ADS_1
Pikiranku melayang membayangkan Kak Baruna yang akan menjadi suamiku. Aku sungguh bingung tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bagaimana bisa aku akan menikah tanpa rasa cinta. Apa aku akan bahagia?