Marriage Order

Marriage Order
Perdamaian?


__ADS_3

Aku melihat Kak Daniel membawa sebuah nampan berisi dua gelas minuman dengan berbagai makanan kecil di tangannya. Dia meletakkannya di atas meja ruang tamu.


Aku melongok minuman itu. Gelas itu berisi minuman hangat berwarna kekuningan. Wanginya benar-benar khas rempah-rempah tradisional. Aku dan Kak Baruna saling menatap heran.


"Apaan ini Niel?" Kak Baruna melihat gelas itu dengan tatapan bingung.


"Jamu untuk daya tahan tubuh Bar," jawabnya singkat.


"Buat apaan?


"Diminumlah. Nanti gue mau jual di restoran gue. Sekarang kan lagi zaman banyak penyakit berbahaya jadi harus pinter-pinter jaga kesehatan. Yah salah satunya dengan minuman herbal ini."


"Dapet ide dari mana Niel?" Kak Baruna mengernyitkan dahinya makin heran.


"Dapet Ilham dari dokter online favorit gue. Dokter Quin. Dia rekomendasiin minuman rempah herbal untuk daya tahan tubuh. Oh iya ngomong-ngomong dia juga penulis novel aplikasi online. Kalo lo mau baca judulnya 'Meadow', terus ada satu lagi 'Love, Revenge, and The Sea'. Dua-duanya bagus banget. Lo harus wajib baca," jelas Kak Daniel berapi-api bagai seorang duta promosi perusahaan.


Aku dan Kak Baruna terbengong-bengong melihatnya yang sedang promosi itu lalu tertawa terbahak-bahak. Dari minuman ke novel itu tidak ada kaitannya sama sekali. Hal itu yang membuat kami tertawa. Kak Daniel yang melihat reaksi kami langsung diam tidak meneruskan kata-katanya. Dia kecewa melihat reaksi kami.


"Daniel, resto lo itu kan restoran barat. Masa lo mau taruh menu jamu. Ada-ada aja lo," kata Kak Baruna di sela-sela tawanya.


"Ya gak apa-apa jugalah. Gue kan juga cinta negara gue. Bolehlah gue masukin menu jamu. Banyak yang nyariin nih Bar," sahut Daniel.


"Iyalah lagi musim virus berbahaya. Apalagi dengar-dengar kandungan curcuma bisa menghalau pertumbuhan virus," ujar Kak Baruna.


"Nah itu, gue mesti ambil kesempatan ini untuk membuat menu-menu baru berkaitan dengan pencegahan virus."


"Boleh jugalah ide lo itu. Jadi ingin bisnis kuliner juga. Menurut kamu gimana sayang?" Kak Baruna melirik ke arahku.


"Boleh dong sayang," jawabku tersenyum.


"Wah kalian mau jadi saingan gue? Jangan dong. Gue kasih tahu resep jamu pria dewasa aja buat lo yang mau married Bar."


Kak Baruna tersentak kaget mendengar kata-kata sahabatnya yang tiba-tiba mengaitkan jamu laki-laki dengan married. Aku yang mendengar kata-kata Kak Daniel ikut terkejut memperkirakan mau dibawa ke mana arah pembicaraan itu.


"Enggak perlulah pakai jamu-jamuan begitu. Gue kurang laki-laki apa coba?"

__ADS_1


"Ngomong tanpa bukti hoaks. Lo lihat gue udah terbukti bisa menghamili Dira."


"Ya beda dong, gue kan belum nikah sama Sheryl," bantah Kak Baruna.


"Ya ampun Bar, lo polos banget sih jadi cowok. Lo ...." Kak Daniel tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena tersadar melihat rona wajahku yang memerah.


"Aku mau pipis. Di mana toiletnya," kataku menyela menghindari obrolan mereka yang semakin menjurus.


"To - to -toiletnya di sana. Kamu lurus aja terus belok ke kanan. Toilet ada di sudut sebelah kiri," jawab Kak Daniel gugup.


Aku beranjak dari tempat dudukku menuju toilet. Sepanjang langkah, obrolan mereka berdua mampir di otakku. Jantungku berdetak kencang, wajah pun mulai memerah panas mendengarnya.


"Huh bisa gila aku jika terus berada di antara obrolan mereka. Kak Daniel juga kenapa membicarakan hal seperti itu kepada pria lajang. Mengajari hal yang bukan-bukan saja."


Aku memegang handel pintu toilet yang tertutup, mendorongnya, tapi tubuhku malah tertarik masuk ke dalam. Seorang pria sedang memegang handel pintu dari dalam. Kami saling bertubrukan. Wangi parfum yang kukenal mulai tercium, perpaduan wangi woody dan elemen fruity yang elegan dan manis itu berhasil menghipnotisku seketika yang bersandar dalam dadanya yang bidang.


Mata Pak Reynand melirik ke bawah melihatku yang menempel dalam dadanya. Dia hanya diam tidak bergerak sampai aku tersadar, mendongakkan kepalaku ke atas bertemu muka dengan wajahnya. Sontak aku menarik tubuhku menjauh darinya. Wajah kami sama-sama merona merah malu. Aku buru-buru berjalan cepat masuk ke dalam toilet.


Bodohnya diriku, mengapa tidak kuketuk dahulu pintu itu? Sekarang jantungku berdebar hebat hampir copot rasanya, rona merah malu ini pun masih betah mewarnai kedua belah pipi dan tubuh pun ikut merasakan gemetar hebat bagai habis melihat penampakan.


"Wah tidak di mana-mana kita selalu bertemu ya Sher?"


"Sepertinya Bapak yang menguntit saya."


"Menguntit? Saya kira kamu yang menguntit saya. Mencium aroma tubuh saya saja kamu bisa lupa dengan segalanya," ejeknya sambil tertawa.


Wajahku kembali memerah, aku kehabisan kata-kata untuk membalasnya karena memang itu yang barusan kurasakan tadi. Aku memanyunkan mulutku kesal lalu berjalan dengan tergopoh-gopoh meninggalkan Pak Reynand menuju ruang tamu. Pak Reynand hanya menatap sambil tersenyum.


Kak Baruna dan Kak Daniel heran melihatku berjalan dengan terburu-buru. Aku menundukkan kepalaku, berusaha menyembunyikan rasa malu dan kesal yang datang bersamaan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Kak Baruna.


Belum sempat aku menjawab, Pak Reynand dan Indira muncul dari dalam ikut bergabung di ruang tamu bersama kami. Aku menoleh ke arah mereka dengan wajah masih kutekuk kesal.


"Wah kumpul semua," sambut Indira lalu dia menoleh ke arahku. "Lo kenapa Sher? Lagi kesal?" tanya Indira menyadari ada yang aneh dengan raut wajahku.

__ADS_1


"Lagi pms," jawabku asal.


"Oh ... maaf ya kalau tempat ini enggak nyaman buat kalian," ujar Indira.


"Enggak kok Dir. Bukan itu cuma lagi gak nyaman aja sih perutnya," sahutku mengalihkan perhatian.


Kak Baruna menoleh ke arahku cemas, "Kamu gak apa-apa sayang? Tadi perasaan baik-baik saja."


"Tidak sayang. Aku tidak apa-apa. Nanti juga hilang sendiri," jawabku cengar-cengir.


"Oh oke deh kalau tidak ada masalah." Kak Baruna menganggukkan kepalanya mengerti lalu mengapa Indira, "Hai Dir."


"Hai Bar." Indira membalas salam Kak Baruna. "Maaf tadi gak sempet ikutan ngobrol. Lagi mual terus."


"Iya gak apa-apa. Gue maklum kok. Kayaknya waktunya kurang tepat untuk gue dan Sheryl bertamu ke sini." Kak Baruna mengerlingkan matanya ke arah Pak Reynand.


Kak Daniel yang mengatahui maksud kata-kata sahabatnya itu langsung menyuruh kedua pria itu untuk duduk di antaranya. Menoleh sejenak ke arah masing-masing kedua pria tampan itu. Aku ikut memperhatikan Kak Daniel yang sedang berwajah serius itu.


"Capek gue lihat kalian berdua kayak kucing dan anjing terus kalo ketemu. Apa susahnya sih berdamai?" protes Kak Daniel.


Kak Baruna dan Pak Reynand hanya terdiam. Raut wajah mereka berubah datar dinasehati seorang Daniel Wisnu Wirawan.


"Wow, pakai magic apa Kak Daniel bisa membuat kedua pria itu duduk bersama?"


"Damai untuk apa? Gue enggak ada masalah apa-apa sama Reynand," ujar Kak Baruna.


"Gue juga enggak ada masalah Niel," sahut Pak Reynand mengangkat sebelah alisnya.


"Oke kalau lo berdua enggak ada masalah. Lo harus jabat tangan. Pandang mata masing-masing. Saling minta maaf," kata Kak Daniel tegas.


Kak Baruna bersiap mengulurkan tangannya tapi Pak Reynand malah bangkit dan melangkah berjalan meninggalkan kami dengan gayanya yang angkuh.


"Rey, kok pergi?" panggil Kak Daniel.


"Gue masih ada kerjaan," jawabnya seraya melambaikan punggung tangannya.

__ADS_1


"Tuh kan Niel, dia itu yang cari gara-gara." Kak Baruna menatap geram ke arah saudara tirinya.


__ADS_2