
Reynand Pov
Hari H pernikahan....
Aku serius. Walau belum mendiskusikannya pada Mama dan Sheryl, aku sangat serius dengan ucapanku kepada Baruna dan Felicia saat itu. Setelah menikah, aku berencana untuk pindah keluar negeri membangun bisnisku dengan Diamond Smith Company yang sempat kutinggalkan.
London. Aku akan kembali ke kota itu dan berencana membangun keluarga kecil kami di sana.
Aku menoleh ke arah pintu kamar hotel saat mendengar seseorang mengetuknya dari luar. Farhan yang saat ini bersamaku kemudian berbalik membukakan pintu.
"Tante cantik sekali."
Aku sontak menoleh, mendapati Mama yang sudah berpenampilan cantik berdiri di sana.
"Terima kasih, Han. Mana putraku?"
"Di sana," tunjuk Farhan.
Mama pun melangkah masuk. Aku meraih setelan jas pengantinku dan memakainya.
"Gue tinggal lo berdua ya, Rey!" ujar Farhan yang langsung bergegas keluar.
"Iya, Far." Aku mengangguk. Mama beringsut menghampiri. Aku berbalik mematut penampilan terbaikku di depan cermin.
"Mama sudah siap?"
"Kelihatannya bagaimana?"
"Ehm, kupikir seorang wanita selalu berdandan lebih lama dari seorang pria," sahutku seraya melihat arloji yang melingkar di tangan. Satu jam lagi aku akan menikah dengan Sheryl.
Mama mendengus lalu tersenyum memperlihatkan sedikit barisan giginya. "Sepertinya itu tak berlaku jika harus dibandingkan denganmu, Rey. Kau selalu tampak necis dengan setelanmu."
Aku mengekeh pelan mendengar pendapat Mama yang memang sangat memahamiku meski kami sudah tak tinggal dalam satu atap.
"Semua orang ingin memperlihatkan penampilan terbaik dari dirinya. Apalagi, ini hari yang sangat spesial untukku."
"Oh, oke." Mama mengangguk-angguk. Dia kemudian membantuku mengancingkan jas berwarna coklat yang kukenakan. Aku dapat merasakan napasnya yang berembus begitu berat seolah ada sesuatu yang mengganggunya. "Apa kalian memang harus pergi meninggalkan Mama sendirian di Jakarta?"
"Oh ayolah, Ma. Kita sudah membicarakannya."
__ADS_1
"Ya memang, tapi apa tidak berlebihan jika kalian pergi hanya untuk menghindari pasangan itu?"
"Aku harus memastikan tak ada lagi bahaya yang akan menimpa kami. Mama tahu, ikatan keluarga tak akan bisa dihindari. Walau aku baru mengenal Ayah beberapa tahun ini, selamanya aku merasa akan menjadi bagian dari keluarganya. Namun sayangnya, hal itu malah menjadi sebuah beban untukku. Malah dengan tinggal di sini aku jadi sering merasa was-was. Apalagi setelah tindakan Felicia malam itu. Ia memiliki temperamen yang buruk. Menurutku Felicia akan selalu memiliki perasaan iri dan dengki kepada Sheryl."
"Tapi dia sudah meminta maaf kepada kalian. Kalian pun sudah sepakat memaafkannya. Jangan tinggalkan Mama, Rey. Kau putra Mama satu-satunya...." Mama menatapku dengan raut sedihnya.
Aku balas menatapnya iba. "Entahlah. Aku hanya ingin meninggalkan perasaan itu dengan pergi memulai hidup baru kami ke suatu negara asing. Di sini, ada Dira yang akan menemani Mama. Jadi Mama tak perlu khawatir akan hal itu."
"Perusahaan membutuhkanmu, Rey." Mama masih berusaha menghentikanku.
"Aku bisa berkantor di sana atau melakukannya secara daring." Aku menjawabnya dengan santai.
"Kelihatannya kau benar-benar tidak tergoyahkan," ucap Mama akhirnya mengalah.
Aku kembali mengekeh, lalu memeluk Mama. "Kami akan sering berkunjung, Ma. Lagipula kota Jakarta adalah kota kelahiranku. Entah berapa lama kami akan merasa kerasan di sana."
"Kau harus janji!"
Seketika Mama mengulurkan jari kelingkingnya. Aku menyengih menatap jari kelingking Mama yang tampak siap menaut. Sebuah cara mengikat janji seperti anak kecil sepertinya tak akan mudah punah hingga kita berusia dewasa. Tatapan Mama makin terlihat memelas. Aku mengangguk, lalu mengangkat jemariku. Dalam waktu singkat, kami membuat janji itu.
"Lalu bagaimana dengan Sheryl? Apa dia setuju?"
***
Sheryl Pov
Pesta. Lagi-lagi pesta. Setelah pesta ulang tahun Reynand. Satu bulan setelahnya adalah acara pernikahan kami. Dan kini, aku berdiri di depan cermin, mematut diri berpenampilan cantik dengan gaun pengantin putih yang melekat di tubuhku.
Jantungku terus berdebar-debar, gugup. Hari ini Reynand akan resmi menjadi suamiku. Aku sangat bahagia, tapi ada satu hal yang masih membuat hatiku mengganjal dan tentu saja khawatir. Keputusan Reynand untuk pergi membawaku meninggalkan negara ini. Kami akan tinggal di luar negeri. Aku akan meninggalkan keluargaku, entah sampai kapan.
"Sheryl, apa kau sudah siap?" Mama tiba-tiba saja muncul. Aku meliriknya dari cermin, lalu berbalik.
"Sudah, Ma."
Mama menyunggingkan senyumnya, lalu menggandengku berjalan keluar kamar. Di luar, aku melihat Papa menunggu kami. Ia melihatku dengan tatapan takjub.
"Putri Papa cantik sekali. Andai kau bukan putri Papa, mungkin Papa sudah jatuh cinta," godanya yang langsung membuatku mengekeh. Mama langsung mencubit pinggang Papa.
"Kamu jangan menggodanya, Sayang. Walau ini pernikahan keduanya, kau bisa lihat sendiri bagaimana gugupnya ia sekarang." Mama membelaku.
__ADS_1
Papa gantian mengekeh. Ia memelukku dengan hangat. "Tenanglah, Sheryl. Semuanya pasti akan berjalan lancar."
"Iya, Pa. Aku tahu." Aku mengangguk-angguk. Papa mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu mengusap bahuku pelan.
"Walau nantinya kau akan tinggal jauh dari Papa dan Mama, kami akan selalu merindukanmu, putri kami yang sangat kami sayangi."
"Papa...," ucapku perlahan. Perkataan Papa sungguh membuatku merasa sedih sekaligus terharu. Di saat itu juga, aku tak dapat menahan air mata yang langsung meluruh membasahi pipi.
Mama segera menyeka air mataku. Mengingatkanku kalau hari ini adalah hari bahagia kami. Aku tak boleh menangis bahkan di depan kedua orang tuaku sendiri. Satu fase perulangan dalam hidup akan kembali kujalani. Namun bukan kembali bersama Baruna, aku memilih Reynand menjadi pelabuhan terakhirku.
Akhirnya aku dan Reynand mengikat janji suci kami di depan keluarga dan pemuka agama. Kami benar-benar menjadi pusat perhatian. Masa lalu tak akan pernah benar-benar menghilang. Ada saja yang masih membahasnya, tapi kami tak ingin memedulikan hal itu lagi. Perasaan kami adalah milik kami. Dan kami memilih untuk bahagia bersama mulai hari ini.
"Happy wedding!"
"Selamat menempuh hidup baru!"
"Semoga selalu berbahagia!"
"Selamat menikah!"
Berbagai ucapan selamat dan doa tulus dari para tamu undangan menjadi dorongan kebahagiaan tersendiri bagi kami. Apalagi melihat semuanya datang dan ikut bergembira. Tak terkecuali Baruna dan Felicia yang datang ke pesta ini. Mereka bergandengan menghampiri singgasana pengantin di ballroom hotel.
"Selamat, ya." Baruna langsung memeluk saudara tirinya.
"Terima kasih, Bar." Reynand tersenyum, tampak sangat bahagia.
Baruna lalu mengerling ke arahku. Melengkungkan garis senyum tipis di wajahnya. "Kamu juga, Sher. Happy wedding!" katanya seraya mengulurkan tangan, mengajakku bersalaman.
"Terima kasih, Mas." Aku mengangguk, membalas senyum dan salamnya.
Baruna kemudian berlalu. Gantian Felicia yang berdiri di depanku. Menatapku dengan senyumnya yang terlihat tulus. Dia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya tiba-tiba saja ia menarikku dalam pelukannya. Tak lama, aku mendengar tangisnya pecah. Mendengar tangisan itu, jantungku sontak berdebar sangat kencang. Aku takut ia mengacaukan acara spesial kami.
Seolah tahu kegelisahanku akan wanita gila yang hampir membunuhku itu, Reynand sontak meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Sheryl, aku benar-benar minta maaf. Tolong maafkan aku. Aku ingin kita bisa akrab seperti dulu," ucap Felicia sesegukan.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan. Dengan segera mengurai pelukan Felicia. Mencoba menatap hangat bola mata yang sempat menantangku dengan penuh kebencian.
"Aku sudah memaafkanmu, Fel. Ya, semoga kita bisa kembali akrab seperti dulu."
__ADS_1