
Reynand Pov
Aku melihatnya kembali menangis. Entah sejak kapan ia menahannya. Apa sejak aku datang?
"Sheryl, kau menangis?" tanyaku dengan suara lirih. Tak ada sahutan darinya, selain isak tangis yang memilukan.
Tak ada jawaban darinya. Aku tidak peduli lagi. Meski dia kerap kali menolak, aku memberanikan diri melangkah mendekat. Sedetik kemudian Sheryl sudah berada dalam pelukanku. Dia tidak menolak. Sheryl bahkan menangis lebih keras dari yang pernah kulihat.
Cukup lama aku meletakkan kedua telapak tanganku di punggungnya. Sesekali mengusap pelan padanya. Tiba-tiba dia menarik dirinya menjauh. Perlahan mengerjapkan matanya hingga sisa air mata itu turun menggelinang bebas menelusuri kedua belah pipinya yang mulus.
"Maaf," katanya yang makin membuat jantungku berdetak kencang. Posisinya yang masih sangat dekat membuatku tanpa ragu kembali merangkul dan memeluknya.
"Rey?" Dia menyebut namaku dengan nada terkejut.
"Aku tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini. Mengapa kau sangat keras kepala hingga tak mau membagi apa yang kau rasakan kepadaku?" ucapku.
"Rey ...."
Hanya lirihan yang terdengar dari mulutnya. Tidak lama, ia benar-benar mengurai pelukanku. Dengan cepat, Sheryl menyeka air matanya dan membagi seulas senyum kecil untukku.
"Maaf telah membuatmu repot, Rey. Sungguh! Aku tidak ingin membuatmu ikut masuk dalam permasalahan rumah tanggaku."
"Bukankah aku memang sudah terlanjur masuk ke dalamnya? Aku ingin memastikan kebahagiaanmu setelah apa yang terjadi. Baruna tidak layak mendapatkan cintamu," sahutku kepadanya.
"Dia suamiku dan aku mencintainya." Sheryl menimpali perkataanku dengan air muka keberatan.
"Kau boleh mengaku seperti itu, tapi cintamu kepadanya tak seharusnya membuat dirimu sedih."
Setelah ucapanku itu, Sheryl terdiam. Mulutnya bungkam seribu bahasa, tapi air mukanya tampak memikirkan sesuatu. Tidak lama, dia menarik sebuah senyum kecut dan membuka mulutnya.
"Sepertinya aku memang tidak pantas berbahagia. Semua terjadi begitu saja padahal kami baru sebentar saja merasakan manisnya bulan madu, lalu hadir bocah itu dan mengacaukan segalanya."
"Bocah?" Aku mengernyit bingung.
"Tidak. Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memikirkannya. Aku hanya asal berbicara."
"Tidak. Kau tidak mungkin asal berbicara. Bocah siapa yang kau maksud Sheryl?"
Sheryl hanya menatap tanpa jawaban. Namun aku tahu tatapan itu memancarkan kecemasan dalam hatinya.
"Ya, sudah. Kalau kau tidak ingin mengatakannya kepadaku." Aku mengembuskan napas berat, lalu menarik sedikit senyuman kecut di depannya.
__ADS_1
"Maaf, Rey," katanya sekali lagi.
.
.
.
Keesokan harinya ....
Jam hampir memasuki waktu makan siang saat aku dan Mama tiba di pelataran parkir rumah sakit. Aku melepas sabuk pengaman, lalu menoleh Mama. Ibuku terlihat mengembuskan napas berat. Ia belum membuka sabuk pengamannya.
"Kenapa, Ma?" tanyaku bingung.
Mama langsung membuka sabuk pengamannya, lalu balas menoleh. "Untuk apa kita ke sini?"
"Loh, tadi bukannya Mama yang ingin ikut denganku?"
"Mama kira kita akan makan siang, Reynand ...." Mama menekan kalimatnya.
"Iya, setelah ini. Aku hanya ingin melihat Sheryl sebentar," jawabnya.
"Dia tidak bahagia dengan pernikahannya."
"Memilih Baruna adalah keputusannya. Kau tidak perlu peduli dengan apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka."
Aku mendengus kasar. "Kalau begitu, Mama tunggu saja sebentar di mobil. Aku tidak akan lama," kataku. Tanpa basa-basi lagi membuka pintu mobil dan berjalan meninggalkan Mama di dalamnya.
Aku terus berjalan bahkan saat suara Mama terus memanggil seakan tak puas dengan keputusanku.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, aku tiba di depan pintu kamar Sheryl. Pintunya sedikit terbuka, kuketuk pintu itu, tapi tak ada jawaban. Aku menunggu sesaat hingga akhirnya memutuskan untuk membukanya tanpa izin. Baru dua langkah, aku sontak menghentikan langkah tatkala mendengar suara seorang wanita yang berbicara dengan Sheryl. Dari kejauhan aku dapat mengenalnya. Dia adalah Tante Meri.
"Sheryl, Bunda tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Bunda tidak membenarkan tindakan Baruna di masa lalu, tapi nasi sudah menjadi bubur. Bunda harap kehadiran Rafael tidak mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian," ujar Tante Meri kepada Sheryl. Tangannya tampak menggenggam erat punggung tangan wanita yang kucintai itu.
Rafael? Bukankah dia anak dari Felicia?
__ADS_1
Aku tidak mengerti dengan perkataan Tante Meri. Namun bukannya pergi dari sana, aku malah memutuskan untuk tetap berada di tempat ini dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Sheryl terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Bun, maaf ... tapi saat ini aku ...."
"Rafael sedang dalam kondisi sakit. Tidak ada kah rasa pengertian dalam hatimu? Baruna hanya membantunya. Dia tidak ada maksud lain, walau Rafael itu anak kandungnya sendiri."
Deg!
Seketika jantungku berdetak sangat kencang mendengar penuturan Tanta Meri.
Ini tidak benar, 'kan? Rafael anak kandung Baruna?
Aku hampir tidak memercayainya, jika kalimat itu bukan berasal dari mulut Tante Meri. Ini Tante Meri sendiri yang mengatakannya. Telingaku tidak mungkin salah mendengar.
Mendengar semuanya membuatku memutuskan untuk melangkah mendekat. Ketukan langkah sepatu pantofel yang kupakai sontak membuat Tante Meri dan Sheryl mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Bola mata keduanya pun membulat terkesiap. Kami saling menatap tanpa kata untuk sesaat.
"Re-Reynand ...." Tante Meri tergagap menyebut namaku.
Seakan tidak terjadi apa-apa, akumenyunggingkan segaris senyum ke arah keduanya. "Maaf, aku masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Tadi pintunya sedikit terbuka."
Keduanya tampak canggung, tapi dengan cepat membalas senyumku. Aku berjalan mendekat, menghampiri Tante Meri.
"Aku tidak tahu kalau Tante sudah pulang ke sini. Bagaimana keadaan Ayah?" tanyaku berusaha menyembunyikan segala kegelisahan dalam hatiku akibat mendengar pembicaraan mereka.
"Ayahmu ...." Tante Meri melirik sesaat kepada Sheryl.
"Keadaan Ayah Anton sudah lebih baik. Benar 'kan, Bun? Tadi Bunda sudah mengatakannya. Masa lupa, sih?" Sheryl menjawab cepat. Ia membalas pandangan ibu mertuanya dengan penekanan meyakinkan.
"I-iya. Karena Ayahmu ingin Baruna berada di sana, jadi ia tidak bisa pulang dengan cepat. Ia juga menitip salam padamu dan keluarga Pradipta lainnya," jelas Tante Meri. Air mukanya mengguratkan kecemasan.
Aku sudah mendengar pembicaraan kalian. Mengapa Tante Meri tidak jujur saja kepadaku?
Ingin rasanya aku membalasnya seperti itu, tapi segera kuurungkan niatku dan membalas perkataan itu, " Oh .... Sayang sekali, ya. Padahal Sheryl dalam kondisi seperti ini. Seharusnya Ayah mengerti bagaimana kondisi psikis wanita hamil dan membiarkan Baruna pulang menunggui istrinya."
"Rey-"
"Aku tidak apa-apa, Rey. Aku sudah sehat," sergah Sheryl memotong perkataan Tante Meri.
Aku menarik napas dalam, lalu membuangnya dengan cepat. Tante Meri tampak menatap kami bergantian. Sedetik kemudian Tante Meri bangkit dari duduknya.
"Tolong maafkan Baruna jika tindakannya sering kali membuatmu tak puas. Namun yang harus kau harus tahu, Sheryl dan Baruna saling mencintai."
__ADS_1