
Reynand Pov
"Kau mendukungku, 'kan?"
"Iya, Kak. Cerewet sekali, sih!"
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja. Kau itu pendukungku atau Mama." Aku memanyunkan bibir kesal, lalu terduduk di meja kerja Mama dengan ponsel yang masih menempel pada telinga.
"Tidak, Kak Rey. Aku mendukungmu seratus persen. Kalian harus menikah apapun yang terjadi!"
Aku mengembuskan napas berat. Teringat bagaimana Sheryl tadi memperingatkanku kalau hubungan kami akan berakhir jika tak juga mendapatkan restu.
"Tapi sheryl tak berkata demikian. Hubungan kami akan berakhir jika Mama tak juga memberikan restunya. Dia berubah pesimis walau dia berkata mencintaiku."
"Haish! Bukankah posisi kalian sama? Di samping itu, apa yang sudah Kak Rey lakukan untuk mendapatkan hati Papanya?!" Suara Indira berubah marah.
"Om Agung masih bersikap dingin saat aku datang ke rumahnya. Sepertinya ia benar-benar membenciku," sahutku tertunduk.
"Kalian ini benar-benar ...." Indira menggantung kalimatnya, terdiam beberapa saat, "mengapa tak meminta dukungan Ayah Kak Rey saja. Semua ini 'kan terjadi tak lepas dari campur tangannya."
"Entahlah, aku hanya tak ingin melibatkan Ayah ...." Aku kembali membuang napas berat, lalu mengalihkan pembicaraan kami, "nanti sepulang kerja datanglah ke kantor, jemput Sheryl dan ajak ia pergi jalan-jalan. Aku tak tega melihat wajahnya selalu tegang saat berhadapan dengan Mama."
"Mengapa bukan Kak Rey saja yang mengajaknya pergi?"
"Hari ini tak bisa, Dir. Sore ini, Kakak akan bertemu dengan seorang klien. Tak bisa diprediksi akan selesai jam berapa."
"Okay. Kebetulan sekali aku sedang dalam perjalanan menuju kantor Pradipta."
"Jangan sekarang. Ini masih jam kerja, Dira."
"Tidak usah khawatir. Bukan hanya aku dan Sheryl yang akan pergi, tapi kami akan pergi bersama Mama. Jadi, Kak Rey tenang saja."
Tut!
"Dira!" Aku hampir berteriak, tapi Indira keburu mematikan panggilannya.
Haish! Apa-apaan dia! Bukannya membuatku tenang, malah membuatku makin cemas.
***
Sheryl Pov
Pintu lift terbuka. Aku buru-buru keluar, melangkah dengan tergesa. Tante Aina pasti belum pergi jauh. Aku harus mengejarnya.
"Sher! Sheryl!"
Langkahku terhenti kala mendengar seseorang yang berteriak memanggil. Berbalik. Irene menyunggingkan senyum berjalan ke arahku.
"Ada apa, Ren?"
"Lo mau ke mana, Sher? Buru-buru banget."
__ADS_1
"Gue mau kejar bos gue lah. Hapenya ketinggalan."
"Cie ngejar-ngejar camer," goda Irene dengan suaranya yang cukup keras.
Aku membeliak, sontak menoleh ke sekeliling. Beberapa orang tampak mengarahkan pandangan kepada kami. Segera, aku menempelkan telunjuk pada bibir Irene yang tak bisa menjaga rahasia hubunganku dan Reynand.
"Sial! Gak usah teriak-teriak deh, Ren!"
Irene langsung mengatupkan bibirnya. Wanita di hadapanku ini memang telah mengetahui hubungan kami. Tidak! Aku tidak menceritakan apa-apa kepadanya. Ya, setidaknya sebelum peristiwa yang sangat memalukan terjadi di hari itu, hari pertama aku masuk kerja. Tanpa sengaja, Irene memergoki kami di dalam lift berdua saja. Mungkin itu hal yang biasa jika kami hanya berdiri mematung sibuk dengan pikiran masing-masing. Sayangnya saat itu Reynand kedapatan mengecup dahiku di dalam lift yang tiba-tiba terbuka.
"O-o... so-sorry, Sher," ujar Irene yang langsung membuyarkan isi kepalaku.
"Ck! Kalau ngomong lagi, gw plester mulut lo!"
Irene tak menyahut. Sedetik kemudian, wanita itu mengekeh sangat keras seolah perkataanku sangat menggelikan. Mulutku mengerucut kesal. Tanpa memedulikannya lagi bergegas pergi.
Aku mendelik. Tante Aina terlihat di sana. Berdiri di teras lobi. Entah siapa yang sedang ia tunggu. Aku mempercepat langkah, menghampirinya.
Ketika jarak kami terpaut setengah meter, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan teras lobi. Pintu mobil terbuka. Indira turun dari pintu kemudi.
"Sheryl."
Indira menyebut namaku dengan lantang dan lengan yang melambai. Saat itu juga Tante Aina menoleh ke belakang. Tampak sedikit terkejut mendapatiku di sana.
"Ada apa lagi?" tanyanya tanpa menyebut namaku. Begitulah ia yang tak juga menganggapku.
"Maaf, Bu. Ponselnya tertinggal," kataku seraya memberikan ponselnya.
"Tidak. Tadi Pak Rey yang menjawabnya. Dia datang ke ruangan mencari Anda."
"Ya, baiklah. Terima kasih," katanya seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menoleh Indira, "ayo kita pergi, Dir!"
Indira tak langsung menjawab Mamanya. Dia malah menolehkan pandangannya kepadaku, "Tunggu, Ma."
Kening tua itu mengerut. "Apa lagi?"
"Sheryl boleh ikut, 'kan?"
Seketika pandanganku membulat terkejut mendengar perkataan Indira. Tante Aina langsung melirik ke arahku.
"Dia masih berada di jam kerja, Dira. Tak bisa meninggalkan mejanya."
Indira yang seolah tak peduli dengan jawaban Tante Aina tiba-tiba menggamit lenganku. Ia memasang senyum dan langsung merayu dengan sangat manis, "Oh ayolah, Mam. Mama adalah bosnya. Tak ada yang tak mungkin untuk seorang bos. Lagipula, kepergian kita masih ada kaitannya dengan Kak Rey."
Tante Aina kembali menatap. Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyahut dengan sikapnya yang dingin, "Terserah kau saja!"
Aku terperangah mendengar jawaban itu. Dengan langkah cepat ibu kandung Reynand membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil sedan Indira.
Indira masih menyunggingkan senyumnya menatapku. "Ayo, Sher!"
"Kita mau ke mana, Dir?" tanyaku bingung.
__ADS_1
Belum sempat menjawab, ponselku berbunyi. Aku meraih ponselku, mendapati nama Reynand pada layar. Tanpa aba-aba, Indira merebutnya.
"Kau tak ada waktu menjawab telepon itu. Mama akan marah jika menunggu terlalu lama," katanya sontak menoleh Tante Aina yang sudah duduk di dalam mobil.
Tak memiliki pilihan lain, aku terpaksa mengangguk. Indira bergegas membuka pintu kemudi. Aku mengekor, membuka pintu sisi satunya.
"Duduk di belakang, Sher!" sergah Indira tiba-tiba.
"Ta-tapi-" Aku hendak menyanggah, tapi dengan cepat Indira memotong.
"Temani Mamaku duduk di belakang."
Deg!
Apa-apaan dia! Mengapa bersikap seperti ini?
Ya. Pada akhirnya aku menurut. Duduk di samping Tante Aina yang menjaga jarak dariku. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya. Dia tetap duduk tenang tanpa sekali pun tergoda untuk berbicara sepanjang perjalanan kami. Sementara, Indira yang mengemudikan mobil tampak tak acuh. Ia seolah memberikan kami waktu untuk bisa dekat satu sama lain.
Kling!
Sebuah pesan masuk ke ponselku.
Reynand : [Mengapa kau tidak juga kembali? Apa kau memutuskan untuk pergi bersama Dira dan Mama?]
Bagaimana bisa Reynand tahu? Ah, mungkin Dira yang memberitahunya, batinku.
Aku : [Apa ini rencanamu?]
Reynand : [Tidak sama sekali. Sikap Dira cukup membuatku cemas.]
Aku : [Kuharap mood Mamamu bagus hari ini, Rey. Aku sedikit takut ia akan memakanku dengan perkataannya.]
Reynand : [Kau sangat berlebihan, Sayang. Anggaplah ia sebagai ibumu.]
Membaca pesan chat terakhir Reynand membuatku tercenung. Seperti langit dan bumi. Bagaimana bisa ia menjadi ibu kandung Reynand yang memiliki senyum manis dan merekah, sementara ibunya selalu memasang wajah masam kepadaku?
"Ternyata hubungan kalian cukup kuat. Kalian belum juga menyerah."
Suara sedikit parau itu sontak membuatku menoleh ke samping. Bola mata kami saling bertemu, tepat pada pandangan matanya yang menajam.
"Kami tidak akan putus semudah itu," sahutku.
"Meski tanpa restu saya?" Tante Aina mengangkat sebelah alisnya.
"Mungkin bagi Anda, saya hanya akan terus mempermainkan hati Reynand. Tak apa jika Anda masih menilai seperti itu. Namun yang pasti, kami telah sepakat untuk tak akan menikah tanpa restu Anda."
"Jangan membuang-buang waktumu untuk sesuatu yang mustahil, Sheryl. Rey tidak akan bahagia denganmu." Tante Aina memperingatiku lagi.
"Semua harus diperjuangkan, bukan? Selama kami terus bersama, itu akan selalu menjadi kekuatan untuk cinta kami yang terus bertumbuh." Aku menimpali Tante Aina bersamaan dengan suara detak jantung yang makin menjadi. Keberanian itu muncul tiba-tiba.
"Ma, cukup! Aku lelah mendengar pembicaraan kalian. Tolong lembutkanlah hati Mama. Berikan mereka kesempatan." Indira tiba-tiba menyela pembicaraan kami.
__ADS_1