Marriage Order

Marriage Order
Tugas Terakhir


__ADS_3

Dua hari kemudian ....


Aku terbangun dari tidurku meraih ponsel yang terus berdering tidak ada hentinya. Kemudian mengerjapkan mataku berulang kali menyadari layar smartphone yang terus menyala menunjukkan ada sebuah panggilan masuk. Mataku tersentak kaget melihat nama di layar, Pak Reynand memanggil.


"Halo," ucapku.


"Astaga .... Sudah jam berapa sekarang?! Mengapa tidak juga datang?!" teriak Pak Reynand di sambungan telepon. Suaranya yang keras membuatku menjauhkan speaker ponsel dari telingaku.


Aku melihat jam di layar ponsel. Hari ini hari Jumat pukul sepuluh pagi.


"Saya hari ini izin tidak masuk Pak, saya sakit," ujarku pelan dengan suara yang sedikit serak.


"Sakit?" Nada suaranya merendah.


"Iya sejak kemarin saya tidak enak badan," keluhku.


"Jangan lupa berobat ke dokter," sahutnya pelan.


"I ...." Baru saja aku ingin menjawab, dia sudah mematikan sambungan teleponnya, membuatku dongkol.


"Aaarrggg! Sumpah ya ini orang ngeselin banget. Belum selesai bicara malah dimatikan seenaknya!" seruku kesal.


Tiba-tiba teleponku kembali berdering. Aku cepat-cepat mengangkatnya.


"Pasti dia lagi!"


"Halo!" teriakku.


"Halo sayang, semangat banget angkat teleponnya." Suara Kak Baruna terdengar lembut.


"Ma - maaf sayang, aku pikir Pak Reynand yang meneleponku."


"Ada apa dia meneleponmu?"


"Aku lupa memberitahunya kalau aku tidak masuk ke kantor hari ini."


"Oh .... Kamu masih demam?" tanya Kak Baruna cemas.


"Sudah tidak terlalu sih. Tapi suaraku masih serak begini."


"Mau ke dokter lagi?" tanya Kak Baruna.


"Tidak perlu. Obatnya masih ada." Aku melirik bungkusan obat yang tergeletak di meja lampu tidur. Baru kemarin berobat, masa iya harus berobat lagi?


"Ya sudah kamu istirahat sayang. Nanti sepulang kerja aku mampir. Kamu mau dibawakan apa?"


"Aku tidak ingin apa-apa, lidahku pahit."


"Cepat sembuh ya sayang. Aku mencintaimu."

__ADS_1


"Iya sayang. Aku juga mencintaimu."


Kak Baruna lalu memutus sambungan teleponnya. Aku beranjak malas dari tempat tidurku menuju kamar mandi.


Cuuur!


Air dari wastafel mulai mengalir. Aku membasuh wajahku yang tampak berminyak. Lalu bercermin sejenak, terdiam mematung memikirkan kata-kata Papa semalam. Dia bilang akan melakukan mediasi dengan keluarga Satya besok siang.


Malas? Tentu saja. Harus bertemu muka dengan orang sepertinya membuatku benar-benar muak. Tapi aku tidak bisa mengelak dari kata-kata Papa. Kak Baruna pun belum mengetahui rencana Papa besok.


Aku berjalan keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Tampak Mama yang sedang asik menelepon temannya. Televisi dibiarkan hidup begitu saja di hadapannya. Aku membanting tubuhku di atas sofa. Mama yang melihatku mengalihkan pandangannya sebentar lalu kembali mengobrol di telepon.


Aku meraih ponselku, tampak sebuah notifikasi pesan, dari Pak Reynand.


"Saya menuju rumahmu."


Sebuah pesan singkat, padat, dan jelas yang membuat mataku membulat. Ada apa dengannya? Tiba-tiba saja membuat keresahan di pagi hari. Sontak membuatku meneleponnya. Tidak lama kemudian, dia menjawab panggilanku.


"Saya dalam perjalanan menuju rumahmu."


"Ada apa Pak? Kenapa Bapak mau ke sini?"


"Hei ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan hari ini. Saya tidak bisa menunggu."


"Astaga! Apa lagi sih? Dia kan tahu kalau aku sedang sakit. Masa iya aku masih juga harus mengerjakan pekerjaanku?"


"Sungguh tidak berperasaan!"


"Saya sedang tidak enak badan dan masih harus bekerja di rumah?!" teriakku.


"Kenapa tidak? Proposal proyek untuk meeting hari Senin belum kamu selesaikan. Sedangkan kamu sudah tidak mau kembali ke kantor untuk bekerja. Lalu saya harus bagaimana? Kalau saya mengirim email belum tentu kamu kerjakan."


"Itu urusan Bapak. Kenapa tidak mencari sekretaris pengganti dari kemarin!" seruku kesal.


"Saya tidak mau tahu. Saya sudah dalam perjalanan menuju rumahmu."


Pak Reynand mematikan teleponnya. Aku menekuk mukaku kesal lalu beranjak dari sofa. Mama yang melihatku hanya diam kebingungan tidak tahu apa yang terjadi.


Aku bergegas mandi, otakku dipenuhi dengan kemarahan pada Pak Reynand. Dia membuatku mengumpat sepanjang pagi ini.


Setengah jam kemudian terdengar pintu kamarku diketuk. Aku membuka pintu dan melihat Mama berdiri di hadapanku.


"Nak, ada seseorang mencarimu. Katanya dia atasanmu di kantor."


"Iya Ma."


"Ya sudah temui dia. Dia membawa banyak makanan untukmu. Baik sekali dia, menjenguk bawahan seperti ini," ujar Mama sambil tersenyum.


"Iya baik kalau ada maunya Ma."

__ADS_1


"Hush .... Jangan suka berprasangka buruk dengan orang lain," ucap Mama menasihati.


Aku hanya mengangkat kedua sudut bibirku tersenyum paksa lalu melangkahkan kaki dengan malas menuju ruang tamu. Mama yang melihatku hanya menggelengkan kepalanya.


Aku menarik napas dalam-dalam melihat wajahnya. Kami terakhir bertemu dua hari yang lalu di kediaman Kak Daniel. Melihat wajahnya selalu membuatku ingin meninjunya sampai dia tidak berkutik lagi di hadapanku. Tapi lain dengan hari ini, dia tampak tenang menghipnotis pandanganku, duduk di atas sofa dengan mata yang fokus memandang layar laptopnya.


"Sudah lama?" tanyaku.


"Baru saja," jawabnya singkat.


"Mana tugas yang harus saya kerjakan?" tanyaku seraya mendudukkan tubuhku di atas sofa.


Pak Reynand memberikan laptopnya. Aku melihat proposal proyek yang sudah kukerjakan setengahnya. Aku lalu fokus mengerjakan tugas itu.


"Suaramu hampir habis," komentarnya mendengar suaraku yang serak.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Pandanganku tidak lepas dari layar laptop. Kepalaku terasa berat dan pusing. Aku lupa bahwa aku belum sarapan pagi ini.


Bi Ati datang membawa minuman dan cemilan ringan lalu menaruhnya di atas meja.


"Terima kasih Bi," ucapku pelan.


"Terima kasih ya Bi," tambah Pak Reynand.


Bi Ati mengangguk lalu berkata, "Mbak Sheryl, jangan lupa makan. Bibi kan sudah masak pagi ini. Kasihan lauk bibi di atas meja belum disentuh sama Mbak Sheryl."


Kepalaku mendongak menatap Bi Ati seraya tersenyum, "Iya Bibi sayang. Sebentar lagi ya."


Bi Ati segera meninggalkan kami yang hanya berdua di ruangan itu. Suasana hening tanpa kata-kata.


"Kamu belum makan?" tanyanya tiba-tiba.


"Iya tidak sempat. Bapak keburu datang bertamu. Huh," keluhku.


Pak Reynand memanyunkan bibirnya kesal, tidak menyangka kedatangannya akan membuatku benar-benar terganggu.


"Makanlah dulu. Pasti obatmu juga belum diminum. Bagaimana bisa konsentrasi mengerjakan tugas itu?" katanya tiba-tiba peduli padaku.


"Tumben baik-baik ngomongnya, ada apa nih?"


"Hei saya hanya peduli pada proposal itu. Daripada nanti kamu mengerjakannya dengan asal-asalan karena sakit, saya juga yang jadi susah," protesnya.


"Hah ... sudah saya duga, mana mungkin atasan sepertimu peduli pada bawahannya," sindirku.


Pak Reynand menatapku seraya berkata, "Bisakah kamu menyingkirkan segala pikiran negatifmu terhadap saya? Hari ini hari terakhirmu mengerjakan tugas dari saya."


"Semuanya sudah terekam jelas di otak, mana bisa dihapus begitu saja!" seruku.


"Bisa saja jika kamu melupakan semuanya. Anggap saja hari ini hari terakhir kita bertemu," sahutnya.

__ADS_1


Aku tidak menjawab kata-katanya. Pak Reynand juga memalingkan wajahnya menatap ke arah daun pintu ruang tamu. Aku memperhatikan daun telinganya yang memerah. Entah apa yang dipikirkannya.


__ADS_2