Marriage Order

Marriage Order
S3 Es Krim


__ADS_3

Sheryl Pov


Pukul 17.00


Aku masih berada di atas ranjang rumah sakit saat dering ponsel itu terus mengganggu. Dengan rasa malas segera meraih dan hanya memandangnya tak bersemangat.


"Siapa yang telepon? Baruna?"


Mama yang sedang duduk di sofa tak jauh dariku bertanya dengan pandangan mencecar. Aku menghela napas panjang, lalu mengangguk.


Baruna memang menelepon berkali-kali, tapi aku sedang tak ingin berbicara dengannya.


"Angkat, Nak! Kau sudah terlalu lama mengabaikan panggilannya," ujar Mama lagi. Seakan tahu kegusaranku, dia bangkit dari duduknya, "Mama akan meninggalkanmu sendiri agar kau bisa bebas berbicara dengannya."


Aku tidak menyahut, bola mataku memutar bergerak mengikuti langkah Mama yang beranjak keluar kamar. Tidak lama, ibuku itu pun menghilang dari pandangan mata. Aku kembali menatap layar ponsel yang menunjukkan gambar wajah Baruna. Dia begitu pantang menyerah hingga masih terus menelepon, padahal aku sudah mengabaikannya sejak pagi.


"Halo." Akhirnya aku menjawab panggilan itu dengan setengah hati.


"Akhirnya kamu mengangkatnya juga, Sayang." Bagaimana keadaanmu dan anak kita?" tanya Baruna di ujung telepon.


"Menurutmu? Apa kamu tidak sadar kalau kamu hampir membahayakan keselamatan calon anak kita."


"Maaf," sahutnya.


Aku berdecih lirih mendengar permintaan maafnya. "Apa lagi yang ingin kamu katakan agar bisa membuat kami celaka?"


Baruna tidak menyahut. Terdengar ******* napas panjang darinya, lalu dia berkata dengan suara lirih, "Sayang, maafkan aku. Semua terjadi begitu saja dan aku juga belum lama mengetahuinya."


Aku mendengus lalu menyeringai, "Belum lama, huh? Itu artinya kamu memang berniat menyembunyikan fakta itu dariku. Belum lagi dengan Felicia. Aku rasa sejak awal kalian berdua memang sengaja berbohong kepadaku." Aku menyindir dengan cukup menohok.


"Tolong jangan salah paham-"


"Dengan apa yang kulihat di lobi rumah sakit saat itu dan fakta kalau Rafa adalah anak kalian, bagaimana bisa aku tidak salah paham terhadap kalian?" Aku memotong perkataannya.


"Aku tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk di pernikahan kita." Baruna kembali membela diri. Membawa-bawa kata pernikahan yang seharusnya dilandasi oleh kejujuran.


"Aku istrimu. Tidakkah kamu menganggapku seperti itu?" Tanpa sadar, aku kembali meneteskan air mata, "sejauh mana hubungan kalian? Mengapa aku harus menghadapi masalah seperti ini saat kita sudah menikah?"


"Sher, aku mohon kamu mengerti posisiku. Aku akan menceritakan semuanya nanti di rumah."


"Jika aku memintamu datang sekarang juga, apa kamu bisa memenuhinya, Bar?"


Baruna tidak langsung menjawab. Aku sangat yakin, dia tidak akan bisa melakukan hal itu. Janjinya kepada Mama yang akan pulang secepatnya ke Indonesia tidak bisa ia penuhi.


"Pasti tidak bisa, 'kan? Kamu lebih memilih mereka." Aku mendengus lalu tersenyum pahit.

__ADS_1


"Maaf ...."


Tut!


Aku langsung mematikan panggilannya. Sudah kuduga, apa yang ia hanya ingin membuat perasaan Mama tenang saja dengan mengatakan hal itu. Pada kenyataannya, Baruna masih berada di Tokyo. Tak ada kata-kata kalau ia akan pulang sekarang kepadaku.


Kling!


Sebuah pesan chat masuk dari Baruna.


[Maaf. Aku tidak bisa pulang sekarang. Dokter akan melakukan tindakan padaku dan Rafael. Mungkin nanti malam hanya Bunda yang akan pulang ke Jakarta.]


Tangisku pecah. Aku mencoba mengerti dirinya. Namun tak ada satu alasan pun yang dapat membuatku memaklumi pilihannya.


Sesak sekali rasanya mendengar perkataan Baruna. Aku hanya bisa menghirup udara dalam-dalam, lalu membuangnya cepat. Di sini aku membutuhkan Baruna, tapi sosoknya malah memilih untuk berada di sana. Bersama Rafael dan Felicia.


Rasa panas di dalam hatiku merangkak naik hingga kepala. Aku menarik selimut. Dalam tangis membayangkan pernikahanku yang mungkin saja akan hancur karena pasangan ibu dan anak itu, sedangkan aku tidak bisa apa-apa karena hanya bisa berbaring di ranjang ini.


Kling!


Aku membuka selimut, mencoba menggapai ponsel yang ada di atas nakas. Pesan chat dari Reynand.


[Aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Apa kau ingin menitip sesuatu, biar nanti aku bawakan?]


Rey ... mengapa dia selalu hadir di saat seperti ini?


[Bisakah kau membawakanku es krim?]


***


Reynand Pov


Aku berada di sebuah supermarket tidak jauh dari rumah sakit tempat Sheryl dirawat. Setelah tadi pagi sempat menjenguknya, aku memutuskan untuk kembali melihat keadaannya sore ini.


Sambil berjalan di antara rak-rak barang, aku meraih ponselku dan mengetikkan sebuah pesan chat untuk Sheryl.


[Aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Apa kau ingin menitip sesuatu, biar nanti aku bawakan?]


Tidak menunggu waktu lama, pesan balasan darinya pun tiba.


Kling!


[Bisakah kau membawakanku eskrim?]


Es krim?

__ADS_1


Aku mengernyit membaca pesan chat itu. Dia tidak seperti biasanya dan tanpa ragu meminta sesuatu dariku. Dengan segera, aku mencoba meneleponnya untuk bertanya lebih lanjut, tapi sayang ia tidak mengangkatnya sama sekali.


"Ada apa dengannya?" gumamku kemudian tanpa ragu segera beranjak menuju pusat es krim berada.


.


.


.


Sambil membawa sekantung penuh es krim, aku berdiri di depan kamar rawat Sheryl. Dalam hati sedikit cemas akan bertemu Baruna di dalam sana, tapi kuberanikan diri untuk mengetuk pintu. Toh, dia seharusnya punya malu untuk datang karena telah menyakiti istrinya.


Ceklek!


Pintu itu terbuka. Bukan Tante Rini atau Om Agung yang membukanya, melainkan Reza. Sepertinya ia belum pulang ke rumah. Reza masih mengenakan kemeja kerjanya. Dia menatapku dengan kening mengerut.


"Loh, Rey? Sedang apa lo di sini?" tanyanya lalu mengarahkan pandangan pada kantung plastk yang kubawa.


"Gue ...."


Aku belum sempat melanjutkan perkataanku, saat tiba-tiba suara Sheryl terdengar memanggil kakaknya.


"Kakak ...."


Reza langsung menoleh ke belakang. "Ya, Dek?"


"Siapa yang datang?" tanya Sheyl lagi.


"Reynand," jawab Reza kemudian mengalihkan perhatiannya yang lagsung menoleh kembali ke arahku, "masuk!"


Aku menarik segaris senyum. Reza tampak tak berekspesi, memutar badan beringsut masuk. Aku segera mengikutinya dari belakang. Kakak kandung Sheryl itu tidak berkata apa-apa lagi dan langsung saja duduk di atas sofa.


Sheryl tampak duduk sambil bersandar pada bantal di belakangnya. Tatapan matanya tampak tidak bersemangat, tapi ia tetap memperlihatkan seulas senyumnya kepadaku.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyaku.


"Sudah lebih baik dan aku berharap bisa pulang esok hari."


"Syukurlah. Tapi jangan terlalu dipaksakan, ya," kataku lalu menyodorkannya kantung plastik yang sejak tadi kubawa.


"Apa ini?" tanya Sheryl seraya meraihnya.


"Es krim untukmu. Tadi kau bilang ingin eskrim, bukan?"


Sheryl melongok ke dalamnya. Bola matanya tampak melebar. Wanita itu lalu mengangkat wajahnya menatap terkejut.

__ADS_1


"Kau gila, ya! Bagaimana bisa aku menghabiskan es krim sebanyak ini?!"


Aku hanya mengulas senyum sambil mengangkat bahu. Karena bingung akan membeli es krim apa, aku hampir memborong semua jenis es krim yang ada di sana. Hanya untuknya.


__ADS_2